Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
50 - Apa Yang Kalian Lakukan Di Sini?.


__ADS_3

Pagi menyingsing dengan cepat, Archie membuka matanya dengan alami, dia mengerutkan dahinya, tidak seperti biasanya dia terbangun karena suara yang gaduh yang dibuat oleh Ceyasa, kali ini dia tidak mendengar suara apa pun.


Dia bangun dan ingin melihat ke arah ponselnya, dia baru ingat dia membuangnya kemarin dan mungkin sekarang ponsel itu ada pada Ceyasa, dia akan memintanya nanti, pikir Archie.


Archie lalu menapakkan kakinya dan segera keluar dari kamarnya, hening dan kosong, Archie berjalan ke arah dapur, dapur itu juga masih bersih dan kosong, tidak seperti biasanya, biasanya Ceyasa sudah bangun jam segini dan sudah sibuk ada di dapurnya. Apa dia masih tidur? Pikir Archie.


Dia berjalan ke arah kamar Ceyasa, mendengarkan sebentar lalu segera mengetuk pintunya pelan.


"Yasa?" Archie mencoba memanggil Ceyasa, tak ada jawaban, Archie sedikit mengerutkan dahinya, takut terjadi apa-apa pada Ceyasa karena kemarin dia terkena hujan, apa dia sakit? "Yasa? Kau tidak apa-apa?" tanya Archie sambil mengetuk pintu kamar itu lebih keras.


"Ya, aku tidak apa-apa, aku hanya … " kata Ceyasa yang baru saja terbangun karena ketukan Archie, dia menggerakkan kakinya dan langsung merasa sangat sakit, saat dia lihat, ternyata kakinya sudah sangat bengkak.


"Kenapa?" kata Archie lagi.


"Tidak apa-apa, sebentar lagi aku akan bangun dan memasak makanan," teriak Ceyasa dari dalam.


"Baiklah," kata Archie.


Archie segera melakukan rutinitasnya dengan menyapu rumah itu, dia mengambil sapu itu tapi tak lama dia malah mendengar benda yang terjatuh, percis seperti saat Ceyasa jatuh kemarin dan suara itu berasal dari kamar Ceyasa. Archie yang kaget itu langsung mengarah ke kamar Ceyasa, mencoba membuka pintu kamarnya yang ternyata tak terkunci, melihat Ceyasa yang sudah jatuh terduduk di lantai kamarnya.


"Kau ini kenapa?" tanya Archie yang kesal, dia sudah beberapa kali menanyakan keadaan Ceyasa dan selalu saja di jawab tidak apa-apa, tapi sekarang yang dilihat Archie sepertinya Ceyasa tidak baik-baik saja.


"Kau mau menolongku atau hanya mau marah padaku?" tanya Ceyasa yang kesal Archie datang-datang malah bertanya dengan nada seperti itu.


Archie menahan wajah kesalnya, lalu dia segera mencoba membantu Ceyasa yang sudah mengulurkan tangannya, Archie segera membantu Ceyasa duduk di tempat duduknya, melihat pergelangan kaki Ceyasa yang sangat bengkak. Archie langsung kaget.

__ADS_1


"Kenapa kakimu?" kata Archie.


"Ah, ini tidak apa-apa, sebentar lagi akan membaik, dulu aku sering terkena seperti ini," kata Ceyasa tampak sedikit mengurut kakinya yang bengkak.


"Apa ada yang bisa aku lakukan?" tanya Archie yang tidak mengerti dia harus apa?


"Bisa tolong ambilkan obat gosok itu," kata Ceyasa menunjuk ke arah tempat riasnya.


"Yang ini?" kata Archie menunjukkan sebuah balsam yang ada di sana


"Iya, terima kasih," kata Ceyasa saat Archie menyerahkan balsam itu pada Ceyasa, dia membukanya dan segera ingin menggosokkannya pada kakinya yang bengkak, namun terlihat sedikit kesusahan.


"Kemarikan, biar aku membantumu untuk membalurkannya," kata Archie,


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," kata Ceyasa yang memang dari kecil hidup sendiri, kaki bengkak seperti ini benar-benar sudah biasa dia rasakan.


