
Jared melihat adiknya yang tertidur di sofa, Liam mengangkat selimut yang dibawanya lalu memakaikannya pada tubuh Jenny yang meringkuk, terlalu lelah menangis hingga tak sadar tertidur. Jared melihat jam tangannya, sudah pukul 20.00, siang tadi begitu menegangkan, untungnya bibinya masih bisa bertahan.
"Kalian tidak ingin makan? ini sudah sangat malam," kata Liam berhadapan dengan Jared dan Suri. Jared melihat Suri yang dari tadi selalu ada di sampingnya.
"Sepertinya aku sudah harus pulang, orang tuaku pasti sangat khawatir nantinya," kata Suri lembut, sedikit mengembangkan senyuman pada wajahnya yang terasa kaku.
"Baiklah, Paman, aku akan mengantar Suri pulang dahulu, aku titip bibi dan Jenny, " kata Jared pada Liam.
"Tenanglah, aku akan menjaga mereka, akan aku kabari jika ada apa-apa, di sini ada ruangan tidur untuk kalian, aku sudah menyiapkannya, jika ingin kalian juga bisa tinggal di kediamanku," kata Liam menatap Jared.
"Terima kasih Paman, tapi aku rasa kami akan tinggal di sini hingga bibi membaik," kata Jared lagi.
"Baiklah, berhati-hatilah," kata Liam, kembali menepuk bahu Jared, Jared hanya mengulas senyum tipsinya, melihat ke arah Suri, tatapannya mengisyaratkan untuk mengajak Suri pergi.
"Saya permisi dulu,Paman," ujar Suri minta izin, Liam mengangguk, Jared dan Suri segera meninggalkan ruangan itu.
Jared dan Suri segera masuk ke dalam lift itu, Jared menekan tombol untuk turun ke bawah.
"Maaf, aku bahkan lupa tentang makan malammu," kata Jared sambil menekan tengkuknya yang terasa sangat berat.
"Tidak apa-apa, aku akan makan bersama Papa dan Mama nantinya, mereka juga pasti akan menungguku," kata Suri menatap Jared yang dari wajahnya begitu tertekan dan lelah, "Lelah?" tanya Suri lagi pada Jared.
__ADS_1
Jared tak menjawab, hanya melirik ke arah Suri, Suri hanya memandang wajah Jared, Jared mengubah posisinya, menghadap Suri, Suri yang melihat itu juga refleks menghadap ke arah Jared, Jared tanpa aba-aba dia langsung menyandarkan dahinya pada bahu kecil Suri, membuat Suri yang mendapat perlakuan itu hanya terdiam, mematung, karena gerakan Jared yang sangat tiba-tiba itu.
Jared hanya diam mempertahankan posisinya, sejenak menyandarkan diri pada bahu Suri, melepaskan semua penatnya yang terkumpul, membiarkan segala emosi yang tertahan di dalam tubuhnya agar mengalir keluar, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Suri yang seketika membuatnya sangat tenang.
Sayangnya perjalanan mereka turun itu tidaklah lama, saat pintu terbuka, Jared segera menaikkan kepalanya, sedikit memberikan senyuman manis dan pandangan yang begitu dalam pada Suri yang hanya bisa terdiam tak bisa bergerak, bahkan berkedip pun dia tak bisa lagi, Jared benar-benar tak bisa ditebak.
Tak lama mereka sampai ke area istana, mobil Jared masuk dan berhenti di area parkir istana, Suri tersenyum ketika dia melepaskan sabuk pengamannya.
"Kau akan turun?" tanya Suri pada Jared yang hanya melihat Suri membuka sabuk pengamannya, sedangkan dia tidak.
"Aku rasa aku akan segera kembali ke rumah sakit, kau tahu bagaimana keadaannya di sana," kata Jared lembut, sorot matanya yang tajam tetap saja begitu dingin namun juga mempesona.
"Baiklah," kata Suri lagi ingin bersiap-siap untuk turun, melihat taman di depan istana itu, dia ingat sesuatu, hingga dia mengurungkan niatnya untuk turun, duduk kembali, dan melihat ke arah Jared, Jared yang melihat tingkah Suri sedikit melirik dengan tatapan mata yang bisa membuat semua wanita berteriak karenanya.
