Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
219 -


__ADS_3

Wanita itu terus mengendong tubuh Ceyasa, tak lama dia memasuki sebuah ruangan, wanita itu tampak sangat-sangat ketakutan, Ceyasa langsung membelalakkan matanya, mengenali ruangan yang dimasuki wanita ini, itu adalah ruangan saat dimana dia selalu melihat jasad wanita ini, Ceyasa ingin berteriak, namun dia tidak bisa melakukannya, dia hanya melihat ke arah wanita itu yang tampak begitu panik.


 


 


Tak lama pintu ruangan itu terbuka, 3 orang tentara dengan segera atribut lengkapnya mengacungkan senjata ke arahnya, wanita itu juga langsung mengacungkan senjata, tidak ke arah mereka, namun ke arah kepala Ceyasa, Ceyasa melihat itu seketika ketakutan, muncung pistol itu ada di kepalanya sekarang, dia ingin berteriak,namun dia hanya bisa menangis.


 


"Aku akan membunuh anak ini! jika kalian maju selangkah, maka kepalanya akan meledak," teriak wanita itu sambil terus menempelkan ujung pistol itu pada kepala mungil Ceyasa.


Seorang tentara yang ada di tengah segera memberikan instruksikan untuk kedua orang yang ada di sampingnya itu mundur, mereka juga menurunkan senapan mereka.


 


"Nyonya, jangan lakukan ini, kau juga punya seorang putra, jika kau melakukan itu maka putramu akan sangat menderita," kata Pria berbaju tentara lengkap itu mencoba untuk merayu agar wanita itu mengurungkan niatnya.


"Bahkan jika aku tidak membunuhnya, kalian tetap akan menangkapku  dan memisahkan ku dengan anakku, bukan? kalian pikir aku bodoh? jadi lebih baik aku membunuhnya agar mereka yang membunuh suamiku tahu bagaimana rasanya kehilangan! Aku tidak perduli! Aku akan membunuhnya," kata wanita itu dengan sangat emosi, dia histeris sambil menekan ujung pistol itu ke kepala Ceyasa yang mungil yang hanya bisa menangis.


 


 


Duar!


 


 


Suara tembakan terdengar sangat memekikkan telinga, seketika membuat Ceyasa terdiam, dia melihat wanita itu, luka tembakan sudah ada di kepalanya, Ceyasa melihat sekilas ke arah para pria itu, orang yang tadinya ingin menenangkan wanita itulah yang menembaknya.


 


 


Tubuh kecil Ceyasa jatuh dari gendongan wanita itu yang juga lunglai kehilangan nyawanya, tubuh kecilnya terhempas jatuh dan kepala bagian belakangnya menghantam lantai dengan keras,seketika membuat seluruh kepalanya terasa sakit, sakit sekali hingga Ceyasa tak bisa  menangis, hanya menatap kosong pada wanita yang sekarang ada di sebelahnya, menatap Rain yang umurnya mungkin 5 tahun itu menyaksikan semua di balik pintu di dekat tubuh ibunya.

__ADS_1


 


"Kita berhasil membunuhnya, Jendral Indra," kata Seseorang


"Baiklah, amankan gadis kecil itu," suara itu terdengar lagi, dan tiba-tiba Ceyasa seperti tertarik keluar dari ruangan itu, dia membuka matanya, merasakan perih di matanya yang sudah basah, tubuhnya juga basah akan keringat, sangat banyak, bahkan tangannya pun bergetar. Kepalanya sangat sakit, seolah benturan itu benar-benar dia rasakan kembali, dia langsung memegangi kepala belakangnya, merasa sangat-sangat nyeri.


 


"Nona, Nona?" kata Dokter Rianti menyambut Ceyasa, Ceyasa melihat kesekeliling, dia melihat ke arah ruangan itu dengan penuh kecemasan, napasnya berburu, pendek dan cepat.


"Nona, silakan minum air putih dulu," kata Dokter Rianti menyodorkan minuman pada Ceyasa, Ceyasa segera mengambilnya dengan tangan gemetar, merasa sangat ketakutan.


"Terima kasih," kata Ceyasa menyerahkan segelas  air itu kembali pada Dokter Rianti yang seperti sedang mengamati Ceyasa, wajah Ceyasa tampak pucat.


"Nona, yang Anda ceritakan sangat-sangat mengesankan, apa Anda mengingat semuanya " kata Dokter Rianti yang kaget ternyata ingatan masa lalu Ceyasa sangat tidak biasa. Dia bahkan kaget dengan apa yang dia dapatkan, pengalamannya, ini adalah kasus yang luar biasa.


"Ya," kata Ceyasa masih mengatur napasnya.


"Baiklah, tapi saya tak punya wewenang untuk mengatakan apapun, Nona, tenanglah semua rahasia aman bersama saya," kata Dokter Rianti itu lagi.


"Terima kasih, apa aku sudah boleh keluar?," kata Ceyasa lagi masih gemetaran, namun sudah cukup membaik.


