Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
147 - Dia adalah Dosaku.


__ADS_3

"Nyonya saya akan memeriksa Anda sekali lagi, jika keadaan Anda sudah membaik, mungkin secepatnya Anda akan bisa pulang ke rumah," kata dokter itu tersenyum pada Aurora, Aurora hanya mengangguk, mengerti.


Jared dan Jenny sedikit menyingkir, memberikan ruang untuk para dokter untuk memeriksa kembali keadaan Aurora, Jenny menyentuh tangan kakaknya, membuat Jared memandang adiknya, wajah Jenny seolah mengisyaratkan apa yang harus mereka katakan pada Aurora, Jared hanya diam saja, sebenarnya tak tahu apa yang harus dia katakan, apakah jika mereka katakan yang sebenarnya akan menghancurkan hati bibinya?


Jared dan Jenny menunggu dengan cemas, bukan karena menunggu hasil pemeriksan bibinya, karena mereka yakin bibinya sudah baik-baik saja, tapi mereka cemas jika setelah ini bibinya akan bertanya tentang hal itu lagi, namun tak lama dokter selesai juga untuk melakukan pemeriksaan pada Aurora.


"Bagaimana dokter?" tanya Jared pada dokter setelah melakukan pemeriksaan.


"Baik, semuanya normal, Anda benar-benar sembuh dengan cepat, salah satu keajaiban, padahal kemarin keadaan Anda begitu kritis," kata dokter lagi.


"Terima kasih dokter," kata Aurora.


"Kapan kira-kira bibi saya bisa keluar dari rumah sakit?" kata Jared lagi.


"Mungkin besok, hari ini istirahatlah di sini, baiklah saya permisi dulu, semua ini akan saya kabarkan pada Tuan Liam," kata dokter itu lagi.


Jared, Aurora dan Jenny hanya mengangguk dan dokter juga perawat itu segera keluar dari ruangan Aurora, menutup pintu ruangannya.


Jenny kembali pada posisinya, duduk di ranjang Aurora, Jared hanya mendekati bibinya namun tidak kembali duduk di tempat duduknya, mengambil gelas dan mulai menuangkan air pada gelas itu. Aurora menganalisa wajah Jared yang tampak sedikit menghindar darinya, Aurora lalu memegang tangan Jared, membuat Jared menghentikan kegiatannya seketika.

__ADS_1


"Apa pamanmu berbuat salah lagi?" tanya Aurora begitu lembut, seolah merayu Jared.


Aurora tahu sekali bagaimana anaknya ini, dia tidak pernah bisa marah, namun jika dia marah, Aurora tahu bagaimana wajahnya, dia tidak bisa menutupi apa pun darinya, dan tadi saat Aurora bertanya tentang Jofan, dia bisa melihat wajah Jared yang berubah, dia bisa melihat rasa kesal yang nyata di wajah anaknya itu.


"Dia hanya sedang tersesat," kata Jared lagi, tak tahu harus mengatakan apa.


"Ah, paman selalu seperti itu, entah kapan dia tidak tersesat," kata Jenny nyeletuk, dia orang yang tak bisa menahan dirinya, jadi seperti ini sangat menyiksa baginya.


"Apa lagi yang dibuatnya kali ini?" kata Aurora mengelus pipi Jenny yang langsung memasang wajah kesalnya.


"Dia pergi bersama Siena, dia memilih Siena dari pada bersama kita, dia juga lebih membela Siena dari pada aku, Bibi, aku yakin Siena itu anak yang licik, Bibi tahu di tangannya ada bekas luka bakar, aku yakin dia ada hubungannya dengan rumah kita yang terbakar itu," kata Jenny lagi, terlalu gampang mengorek semua informasi dari Jenny dari pada Jared, Jared hanya memandang adiknya, adiknya memang tak bisa diharapkan sama sekali.


"Tapi dia tidak boleh memperlakukan Bibi seperti ini, Bibi, Bibi ini terlalu sabar, seharusnya Bibi sesekali marah pada paman! Jika begini terus, paman akan mengira Bibi itu sangat mudah dibodohi, dan akan terus menginjak-injak Bibi," kata Jenny lagi kesal, bibinya terlalu baik atau terlalu bodoh, sekarang Jenny pun tak tahu.


