Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
46 - Tenang Jika Bersamanya.


__ADS_3

Jofan dan aurora baru saja selesai makan siang bersama Angga dan Bella sekalian mengantarkan mereka ke bandara untuk pergi melakukan tugas Angga.


Jofan membukakan pintu mobil mereka, membiarkan Aurora untuk masuk ke dalam mobil, dengan anggunnya Aurora masuk dan segera duduk, gaunnya yang panjang tampak sedikit keluar, Jofan membantunya untuk memasukkannya, Aurora meleparkan senyuman manis, jika di luar seperti ini, semua orang akan selalu cemburu melihat kedua pasangan yang tampak sangat serasi, harmonis dan bahagia, yang pria tampak tampan dan penuh wibawa sedangkan yang wanita begitu cantik bak seorang putri di dunia nyata.


Jofan langsung mengitari mobilnya, membuka pintunya dan langsung masuk, sekarang memang dia tidak pernah lagi mengunakan supir, ke mana pun dia pergi, dia akan mengendarai mobilnya sendiri, dia baru saja ingin menarik seatbeltnya, saat ponselnya berdering, dia segera menerima panggilan itu, itu panggilan dari Dokter Elly.


"Ada apa?" kata Jofan tampak cemas, jika Dokter Elly menelepon berarti ada masalah. Tangan Jofan yang satu terlihat menarik-narik sabuk pengamannya, berusaha untuk memasangnya namun kesusahan karena dia juga fokus dengan ponselnya.


Aurora yang memperhatikan suaminya yang tampak sedikit cemas dan panik itu membuka kembali sabuk pengamannya, tangannya yang halus menyentuh sabuk pengaman Jofan yang dari tadi di tarik-tarik oleh suaminya namun tidak terpasang, karena terus menarik, tangan Jofan menyentuh tangan Aurora, mendapatkan sentuhan dari tangan lembut Aurora Jofan terdiam, melihat wanita itu dengan senyuman yang sangat hangat menarik lembut sabuk pengaman suaminya dan perlahan memasangkannya dengan benar. Jofan hanya bisa terdiam.


"Ya, ya, baiklah, aku akan ke sana sekarang, terima kasih," kata Jofan yang langsung ingat dia sedang menelepon. Ponselnya segera dimatikannya dan diletakkannya di tengah.


"Ada apa?" tanya Aurora yang pasti tahu ada sesuatu yang membuat Jofan cemas, dia menebak dalam hati, ini pasti masalah Sania.


"Aku harus bertemu dengan Sania, keadaannya memburuk," kata Jofan dengan wajah cemas menatap wajah tenang Aurora. Aurora yang mendengar itu memunculkan senyum tipisnya.


"Baiklah, pergilah, aku akan naik taksi saja," kata Aurora segera mengambil tas jinjingnya, ingin bersiap-siap turun, namun lengannya langsung digenggam oleh Jofan.


Jofan pun kaget melihat apa yang di lakukannya, itu benar-benar refleks dilakukannya, entah kenapa dia merasa tak ingin Aurora pulang dengan taksi dan pergi darinya karena entah bagaimana pula, ada di samping Aurora, dirinya menjadi lebih tenang.


Aurora melihat wajah suaminya yang tampak sedikit terkejut, namun langsung tampak sedikit salah tingkah.

__ADS_1


"Ada apa? " kata Aurora lembut.


"Eh … bukannya kau ingin bertemu dengannya?" tanya Jofan mencari alasan, dia tak bisa mengatakan dia ingin Aurora tetap bersama dirinya.


"Bolehkah?" tanya Aurora kaget, dia kira Jofan tidak akan ingin membawanya bertemu dengan Sania.


"Iya, kita pergi ke tempatnya sekarang," kata Jofan mengulas senyuman tipis, dia segera memposisikan diri untuk segera mengendarai mobilnya.


Aurora masih tidak percaya bahwa Jofan mengajaknya untuk bertemu Sania, perasaan Aurora sekarang merasa senang, ini artinya Jofan percaya dengan dirinya,  dia jadi tersenyum, bahkan lebih terlihat seperti tawa kecil yang kesenangan, Jofan melirik ke arah Aurora yang tampak sumringah, tawa itu menular ke wajahnya, dia jadi tersenyum juga.


"Pakailah sabuk pengamanmu, aku akan mengendarai mobinya dengan sedikit cepat, kita harus cepat sampai di sana," kata Jofan lembut, Aurora yang mendengar itu terpesona, kelembutan suara itu benar-benar belum biasa dia dengarkan.