 


Ceyasa segera bangkit berdiri, lalu sedikit merapikan bajunya yang menurutnya cukup berantakan, dan segera keluar dari ruangan remang itu.


----***---


Archie menunggu Ceyasa di ruang tunggu itu bersama Gerald, wajahnya tampak cemas, seharusnya dia memaksa untuk masuk ke dalam ruangan itu, Ceyasa pasti sangat-sangat ketakutan di dalam sana.


Saat dia menunggu, tiba-tiba ponselnya berdering, Archie segera mengambil ponselnya, lalu melihat ke layarnya, Jared? Archie mengerutkan dahinya, merasa aneh, tumben sekali pria ini menelepon dirinya.


 


"Halo? " tanya Archie pada Jared.


"Archie, Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan mu sekarang," kata Jared langsung.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, aku sedang ada hal yang penting yang harus aku kalakukan," kata Archie melihat ke arah pintu putih itu, masih belum ada tanda-tanda akan segera terbuka.


"Ini tentang Suri," kata Jared.


"Ada apa dengannya?" tanya Archie yang langsung tampak khawatir.


"Suri pingsan dan hingga sekarang tidak sadarkan diri, Paman meminta riwayat penyakit dirinya dan dirimu, sepertinya penyakitnya cukup mengkhawatirkan," kata Jared yang langsung membuat Archie mengerutkan dahinya, seumur dia mengenal Suri, Suri bahkan tidak pernah sakit sekali pun, terkadang dia hanya mengalami flu, namun walaupun terkena flu dia tetap seceria biasanya, tidak pernah mengalami pingsan seperti ini.


 


Archie lalu ingat akan penyakit keturunan dari keluarganya, dia mengerutkan dahinya lebih dalam, mereka mengatakan bahwa baik Suri dan dirinya membawa penyakit itu masing-masing dalam tubuhnya, tapi Archie sudah mengalaminya, apakah mungkin sekarang Suri mengalaminya?


 


"Apa itu tentang penyakit keturunan? " tanya Archie lagi pada Jared.


Jared tak langsung menjawab, dia tidak tahu menahu tentang penyakit keturunan itu, jadi dia tak mengerti apakah ini ada hubungannya dengan penyakit keturunan itu atau tidak?


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti keadaaanya kritis sekarang, Archie, datanglah sekarang," kata Jared lagi.


"Aku tidak bisa," kata Archie mantap, dia kembali melihat pintu putih itu, tidak mungkin meninggalkan Ceyasa sendiri di sini, walaupun dia mengerahkan seluruh tentara untuk menjaga gedung ini, tapi Archie tak akan ambil resiko, dia tak ingin Rain datang dan menculik Ceyasa lagi.


"Archie?" suara Jared tampak sedikit memelas.


"Tunggulah, aku pasti datang ke sana, tapi aku tidak bisa datang ke sana sekarang, kalau kau mengkhawatirkan tunanganmu, aku mengkhawatirkan istriku," kata Archie tegas, mendengar ketagasan itu membuat Jared tak bisa lagi berkata-kata.


"Baiklah," kata Jared tak bisa memaksa, toh alasan Archie juga pasti sangat penting. Jared memutuskan panggilannya, Archie menggigit bibirnya, sekarang cemasnya menjadi bertambah.


"Apa sesi hipnosis ini bisa dihentikan?" tanya Archie pada Gerald.


"Aku tidak tahu, mungkin bisa, mungkin juga tidak, ada apa?" kata Gerald yang segera mendekati Archie, melihat wajah khawatir Archie yang semakin tampak.


"Suri, dia sedang kritis di rumah sakit," kata Archie yang walaupun sudah tidak memiliki perasaan khusus pada wanita itu, tapi dia tetaplah saudaranya dan juga dia pernah menghiasi hatinya.


"Putri Suri? Bagaimana bisa? " kata Gerald kaget.


"Entahlah, Jared mengatakan dia pingsan dan hingga sekarang tidak sadarkan diri, sudah berapa lama Ceyasa di dalam?" kata Archie lagi, menimbang jika memang keadaan Suri kritis, dia harus pergi ke sana secepatnya, karena jika tidak mungkin saja akan menjadi suatu penyesalan.

__ADS_1


"Aku rasa tinggal 15 menit lagi dia akan selesai, Archie, jika Yang Mulia Raja membutuhkanmu, pasti itu sangat penting, Nona Ceyasa biar aku saja yang mengurusnya di sini, aku akan menjaganya, Suri mungkin sangat membutuhkanmu sekarang," kata Gerald pada Archie yang tampak berpikir.


"Tidak, aku tidak akan mengambil resiko, jika memang itu penyakit keturuan keluaga kami, paman pasti sudah memikirkannya, dia pernah menyelamatkanku, sudah pasti dia bisa menyelamatkan Suri," kata Archie yang tak bisa, dia terjepit keadaan dimana dua-duanya bisa menimbulkan rasa sesal baginya.


__ADS_2