
"Hei, Jared," sentuh Liam pada pundak Jared yang tertidur di sofa, Jared membuka matanya, sedikit kaget melihat Liam dengan senyum sempurnanya.
"Oh, maafkan aku paman, aku mungkin tertidur," ujar Jared bangkit dari tidurnya mencoba untuk mengumpulkan nyawanya.
"Tidak apa-apa, bibimu sudah di pindahkan," kata Liam lagi memberikan kabar gembira pada Jared.
"Benarkah? dimana dia?" kata Jared yang langsung tampak ceria.
"Dia ada di ruangan itu, kau sudah bisa masuk menemuinya, Jenny juga sudah ada di sana," kata Liam lembut.
Jared tak ingin buang waktu, dia segera berdiri dan langsung melangkah ke arah ruangan yang tadi ditunjuk oleh Liam, masih sama-sama di lantai C, namun berbeda ruangan, pintu ruangan itu terbuka, Jared langsung masuk dan segera di sambut senyuman yang sangat dirindukannya, senyuman tulus ibunya. Jenny juga ada di sana sambil duduk di ranjang Aurora dan membaringkan kepalanya dipangkuan Aurora, Aurora dengan perlahan mengelus kepala Jenny yang benar-benar tampak manja.
"Bagaimana keadaanmu, Bi?" tanya Jared dengan suara begitu lembut, memandang penuh kasih sayang pada bibinya, membayangkan bagaimana tegangnya dirinya kemarin melihat keadaan bibinya, namun semua terbayar, Tuhan mengabulkan doanya, setidaknya bibinya masih bisa tersenyum begitu manis padanya.
"Baik-baik saja," ujar Aurora dengan suara yang sedikit serak. Tenggorokannya masih sedikit sakit, mungkin karena menggunakan alat bantu pernapasan atau memang karena kebakaran itu.
Jared tersenyum puas, jika dia bisa, dia pasti akan memeluk bibinya dengan sangat erat, namun melihat keadaan bibinya yang masih terlihat pucat, dia mengurungkan niatnya, menarik sebuah kursi dan memposisikannya di samping ranjang Aurora, duduk dan terus memandang bibinya yang tersenyum keibuan.
"Maaf mengganggu acara keluarga ini," ujar Liam dengan suara yang berkharisma, membuat semua perhatian ke arahnya, Jenny saja sampai menaikkan badannya dan duduk melihat ke arah Liam yang tersenyum manis, Aurora memberikan senyuman tipisnya, tidak terlalu lebar.
"Aku harus kembali ke perusahaan ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus, aku akan kembali setelah semuanya selesai," kata Liam lagi tersenyum manis.
"Tak apa-apa Paman, aku akan menjaga bibi dengan baik," kata Jenny dengan nada manjanya, membuat Aurora sedikit tersenyum melihat tingkah anaknya ini.
__ADS_1
Liam menatap wajah Aurora yang jauh lebih berwarna dari kemarin, saat Aurora melihat ke arah Liam, dia kembali dengan senyuman canggungnya, melihat itu Liam mengulum senyumnya, lalu segera pergi dari kamar itu.
"Bibi, paman Liam bukannya sangat tampan?" kata Jenny menggoda Aurora, Aurora yang melihat tingkah manja anaknya ini hanya mengerutkan dahinya, namun wajahnya senantiasa mengambangkan senyuman manis. "Bibi, saat bibi sakit, paman Liam sangat khawatir, dia bahkan memberikan perawatan terbaik untuk bibi, bahkan dia menunggu bibi hingga bibi dipindahkan ke sini," kata Jenny lagi, mencoba membuat bibinya tahu apa yang sudah dilakukan Liam untuknya.
"Benarkah?" kata Aurora yang membalasnya seperti itu bukanlah hal yang mengagetkan untuknya, bahkan seperti menggoda Jenny yang kembali bersender manja pada bibinya.
"Jenny, Bibi baru saja sadar, jangan terlalu manja," kata Jared yang melihat tingkah adiknya yang menggelayut manja pada bibinya.
"Jared, tidak ke perusahaan?" tanya Aurora lembut walaupun suaranya serak.