Mobil mereka melaju cepat, menggilas aspal yang tampak panas di luar, cahaya matahari menyengat namun di dalam mobil itu terasa sejuk, cendrung dingin bagi Aurora, entah karena memang AC nya terlalu besar atau karena kegugupannya.


Semakin roda mobil itu berputar mengantarkan Aurora mendekat ke tempat tujuan, rasa bahagianya malah berubah keraguan, ketakutan dan kebingungan, entah kenapa semakin mereka melaju semakin dia tak yakin, benarkah dia sanggup bertemu dengan wanita yang selama ini menjadi penghalang dirinya dan pria yang sekarang duduk di sampingnya ini? Sanggupkah dia? Aurora lalu melirik ke arah Jofan yang sedang fokus ke jalanan.


Aurora menggenggam tangannya sendiri, terasa dingin, dia menggigit bibirnya, benarkah dia akan bertemu dengan wanita itu? kenapa dia sekarang malah merasa sesak? sepertinya dia tidak akan sanggup melakukannya.


Perjalanan mereka cukup lama dan hal itu malah membuat Aurora semakin uring-uringan, dia takut dia tidak sanggup, wanita yang mana yang sanggup melihat wanita yang selama ini ada di hati suaminya sendiri dan sekarang pria itu malah dengan entengnya ingin mempertemukan mereka, dia takut dia akan membuat kacau di sana, tak bisa menahan dirinya untuk membenci Sania.


Tapi Aurora tak mungkin menolaknya, bukannya yang awalanya ingin meminta bertemu adalah Aurora sendiri, dia jadi serba salah, bolehkah menolaknya sekarang?

__ADS_1


Mobil mereka berhenti di gerbang  markas militer, Jofan segera menunjukan lencananya, pintu itu dibukakan, hal ini malah membuat Aurora semakin sesak napas, dia gugup sekali, sangat cemas.


Jofan segera mengarahkan mobil mereka ke tempat Sania, Jofan segera turun dan membukakan pintu untuk Aurora, Aurora sedikit tersenyum cangung, melihat hal itu Jofan sadar apa yang dirasakan oleh Aurora namun karena Aurora tidak mengatakan apapun, Jofan juga tidak ingin bertanya.


Jofan mengarahkan Aurora ke dalam bangunan yang belum selesai itu, Aurora awalnya merasa heran, kenapa Jofan harus masuk ke dalam bangunan yang belum selesai, bukankah itu berbahaya?


"Masuk, ini tidak apa-apa," kata Jofan melihat wajah ragu Aurora.


"Oh, iya," kata Aurora sedikit manaikkan gaun putihnya agar tidak menyapu lantai yang kotor di bawahnya.


Jofan membukakan pintu itu dan seketika Aurora langsung kaget dengan apa yang dilihatnya, sangat berbeda dengan apa yang terlihat di luar, ternyata memang kita tidak bisa menilai semuanya dari luar.


Jofan lalu berjalan ke arah lift, saat pintu itu terbuka, dia mempersilakan Aurora untuk masuk ke dalam setelah itu dia masuk ke dalam dan menekan tombol 5.


Sejenak tadi Aurora cukup teralihkan dengan keadaan yang membuatnya terkejut, namun saat di lift, dia kembali sadar dengan apa yang akan dihadapinya, semakin turun lift itu, semakin tak bisa dia bernapas, rasanya benar-benar gugup, tanpa sadar dia malah menggenggam tangan Jofan yang ada di sampingnya.


Jofan yang merasakan tangan dingin Aurora langsung melihat ke arahnya, Aurora yang baru sadar pun langsung melepaskan tangannya, pasti Jofan mengira dia sengaja. Jofan hanya menatap Aurora yang benar-benar tegang, dia tahu perasaan Aurora, tak akan ada manusia di dunia ini yang mau bertemu dengan saingan cinta mereka.


Pintu lift itu terbuka, Jofan langsung berjalan mendekati Dokter Elly yang tampak sibuk melaporkan sesuatu pada beberapa orang di sana.


"Tuan, keadaan Nona Sania tadi kritis, namun sekarang sudah berangsur membaik, tapi sebaiknya Anda melihatnya," kata Dokter Elly segera menyambut Jofan dengan cepat, dengan langkahnya yang cepat Dokter Ellt membukan pintu ruangan dari Sania, melihat Dokter Elly yang begitu cemas, Jofan pun langsung terlihat cemas, dia meninggalkan Aurora sendiri di luar.

__ADS_1


__ADS_2