"Untuk apa aku marah? memangnya jika aku marah akan membuat semua hal membaik? apa jadinya jika dari awal aku sering marah padanya, akankah aku bisa melihat kalian tumbuh? Bisakah aku mengajari kalian? Bisakah aku menjaga kalian hingga bisa sangat bangga melihat kalian tumbuh menjadi pria dan wanita seperti ini? aku bertahan bukan hanya karena mencintainya, namun juga untuk kalian, sejak aku pertama kali melihat kalian, aku benar-benar sudah menganggap kalian anakku, jika aku pergi, aku tidak akan bisa mendapatkan kalian," kata Aurora, membuat diam Jared dan Jenny, Jenny mengerutkan wajahnya, dan tak lama malah menangis, dia langsung memeluk Aurora, jadi selama ini Aurora bertahan dengan sakitnya hanya karena mereka.


"Maafkan kami, seharusnya jika tidak ada kami, Bibi pasti sudah bahagia, mungkin punya suami yang mencintai Bibi, atau mungkin punya anak Bibi sendiri," kata Jenny dengan tangis tersedu.


"Aku rasa aku tak ingin bertaruh memiliki anak sendiri dan meninggalkan anak-anak seperti kalian, kalian anakku, walaupun bukan aku yang mengandung kalian, tapi bagiku kalian adalah anakku," kata Aurora sendu, mengelus punggung Jenny yang masih saja menangis tersedu.

__ADS_1


Aurora lalu melihat Jared yang tampak sedih mendengarkan kata-kata Aurora, bagaimana pun, tanpa pamannya, dia tak akan bisa bertemu dengan wanita semalaikat bibinya, sekarang entah kenapa dia malah berpikir untuk memisahkan mereka berdua?


"Tidak apa-apa, jangan menyalahkan diri sendiri," kata Aurora pada Jared yang tampak memandangnnya bersalah. Jenny yang mendengar itu, membangkitkan tubuhnya menatap Aurora yang tersenyum keibuan padanya.


"Tapi walaupun begitu, aku masih tidak bisa merima perlakuan paman, lagi pula selama bibi sakit, paman tidak ada, malah orang lain yang mencemaskan bibi," kata Jenny lagi masih menyimpan kesal yang sangat pada pamannya, tak akan secepat itu bisa memaafkannya.


"Liam?" tanya Aurora, mengerti sekali sepertinya Jenny sangat menganggungkan pria itu. Jenny menganggukan kepalanya.


"Aku dan Liam, kami tidak akan pernah bersatu, " kata Aurora tersenyum seolah mengenang sesuatu, membuat Jared dan Jenny mengerutkan dahinya. "Semua orang punya dosa, dan Liam adalah dosaku di masa lalu, dan aku sudah berjanji tidak akan pernah berhubungan dirinya lagi," kata Aurora membuka lembar-lembar masa lalunya, Jenny dan Jared mendengarkannya dengan seksama, seolah Aurora sedang menceritakan sebuah kisah dongeng pengantar tidur pada mereka. Jared menarik kursinya dan kembali duduk.


"Dosa? Maksud Bibi?" kata Jenny penasaran, bagaimana pria setampan itu menjadi dosa bagi bibinya.


"Liam adalah kakak kelas ku, kami bertemu saat kami kuliah, dia mengambil S2 di sana, dia yang melakukan perkenalan kuliah untukku, sejak saat itu kami dekat, terlepas ternyata dia juga adalah sahabat bibi Susan," kata Aurora mengenang masa-masa mudanya.


"Lalu?" kata Jenny yang mulai menyukai cerita ini, melihat bibinya muda dan Liam muda, pasti akan sangat menyenangkan, wanita cantik dan pria tampan, pasti pasangan yang sangat cocok.


"Kami dekat, dia sering mengajari bibi, tentu dengan pria sesempurna itu, siapapun akan menyukainya bukan?" kata Aurora mencolek hidung mancung Jenny, mengetahui bahwa putrinya ini juga menyukai penampilan luar dari Liam.


"Ya, bahkan saat ini paman Liam sangat tampan," kata Jenny lagi.

__ADS_1


__ADS_2