Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
348 - Sang Raja dan Ratu.


__ADS_3

Archie menarik napas panjangnya, Kembali merapikan Pakaian resmi kerajaannya dengan segala atributnya, dia tampak begitu gagah, pakaian berwarna hitam gelap itu, dengan atribut kerjaan berwarna emas begitu cocok dengannya.


Daihan masuk ke dalam ruangan Archie, Archie hanya melirik ayah angkatnya itu sambil mencoba membenarkan kancing yang ada di pergelangan tangannya, Daihan tersenyum melihat Archie dan berdiri di depannya, Archie menatap ayahnya, wajahnya begitu gugup.


"Gugup?" tanya Daihan sambil merapikan bagian kerah Archie.


"Ya," Jawab Archie singkat, tak bisa berkata lebih.


"Itu wajar, semua pria akan mengalaminya, tapi bukannya kau seharusnya lebih mendingan, kau sudah pernah menikah dengannya sebelumnya," Ucap Daihan dengan senyuman menenangkan.


Archie menatap ayahnya itu,"Ya, tapi saat itu aku hanya ingin menolongnya, menikahinya juga terasa biasa saja, saat ini terasa berbeda," kata Archie lagi.


"Tenang saja, semua akan berjalan dengan baik-baik saja, Papa hanya ingin mengatakan, sejak setelah kau mengatakan kau Nerima dia, maka berjanjilah untuk melakukannya, dia bukanlah dewi yang sempurna, dan kau juga bukan dewa, jadilah pelengkapnya, dan dia akan melakukan yang sama, suatu saat di jalan yang kalian lewati pasti akan ada jalan berlobang yang mengguncang kalian, di saat itu, jangan pernah melepaskan tangannya, genggam dia erat-erat karena setelah kata aku bersedia, percayalah dia sudah mengantungkan seluruh harapannya padamu, lakukan dia seperti putri bukan bawahanmu, karena dia juga di perlakukan begitu di keluarganya, jangan merubah itu, atau dia akan merasa hidup denganmu adalah siksaan, bebanmu akan semakin besar, apa lagi sebentar lagi kau jadi ayah, namun percayalah, jika kau lakukan semuanya dengan keteguhan dan kesetiaan, maka semua akan baik-baik saja, Jika suatu saat, kau bangun dan merasakan dia sudah berubah, pikirkan lah sejenak, mungkin ada hal yang tak lagi kau lakukan seperti saat awal kau bertemu dengannya, papa yakin kau akan jadi suami yang baik," kata Daihan memberikan nasehat pernikahan untuk Putranya.


Archie terdiam, memandang mata ayahnya yang begitu teduh, perasaannya cukup tersentuh mendengar hal itu, dia lalu menggangguk mantap, memberikan pelukan erat pada ayahnya.


"Bahagiakan dia, Aku yakin kau bisa, jatuh cintalah dengan semua yang dia miliki dan tak dia miliki, hanya itu kuncinya, jangan malu untuk meminta maaf walau kau tak salah, berterima kasihlah padanya dengan hal-hal kecil yang dia buat, karna kadang hanya dengan maaf dan terima kasihlah yang dibutuhkan suatu hubungan," lanjut Daihan setelah itu melepaskan anaknya.


25 tahun yang lalu, putranya ini hampir tak bisa melewati dunia karena ibunya tak ingin memilikinya, namun sekarang Daihan membuktikan, tak peduli dari mana asalnya, di inginkan atau tidak, dia bisa jadi orang besar di masa depannya, asalkan dia diberikan kesempatan.


"Acara akan dimulai, hanya memberitahukan," kata William yang tiba-tiba masuk, melihat Ayah dan Kakaknya yang berwajah sedih dan terharu.


"Baiklah, sambutlah dia dengan baik," kata Daihan. menepuk bahu Archie. Archie hanya mengangguk, dia segera keluar dari ruangan itu.


Ceyasa duduk dengan anggunnya, gaun pernikahannya tampak begitu indah dikenakannya, veil pengantin berwarna putih transparan menutupi rambut hingga wajahnya, rambutnya di tata begitu simpel tersisip bunga-bunga Jeruk yang memang menandakan arti kesucian, hal ini memang dilakukan dalam setiap pernikahan adat kerajaan, sebuah bouquet bunga Baby's Breath putih juga indah terangkai, bunga yang melambangkan ketulusan dari cinta sejati.

__ADS_1


Aurora dan Jenny hanya menatap Ceyasa, tak bisa memungkiri kecantikannya, Jenny bahkan bangga memiliki sepupu yang walaupun baru dikenalnya ini.


Pintu ruangan itu terketuk, Jenny berinisiatif membuka pintunya, menunjukkan sosok pamannya yang sudah sangat gagah dengan setelan jasnya, wajah pamannya terlihat begitu gugup.


"Apa dia sudah siap, semua sudah menunggu di aula kerajaan," ujar Jofan.


"Ya," kata Jenny membuka pintu lebih lebar, menunjukkan sosok Ceyasa yang bahkan tak bisa membuatnya berkata-kata, hanya diam saja, jika bisa dia akan ternganga, Aurora puas melihat respon suaminya.


"Ayah," lirik Ceyasa tersenyum menyambut ayahnya.


