
Aurora menyalakan api kecil untuk menghidupkan lilin-lilin aroma terapi beraroma lavender itu di rak dekat ranjang Sania, suara alunan musik klasik yang sangat menenangkan terdengar sayup-sayup indah, suhu ruangan di aturnya sedemikian hingga begitu sejuk namun tetap segar, lampu kamar itu diredupkannya sedikit, setelah itu dia menaikkan sedikit selimut di tubuh Sania. Beberapa hari yang lalu Sania sudah di pindahkan ke rumah mereka, dan sejak itu semua hal ini menjadi kesaharian Aurora.
"Sania, Jofan akan pulang sebentar lagi, dia sudah memberitahuku, hari sudah cukup sore, cerah dan warnanya keemasan, cepatlah membuka mata, kau pasti merindukan semuanya," ujar Aurora pelan, suaranya yang lembut menenangkan, dia mengusap tangan Sania yang sekurus tulang.
Tak lama dia melakukan itu, terdengar suara bel pintu rumahnya, Aurora sedikit tersenyum, tahu siapa yang ada di balik pintu rumah itu.
"Dia sudah pulang, tapi tunggulah sebentar aku tidak akan mengizinkannya masuk jika dia belum mandi," ujar Aurora lagi pada Sania, tidak ada apa-apa apalagi sebuah sautan, namun Aurora dengan gembira melakukannya.
Dia segera keluar dari ruangan yang benar-benar terasa nyaman itu, melangkah dengan sedikit riang ke arah pintunya, seorang pelayan yang memang sudah ada di sana ingin membukakan pintu, namun Aurora melarangnya.
Dia lalu membukanya, dia ingin menyabut Jofan dengan penuh kebahagiaan, namun senyumannya itu tiba-tiba menjadi senyuman kaku yang perlahan menghilang. Liam berdiri dengan tampannya di depan Aurora.
"Liam?" tanya Aurora yang segera keluar namun segera menutup pintu rumahnya, membuat Liam sedikit mengerutkan dahinya.
"Ehm, aku hanya ingin memastikan," tanya Liam tersenyum, mencoba menghapus apa yang ada dipikirannya.
"Oh, memastikan apa?" ujar Aurora yang tampak salah tingkah, beberapa kali melihat gerbang rumahnya, takut tiba-tiba Jofan pulang dan kembali dia salah sangka, lagi pula dia tidak mungkin mengizinkan Liam masuk ke dalam rumahnya, akan ada banyak pertanyaan melihat Sania yang ada di rumah itu sekarang.
"Kau sedang menunggu seseorang?" tanya Liam lagi yang melihat Aurora begitu tak nyaman.
__ADS_1
"Oh, ya aku menunggu suamiku pulang," ujar Aurora jujur saja, memang itu lah yang ditunggunya. Mendengar itu Liam kembali mengamati Aurora dengan tatapan sendu, tampak wajah tak percaya di wajah Liam, Aurora yang di pandang begitu sedikit mengerutkan dahinya, kenapa Liam memandanginya seperti itu.
"Ada apa?" tanya Aurora pada Liam.
"Aku sudah tahu semuanya," ujar Liam, hal itu langsung membuat Aurora terdiam, tahu apa?
"Maksudmu?" tanya Aurora lagi.
"Semuanya Aurora, aku bertemu sepupumu, dia menceritakn semuanya, tentang mu, tentang pernikahanmu, kau bahkan tidak punya anak kembar karena suamimu tak bisa memberikanmu anak, mereka hanya keponakan dari suamimu bukan? dan lagi pula hubunganmu dan suamimu tidak seharmonis yang kau bicarakan," ujar Liam lagi mengungkapkan semua.
Aurora terdiam, Liam dan sepupunya memang dekat karena mereka bersama saat kuliah dulu, Aurora juga sangat dekat dengan sepupunya, bisa dibilang selain keluarga inti mereka, sepupunya lah yang paling tahu bagaimana keadaan rumah tangga Aurora.
