
Jared menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba untuk menyedarkan dirinya bahwa itu hanya mimpi, dia lalu berdiri, berjalan mendekat ke arah Suri yang masih tenang tertidur, dia kembali meletakkan tangannya.
"Beristirahatlah, aku akan menunggumu hingga kau kembali padaku," kata Jared dengan suara lembut berbisik, tak ada jawaban, hanya hening yang mengusik, Jared memalingkan wajahnya, mencoba untuk keluar dari ruangan itu, saat dia keluar, lorong itu terlihat sudah sepi, dia melirik jam di tanganya, sudah pukul 3 pagi, sebentar lagi, Suri akan menghabiskan waktu 24 jamnya.
Jared terduduk kembali di kursi lorong yang hampir semua lampunya mati, dia sedikit terkejut melihat Ceyasa keluar dari salah satu ruangan membawakan selimut di tangannya.
"Kakak, kau sudah bangun, aku baru saja ingin memberikanmu selimut," kata Ceyasa yang terkejut.
"Kau belum tidur?" tanya Jared yang kaget, ini pukul 3 pagi.
"Oh, ya, aku sudah tidur, tapi siapa yang bisa nyenyak tidur di tempat seperti ini," kata Ceyasa duduk di samping Jared, "Suri akan baik-baik saja, ingat terakhir kalinya dia juga tak sadarkan diri, lalu bangun seperti tidak terjadi apa-apa, aku yakin dia tidak akan apa-apa kali ini," kata Ceyasa memberikan semangat dengan suaranya yang optimis.
"Terima kasih, aku bermimpi tentangnya tadi," kata Jared melirik adik sepupunya ini.
"Benarkah?" kata Ceyasa mengernyitkan dahinya.
"Ya, dia hanya meminta untuk istirahat, mungkin memang dia butuh istirahat sejenak," kata Jared lagi.
"Ya, kita semua butuh istirahat, Jared, beristirahatlah, biar bibi yang melanjutkan," kata Bella yang tak tahu sejak kapan muncul di sana.
"Aku masih sanggup Bi, Bibi dan Ceyasa istirahatlah, aku akan berjaga malam ini," kata Jared lagi.
"Jangan mengambil porsi menjaga Suri terlalu banyak, aku adalah ibunya, jangan khawatir, dia akan baik-baik saja," kata Bella lagi, bagaimana bisa dia tidur jika anaknya masih terbaring lemah di sana, jiwanya tak mengizinkannya untuk tidur.
__ADS_1
"Sepertinya kita semua tidak bisa tidur," kata Archie yang juga tiba-tiba keluar dari ruangan itu. Dia memicingkan mata melihat ke arah Ceyasa yang duduk di sebelah Jared, Ceyasa yang mengetahui tatapan itu segera berdiri lalu mendekat ke arah Archie, Archie terus memandang Ceyasa dengan tatapan curiga, hingga membuat Ceyasa salah tingkah.
"Kami hanya berbincang, lagi pula dia kakak sepupuku," kata Ceyasa kecil pada suaminya agar semua tidak mendengarnnya.
"Ehm, aku dan Suri juga sepupu," bisik Archie tetap memandang Ceyasa curiga, sedikit panas melihat hal itu.
"Haruskah kau begini saat seperti ini?" bisik Ceyasa kesal pada Archie.
"Memangnya aku kenapa? makanya jangan membuatku kesal," bisik Archie lagi.
"Siapa yang membuatmu kesal, sudah, bukan waktunya seperti ini," kata Ceyasa lagi.
Melihat tingkah Archie dan Ceyasa yang walaupun sudah berbisik namun tetap terdengar itu menjadi sedikit penghibur untuk Bella dan Jared, mereka menjadi tersenyum tipis, tak lama pintu kembali terbuka, sosok Angga keluar dan tampak kaget melihat semua orang berkumpul di lorong itu.
"Tidak apa-apa, kita hanya tak bisa tidur," kata Bella melirik suaminya.
"Hanya Suri yang bisa tidur malam ini, akan sangat mengejutkan jika dia juga bangun sekarang," kata Archie asal saja, namun baru saja mengatakan hal itu, pintu ruangan Suri terbuka lebar, membuat kaget semua orang di sana, seluruh mata langsung tertuju pada seorang perawat yang berwajah kaget.
"Ada apa? apa keadaan Suri kembali turun?" tanya Bella menatap perawat itu.
Jared tak sabar menunggu apa yang dikatakan oleh perawat itu, dia langsung berlari masuk ke dalam ruangan tunggu itu, melihat kembali dokter dan perawat sibuk dengan Suri, namun yang berbeda sekarang, mata Suri terbuka, walaupun hanya menatap lurus ke atas.
__ADS_1
Tubuh Jared rasanya lemas, saat yang di nanti-nantikannya akhirnya terjadi juga, dia sampai tak percaya dia bisa melihat mata indah itu terbuka lagi, Dokter Irena menatap Jared dengan senyuman tipis namun terlihat lega, dia mengangguk kecil, membuat Jared tambah bersemangat.
Angga dan Bella bergabung segera setelah mendengar kabar yang di sampaikan oleh perawat itu, Ceyasa dan Archie juga mengikuti namun menjaga jarak mereka sedikit lebih jauh, membiarkan momen bahagia itu di miliki oleh Jared, Angga dan Bella.
“Wah, Suri benar-benar seorang putri, bahkan dia membangunkan kita semua untuk mengetahui dia telah sadar, " kata Ceyasa melirik Archie, Archie hanya tersenyum menaikkan sedikit bibirnya, mengenggam erat tangan Ceyasa.
----***---
"Keadaan Putri Suri benar-benar sangat mengejutkan," kata dokter Irena setelah dia selesai memeriksa keadaaan Suri, dia langsung menemui keluarga Suri yang menunggunya.
"Lalu bagaimana keadaannya sebenarnya?" tanya Jared langsung.
"Saat ini keadaannya stabil, aku baru selesai memeriksa keadaan putri, Dokter Malvis sebentar lagi akan ada di sini, kami akan langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Putri Suri, untuk melihat apa akibat dari perdarahan di bagian otak Putri Suri," kata Dokter Irena.
"Sepagi ini? tapi Suri baru saja bangun," kata Bella merasa sedikit terlalu pagi untuk Suri kembali menjalani semua pemeriksaan.
"Tapi kita harus tahu pasti apa yang terjadi pada Putri Suri, Yang Mulia Ratu, kita harus segera mengatasinya," kata Dokter Irena pada Bella yang tampak begitu ragu, rasanya bukan Suri yang tak siap, dia yang tak siap mendengar apalagi kabar buruk yang akan di sampaikan tentang Suri.
Angga merangkul pundak Bella, membawanya ke dalam pelukannya, dia tahu bahwa Bella tampak begitu khawatir. Jared melihat ke arah Suri yang masih terlihat terdiam, matanya bahkan tak bergerak sama sekali, hanya sesekali tertutup lambat.
"Biarkan dia beristirahat, lakukanlah besok pagi," kata Jared melihat ke arah Dokter Irena.
"Tapi …. " kata Dokter Irena keberatan.
__ADS_1
"Dia sudah sadar, itu yang terpenting saat ini bukan, jadi biarkan dia beristirahat, dia sudah melewati banyak hal , kita bisa tahu bagaimana keadaannya esok," kata Jared dengan tatapan, suara dan juga wajah yang serius, membuat semua orang di sana terdiam, bahkan Angga pun tak bisa membantahnya.
"Baiklah, jika begitu pangeran," kata dokter Irena, dia langsung meminta izin untuk keluar dari ruangan itu.