
Pagi baru menyingsing, Ceyasa membuka matanya perlahan, meringkuk melihat tempat tidur yang kosong itu, ini bukan mimpi, dia masih tersekap dalam ruangan itu, dia tak ingin bergerak, hanya ingin tetap dalam posisinya itu.
Tak lama dia mendengar suara pintu terbuka, dia langsung buru-buru mengapai kayu yang selalu menjadi senjatanya, dia kira Rain yang masuk, ternyata bukan, 2 orang pelayan wanita masuk ke dalam ruangan itu, salah satu dari mereka membawakan semacam gaun yang akan digunakan oleh Ceyasa, benar, seharian kemarin dia tidak mandi sama sekali.
"Selamat pagi Nona, Yang Mulia Raja Rain memerintahkan untuk membawakan gaun dan keperluan Anda, Anda ingin sarapan di kamar atau bersama dengan Yang Mulia Raja?" tanya Pelayan itu.
"Aku akan makan di sini saja," kata Ceyasa yang melihat gaun selutut berwarna peach itu.
"Baiklah, silakan Anda membersihkan diri Nona," kata pelayan itu menyerahkan handuk tebal dan juga jas mandi pada Ceyasa, Ceyasa langsung mengambilnya, rasanya tubuhnya memang sudah lengket dan tak enak.
Dia segera melangkah ke kamar mandi, dia membersihkan dirinya di bawah shower, cukup menikmati air dingin yang langsung membuat pori-pori kulitnya mengecil, tak lama, setelah mengusapkan sabun lalu menggosok gigi, mencuci wajahnya sedikit, tak lupa dia memakai gaunnya dia dalam kamar mandi, dia tidak ingin jika tiba-tiba saat di membuka pintu ada pria Rain menunggunya, setelah mengintip sedikit, dia lalu keluar dari kamar mandi itu, merasakan rasa segar yang membuat dirinya semangat.
Dua orang pelayan itu masih ada di sana, Ceyasa juga sudah melihat makanan di atas tempat tidurnya yang juga sudah dirapikan oleh mereka, Ceyasa melirik sedikit pada meja kecil itu, ada roti, susu, telur dan beberapa lembar daging, jus buah juga ada, Ceyasa sedikit tersenyum, merasa kali ini penyandraannya tak seburuk yang kemarin.
"Nona, apa kami harus mencicipi makanannya? Yang Mulia Raja meminta kami mencicipinya jika Anda tak mau makan lagi pagi ini," suara pelayan itu terdengar lembut berbicara pada Ceyasa.
"Eh, " kata Ceyasa berpikir, haruskan dia sudah mulai percaya bahwa tak ada apapun di makan ini, "Baiklah," Ceyasa lalu memotong beberapa bagian makanannya, menaruhnya di piring lalu menyerahkannya pada pelayan itu, pelayan itu segera mengambilnya dan tanpa ragu namun perlahan dia memakan makanan itu, toh memang tak ada apa-apa di dalamnya.
"Sudah Nona," kata pelayan itu.
__ADS_1
"Baiklah, kalian boleh pergi, aku ingin makan sendiri," kata Ceyasa lagi.
Ceyasa kembali duduk di ranjangnya, melihat matahari yang sudah cukup terik, saat dia hampir selesai menikmati makanannya, Dari arah jendela dia melihat sesosok bayangan yang melewatinya, Ceyasa memperhatikan bayangan yang berjalan sekilas itu, dari postur tubuhnya, itu postur tubuh Archie, Ceyasa tak bisa melihat jelas, karena jendela itu menggunakan kaca patri, jadi dia hanya bisa melihat bayangan tubuhnya yang terpotong-potong oleh kaca berwarna.
Ceyasa terdiam, bahkan setelah bayangan itu sudah tak ada lagi dia masih menatap jendela itu, air matanya tiba-tiba turun, dan dengan cepat dia menghapusnya, Ceyasa ternyata begitu merindukan sosok pria itu.
Ceyasa lalu meletakkan meja kecil itu ke atas meja yang ada di kamar itu, baru kali ini dalam hidupnya dia merasa betah hanya tinggal di suatu ruangan, biasanya dia pasti ingin keluar mencari udara segar, namun sekarang dunia luar itu lebih menakutkan baginya.
