Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
160 - (C-A) Aku Harap Dia Punya Hidup Yang lebih Baik.


__ADS_3

Archie keluar dari lift ruangan, dia baru saja datang kembali ke rumah sakit itu setelah pulang untuk membersihkan diri dan makan malam, dia lalu segera berjalan ke ruangan Ceyasa. Gerald mengikutinya dari belakang dan segera membukakan pintu kamar Ceyasa.


Archie segera masuk, namun baru satu langkah dia memasuki kamar Ceyasa, dia langsung berhenti dan menatap ruang itu yang kosong, Archie langsung mengerutkan dahi, dimana wanita aneh itu? bukannya dia masih perlu istirahat dan diobservasi 24 jam disini?


"Gerald, hubungi Lusy, dimana mereka sekarang?" kata Archie dengan wajah sedikit cemas, dia langsung keluar, Gerald langsung mengikuti apa yang diinginkan oleh Archie, dia segera menelepon Lusy.


"Halo, dimana kalian sekarang?" tanya Gerald langsung, tanpa basa basi, dia mendengarkan sesaat, dan seterlah itu langsung memutuskan panggilannya.


"Dimana?" tanya Archie cepat.


"Mereka sedang ada dilantai 3, di ruangan bayi," kata Gerald langsung.


Archie segera berbelok, melihat tulisan tangga darurat, dia segera masuk ke ruangan itu dan mulai menuruni tangga hinga menunjukkan lantai 3, setelah itu dia langsung keluar dan segera melihat lorong yang cukup panjang dari kanan dan kirinya, dia bingung kemana dia harus pergi? dan kenapa dia malah cemas dengan keadaan Ceyasa?


Tak lama dari belokan yang ada di sebalah kanannya, seorang perawat datang, Archie segera mendekati perawat itu.


"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu ramah.


"Saya ingin tahu di mana ruang bayi?" kata Archie langsung.


"Anda tinggal lurus saja, setelah itu belok ke kiri, di sanalah ruangan bayi," kata perawat itu lagi.

__ADS_1


"Baik, terima kasih," kata Archie dengan tergesa-gesa, perawat itu tersenyum, berpikir mungkin pria itu sedang buru-buru untuk melihat anaknya untuk pertama kali.


Dengan langkah cepat, Archie mengikuti arah yang dikatakan oleh perawat itu, Gerald tampak kesulitan untuk mengejar Archie yang benar-benar tampak buru-buru, setelah berbelok ke kiri, akhirnya dia bisa melihat Lusy yang ada di depan sebuah ruangan.


"Selamat malam Pangeran," ujar Lusy memberikan salamnya pada Archie.


"Dimana dia?" tanya Archie sambil mengatur napasnya yang cukup terengah-engah.


"Nona Ceyasa sedang ada di dalam, dia diperbolehkan masuk untuk melihat bayi," kata Lusy lagi.


"Untuk apa dia melakukan hal itu?" tanya Archie aneh.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu, namun Nona Ceyasa meminta izin pada salah satu perawat untuk bisa melihat mereka," kata Lusy lagi.


Ceyasa melirik sedikit ke arah Archie yang datang, namun dia kembali melihat ke arah bayi-bayi munggil yang tampak sangat nyaman di sana, beberapa sedang digendong oleh para perawat yang sedang memberikan mereka susu.


Archie mendekat dan berhenti di samping Ceyasa, dia memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya, menarik napas panjang, sedikit lega ternyata Ceyasa tak apa-apa, dia takut Ceyasa tiba-tiba pingsan kembali, karena kata dokter kemungkinan itu bisa terjadi, karena itu dia harus di observasi 24 jam di rumah sakit ini, dan juga Archie menyimpan ketakutan sendiri, entah kenapa merasa, Rain bisa saja mengetahui bahwa Ceyasa ada di sini.


"Lihatlah," kata Ceyasa dengan senyuman tipis.


"Apa?" kata Archie lagi.

