
Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, namun sedetik pun Ceyasa tidak bisa memejamkan matanya, matanya terlalu sepet karena dia sempat menangis akibat merasa nyeri di dadanya yang dia sendiri tak tahu kenapa? dia juga bingung kenapa harus merasa begitu kecewa pada Archie, bukankah rasa kecewa datang dari sebuah pengharapan? apa yang diharapkan Ceyasa pada Archie?
Ceyasa melihat tangan kirinya yang sudah tertutup perban, dia sudah tidak lagi menggunakan infus, karena menurut dokter keadaan Ceyasa sudah tidak mengkhawatirkan.
Ceyasa menatap ke arah ranjang penunggunya, Lusy sudah tidur dengan tenang, dia tak tahu harus apa, ingin membangunkan Lusy namun dia tak enak melakukannya, jadi Ceyasa mengambil ponselnya, mencoba untuk membuka dan memainkan aplikasi yang ada di sana, dia lalu melihat teringat, apa Nadia masih bangun saat ini?
Ceyasa melihat lagi jam di ponselnya, sudah sangat dini hari, sahabatnya yang seperti kerbau itu pasti sedang tidur nyenyak, tapi apa salahnya mencoba, mana tahu dia sedang maraton menonton drama-drama yang dia sukai itu, pikir Ceyasa.
Ceyasa lalu segera melakukan panggilan untuk Nadia, suara nada sambung terdengar, Ceyasa tak terlalu banyak berharap, karena itu dia hanya melihat layar ponsel itu, namun tak disangka, setelah 3 kali nada sambung, telepon itu di angkat.
"Halo?" tanya Ceyasa.
"Halo? Ini bukan Ceyasa bukan? kau orang lain kan?" kata Nadia dengan suara parau bagai habis menangis, dari nada bicaranya juga dia terdengar panik.
"Nadia? aku Ceyasa, oh, maaf, aku baru saja ganti nomor telepon, ponselku sedang rusak," kata Ceyasa yang mengerutkan dahinya ketika Nadia menjawab salamnya tadin
"Tidak, bukan," kata Nadia, suaranya seakaan sedikit menjauh, membuat Ceyasa semakin mengerutkan dahi, ada apa dengan Nadia?
"Nadia? ada apa denganmu?" kata Ceyasa yang sedikit panik, namun dia mencoba mengontrol suaranya agar tidak mengganggu Lusy yang sedang nyenyak tertidur.
"Dia tidak apa-apa, setidaknya untuk sekarang, " terdengar suara berat pria dari sana, mendengar itu mata Ceyasa langsung membesar, apa yang terjadi? Nadia tak punya saudara laki-laki, suara ayahmu pun tak begini, wajahnya langsung cemas.
__ADS_1
"Kau siapa? apa yang kau lakukan pada Nadia?" tanya Ceyasa panik.
"Ceyasa, Nadia sudah menunggumu menelepon 2 hari ini, akhirnya kau meneleponnya juga, Ceyasa, sudah aku katakan, jangan coba-coba pergi dariku, kau sudah menjadi milikku, kau ingat bahwa kau telah kalah dariku," terdengar suara sinis nan berat itu, pikiran Ceyasa terbang, Rain.
"Apa yang kau lakukan! jangan sakiti dia," kata Ceyasa sedikit keras, cemas, kepalanya yang tadi sudah tidak terlalu sakit, ini kembali berdenyut.
"Itu semua tergantung padamu, jika kau melakukan apa yang aku mau, maka Nadia dia akan baik-baik saja," kata Rain lagi.
"Apa mau mu?" kata Ceyasa lagi dengan napas berat.
"Sejam lagi, di parkiran belakang, sebuah mobil akan menjemputmu, naik ke dalam mobil itu, maka Sahabatmu yang sangat menyayangimu ini akan baik-baik saja," kata Rain dengan sangat jelas. Ceyasa menarik napas panjang, menekan giginya, tak ingin melakukan hal itu.
"Aku akan melakukannya, tapi dengan satu syarat," kata Ceyasa. Rain tersenyum sinis mendengarnya. Gadis yang sulit ditahlukkan, menantang sekali.
"Apa?" kata Rain mencoba mendengarkan permintaan Ceyasa.
"Nadia tidak punya masalah apapun dengan kita, aku ingin ketika aku sampai, kau melepaskannya, berjanjilah," kata Ceyasa lagi, mencoba menyelamatkan Nadia.
Rain menatap Nadia yang sedang menatapnya dengan ketakutan yang nyata di matanya, dia tidak mengerti kenapa dia harus sampai diculik dan diikat seperti ini, sudah 2 hari dia di sekap seperti ini, dia juga tak mengerti kenapa pria ini sangat menginginkan Ceyasa, dia sudah berdoa agar ada yang menyelamatkannya, namun yang ada malah Ceyasa meneleponnya, padahal dia sangat berharap Ceyasa tak pernah lagi menghubunginya.