Archie mengoleskan balsam itu pada kaki Ceyasa, perlahan-lahan dengan sangat lembut, dia membalurkan semuanya ke kaki Ceyasa. Ceyasa hanya bisa terdiam, melihat Archie yang benar-benar terlihat tulus melakukannya.


"Au, " kata Ceyasa yang merasakan nyeri saat Archie menekan kakinya sedikit lebih keras.


"Apakah sangat sakit?" lirik Archie melihat Ceyasa yang meringis kesakitan.


Ceyasa menatap mata Archie yang sangat indah itu, Ceyasa serasa terhipnotis, dia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Archie, entah kenapa perasaannya Ceyasa merasa sangat hangat padahal yang saat ini diobati adalah kakinya.


"Tidak, hanya sedikit nyeri, sepertinya kakiku sudah membaik, sudah tidak apa-apa," kata Ceyasa yang tidak ingin berlarut-larut dalam perasaannya, jika Archie terus menyentuh kakinya, bisa-bisa dia tambah salah tingkah. Ceyasa menarik kakinya segera.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencuci tanganku dulu, " kata Archie segera membuka pintu kamar Ceyasa, dia langsung kaget melihat seorang wanita dan pria paruh baya yang ada di depan pintu kamar Ceyasa, siapa mereka? pikir Archie mengerutkan dahinya.


"Siapa kau?" kata wanita itu dengan wajah kaget dan matanya yang penuh curiga, tampang wanita itu tampak sangat galak. Archie yang melihat wanita itu hanya menatap bingung, pria yang ada di belakangnya pun melihat Archie dengan tatapan kaget.


Ceyasa yang mendengar suara itu langsung kaget, dia melihat ke sela-sela pintu yang terbuka itu, melihat bibi dan pamannya yang berdiri di ambang pintu.


"Paman? Bibi? " kata Ceyasa tak percaya, sudah hampir 3 tahun ini mereka tidak pernah melihat Ceyasa, jangankan melihat, menanyakan kabarnya saja mereka tidak pernah, kenapa tiba-tiba mereka muncul?


"Asa? apa maksudnya ini? apa yang kalian lakukan berduaan di kamar? siapa pria ini?" cecar bibi Ceyasa dengan nada marah, Archie hanya bisa diam melihatnya, masih sedikit bingung dengan keadaan ini. Ceyasa yang melihat bibinya yang dari dulu terkenal sangat-sangat galak ini langsung mencoba untuk berdiri, tapi karena kakinya yang masih nyeri, dia sangat kesusahan, Archie yang tanggap mencoba untuk menolong Ceyasa berdiri.


"Hei, hei, apa itu pegang-pegang?" kata bibi Ceyasa galak melihat Ceyasa dan Archie berpegangan tangan.


"Menolongnya berdiri, kalau tidak dia akan jatuh," kata Archie seadanya, sepertinya keluarga Ceyasa memang hobi memarahi orang bahkan sebelum mereka kenal.


"Jangan pegang-pegang, kau ini siapa sebenarnya?" kata Bibi Ceyasa segera menyerobot tempat Archie, dia yang menggantikan Archie memegangi Ceyasa, dan mendorong Archie keluar dari kamar Ceyasa.


"Itu dia! Itu pria yang memukuli ku kemarin! " terdengar suara teriakan namun juga seperti orang kesusah berbicara.


Archie, Ceyasa, paman dan bibi Ceyasa langsung melihat ke arah pintu, mendapati beberapa warga sudah berkumpul di depan rumah Ceyasa, Nathan dengan wajah yang babak belur juga ada, Ceyasa dan Archie yang melihat itu kaget, separah itukah Archie memukulinya semalam, bahkan seluruh wajahnya bengkak dan membiru.


"Benarkah dia pria yang ingin memperkosa Ceyasa?" tanya seorang pria paruh baya yang tampak menahan emosinya, menunjuk ke arah Archie.


Archie dan Ceyasa yang mendengar itu tentu kaget? Kenapa bisa begini?


"Kau ingin diperkosa dengan pria ini?" tanya paman Ceyasa angkat bicara menatap sangat emosi melihat ke arah Archie yang bingung, apa semua ini.

__ADS_1


"Bukan! bukan dia! Nathan yang memaksaku karena itu Cendro memukulinya!" kata Ceyasa membela Archie.


__ADS_2