
Jared menunggu di dalam mobilnya, di jok belakang, ada neneknya yang terlihat sedang memejamkan mata, matanya cukup sepet karena tadi menangis saat minta maaf terakhir kalinya pada Sania, dia bahkan tak sempat berbicara apa pun pada Siena, cucunya itu seolah menghindari mereka.
"Nenek lelah?" tanya Jared lagi melihat neneknya di jok belakang.
"Lumayan, kepalaku sangat pusing, mana adikmu yang cerewet itu?" ujar Ibu Jofan memegangi kepalanya.
"Dia tidak ingin ikut, kami sudah membujuknya, tapi nenek tahu betapa keras kepalanya dia," kata Jared lagi.
"Ah, tak habis pikir, bagaimana adik kembarmu begitu keras, sedangkan kau begitu lembut, untunglah kau hanya mengikuti sifat ayahmu," ujar ibu Jared melihat ke arah luar, dia bisa melihat Jofan keluar dengan Siena, keduanya tampak sangat kacau, wajah yang tak bercahaya, mata sembab yang terlihat sangat cekung.
"Kau yakin gadis itu adalah anak pamanmu? l" tanya Ibu Jofan pada Jared seketika mengeluarkan pikirannya, ada rasa tak percaya melihat gadis itu, entah kenapa sedikit menolak bahwa gadis itu adalah cucunya.
"Apa yang nenek inginkan?" ujar Jared yang mengerti jalan pikiran neneknya.
"Bisakah kau melakukan tes DNA terhadapnya, Jofan terlihat terlalu percaya padanya, semua gadis bisa mengaku-ngaku menjadi keluarga kita, dan memanfaatkan keadaan ini, Jofan pasti percaya seratus persen terhadapnya, nenek hanya ingin tahu yang sebenarnya," kata Ibu Jofan sambil menyipitakn matanya.
"Sudah aku lakukan," ujar Jared dengan santai, membuat neneknya berpaling padanya.
"Kau apa?" tanya ibu Jofan kaget, bukan tak mendengar kata-kata cucu kesayangnya ini, namun dia tak menyangka Jared melakukan hal seperti itu.
"Aku sudah mengambil beberapa sampel rambutnya dan paman, juga bibi Sania, sudah ku kirimkan ke rumah sakit, dan kini tinggal menunggu hasilnya," kata Jared tampak tenang. Ibu Jofan tersenyum senang, tak menyangka Jared masih meneruskan kepintaran dari keluarga mereka.
"Kapan hasilnya akan keluar?" tanya Ibu Jofan penasaran.
"Aku minta secepatnya, dokter akan menghubungiku setelah semuanya selesai," ujar Jared melihat mobil pamannya mulai berjalan dari sana, saat dia ingin mengikuti mobil pamannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Nenek, sebentar," izin Jared mengambil ponsel yang ada di tempat duduk sebelahnya.
__ADS_1
"Silakan," ujar neneknya yang mencoba kembali menutup matanya yang sudah penuh dengan kerutan.
Jared melihat ke arah layar ponselnya, melihat nama nomor yang tidak di kenal, dia tidak suka mengangkat nomor yang dia tidak kenal, karena itu dia membiarkannya saja. Namun baru saja panggilannya mati, pesan langsung muncul.
‘Tolong angkat, aku ingin bicara, Archie'
Jared yang membaca itu langsung kaget, ada apa Archie ingin berbicara padanya. Belum selesai dia bertanya, ponselnya kembali berdering, Jared langsung menerima panggilan tersebut.
"Halo?" sapa Jared menyapa Archie.
"Halo, maaf, apa aku mengganggumu?" tanya Archie terdengar cukup ramah.
"Tidak, ada apa?" tanya Jared sedikit mengerutkan dahinya.
"Ehm, aku ingin berbicara sesuatu tentang Suri," ujar Archie sambil menyandarkan dirinya ke kursi kerjanya, kembali memegang ujung hidung diatara dua alisnya.
"Kau ingat saat Suri mengalami kecalakaan ski saat kita masih kecil?" kata Archie lagi mengingat malam bersalju itu.
"Ya, aku ingat," ujar Jared dengan suara dinginnya.
"Kau yang pergi mencarinya, berkeliling hingga mendapatkan dia meringkuk di bawah pohon, kau ingat memanggilku, namun karena kau juga kedinginan akhirnya kau juga pingsan, semua orang tua mengatakan bahwa aku yang menemukannya," ujara Archie lagi mengingat hal itu.
"Ya, aku ingat," kata Jared sedikit tersenyum mengingat hal itu.