"Kau pikir aku bodoh, aku tidak bisa janji soal itu," kata Rain.
__ADS_1
"Dia benar-benar tidak tahu apapun, dia bahkan tidak tahu apa hubunganku dengan Archie, jika pun dia tahu, dia tak akan tahu kemana dia harus mencari bantuan, dia cuma anak desa, lagi pula aku akan mengatakan pada Archie, aku pergi dengan kemauanku sendiri dan aku yakin bila Archie mencariku, bukannya penjagaanmu sangat ketat, dia tidak akan berhasil, bukan?" kata Ceyasa, tahu sisi kesombongan dari Rain, Ceyasa mencoba memancingnya.
"Baiklah, aku akan melepaskannya, lagi pula dia memang tak akan bisa menyelamatkanmu," kata Rain lagi melihat Nadia dengan senyuman sinis. "Waktumu hanya 1 jam, aku tunggu kau, " kata Rain lagi memastikan.
"Tak perlu, datang saja dalam waktu 30 menit, aku pasti sudah ada di parkiran belakang," kata Ceyasa lagi mantap, tak ingin buang-buang waktu, jika memang harus pergi, ya pergi saja, menunggu 1 jam, akan membuatnya semakin kacau dan tersiksa.
"Baiklah, jangan coba-coba untuk melaporkan hal ini, wanita itu, yang sekarang tidur di sampingmu, mungkin bisa jadi korban berikutnya," kata Rain lagi memutuskan panggilannya.
Ceyasa terdiam bahkan setelah panggilan itu terputus, otaknya kosong sejenak, hingga akhirnya dia tampak sadar dan melihat ke arah kanan dan kiri, melihat ke arah Lusy yang masih tidur tenang, Ceyasa memutar otaknya, mau tak mau dia harus mengikuti apa kata-kata Rain, dia harus berhati-hati karena ancaman terakhir Rain menunjukkan dia mengamatinya selama ini, Ceyasa tak mau lagi ada yang terlibat antara dia dan Rain.
Ceyasa menjejakkan kakinya ke lantai rumah sakit yang dingin, membuat seluruh tubuhnya bergidik, sorot matanya datar, tampak sedih namun tegar, sesekali dia menarik napas berat, seolah kesusahan dalam bernapas, dia lalu perlahan mengambil pakaian yang dibawakan oleh Lusy tadi sore, masuk ke dalam kamar mandi dan berganti baju biasa, dia juga menggunting tanda pengenal pasien yang ada di tangannya.
Cayasa mengambil kertas dan pensil yang tersedia di samping rajang rumah sakitnya, menuliskan beberapa kata yang tak terlalu panjang namun cukup menyampaikan pesannya. Tangannya bergetar saat menuliskan pesan itu, tak disangka, air matanya mengalir hangat membasahi pipinya yang dingin, tak menyangka ternyata kata-kata marahnya tadi harus menjadi kenyataan dengan cara begini.
Namun, mau tak mau dia harus melakukannya, untuk Nadia, sahabatnya dan untuk Archie, tak ingin lagi menjadi beban.
Dia meletakkan hal itu di atas sebuah bantal, dia juga meletakkan kartu ATM yang diberikan oleh Archie, dia lalu berjalan perlahan, dan melihat Lusy untuk terakhir kalinya, dia menghapus air matanya keras, menarik napas dari hidungnya yang berair, sungguh perpisahan yang tak diinginkan.
Dia lalu segera berjalan, melihat lorong sepi rumah sakit yang kosong, dia segera turun dan segera berjalan menuju ke pintu belakang rumah sakit itu, bagian belakang rumah sakit terlihat remang, masih berlum terlihat mobil yang akan menjemputnya, cahaya lampu kuning yang menerangi parkiran itu membuat suasana semakin sendu, semilir angin malam cukup menusuk kulit Ceyasa. Matanya kosong hanya menatap lurus datar ke arah depan. Plaster bekas infusnya sudah dia buka, untungnya darahnya tak keluar kembali.
Tak lama sebuah mobil van hitam berhenti di depannya, seseorang dengan pakaian berjas hitam lengkap dengan kaca matanya keluar, segera mempersilakan Ceyasa untuk masuk, Ceyasa dengan langkah yang tampak enggan berjalan, mengamati siapa yang sudah menunggunya di dalam, namun Ceyasa salah, tidak ada Rain di sana, hanya ada 3 orang penjaga dengan tubuh yang kekar menghimpitnya, membiarkan dia duduk di kursi paling belakang, seorang penjaga itu langsung memeriksa tubuh Ceyasa, mencari mungkin saja dia membawa sesuatu.
__ADS_1