
Cahaya matahari menembus lurus dari kaca jendela yang besar di ruang tengah kediaman Archie yang bak istana, dia sedang berdiri di sana menatap keluar jendela, tubuhnya bermandikan cahaya matahari yang malah membuatnya makin berkilauan, matanya sendu menikmati hangatnya, memperhatikan pemandangan yang disuguhkan dari kaca jendela itu, rumput hijau dengan taman dan beberapa pohon palem yang di susun sedemikian rupa sehingga cukup memanjakan matanya.
Dia hanya diam tak bergeming, seolah menunggu sesuatu, tak lama ponselnya berdering dan dia segera mengangkat ponselnya, Gerald yang meneleponnya.
"Halo, bagaimana?" tanya Archie tak sabaran, berita ini yang dari tadi dia tunggu-tunggu.
"Sudah, tadi pagi dia pergi ke supermarket di dekat rumah, berbelanja sesuatu, tapi di sana para penjaga tidak bisa masuk, katanya ada inspeksi mendadak, karena itu aku tidak tahu apa yang terjadi padanya di dalam, tapi dia keluar dengan baik, dan setelah dia keluar, pemilik toko langsung menawarkannya pekerajan dan dia setuju," jelas Gerald pada Archie.
"Dasar wanita aneh itu, mudah sekali menerima tawaran," kata Archie langsung.
"Tapi kan memang itu rencananya, kalau tidak kita harus mencarikannya pekerjaan yang baru, hal itu akan lebih menyusahkan dan lagi membuang-buang waktu kita, jadi apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Gerald sambil menyerahkan amplop berisi uang pada pria tua itu, cukup tebal, pria itu tersenyum senang.
Archie memang menyuruh Gerald untuk mencarikan Ceyasa pekerjaan karena dia tahu wanita sepeti Ceyasa tak akan mungkin bisa mendapatkan pekerjaan tanpa bantuannya.
"Tidak ada, pastikan dia aman dan selama bekerja tidak ada yang menanggunya, hanya itu," kata Archie lagi tersenyum
"Baiklah, sekarang aku akan pulang, kita bertemu di rumah nantinya," kata Gerald menutup teleponnya.
Archie tersenyum sambil memperhatikan ponselnya, ya, tugasnya sudah selesai untuk Ceyasa, tempat tinggal, uang yang cukup dan sebuah pekerjaan, dia rasa dia sudah cukup untuk bertanggung jawab atas keadaan Ceyasa.
__ADS_1
"Permisi, Pangeran," kata seorang pelayan memecah lamunan Archie.
"Ya?" tanya Archie sambil melihat ke arahnya.
"Yang Mulia Raja Angga datang ingin menemui Anda," kata Pelayan itu sambil memberikan hormat.
Archie terlihat diam, dia tahu secepatnya akan ada utusan dari kerajaan yang akan datang menemuinya, entah papa atau ibunya, bisa juga neneknya, namun tidak pernah dia berpikir, pamannya sendiri yang akan menemuinya, sedikit terkejut namun juga sudah bisa menebaknya kenapa itu terjadi.
"Baiklah, dimana Yang Mulia Raja?" tanya Archie menyiapkan diri, mau tak mau, siap tak siap, dia memang harus bertemu dengan pamannya ini.
"Beliau ada di ruang tamu utama," kata Pelayan lagi.
Archie mangangguk, membiarkan pelayan itu pergi dari sana, dia menarik napas panjang dan langsung melangkah ke arah ruang tamu utama, dirinya sedikit gugup, namun dia tidak bisa menunjukkan hal itu, pamannya memang orang yang tidak bisa di tebak, begitu dingin dan diam, namun juga menjaganya dari kecil.
Archie melangkah masuk, memang itu lah peraturannya, dia tak boleh melangkah masuk ke ruangan yang sama dengan Raja jika Raja belum diberitahukan akan kehadirannya, Dia lebih mendekat ke arah Angga yang belum juga melihat ke arah dirinya.
Saat Angga merasa Archie sudah cukup dekat, dia baru memalingkan wajahnya menatap Archie, Archie yang melihat pamannya menatapnya langsung berhenti, dia memberikan penghormatan tertinggi pada Yang Mulia Raja, membungkuk setengah badan hingga tubuhnya bagian atasnya lurus, tangannya lurus dikapitkan ke sisi tubuhnya, kepalanya harus tetap sejajar dengan tubuhnya, menunduk.
