Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
63 - Gerald, Dimana Rumahmu?


__ADS_3

Ceyasa didorong keluar dari rumah sakit itu oleh seorang perawat, Gerald berjalan di depannya, beberapa orang memberikan salam pada Gerald seolah mereka sudah sangat kenal, Ceyasa hanya bisa melihatnya, apa Gerald juga orang terkenal di sini.


Ceyasa melihat ke arah kakinya, kakinya di bebat agar tidak banyak bergerak padahal menurutnya kakinya akan segera sembuh, besok juga dia sudah bisa berjalan.


Gerald mengarahkan Ceyasa ke sebuah mobil mewah yang bahkan Ceyasa belum pernah melihatnya, dengan melihatnya saja Ceyasa tahu mobil itu sangat mahal, pintunya di bukakan, dan perawat itu membantu Ceyasa untuk masuk ke dalam mobilnya, Gerald masuk dan duduk di samping supir, Ceyasa memperhatikan interior dari mobil itu, benar-benar mewah dengan jok kulit hitam, bahkan langit-langit nya saja terlihat menawan, terasa begitu nyaman di dalamnya.


"Gerald, apa semua orang juga mengenalmu?" tanya Ceyasa yang tak tahan dengan rasa penasaran, toh itu bukan pertanyaan terlarang bukan?


"Ada apa Nona?" tanya Gerald balik, merasa pertanyaan Ceyasa cukup membuatnya penasaran.


"Ya, aku lihat semua orang di rumah sakit kenal denganmu, apa kau juga orang terkenal?" jelas Ceyasa, dia hebat sekali bisa berhubungan dengan orang-orang terkenal di sini.


"Bukan Nona, saya hanya asisten Pangeran, mereka mengenal saya karena rumah sakit ini milik keluarga kerjaan, lebih tepatnya milik Yang Mulia Raja," kata Gerald sedikit menjelaskan.


"Kalau begitu, e ... siapa dia namanya? siapa nama pangeran?" tanya Ceyasa lagi lupa nama Pangeran, yang dia tahu namanya adalah Cendro.


"Pangeran Archie?"


"Ya, kalau dia Pangeran, berarti rumah sakit ini milik ayahnya?"


"Bukan, Yang Mulia Raja adalah paman Pangeran, orang tua Beliau sedah meninggal sejak Beliau masih kecil," jelas Gerald lagi menjawab rasa penasaran Ceyasa, setidaknya dia harus memberitahu Ceyasa tentang ini, walau hanya seminggu menjadi istri Pangeran, dia harus tahu sisilah keluarganya, tidak ada yang tahu bukan dia akan terus di luar atau malah dibawa ke istana nantinya.


"Oh," Jawab Ceyasa singkat, ternyata nasib keduanya sama, sama-sama kehilangan orang tua sejak kecil.


"Nona, Pangeran ingin Anda untuk memilih rumah, apakah ada rumah yang Anda impikan?" tanya Gerald langsung.


Ceyasa terdiam,  dia tidak tahu rumah seperti apa yang dia inginkan, tak pernah punya gambaran harus bagaimana rumahnya, yang penting nyaman, aman dan bisa untuk tempat berteduh, sudah itu sudah cukup baginya.

__ADS_1


"Ehm, bisakah kita lihat-lihat dulu," kata Ceyasa yang merasa tidak tahu harus menjawab apa.


"Baiklah, saya akan membawa Anda ke kawasan rumah-rumah elit di kota ini," kata Gerald segera, dia memberikan gestur agar supir segera menjalankan mobilnya dan mobil itu segera berjalan.


Ceyasa menatap ke luar jendela mobil itu, akhirnya dia melihat bagaimana keadaan Ibu kota itu, gedung-gedung pencakar langit, lalu  lalang kota yang sibuk, dan semua hal yang benar-benar asing bagi Ceyasa, dia sedikit pusing melihatnya, jadi dia putuskan untuk kembali duduk tenang menikmati kenyamanan yang diberikan mobil itu padanya.


Tak lama mereka keluar dari area kota dan segera menuju sebuah tempat yang penuh dengan daerah hijau, rumah-rumah di sana megah, ada yang bergaya eropa kuno, ada pula yang bergaya minimalis namun tentu semuanya terlihat luas dan mewah, Ceyasa merasa rumah rumah di sana bahkan seperti istana.


"Ini istana?" tanya Ceyasa polos.


"Bukan Nona, ini adalah perumahan nomor satu di kota ini, rumah Yang Mulia Raja juga ada di sini, selain itu rumah keluarga kerajaan yang lain juga ada di areal ini, kita akan menuju lokasi perumahan yang sedang dipasarkan, Anda tinggal memilihnya," kata Gerald lagi sambil melihat ke arah tabletnya.


Ceyasa kembali melihat ke arah luar, lapangan golf lebar, danau buatan, hingga taman-taman luas menjadi fasilitasnya, tapi daerah perumahan ini sangat sepi, bahkan tidak tampak orang-orang yang ada di sana, hanya rumah-rumah besar yang bahkan jaraknya saling berjauhan. Ceyasa tidak bisa tinggal di tempat seperti ini.


