
Tak lama pintu terbuka, Gerald membukakan pintu untuk Archie, Archie yang melihat atmosfir ruangan yang penuh dengan kesedihan langsung terpengaruh, dia memberikan salam sempurnanya.
"Bangkitlah, dokter mengatakan bahwa mereka ingin mengambil darahmu secepatnya," kata Angga yang secepatnya memberikan pengarahan pada Archie.
"Baik Paman," kata Archie, dia lalu kembali ingin keluar dari ruangan itu, dia tahu harus kemana karena sebelumnya dia sudah pernah menyerahkan darahnya.
"Archie …!" suara Bella lembut terdengar memanggil Archie, dia bangkit dan segera mendekati Archie, Archie yang tadinya sudah membalikkan badannya, terhenti dan segera melihat bibinya itu. "Terima kasih banyak, " kata Bella sedikit terharu, bagaimana pun Archie berperan penting dalam pengobatan Suri ini, dia bisa saja menolak semuanya dan tidak memberikan darahnya, apalagi Bella sadar selama ini mereka sudah memperlakukan Archie dengan tidak pantas, walaupun tinggal bersama dalam satu lingkungan, Bella jarang sekali menemuinya, mungkin trauma masa lalu yang di tinggalkan oleh ayah Archie membuat Bella sedikit enggan berdekatan dengannya apalagi semenjak Archie mulai tumbuh dewasa karena matanya benar-benar mewarisi mata Aksa.
"Sama-sama Bibi," kata Archie lagi, dia membalikkan badannya lalu keluar dari ruangan itu, langkah Archie sedikit pelan, dia lalu merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan segera menelepon Ceyasa, dia butuh Ceyasa sekarang.
"Halo?" suara Ceyasa terdengar merdu dari ponsel Archie.
"Kau ada di mana sekarang?" tanya Archie yang memang berangkat ke rumah sakit ini dari kantornya.
"Di Istana, mau dimana lagi? " kata Ceyasa dengan nada cuek seperti biasanya.
"Bisakah kau meminta izin pada ayahmu untuk menemaniku di rumah sakit.
"Rumah sakit? Apa kau sakit?" tanya Ceyasa yang mulai menunjukkan keperduliannya.
"Bukan, Suri sudah setuju untuk melakukan prosedurnya, jadi karena itu aku harus menyerahkan darahku, aku ingin kau menemaniku," kata Archie yang sedikit melirik Gerald, terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa dia cukup takut untuk di ambil darahnya, perasaan linu dan nyeri ketika jarum itu menancap di tangannya sedikit membuatnya trauma. Archie melangkahkan kakinya ke dalam lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar.
__ADS_1
"Oh, jadi kau ingin aku menemanimu karena kau takut dengan jarum suntiknya? Benar kan? Lagian kau kan sudah besar, masa sama jarum suntik begitu kecil saja takut, suami macam apa itu?" goda Ceyasa yang tahu maksud tersembunyi dari perkataan Archie tadi.
"Kau ini? cepat datang lah," kata Archie geram.
"Tidak mau, kalau mau memohon dulu, katakan, ‘Ceyasa, aku mohon datanglah, aku takut jarum suntik’" kata Ceyasa yang senang memainkan emosi Archie, dia sudah senyum-senyum sendiri membayangkan wajah kesal Archie.
"Ceyasa, aku tidak main-main, cepatlah datang," kata Archie tambah kesal, Archie melirik Gerald, mana mungkin dia mengatakan hal itu.
"Kenapa? gengsi ya? memangnya di sana ada siapa?" kata Ceyasa dengan suara merayu mendayu namun membuat Archie makin kesal.
"Gerald," kata Archie yang membuat Gerald melirik ke arahnya.