__ADS_1
"Ada apa?" kata Jared lagi.
"Aku ingin bertanya padamu," kata Suri memandang Jared dengan wajah bertanya yang sedikit menggoda pada Jared, Jared melihat hal itu sedikit tersenyum karena tatapan Suri itu.
"Ada apa? jangan menatapku seperti itu," kata Jared tertawa kecil tampak salah tingkah.
"Ehm, aku ingin tanya, apa isi surat yang kau kirimkan padaku saat kita berumur sebelas tahun, sebuah surat yang katanya kau tulis dan kau selipkan di bawah pintu kamarku," kata Suri yang melihat Jared yang hanya mendengarkan, melihat ke arah luar dari kaca depan mobilnya. Mendengar hal itu Jared mengerutkan dahinya, lalu melihat ke arah Suri, kepalanya sedikit dimiringkannya, seolah ingin balik bertanya, "aku tidak pernah mendapatkan surat itu, jadi aku ingin tahu apa yang kau tulis di dalamnya," kata Suri lagi memandang Jared. Jared mengerutkan dahinya lebih dalam, dibibirnya mengunggingkan sedikit senyuman tipis namun sedikit misterius bagi Suri.
"Kalau begitu lupakanlah," kata Jared yang langsung membuat Suri mengerutkan dahi, dia memajukan bibirnya, rasanya yang tadi sedang berbunga-bunga tiba-tiba saja langsung jatuh, seolah kebun bunga yang baru mekar namun harus terhempas badai, sifat Jared yang seperti ini yang benar-benar tidak di sukai oleh Suri, namun Suri hanya memandang kesal pada Jared yang sama sekali tidak meliriknya, menyiapkan diri untuk keluar membukakan pintu untuk Suri.
"Dasar, pria tak peka," keluh Suri mendumel sendiri, membuka pintu mobil Jared dengan sedikit kasar, lalu segera ingin keluar dari mobil Jared, Jared yang mendengar Suri menggerutu hanya tertawa tipis, dia langsung memegang tangan Suri, tak menariknya.
"Aku menyukaimu sejak saat kita bertemu pertama kali, saat kau turun dari pesawat dengan gayamu yang malu-malu, Aku menyukaimu, seperti kau menyukai suara aneh jangkrik di malam hari, atau seperti kunang-kunang yang selalu kau minta aku tangkap dan menaburkannya di kamarmu setiap malamnya, mungkin lebih, mungkin seperti kisah cinta Cupid yang jatuh hati terhadap Psikhe, cerita legenda yang paling kau sukai, " ujar Jared mengatakannya dengan perlahan seolah sedang membacakan bait demi bait puisi romantis, membuat Suri tertahan diantara pintu mobil itu, mendengar apa yang dikatakan oleh Jared yang seketika menyentuh hatinya yang paling dalam, memberikan perasaan manis yang tak bisa membuatnya berhenti tersenyum hingga dia harus menggigit bibir tipisnya, Suri kembali memundurkan tubuhnya, kembali duduk dikursi mobil itu dan menutup pintunya, tak jadi untuk keluar.
"Aku tak ingat yang lainnya, tapi hanya itu yang aku ingat, " kata Jared lagi dengan pandangan sendu yang menahlukkan hati Suri seketika.
"Sekarang, apakah kau masih menyukaiku seperti Cupid jatuh hati pada Psikhe? " tanya Suri memandang wajah Jared yang terus memberikannya tatapan yang tak bisa diabaikan oleh Suri.
"Menurutmu?" kata Jared pelan, membuat Suri kembali memanyunkan bibirnya, Jared ini, apa dia terlalu gengsi hanya untuk mengucapkan kata iya? Jared yang melihat itu, terlalu gemas melihat Suri, dan tanpa pikir panjang lagi, dia langsung mencium bibir Suri, membuat Suri kaget tentunya, namun segera terbuai hingga menutup mata.
__ADS_1