Jared sedikit tersenyum, dia tidak berpikir tentang perusahaan, lagi pula itu perusahaan milik pamannya, dia tidak ingin pergi ke sana untuk sementara waktu, bukan dia tak bertanggung jawab, hanya saja saat ini dia tidak ingin bertemu dengan pamannya di sana, jadi dia hanya menerima pekerjaannya melalui Asistennya.
"Tidak, aku sudah menyerahkan semuanya pada Asistenku," kata Jared tersenyum lembut.
Jared dan Jenny yang melihat tatapan Aurora tahu apa yang sedang di cari oleh Aurora, walaupun bibirnya tak bertanya, mereka tahu percis siapa yang ditunggu bibinya ini.
"Bibi, mau makan?" kata Jenny langsung membuat perhatian Aurora teralih ke arah Jenny yang langsung bangkit dan segera menyiapkan makanan yang sudah tersedia di meja makan pasien di dekat Aurora.
"Tidak, bibi belum lapar," kata Aurora
"Kan Bibi sudah tidak makan dua hari, masa tidak lapar? " kata Jenny melirik manja pada bibinya.
"Baiklah, bibi akan makan sedikit," kata Aurora.
__ADS_1
Jenny segera mendorong meja makan pasien itu, memposisikannya tepat di depan Aurora, Jenny membantu Aurora untuk mengambil bubur dan beberapa sayuran, dengan perlahan Jenny mulai menyuapi Aurora, Aurora jadi terlihat senang, anaknya begitu telaten menyuapinya.
"Lucu ya, dari kecil jika aku sakit bibi yang menyuapiku dan dari dulu bibi tak pernah sekalipun sakit, sekarang akhirnya aku bisa merasakan bagaimana menyuapi bibi, aku sangat senang," kata Jenny lagi dengan semua kasih sayangnya.
"Iya, terima kasih," kata Aurora
Jenny mengambil tisu wajah yang ada di dekatnya, mengelap bibir Aurora sejenak setelah Aurora selesai minum, membuat Jenny dan Aurora tertawa.
"Kau membuat Bibi seperti sudah tidak bisa melakukan apapun lagi," kata Aurora melihat wajah sumringah Jenny.
"Soalnya aku ingat dulu bibi selalu melakukan ini, jika tidak mengelap bibir setelah makan, bibi tidak akan mengizinkanku main," kata Jenny
"Kau masih ingat itu?" kata Aurora.
"Tentu, semua perbuatan bibi aku ingat," kata Jenny yang segera membereskan meja makan bibinya agar tak menghalangi bibinya, mendorongnya lagi ke tempat semula.
Jared yang melihat tawa dan canda antara Jenny dan bibinya, hanya tersenyum dengan sangat manis, bersyukur sekali ternyata dia masih bisa melihat pemandangan ini. Aurora mengalihkan pandangannya pada Jared yang di wajah tampannya itu tersunging senyuman manis.
"Jared, dimana pamanmu?" tanya Aurora, dia sudah mencoba untuk menunggu, mungkin saja Jofan sedang keluar, atau sedang pergi untuk melakukan sesuatu, hingga dia tak tahu sekarang Aurora sudah sadar.
Karena bagi Aurora, dia bisa merasakan Jofan selama ini ada di sampingnya, bahkan dia bisa membuka matanya hanya karena suara bisikan dari Jofan, tapi kenapa sampai sekarang Jofan tidak juga kembali dan melihat dirinya?
Pertanyaan Aurora seketika membungkam Jared, senyumannya berganti dengan wajah ragu, tak tahu harus mengatakan apa pada bibinya? Haruskan dia katakan bahwa dia sudah mengusir pamannya? Jared memandang Jenny yang juga terpaku dan bingung harus mengatakan apa? Jenny tak mungkin mengatakan pamannya pergi karena lebih memilih Siena dari pada bersama bibinya.
__ADS_1
"Nyonya Aurora, apakah Anda sudah selesai makan?" tiba-tiba para dokter dan perawat datang masuk ke dalam ruangan Aurora. Membuat Jared dan Jenny yang tadinya mencoba menyusun kata-kata merasa sedikit lega, Aurora yang dari tadi melihat wajah Jared yang ragu-ragu itu sedikit mengerutkan dahi, namun dia segera teralihkan pada kedatangan para dokter dan perawat.