"Aku selalu mendapatkan pujian dari hal itu, dan Suri benar-benar menganggapku seorang pahlawan, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, kenapa kau tak pernah mengakui bahwa sebenarnya kaulah yang melakukan semuanya?" tanya Archie mengerutkan dahinya, sudah lama dia ingin bertanya ini pada Jared, tapi tak pernah tersampaikan, lagi pula semua hal itu sudah berlalu, Archie pikir hal itu tidak akan pernah lagi terpikirkan olehnya.
"Untuk apa? itu bukan hal yang harus diketahui orang banyak, aku mencarinya demi menyelamatkannya, bukan karena ingin dikenal sebagai pahlawan," ujar Jared lagi.
__ADS_1
Archie menaikkan sudut bibirnya, terlalu kesal karena mengetahui Jared selalu ada di atasnya, bahkan sejak kecil pria ini sangat menonjol dalam segala bidang, dan urusan untuk bersaing dengan Jared, jika Archie melakukannya dengan jujur, dia pasti akan kalah.
Bukan Archie ingin mengakui apa yang dikerjakan oleh Jared sebagai miliknya, hanya orang-orang tua lah yang mengatakan bahwa itu adalah dirinya awalnya dia ingin mengatakan bahwa Jared lah yang melakukan hal itu, tapi karena semua orang menyanjungnya, dan seketika paman Angganya menjadi begitu berubah dengannya karena sudah menyelamatkan Suri, Archie tak bisa berkata jujur.
"Selalu saja seperti kakak besar, padahal aku lebih tua darimu," ujar Archie lagi. Jared menaikkan sedikit sudut bibirnya,"Kemarin aku sudah mengatakan yang sejujurnya pada Suri. "
"Kenapa?" kata Jared merasa cukup kaget, kejadian itu sudah sangat lama, bahkan kalau Archie tidak mengungkitnya mungkin Jared pun tak mengingat hal itu.
"Karena memang seharusnya Suri tahu siapa yang sebenarnya menyelamatkannya, Suri menyukai pria yang dia anggap sebagai pahlawannya, itu kenapa dulu dia lebih memilih aku dari pada dirimu, tapi sekarang, kami tak bisa bersama," kata Archie sambil memutar kursi kerjanya.
"Itu tidak akan merubah apa pun, itu hanya keinginan masa kecilnya, belasan tahun dia sudah dekat dengan mu, tentu dia sudah lebih nyaman dengan dirimu, lebih baik kalian tetap berasama jika itu memang pilihannya, bukannya kalian saling mencintai," ujar Jared lagi, perasaannya tak enak mengatakan hal ini.
"Kami tak bisa bersama bagaimana pun kami ingin, karena jika kami bersama, aku akan menyebabkan kematiannya, karena kami memiliki darah yang sama, dan penyakit yang sama, kami tak akan bisa bersama, karena itu aku minta padamu sekarang, tolong, jagalah dia," ujar Archie seolah menelan duri-duri halus yang menusuk tenggorokannya saat dia mengatakan hal ini, dari dulu mereka bersaing untuk mendapatkan Suri, namun sekarang dia harus merelakannya bersama dengan Jared.
Jared terdiam, dia menganalisa apa yang dikatakan oleh Archie, merasa nada suara Archie yang lemah itu sebagai ungkapan rasa putus asa dan sakitnya, terasa sekali Archie masih mencintai Suri, Jared tak tahu harus apa.
"Apa Suri mengetahui hal ini?" kata Jared lagi.
"Ya, dia tahu, dia masih tidak bisa menerimanya, tapi kau tak perlu takut, dia perlahan-lahan akan menyukaimu, aku yakin itu, tenang saja, tentang perjanjian kita, mari kita batalkan, sekarang, buatlah dia bahagia, aku yang akan mundur," kata Archie sedikit beberapa kali menarik napas panjangnya.
"Baiklah, " kata Jared lagi, sebenarnya tak enak mengatakannya, hatinya tak suka akan hal seperti ini.
"Terima kasih," ujar Archie terdengar sedikit sungkan
"Sama-sama," Jared lagi sama sungkannya, tak tahu akhirnya seperti itu.
Archie mematikan ponselnya, meletakkannya pada meja kerjanya, dia segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa sangat pusing namun juga terasa sesak harus menyerahkan cintanya pada saingannya selama ini.
__ADS_1
Jared melihat ponselnya, hanya menatap layarnya yang mulai meredup, dia merasa hal ini salah, biarlah Suri saja yang akan memilih dengan siapa dia akan berlabuh.