Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
312 - Rasakan!


__ADS_3

Di dalam ruangan.


Dokter melihat keadaan Suri yang sudah di pakaikan semua alat penunjang kehidupan, memantau semua tanda vital Suri, pernapasan, detak jantung, tekanan darah, hingga saturasi oksigen terlihat di monitor, Semua orang di dalam sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya dokter itu dengan wajah tegang namun berusaha untuk fokus dan tenang.


"Ada perdarahan di bagian perut, dan perdarahan minimal di otak," kata dokter yang lain menjelaskan dan  melihat hasil CT Scan yang terpampang  menunjukkan bagian perdarahan yang sedikit di otak Suri, juga bagian dalam Suri.


"Untunglah tidak mengkhawatirkan," kata dokter itu menatapnya.


"Saya takut itu belum puncaknya," kata dokter wanita yang juga ada di dalam, dia memegang sebuah berkas di tangannya. Kepala dokter yang menangani Suri sedikit mengerutkan dahinya yang tertutup oleh penutup kepala, dokter wanita itu menyerahkan hasil pemeriksaan darah Suri.


"Serum yang kita suntikkan belum menunjukan reaksi, malah sepertinya tetap reaktif dan semakin reaktif, kali ini serum itu sepertinya tidak melemahkan," kata dokter itu menatap mata dokter kepala- Dr. Malvis.


"Dia hanya menghambat perkembangannya," kata dokter Malvis tampak melebarkan matanya sempurna.


"Ya, dan saya rasa ini belum puncak keganasannya, kita harus cepat mengambil keputusan," kata dokter wanita- Dr. Irena


"Benar, Siapkan seluruh keperluannya, kita akan melakukan tindakan itu sekarang, kita harus menaikkan dosis darah yang harus dimasukkan, masukkan 1 kali lipat dari yang telah kita tentukan agar reaksinya dapat berimbang dengan keganasannya sekarang, kita harus membuat darah Tuan menguasainya, selain itu siapkan serum 2 kali lipat, minta Pangeran Archie untuk memberikan darahnya lagi," kata dokter Malvis memutar otaknnya cepat.


"Tapi itu artinya resikonya lebih besar 2 kali lipat dokter, perdarahan akan semakin cepat dan luas di seluruh tubuh Tuan Putri, resikonya terlalu besar untuk di ambil, " kata dokter yang lain - Dr. Jason.

__ADS_1


"Apa kau punya cara lain? tanpa ini pun Putri sudah tidak punya harapan apapun, sekecil apapun kesempatan yang dia punya, kita akan mengambilnya," kata dokter Malvis melirik tubuh Suri yang belum bereaksi apapun.


Seorang perawat keluar dari ruangan itu, membuat seluruh orang yang dari tadi menunggu cemas langsung terlonjak kaget, bahkan perawat yang baru keluar itu pun jadi kaget melihat reaksi mereka. Mata-mata menutut penjelasan terlihat begitu jelas.


"Pangeran Archie, kami butuh darah Anda lagi," kata perawat itu tak menjelaskan apapun.


Semua mata sekarang tertuju pada Archie, dia sebenarnya sudah merasakan sangat pegal di bagian tulang belakangnya setelah menyerahkan darahnya kemarin, tapi karena darahnya adalah satu-satunya jalan untuk Suri sembuh, dia tak bisa menolak sama sekali.


"Baiklah," kata Archie mengangguk, bersama dengan itu dia merasakan kehangatan di tangannya, Ceyasa yang setia di sampingnya ternyata menyelipkan jari-jemarinya ke jari Archie, Archie melihat Ceyasa yang tersenyum.


"Silakan Pangeran, kita harus melakukannya dengan cepat," kata perawat itu lagi, dia segera menuntun Archie yang segera pergi dari sana bersama dengan Ceyasa, meninggalkan Jared, Angga dan Bella yang hanya bisa diam menatap kepergian mereka.


Archie tak lagi menjalani pemeriksaan standar untuk pengambilan darah, karena jika dia mengikutinya sudah pasti dia tidak akan diperbolehkan untuk pendonoran darah, idealnya seseorang hanya boleh mendonorkan darah 3 bulan sekali, namun untuk ini, mau tak mau, untuk menyelamatkan Suri dia harus melakukannya.