"Gerald, bolehkah aku tidak tinggal di sini?" tanya Ceyasa pada Gerald, Gerald yang tadinya masih sibuk melihat-lihat perumahan itu langsung melihat ke arah Ceyasa.


"Ehm, Anda tidak suka lingkungannya? Apa ingin pergi melihat lingkungan yang lain?" tanya Gerald lagi.


"Tentu, saya hanya menunjukkan pada Anda perumahan yang nyaman dan aman untuk Anda."


Ceyasa menggigit bibirnya, dia tidak suka keadaan seperti ini, dia tidak terbiasa dengan rumah-rumah luas bak istana dan lagi dia akan tinggal sendirian, dia malah merasa tak aman dan nyaman dengan rumah seperti ini.


"Gerald, dimana rumah mu?" tanya Ceyasa lembut, cukup punya rasa hormat pada Gerald.


"E? Aku?" tanya Gerald yang kaget.


"Ya, dimana rumahmu?" tanya Ceyasa.

__ADS_1


"Di daerah barat, tapi itu bukan kawasan elit, itu hanya perumahan biasa yang cukup padat."


"Kalau begitu kita pergi ke sana saja, aku ingin melihat ke sana," kata Ceyasa tersenyum semangat.


"Anda yakin? Anda bisa memilih salah satu rumah di kawasan ini jika Anda ingin, bahkan kami akan membangunkan sesuai keinginan Anda," kata Gerald tak percaya ada wanita yang tak tertarik diberikan rumah gratis di daerah yang bahkan setiap orang di kota ini memimpikan punya rumah di sana.


"Yakin, kita ke daerah rumahmu saja," kata Ceyasa.


"Baiklah," kata Gerald masih sedikit tidak percaya dengan Ceyasa, wanita ini wanita seperti apa sih?


Mereka segera berbalik, keluar dari kawasan perumahan elit itu dan segera berjalan ke arah daerah perumahan Gerald, seperti yang dikatakan oleh Gerald, daerah itu cukup padat, banyak orang-orang yang tinggal di sana, perumahan di sana juga lebih ke kalangan menengah, banyak toko-toko kecil, juga banyak orang-orang berlalu lalang, dan Ceyasa tampak begitu semangat melihatnya.


"Adakah perumahan yang bisa dibeli di sini?" tanya Ceyasa sibuk melihat ke arah luar, baginya lingkungan seperti ini lebih hidup.


"Tentu, aku akan mencarikan rumah yang menurutku aman dan nyaman untuk Anda tinggali, tapi Nona, Anda benar-benar yakin ingin tinggal di lingkungan seperti ini?" tanya Gerald lagi masih tak habis pikir.


"Tentu, carikan aku rumah yang tidak terlalu besar dan jika bisa punya taman yang sedikit luas," kata Ceyasa lagi.


"Baiklah," kata Gerald yang akhirnya menyerah, mencari beberapa rumah yang ada di sana, bahkan yang paling mahal pun tidak ada seperempatnya dari harga rumah yang tadi di tawarkannya.


"Bagaimana dengan yang ini, 4 kamar, 3 kamar mandi, rumah ini juga cukup luas dan memiliki taman belakang," ujar Gerald mencarikan rumah yang paling mahal di daerah itu. dia menunjukkannya pada Ceyasa, Ceyasa mengerutkan dahinya, melihat rumah dengan tingkah 2 yang menurutnya bahkan masih terlalu besar baginya.


"Carikan yang 2 kamar saja, 1 kamar mandi, dan ada tamannya, itu terlalu besar untukku," kata Ceyasa lagi sambil terus melihat ke arah luar, Gerald mulai kebingungan, apa itu tidak terlalu kecil baginya? Kalau Archie tahu dia membelikan rumah sekecil itu, bisa-bisa Gerald kena marah.


"Bagaimana jika 3 kamar, seperti ini, " kata Gerald mencoba merayu, menunjukkan rumah yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, namun Ceyasa tetap tidak menyukainya, Ceyasa lalu mengeser beberapa foto yang ada di sana, dan tiba-tiba dia menemukan sebuah rumah yang di sukai.


Rumah itu hanya terdiri dari 1 lantai, terdiri dari 3 kamar, 2 kamar mandi, dan taman depan dan bagian belakang yang luas, lalu rumah itu juga bukan di daerah perumahan, hanya rumah biasa.

__ADS_1


"Bagaimana dengan yang ini? ini di jual bukan? " kata Ceyasa semangat.


Gerald melihat foto rumah itu, rumah itu bukan rumah baru melainkan rumah yang sudah pernah di tinggali, Gerald mencari tahu tentang daerahnya dan untungnya rumah itu ada di daerah yang aman dan nyaman, tidak terlalu ramai namun juga tidak terlalu sepi, tapi rumah ini sangat kecil dan sudah terlihat cukup tua.


__ADS_2