Saat dia baru saja ingin kembali ke ranjangnya, tiba-tiba dia mendengar suara pintu di buka, dengan gerakan dan langkah cepat Ceyasa langsung mengambil alat pertahanan dirinya, dia segera berdiri berhimpitan dengan tembok, tak lama dia melihat seorang pria, Asisten Ken.
"Yang Mulia meminta Anda untuk keluar dan menemui beliau di ruang tengah," kata Asisten Ken dengan sopan, dia bahkan memberikan hormatnya pada Ceyasa.
"Baiklah, " kata Ceyasa lagi, Ceyasa menyembunyikan kayu itu dilipatan selimut, kalau pun dia membawanya, yang ada nantinya senjata itu akan diambil mereka, Asisten Ken lalu memberikan senyumannya.
"Silakan," kata Asisten Ken mempersilakan Ceyasa.
"Kau jalan duluan.”
"Baik Nona," kata Asisten Ken yang segera berjalan, Ceyasa dengan langkah kecil nan ragu mengikuti Asisten Ken, dia melihat lorong panjang yang terlihat sudah sangat tua namun tetap elegan dan mewah.
__ADS_1
Dia berjalan dikawal oleh para penjaga Rain, satu di depannya, dua orang mengapitnya di sisi kanan dan kirinya, sedangkan Asisten Ken berjalan di belakangnya, kalau begini bagaimana Ceyasa bisa kabur.
Perjalanan ke ruang tengah istana utama itu tak lama, dia lalu menangkap sosok pria itu, duduk dengan sangat santai sambil menaikkan satu kaki bertumpu dengan kaki yang lain, dia seperti sedang bekerja, di depannya ada sosok pria, Ceyasa tak begitu mengenalinya, dia hanya merasa pria itu mirip sosok Archie jika dilihat dari belakang, namun Ceyasa langsung menepisnya, karena dia merasa mungkin dia terlalu rindu dengan pria itu dan semua pria akan mirip Archie, mana mungkin Archie dan Rain bisa duduk bersama seakur itu.
Ceyasa segera dibawa berjalan menuju arah Rain, Rain yang mengetahui kedatangan Ceyasa langsung menutup laptopnya dan meletakkannya di sampingnya, Rain langsung berdiri namun sosok pria itu bergeming di tempat duduknya.
"Selamat pagi, ada yang ingin aku tunjukkan padamu," kata Rain tersenyum manis, membuat Ceyasa mengerutkan dahinya, apa yang ingin ditunjukkan pria ini padanya.
Rain menarik tangan Ceyasa cepat, dia lalu membawa Ceyasa ke depan pria itu, mata Ceyasa melebar, mulutnya pun terbuka, dia sampai harus menutup mulutnya yang tercengang, kaget melihat sosok yang ada di depannya, suaminya duduk di depannya dengan sangat santai.
Archie melirik Ceyasa yang terkesan kaget, namun seolah tak peduli Archie kembali menatap layar ponselnya.
"Archie!" pekik Ceyasa tak menyangka pria itu sekarang ada di depannya, Archie yang mendengar hal itu tentu menatap Ceyasa, Ceyasa ingin mendatangi suaminya, namun tangannya langsung ditarik oleh Rain, genggaman tangan Rain sangat erat hingga membuat sakit tangan Ceyasa.
"Archie, apa kau mengenal wanita ini?" tanya Rain yang memegangi Ceyasa yang berontak di dalam genggamannya, Ceyasa melihat ke arah Archie yang tenang saja.
"Tidak," kata Archie santai, dia bahkan hanya melihat Ceyasa sekilas, "aku tidak mengenalnya.”
__ADS_1
Pernyataan Archie membuat Ceyasa yang tadinya berontak menjadi diam, dia menatap Archie, terkejut tentunya tapi tidak percaya, dia lalu menganalisa wajah Archie, menatapnya mata pria itu melihat apakah pria itu sedang berbohong atau tidak, namun Ceyasa tidak melihat apapun, tidak ada cinta di dalam matanya, tidak ada kelembutan yang biasanya mampu menghipnotis Ceyasa, pria itu terkesan dingin, sedingin saat pertama kali mereka bertemu.