"Hanya Gerald, kalau begitu kenapa malu, ayo cepat katakan, kalau tidak aku tidak akan menemanimu, ‘Ceyasa, aku mohon, aku takut jarum suntik’" kata Ceyasa lagi sambil menahan perutnya yang sudah geli, dia sudah mengambil barang-barangnya, sebenarnya dari tadi saat Archie memintanya untuk datang, Ceyasa sudah bersiap-siap, sekarang dia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, Ceyasa mengirimkan pesan untuk ayahnya, meminta izin, Ceyasa yakin ayahnya pasti mengizinkannya, karena itu dia segera menuju ke arah kamar ayahnya, ingin meminta izin pada ibunya.
"Ceyasa, aku mohon, aku takut jarum suntik," bisik Archie sambil menuntup ujung teleponnya dengan tangannya, berusaha agar Gerald tidak mendengarnya, Gerald mengerutkan dahi, mendengar gumaman Archie yang samar-samar.
"Tidak terdengar jelas, coba sekali lagi," kata Ceyasa yang sebenarnya mendengar hal itu, tapi dia hanya ingin menggoda suaminya, dia cepat-cepat berjalan menuju kamar ibunya.
"Aku tidak main-main, mungkin atap istana ini terlalu besar hingga sinyalnya kurang bagus, makanya bicara dengan baik," kata Ceyasa lagi dengan suaranya yang terdengar menyebalkan untuk Archie. Archie melirik Gerald, ah, sudahlah, kalau hanya Gerald itu tidak akan jadi masalah, dia juga tidak akan berani mengejeknnya kalau Archie menatapnya serius, karena itu Archie menarik napasnya dalam-dalam lalu ….
"Ceyasa! aku mohon! Aku takut jarum suntik!" teriak Archie mengarahkan ponselnya di depan wajahnya, berteriak keras, sialnya saat dia mengatakan hal itu, pintu lift terbuka, dan semua orang yang sedang menunggu lift bisa mendengar teriakan Archie tadi, Gerald juga kaget mendengarnya, Archie memandang orang-orang yang juga memandangnya kaget dan aneh, Archie meremas ponselnya, kesal, tanpa pikir panjang dia keluar memecah orang-orang yang berkerumun ingin masuk ke dalam lift, dia sangat malu, Ceyasa benar-benar keterlaluan, awas saja, kapan dia bisa membalas wanita aneh itu.
Ceyasa mendengar teriakan Archie itu kaget namun dia tertawa geli, tapi tak lama panggilan itu terputus, Ceyasa mengerutkan dahi melihat layar ponselnya yang sudah tidak menunjukkan aktifitas panggilan telepon, Ceyasa hanya tetawa geli, pasti Archie sangat kesal dengannya sekarang. Setelah meminta izin pada Aurora dan meminta penjaga kerajaan untuk menyiapkan mobil, dia segera pergi keluar menuju istana.
Archie masih mengepalkan tangannya, dia masih ingat bagaimana orang-orang menatapnya, benar-benar memalukan, bagaimana dia bisa dengan mudahnya mengikuti kemauan wanita aneh itu, dia hanya duduk sambil memasang wajah kesalnya sambil menunggu dokter yang akan memeriksanya dan mengambil darahnya.
__ADS_1
"Ehem, jika kau memang takut, aku bisa menemanimu," kata Gerald sambil sedikit berdehem, sedikit melirik Archie yang wajahnya sangat menunjukkan suasana hatinya sekarang, Archie langsung melirik tajam pada Gerald, membuat Gerald langsung membuang wajahnya, takut Archie akan memakannya.
Ponsel Archie yang ada di atas meja bergetar, sebuah pesan dari Jofan yang mengatakan bahwa Ceyasa sudah pergi untuk menemaninya di rumah sakit, dan tentu di bagian akhirnya selalu ada kata-kata ‘jangan macam-macam’ membuat Archie semakin kesal.
"Gerald, tunggu di pintu masuk, Ceyasa sudah jalan ke mari," kata Archie pada Gerald.
"Jadi, ehm, kau tidak mau ditemani?" kata Gerald lagi sedikit ragu-ragu berdiri.
"Mati saja kau," kata Archie menumpahkan ke kesalannya pada Gerald, bisa-bisanya Gerald juga melakukan hal itu padanya.
