Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
261 - Benarkah Ceyasa Adalah Anaknya?


__ADS_3

Jofan yang mendengar itu kaget, suara petir yang menggelegar pun tidak lagi membuatnya tak bergeming, dia hanya mematung karena mendengar nama itu, walaupun hujan dan angin juga petir bersautan membuat semuanya terdengar samar, tapi sepertinya dia mendengar nama itu jelas, Indra? Bagaimana bisa? Jendral Indra yang menyelamatkan Ceyasa saat dia berumur 3 tahun? Bagaimana bisa? jangan – jangan ….


 


 


Ceyasa menatap Jofan terdiam, percikan hujan yang mengenai tubuhnya bahkan sudah membuat tubuhnya basah, namun Jofan hanya terdiam, membuat Ceyasa mengerutkan dahinya. Suara petir sangat besar menyambar seolah ada di atas kepala mereka, Ceyasa langsung kaget dan takut, dia melihat Jofan yang bergeming, sepertinya hujan ini sudah berubah menjadi badai, membuat Hana segera bergegas membawa Ceyasa dari sana, dan Ceyasa pun meninggalkan tempat itu, meninggalkan Jofan sendiri dengan segala pemikirannya.


 


Jofan yang akhirnya sadar sudah melihat Ceyasa pergi jauh meninggalkannya, dia lalu segera berjalan ke arah ruangan Jendral Ferdinan, dia mengetuk pintu itu dengan sangat kencang yang langsung di buka oleh ajudan Jendral Ferdinan.


 


"Tuan Jofan, Anda basah kuyup," kata Ajudan Jendral Ferdinan.


"Apa Jendral Ferdinan ada di sini?" tanya Jofan yang langsung masuk saja ke ruangan itu.


"Beliau ada di messnya sekarang," kata Ajudan Jendral Ferdinan.


"Aku ingin bertemu dengan dia sekarang, panggilkan dia ke sini sekarang," kata Jofan tampak gusar, dia teringat wajah Ceyasa, benarkah dugaannya?


"Siap Tuan," kata Ajudan Jendral Ferdinan yang merasa ada hal sangat penting yang ingin dilakukan oleh Jofan.

__ADS_1


 


Jofan menunggu dengan gusar, dinginnya air hujan yang membasahi tubuhnya tak lagi dirasakannya, bahkan rasa nyeri yang mulai terasa di perutnya karena dia tadi berjalan cukup cepat ke sini tak lagi dipedulikannya, dia hanya mondar-mandir di ruangan Jendral Ferdinan, mencoba menyambungkan semua kejadian, Jendral Indra melindungi Ceyasa, walaupun dia bukan anaknya, tapi Ceyasa pasti adalah anak yang sangat penting hingga harus dilindungi seperti itu, dia harus tahu kebenarannya.


Tak lama Jendral Ferdinan masuk, dia langsung kaget sekali melihat penampilan Jofan, dia tahu Jofan adalah orang yang sangat rapi, dia tak mungkin seberantakan begini hanya untuk menemuinya jika tidak ada yang penting.


 


"Tuan Jofan," kata Jendral Ferdinan.


"Jendral Indra melakukan penyelamatan terhadap anak berumur 3 tahun beberapa tahun yang lalu, apa kau tahu itu? apa kau ikut dalam penyelamatan itu?" tanya Jofan langsung mendatangi Jendral Ferdinan, bahkan dia tidak membiarkan Jendral Ferdinan untuk duduk.


Jendral Ferdinan mendengar itu langsung tampak terkejut, Jofan memperhatikan perubahan wajah Jendral Ferdinan dan sepertinya dia tahu apa yang terjadi. Jendral Ferdinan melihat ke arah ajudannya, ajudan Jendral Ferdinan mengangguk, tahu bahwa dia harus segera keluar dari ruangan itu.


 


"Aku tidak tahu tentang itu, Jendral Indra memang pernah melakukan penyelamatan pada anak, tapi misi itu sangat rahasia, bahkan dia hanya membawa orang-orang baru yang segera dipindahkan penempatannya setelah melakukan misi itu, mereka ditempatkan di tempat yang terpisah hingga mereka tak akan bisa lagi berhubungan, padaku dia hanya mengatakan dia harus menjalankan misi penting untuk menyelamatkan seorang anak, dia menitipkan markas militer padaku," kata Jendral Ferdinan menatap mata Jofan yang tampak menuntut jawaban darinya.


"Sial, tak adakah dokumen atau apapun yang bisa menjawab siapa anak itu?" kata Jofan frustasi.


"Misi itu dianggap tidak ada Tuan, " kata Jendral Ferdinan yang melihat Jofan tampak begitu keras berpikir, "dari mana Anda tahu tentang misi itu Tuan, itu sangat rahasia," kata Jendral Ferdinan mengerutkan dahi, bahkan dia saja tidak tahu.


"Anak yang diselamatkan itu menceritakanku tentang misi yang dilakukan oleh Jendral Indra dan dia memintaku untuk mengucapkan terima kasih pada Jendral Indra," kata Jofan menjelaskan walau dia tidak melihat ke arah Jendral Ferdinan.

__ADS_1


"Apa dia tidak tahu Jendral Indra sudah meninggal?" kata Jendral Ferdinan.


"Tidak, dia bahkan tidak tahu siapa itu Jendral Indra," kata Jofan lagi.


"Apa Anda curiga bahwa itu adalah anak Anda?"


"Apa kau juga berpikir itu?"


"Jika Anda mencurigai bahwa anak itu adalah anak Anda, jika Anda tahu orangnya, kita bisa melakukan tes DNA untuk memastikannya," kata Jendral Ferdinan lagi membuat Jofan segera menatapnya, ya, benar, kenapa dia tidak memikirkannya ke sana.


"Ya, aku ingin kau melakukan tes DNA pada Nona Ceyasa," kata Jofan.


"Nona Ceyasa?" tanya Jendral Ferdinan mengerutkan dahi, anak yang selama ini di cari-cari ternyata selama ini begitu dekat.


"Ya, buatlah seolah-olah hanya pemeriksaan biasa, aku hanya ingin tahu, jika memang dia anakku, aku akan mengatakannya sendiri, jika tidak, aku tidak ingin membuatnya kecewa," kata Jofan lagi melihat ke arah Jendaral Ferdinan.


"Siap Tuan, saya akan memerintahkan prajurit saya melakukannya," kata Jendral Ferdinan tegas.


"Terima kasih," kata Jofan yang wajahnya masih terlihat cemas.


"Sama-sama Tuan, saya sarankan sekarang Anda untuk membersihkan tubuh Anda, kondisi Anda belum fit seratus persen Tuan, beristirahatlah," kata Jendral Ferdinan.


"Baiklah, beri kabar aku secepatnya," kata Jofan lagi, mengangguk-angguk kecil lalu melihat ke arah Jendral Ferdinan dan segera keluar dari sana, Jofan kembali ke ruangannya, menatap rumah khusus presiden itu dengan tatapan tajamnya, tak sabar menunggu esok, tak sabar untuk mengetahui sebenarnya, benarkah Ceyasa adalah anaknya?

__ADS_1


 


 


__ADS_2