"Oh, Susan hanya mengada-ngada, kami sungguh harmonis, walaupun mereka keponakanku, tapi aku sudah menyayangi mereka seperti anakku, aku dan suamiku …. " perkataan Aurora terputus, melihat mobil suami yang masuk ke dalam perkarangan mereka, dia menggigit bibirnya, takut Jofan akan berpikir yang tidak-tidak, dia ingat terakhir kali Jofan mengatakan bahwa dia cemburu jika Aurora berdekatan dengan pria lain, Aurora segera menunduk, matanya tampak sedikit ketakutan, Liam memperhatikan perubahan wajah Aurora, semakin menyakinkannya bahwa apa yang dikatakan oleh sepupu Aurora benar.
Liam menatap Jofan dengan tatapan lembut namun juga tak memutuskan pendangannya pada Jofan yang menatapnya sangat tajam, Jofan segera mendatangi istrinya, namun begitu melihat Aurora, senyuman manis itu mengembang, Jofan segera memeluk pundak Aurora yang masih sedikit gugup karena keadaan ini, dia benar-benar takut Jofan salah sangka padanya.
"Ada apa Anda datang ke sini Tuan Liam?" tanya Jofan dengan senyuman terpaksa, matanya masih begitu tegas.
"Hanya ingin memastikan sesuatu, aku rasa aku sudah tahu jawabannya, baiklah, aku permisi," kata Liam tersenyum manis menatap Aurora yang masih terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Liam.
__ADS_1
Liam segera membalikkan tubuhnya, dan mulai berjalan menuju mobilnya, namun baru saja beberapa langkah, Jofan memanggilnya.
"Tuan Liam!"
Liam yang merasa terpanggil langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya melihat Jofan dan Aurora.
"Apapun yang sudah kau simpulkan, itu tidak seperti yang terlihat, tolong jangan coba-coba untuk menganggu istriku, anggaplah aku memperingatkanmu, jangan datang lagi kemari," ujar Jofan tegas, tangannya mencengkram bahu Aurora sedikit ketat, tidak terlalu kuat, namun sedikit mengejutkan Aurora.
Jofan tak menunggu Liam untuk pergi, dia langsung menarik Aurora yang ada di dekapannya masuk ke dalam rumahnya, pintu langsung ditutup, Liam yang masih ada di sana hanya terdiam, dia sedikit tersenyum, merasa apa yang dilihatnya, tak seperti yang sebanarnya.
"Kenapa dia datang?" tanya Jofan sedikit datar, mencoba menenangkan dirinya yang hampir tersulut api cemburu, dia ingin dengar dulu alasan Aurora.
"Tidak tahu, dia hanya terus mengatakan dia ingin memastikan sesuatu, karena aku kira itu dirimu, aku membukakan pintu, tapi ketika aku lihat itu dia, aku langsung menutup pintu, takut kau akan salah sangka jika aku izinkan dia masuk, lagi pula, nanti akan ada pertanyaan tentang Sania jika dia menanyakan hal itu," ujar Aurora yang sedikit takut, dia sangat takut sikap hangat Jofan padanya selama beberapa hari ini akan hilang hanya karena salah paham ini.
"Tidak kau katakan aku tidak menyukainya mendekatimu?" ujar Jofan lagi.
"Aku belum sempat," ujar Aurora polos.
Jofan menatap Aurora dengan tajam, melihat wajah takut dan cemas Aurora, karena terus di tatap tajam oleh Jofan, Aurora langsung menundukkan wajahnya, sudah pasti Jofan marah padanya sekarang.
__ADS_1
Jofan berdiri di depan istrinya yang tampak menunduk, dia mengulaskan senyuman manisnya, tak ada emosi yang tersisa karena melihat tingkah Aurora yang benar-benar selalu membuatnya tersenyum, begitu manis.
"Aku baru pulang, tidak ada sambutan hangat untukku?" bisik Jofan percis di sebelah telinga Aurora yang masih menunduk. Mendengar bisikan halus suaminya, Aurora langsung menaikan wajahnya, dengan cepat Jofan yang terlalu gemas melihat istri mungilnya, langsung mencium bibir Aurora yang manis, membuat Aurora tersentak kaget, matanya terbelalak, belum terlalu terbiasa dengan ciuman suaminya, namun lama-lama dia menikmatinya juga.