"Ayah ... ayah sampai bingung harus berkata apa, kau cantik sekali, ayah jadi merasa tak rela melepasmu," ujar Jofan sekaligus bercanda menutupi kegugupannya, hal itu membuat semua orang di sana tertawa kecil, "Baiklah, kita harus ke sana."


Jofan berdiri di dekat Ceyasa, Ceyasa perlahan berdiri, Jenny membatu merapikan gaun Ceyasa, Ceyasa tersenyum berterima kasih pada Sepupunya itu yang juga dibalas senyuman oleh Jenny.


"Tenang saja, semua orang akan terkagum padamu," kata Aurora lembut.


"Terima kasih Ibu," kata Ceyasa dengan wajah terharu.


"Jangan menangis, tetap tersenyum," kata Aurora lagi.


"Ya."


"Baiklah, ayo," kata Jofan sebelum dia melangkah membawa Ceyasa di sampingnya menuju altar pernikahan mereka.


Pintu Aula Kerajaan yang sangat besar itu terbuka, ribuan tamu yang datang segera menatap ke arah pintu itu, walau inginnya pernikahan sederhana namun tetap saja tak akan bisa sesederhana pemikiran Archie dan Ceyasa, pernikahan calon Raja dan Ratu, tak mungkin ada yang ingin melewatkannya.

__ADS_1


Jofan melangkah perlahan namun mantap, menatap ke altar tempat Archie berdiri dengan keadaan sempurna, Archie tak bisa menutupi rasa kagumnya, terkesima bahkan sejak dia melihat Ceyasa pertama kali, tak menyangka wanita yang dulunya sering memarahinya, memaksanya untuk makan di lantai, hingga membuatnya selalu kesal dengan tingkah lakunya, hari ini akan sah menjadi miliknya, dan wanita itu sungguh mempesona.


"Ku serahkan putriku padamu," kata Jofan menyerahkan tangan Ceyasa pada Archie, ada perasaan tak rela di hati Jofan, dia baru saja menemukan Putrinya, dan dengan cepat pula dia sudah harus menyerahkan putrinya pada pria lain.


Jofan sadar, dia lalu berjalan ke arah Aurora, Aurora yang tahu perasaan suaminya hanya mengelus dada suaminya.


"Jika ingin menangis, itu tak apa-apa," bisik Aurora.


"Tidak, aku tak ingin membuat Ceyasa merasa sedih," kata Jofan, merangkul istrinya dalam pelukannya.


Archie terus melirik Ceyasa, walaupun dia sudah berusaha fokus untuk mengikuti upacara pernikahan mereka, tapi rasanya sekarang dia hanya ingin melihat pengantinnya ini, detik itu pula dia merasa hanya wanita ini yang dia butuhkan seumur hidupnya.


"Yang Mulia Pangeran Archie Audra Crawford dan Yang Mulia Putri Ceyasa Downson, saya nyatakan anda berdua sebagai sepasang suami istri," ujar pemimpin upacara pernikahan mereka yang langsung disambut tepuk tangan meriah yang sangat riuh di aula itu, Archie bernapas lega, Ceyasa pun begitu mereka saling bergenggaman tangan, di jari manis mereka sudah melingkar cincin pengikat dan pengingat janji suci yang baru saja mereka ucapkan.


Mereka menatap semua orang yang hadir, keluarga memenuhi baris depan, merayakan suka cita penyatuan dua insan ini, tawa bahagia hingga tangis harus terlihat di sana, mengantarkan sepasang anak manusia yang sekarang telah bersatu melangkah ke kehidupan mereka yang baru.


Acara segera dilanjutkan sesuai dengan rencana mereka, Angga berdiri dengan pakaian resmi kerjaannya begitu juga Bella yang tampak anggun dengan gaun berwarna baby blue, sebuah mahkota yang sudah lama tak pernah digunakannya tersemat di kepalanya, mereka segera berjalan menuju pengantin baru itu.


Archie dan Ceyasa segera berlutut di depan mereka, untunglah Ceyasa mengikuti gladiresik sebelumnya, jika tidak dia akan bingung harus melakukan apa.


Angga melepaskan mahkota yang dia gunakan, menaruhnya di atas kepala Archie, Archie yang telah dipasangkan mahkota itu segera bangkit dengan perlahan, menatap dengan mantap ke arah Angga yang juga tampak begitu serius namun bangga, Angga segera menyerahkan tongkat kekuasaan dan tanda kerajaan pada Archie, Archie segera menerimanya, dengan begini, artinya Archie sudah sah menerima tampuk kerajaan ini di tangannya.


Bersamaan dengan itu, Bella pun melepaskan mahkotanya, menyematkannya di kepala Ceyasa, tampak sangat cocok dengan penampilannya sekarang, saat Archie berdiri Ceyasa pun berdiri perlahan, setalah semua penyerahan itu selesai, pemimpin Acara itu segera memberikan pengumuman.


"Beri hormat pada Raja Archie Audra Crowford dan Ratu Ceyasa Crowford," suara pemimpin upacara itu menggema, dengan hening dan serempak, semua orang membungkuk di hadapan Archie dan Ceyasa, Ceyasa menahan napasnya, melihat semua orang memberikan hormat padanya, membuat sensasi berbeda tentunya.

__ADS_1


__ADS_2