__ADS_1


"Mereka, mereka tidur dengan sangat nyaman, aku bisa membayangkan bagaimana orang tua mereka akan tersenyum ketika pertama kali melihat mereka," kata Ceyasa benar-benar terlihat sangat bahagia melihat bayi-bayi mungil dan menggemaskan itu tidur, dia melihat bayi di dekatnya sedang menggeliat, terlihat sangat lucu, namun tak lama dia menangis, mungkin sudah waktunya dia bangun dan diberi susu.


Seorang perawat langsung dengan tanggap menghampirinya, dia langsung menggendongnya, perawat itu melihat ke arah Ceyasa dan Archie, wajah Ceyasa berbinar senang saat melihat bayi yang sedang menangis itu ditunjukkan lebih dekat oleh perawat itu, bahkan saat menangis dia terlihat sangat lucu, benar-benar malaikat kecil, perawat itu tersenyum senang, mengira Ceyasa adalah ibu dari anak itu, perawat mengangguk sejenak, seakan meminta izin untuk memberikan bayi itu minuman.


Melihat wajah senang dan berbinar Ceyasa, Archie sedikit menaikkan sudutnya, Ceyasa benar-benar telihat polos namun juga terlihat sangat manis, kenapa dia baru sadar hal ini sekarang?


"Mereka sangat lucu, bukan?" kata Ceyasa lagi pada Archie, menatap mata Archie yang tertangkap basah sedang menatapnya, mata Archie tampak begitu lembut namun entah kenapa malah menghunus ke perasaan Ceyasa, tatapan itu sangat dalam baginya.


Ceyasa menundukkan kepalanya, tak ingin terlalu terperangkap sorot mata Archie yang terlalu menggoda, dia lalu melihat seorang perawat meletakkan seorang bayi yang tampak sudah tertidur, namun baru saja dia meletakkannya, bayi itu kembali menangis keras.


"Kau lihat, bayi yang menangis itu?" kata Ceyasa menunjuk pada bayi itu.


"Ya," kata Archie yang memalingkan wajahnya ke arah Ceyasa menunjuk.


"Kata perawat yang tadi mengantarku ke sini, dia baru saja dilahirkan tadi pagi, ibunya memiliki penyakit eklamsia, jadi dia harus dikeluarkan secepatnya, dan baru beberapa jam yang lalu, ibunya harus pergi meninggalkannya, " kata Ceyasa menatap bayi mungil nan montok itu tampak nyaman dalam gendongan perawatnya lagi.


Pancaran mata Ceyasa meredup, raut kebahagiaan tadi menghilang perlahan, menjadi senyum getir yang sedih.


"Lalu?" kata Archie yang melihat wajah Ceyasa yang sekarang tampak sedikit muram.


"Aku hanya berpikir, mencoba menerka, akankah hidupnya sama dengan kita? l" tanya Ceyasa menatap Archie dengan mata sendunya, Ceyasa menyenderkan sisi kepalanya pada kaca pembatas itu, mencoba tetap melihat wajah sempurna pria yang ada di sampingnya ini.

__ADS_1


Archie melihat gurat kesedihan itu, Archie baru sadar, dia dan Ceyasa punya kesamaan, mereka punya takdir yang sama sejak awal, sama-sama ditinggal oleh kedua orang tua mereka bahkan sejak mereka baru dilahirkan, sama-sama diasuh oleh orang lain walaupun itu keluarga mereka namun mereka tidak diterima dengan baik di keluarga mereka sendiri, hanya nasib saja yang membedakan mereka, Archie harus hidup di istana penuh aturan namun bergelimangan harta, jika Ceyasa, dia bisa hidup bebas semaunya, namun hanya saja serba kekurangan.


"Aku harap dia akan mendapatkan hidup lebih baik dari pada kita," ujar Archie yang sedikit gugup melihat tatapan sendu Ceyasa yang memandangnya, tak tahu kenapa, hanya saja terasa membuat hatinya sedih.


__ADS_2