"Pangeran, Anda kemungkinan akan merasakan efek dari pengambilan darah ini, jika Anda merasakannya, saya harap Anda memberitahukan kami," kata dokter itu yang juga cemas melihat ke adaan Archie, kekuarangan darah juga bisa mengantarkan seseorang ke dalam keadaan yang gawat.


Archie mengangguk, dia hanya lalu melihat ke arah Ceyasa yang sekarang cemas melihat Archie, wajah Archie tadi pagi juga terlihat sedikit pucat, sekarang dia juga harus menyerahkan lagi darahnya, apa ini tidak apa-apa?


"Hei, kenapa wajahmu? Jelek sekali," kata Archie menyungingkan senyuman, menatap Ceyasa yang berwajah khawatir menatapnya, Archie mulai merasa tubuhnya berat.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ceyasa yang melihat Archie sedikit mengerutkan dahinya, matanya sayu, beberapa kali dia mengejap kan matanya.

__ADS_1


"Tidak, ini hanya sedikit pusing," kata Archie yang mulai tidak fokus, darahnya sudah mengisi setengah kantong darah itu.


"Dokter, aku rasa sudah cukup," kata Ceyasa sedikit keras memanggil dokter yang meninggalkan Archie dan Ceyasa tadi, dokter segera bergegas.


"Hei, aku tidak apa-apa, hanya sedikit merasa kelelahan, dokter, aku masih sanggup," kata Archie yang melarang Ceyasa untuk menghentikan kegiatan ini.


Ceyasa memandang Archie yang menarik napasnya panjang.


"Hei, aku masih hidup, kau jangan berwajah seperti itu, benar-bener jelek tahu," kata Archie yang melihat mata Ceyasa yang mulai berkaca-kaca, Ceyasa tidak menjawab, hanya memasang wajah kesal dan juga khawatirnya, kesal karena Archie begitu keras kepala, padahal Ceyasa bisa melihat Archie tampak mulai lemas, apa Archie tak tahu dia begitu cemas melihat keadaan Archie sekarang?


Dokter menghentikan pengambilan darah ketika melihat kantung darah itu hampir penuh, dia juga menimbang keadaan Archie yang terlihat mulai terpengaruh dengan efek pengambilan darah itu, seorang perawat membawakan susu hangat, dan nampan penuh makanan lalu menyerahkannya pada Ceyasa, Ceyasa langsung mengambilnya.


"Silakan untuk istirahat di sini  selama yang Anda mau, jika ada apa-apa panggil saja saya di ruangan sebelah, " kata dokter itu tersenyum pada Ceyasa, Ceyasa hanya mengangguk mengerti.


"Archie," kata Ceyasa dengan suara cemas namun sebisa mungkin begitu lembut, Archie yang menutup matanya karena merasakan pusing membuka matanya perlahan, melihat Ceyasa yang tetap saja memasang wajah cemasnya, dia tersenyum sedikit, "minumlah," kata Ceyasa menyodorkan susu itu.


Archie mencoba menaikkan tubuhnya yang terasa sangat pegal dan berat, Ceyasa membantu Archie bangkit, dia dengan patuh meminum susu yang diberikan oleh Ceyasa, Ceyasa membantu Archie untuk memegangi gelas susu itu, menatap perlahan-lahan Archie meminumnya, Archie melirik istrinya yang memandanginya dengan penuh rasa khawatir, dari matanya Archie bisa melihat perhatian dan rasa sayang yang begitu dalam, Archie menyukai tatapan itu.


"Minumlah, jangan melirikku terus," kata Ceyasa dengan nada sedikit ketus.


"Aku sedang lemas loh, kenapa kau tetap merahiku?" tanya Archie mengerutkan dahinya melihat istrinya ini.

__ADS_1


"Kan aku sudah suruh kau untuk berhenti, tapi kau yang keras kepala, sekarang  rasakan," kata Ceyasa tetap ketus, namun perbuatannya pada Archie menunjukkan sesuatu yang lain, Ceyasa menyodorkan potongan buah yang juga tadi di antarkan oleh perawat itu.


Archie sedikit tertawa kecil melihat kelakukan Ceyasa, tak seperti wanita lain yang khawatir melihat suaminya sedang sakit, dia malah menunjukkan perhatiannya dengan memarahi Archie, tapi entah kenapa Archie suka dengan caranya.


__ADS_2