Archie sudah selesai melakukan pemeriksaan untuk mengetahui keadaannya apakah memungkinkan atau tidak untuk di ambil darahnya, sebenarnya dia bisa langsung di ambil darahnya, namun dia masih menunggu Ceyasa, kenapa lama sekali, pikirnya, semakin lama dia menunggu entah kenapa dia semakin gugup, Archie memutar otaknya, apa jangan-jangan Ceyasa mengalami sesuatu? Kenapa sekarang dia jadi cemas dengan keadaan wanita aneh itu.
Archie mencoba menelepon Ceyasa, nada sambung terdengar terus menerus hingga panggilan itu terputus otomatis, Archie semakin cemas, jangan-jangan Ceyasa memang mengalami sesuatu, rasa khawatirnya cukup tinggi karena apa yang menimpa Ceyasa sebelumnya.
Archie segera berdiri dari duduknya, dan dengan langkah panjangnya dia segera ingin menuju ke pintu keluar dari ruang itu, namun baru saja dia ingin menggapai pintu itu, tiba-tiba saja pintu terbuka, sosok Ceyasa muncul di depannya, Archie yang melihat Ceyasa langsung kaget.
"Mau kemana? Sudah ambil darahnya?" tanya Ceyasa dengan wajah polos, Ceyasa merasa mungkin dia terlambat datangnya, Archie yang melihat Ceyasa langsung menghembuskan napas lega, sudah ada gambaran-gambaran menegangkan di kepalanya tadi.
"Kau dari mana saja sih? Lama sekali datang ke sini?" tanya Archie dengan suara yang meninggi membuat Ceyasa langsung kaget, dokter yang di dalam lab itu pun kaget mendengar suara Archie, wajah Archie terlihat kesal, Ceyasa mengerutkan dahinya lalu tersenyum kecil, mungkin Archie masih kesal dia mengerjainya tadi.
"Santai saja, kan istana tidak ada di sebelah rumah sakit ini," kata Ceyasa dengan wajah polos tanpa dosa, santai tak tahu Archie begitu cemas padanya. Melihat hal itu Archie menarik napasnya, ingin rasanya memeras tubuh Ceyasa karena sudah membuat dia kesal juga cemas.
"Dokter salahkan dia kalau tekanan darahku naik," kata Archie yang langsung masuk ke dalam ruangan pengambilan darah, Ceyasa yang melihat tingkah Archie hanya geleng-geleng kepala saja sambil tertawa kecil menahan geli di perutnya, dia lalu masuk ke dalam ruangan tempat pengambilan darah, Archie sudah duduk, lengannya sudah di letakkan di posisinya, dokter juga sudah menyiapkan alat-alatnya.
Archie yang melihat Ceyasa lalu menepuk sofa di samping tempatnya, Ceyasa mengerti, dia lalu duduk dan dengan cepat tangan Archie menggenggam tangan Ceyasa, tangan itu terasa dingin, Ceyasa mengerutkan dahinya, Archie sanggup melawan Rain yang begitu mengerikan, namun berhadapan dengan jarum suntik kecil itu, dia benar-benar ketakutan.
__ADS_1
"Lihatlah itu sangat kecil," kata Ceyasa saat melihat Archie yang tak mau melihat jarum itu di masukkan ke dalam lengannya, "Hah, heran, kau bisa berhadapan dengan peluru, tapi jarum sekecil itu kau takut," gerutu Ceyasa melihat tingkah Archie, Archie meringis ketika jarum itu sudah masuk, dokter memberikan salam untuk permisi, membiarkan darah Archie mengisi kantong darah itu, Archie lalu melihat ke arah Ceyasa.
"Itu karena kau, jika demi menyelamatkanmu, jika harus tertusuk 1000 jarum di tubuhku, aku rasa aku akan berani menghadapinya, " kata Archie dengan tatapan mata yang lembut, membuat Ceyasa terdiam, entahlah, suaminya ini hanya menggoda atau mengatakan yang sebenarnya, tapi kata-kata gombal itu benar-benar membuat hatinya terasa manis.