
"Tidak, kita masih punya kesempatan walaupun itu hanya sedikit, aku yakin kau akan sembuh," kata Jared tidak bisa mendengar hal itu, menginduksi rasa pedih di matanya.
"Itu Cuma 60%, itu sama saja dengan setengah kesembuhan dan setengah lagi kematian, aku bahkan tak tahu apakah itu berhasil atau tidak? jika itu berhasil aku akan sembuh, jika tidak, aku akan mati lebih cepat, pernikahan kita bahkan belum genap sebulan, aku bahkan belum bisa memberimu anak," kata Suri dengan suara meninggi, dia marah dan frustasi, kenapa harus dia yang mengalami hal ini. Semua cita-cita yang sudah dia bayangkan selama ini bersama Jared, serasa hilang begitu saja, lenyap bersama kabut yang menyelemuti matanya, yang menemaninya dalam 3 hari ini.
Jared hanya diam memandang Suri, membiarkan wanita itu mengeluarkan keluh kesahnya, Suri yang hanya di pandang oleh suaminya itu menjadi sedikit menyesal, kenapa dia melimpahkan semuanya pada Jared.
"Kita tidak bisa punya anak," kata Jared menatap Suri, Suri mengernyitkan dahinya, "Kehamilan bisa membuat keadaanmu semakin buruk, jadi selama penyakit itu masih ada, aku tidak akan mengizinkanmu hamil," kata Jared menatap Suri, matanya tampak merah namun kesenduannya itu terlihat dalam.
Suri kali ini terdiam, dia hanya memandang Jared, jadi dia tidak akan bisa memberikan Jared anak? Kembali, sebuah pukulan telak terasa menghantam kepalanya, ternyata ada kejutan lain yang sekali lagi membuat dirinya harus menelan pil pahit.
"Kapan kau tahu hal ini? apakah sebelum menikahi kau sudah tahu tentang hal ini?" tanya Suri tersekat-sekat, seolah kesusahan untuk bernapas, hatinya sakit sekali mengetahui hal ini, padahal dalam benaknya dulu, dia bisa menggendong anaknya yang sangat lucu. Membayangkan langkah kecil yang akan berlari ke arahnya, melihat Jared bisa bermain dengan sosok mungil percampuran antara dirinya dan Jared, dan sekali lagi gambaran itu harus terenggut, pupus perlahan.
"Iya," kata Jared tampak kesedihan di matanya, lagi-lagi jawaban Jared membuat Suri terdiam.
"Kau sudah tahu aku tidak akan bisa memberikanmu anak namun kau tetap ingin menikahiku?" tanya Suri yang tak percaya tentang hal ini, Benarkah?
"Aku menikahimu karena aku mencintaimu, aku tidak peduli tentang semua hal itu, aku hanya ingin ada di sisimu selama yang aku bisa, selama sisa waktuku dan waktumu, dan aku percaya, kau akan bertahan, sudah aku katakan, apapun itu akan aku lakukan untuk kesembuhanmu, apapun dan aku yakin, Kita akan baik-baik saja, Suri, aku butuh dirimu," kata Jared yang tampak begitu emosional, air matanya tertumpah, jatuh dari sudut matanya yang bisanya selalu terlihat tajam, namun kali ini tampak lemah, Suri adalah kekuatannya namun juga kelemahannya.
__ADS_1
Suri terdiam, air mata Jared membuatnya sadar, selama ini Jared tampak begitu sabar dan kuat, dia selalu menemaninya, senyuman yang selalu mengembang dari bibirnya semenjak mereka menikah sebenarnya adalah ekspresi kesakitannya, namun ditutupinya agar Suri bahagia, Jared berusaha tetap berdiri tegak agar menjadi senderan untuk Suri. Namun kali ini, Suri bisa melihat, betapa rapuhnya suaminya itu.
Suri akhirnya sadar, di sini ternyata bukan dia saja yang merasa tertekan akan penyakitnya, bahkan mungkin Jared lebih tertekan, ayah dan ibunya juga, mereka tampak biasa saja selama ini, tampak bahagia hanya untuk membuat Suri juga bahagia, Suri terlalu egois jika hanya memikirkan dirinya, padahal banyak orang yang sudah lebih dahulu memikirkan bagaimana nasibnya.
"Maafkan aku begitu egois," kata Suri menghapus air mata dari mata Jared yang basah, Jared memundurkan badannya, menyeka air matanya dengan ibu jari dan telunjuknya, seperti tak mengizinkan Suri menghapusnya, Jared menarik napas dalam-dalam, kembali terlihat tegar sekaligus lemah dalam waktu bersamaan.
"Tidak apa-apa, aku hanya tak ingin kau merasa putus asa, Suri, apapun pilihanmu, ingin melakukannya atau tidak, aku akan di sisimu, dan aku akan terus mencari cara bagaimana kau bisa sembuh dari penyakit itu," kata Jared menyakinkan Suri, memegang pipi Suri yang kembali menangis.
"Kau serius, Suri tapi itu …. " kata Jared yang sebenarnya juga ragu, mana yang harus mereka ambil.
"Penyakit ini bisa mengganas kapan saja kan? Kita tak tahu apakah nanti malam aku masih bisa seperti ini atau tidak, mungkin besok aku juga sudah tak sadar, kita juga tidak tahu apakah serum itu masih berkerja padaku atau tidak bukan? jadi walaupun aku tidak mengambilnya, tak ada jaminan aku bisa hidup lebih lama dari esok hari, 60% aku rasa cukup untuk memberiku harapan untuk bisa bersamamu, aku akan mengambilnya, aku setuju melakukannya," kata Suri sambil perlahan mengembangkan senyumnya, mengangguk-angguk kecil untuk membuat dirinya sendiri percaya, juga mencoba menyakinkan Jared.
__ADS_1
Jared kembali diam, hanya matanya yang sendu yang memandang Suri, apa yang dikatakan Suri benar, tanpa kesempatan yang walau hanya 60% itu, siapa yang bisa menjamin esok hari wanita yang paling dia cintai ini akan masih ada di sampingnya, Jared mendekatkan tubuhya pada Suri, menariknya kembali dalam pelukannya, memberikan ciuman yang paling dalam untuk Suri, memang siapa yang tahu, sampai kapan orang yang kau cintai akan selalu ada di sisimu?
-----***----
Dokter memasangkan alat untuk pemeriksaaan tanda vital standar untuk Suri, Jared dengan setia berada di samping Suri, semua keluarganya ada di sana sekarang, Angga dan Bella menatap Suri dengan senyuman tipis nan lembut, menatap anaknya yang tampak sangat-sangat berbeda, cahaya mata dan wajahnya meredup, matanya cekung dan lingkar matanya menghitam menandakan entah sudah berapa banyak air mata yang tertumpah dari matanya yang biasa sangat bercahaya itu.
Suri menggenggam tangan Jared lebih erat ketika dokter mengambil darah dari lipatan sikunya, Jared hanya memberikan sedikit senyumannya untuk menenangkan Suri.
"Putri, saya akan memeriksa keadaan Anda, Anda harus banyak istirahat, jangan putus semangat, karena yang bisa menyembuhkan diri Anda adalah diri Anda sendiri, semakin bagus keadaan Anda, semakin besar kesempatan kita," kata dokter itu tersenyum manis sambil memberikan sedikit nasehat.
"Terima kasih Dokter," kata Suri dengan suara seraknya.
"Archie sedang ada di dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi dia akan datang," kata Angga pada dokter yang baru saja bangkit dari duduknya.
"Baiklah, setelah pangeran datang, kami akan langsung melakukan prosedur pembuatan serumnya, setelah serumnya selesai dan keadaan putri Suri memungkinkan, kita akan segera melakukan penjadwalan untuk melakukan tindakannya," kata dokter itu menjelaskan apa yang akan mereka hadapi nantinya, semua orang di ruangan itu mengangguk-angguk kecil, menandakan mereka tahu mengerti hal ini.
"Ya, kami mengerti," kata Yang Mulia Raja.
"Baiklah, Putri, beristirahatlah, saya permisi dahulu," kata dokter itu, dia memberikan hormat lalu berjalan keluar dari ruangan Suri, tak ingin membuang waktu, mereka harus melakukan semuanya secepat dan juga setepat mungkin.
Suri menatap semua orang yang berwajah tak jauh darinya, wajah-wajah yang tak tahu harus apa tapi saling mencoba untuk menguatkan, Bella duduk di samping anaknya, menggengam erat tangan anaknya yang masih hangat, air matanya ingin turun, tapi sebisa mungkin di tahannya, karena dia tahu, jika Suri melihatnya menangis, Suri akan sedih.
__ADS_1
"Ingin apa?" tanya Jared pada Suri, Suri menggelengkan kepalanya, Jared mengambil beberapa bantal dari Ranjang penunggu, lalu menyelipkannya di belakang pundak istrinya.