Angga melihat Archie melakukan penghormatan itu dengan sempurna, sebuah didikan yang baik tentu sudah diterimanya dari kecil, namun Angga sedang tidak senang, tentu dia masih begitu marah mengetahui hubungan Archie dengan Suri, sampai kapan pun dia tidak akan bisa menerima hal itu.
__ADS_1
"Aku tahu kau sudah pulang, karena itu aku sendiri yang langsung menemuimu di sini," ujar Angga dengan suara berat menggema di ruangan itu, terdengar sangat kharismatik, seolah apa yang dikatakannya semuanya adalah perintah yang tak terbantah.
"Maafkan saya Yang Mulia Raja," ujar Archie masih dengan sikapnya, tak boleh bangkit jika tak ada perintah. Angga terus mengawasi Archie yang menunduk dihadapannya.
"Aku tahu apa masalahmu dengan Suri, kau benar-benar sudah membuatku kecewa dan marah, tidak menyangka kepercayaanku selama ini padamu untuk menjaga Suri, kau manfaatkan untuk menjerat Suri dalam ikatan yang terlarang," kata Angga tajam, mendengar itu Archie hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit dan emosi yang tersulut ketika mendengarkan hal itu keluar dari mulut Angga, bagaimana Angga bisa mengatakan dia menjerat, mereka saling mencintai, itulah yang sebenarnya, namun membantah raja bukan lah hal yang diperbolehkan, jadi dia hanya diam.
"Archie aku tidak akan menerima apapun alasanmu dan selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan kalian bisa bersatu, aku harap kau bisa bertindak sebagaimana seharusnya, kau dan Suri tak akan pernah bisa bersatu, jika kau masih mencoba untuk melakukannya, aku tidak segan-segan untuk melakukan sesuatu padamu," ujar Angga dengan penuh keseriusan, Archie mengertakkan giginya, dia tahu pamannya akan menentang hubungannya dengan Suri, namun tetap saja terasa begitu menyakitkan ketika mendengarnya, namun Archie tak bisa apa-apa, hanya diam dan memendam seluruh rasanya, tak mungkin melawan. Dia mengepalkan tangannya dengan erat, merasakan sakit saat ujung-ujung jarinya menusuk.
"Saat ini Suri sudah bisa menerima ketidakberadaanmu di istana, tapi aku tidak bisa melarangmu untuk kembali ke istana, karena bagaimana pun setelah ini kau lah yang akan memerintah istana, Jadi aku minta jangan lagi bertemu dengannya dan berdekatan dengannya, kau di larang untuk menginjakkan kakimu di Istana Utama, begitu juga Suri, terlarang baginya untuk ada di Istana Pangeran dan sekitarnya, jika diantara kalian melanggarnya, aku akan mengirim Suri pergi dari negara ini selamanya," kata Angga berat sebenarnya menerima Archie kembali ke istana, karena hal itu pasti akan menjadi masalah bagi mereka, satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanya melaranh mereka terlalu dekat lagi.
"Baik, Yang Mulia," kata Archie merespon perkataan Angga dengan suara bergetar, matanya memerah, tak tahan mendengar perkataan Angga yang kembali membuatnya terluka, sebegitu terlarang kah keberadaannya di tempatnya sendiri?
Angga melihat tajam ke arah Archie yang masih dengan sikap penghormatannya.
"Sekali lagi aku katakan padamu, jaga jarakmu dengan Suri, saat ini aku bukan sekedar berkata-kata," kata Angga kembali dengan ketegasan yang dingin. Archie tahu jika pamannya sudah menegaskan berulang kali, artinya dia tak segan-segan untuk melakukannya, mau Archie atau Suri terluka bagaimana pun artinya dia akan tetep memisahkan mereka, tak ada lagi harapan apa pun untuk hubungan mereka selama Angga masih ada.
"Baik, Yang Mulia, " Ujar Archie menahan perasaannya yang bergemuruh, luka yang sudah ingin sembuh, kembali terbuka lebar, terasa nyeri seperti sembilu yang mengiris hati.
"Pulanglah, aku sudah berjanji mengizinkanmu pulang, orang tuamu dan Ibunda Ratu sudah menunggumu, dan sekarang bangkitlah," kata Angga akhirnya mengizinkan Archie untuk bisa berdiri tegak, Archie menatap mata pamannya yang tajam menusuk ke arah Archie, seolah apapun yang tadi dikatakannya tak satupun bisa di bantah.
__ADS_1
Angga menatap tatapan tajam dan merah dari Archie, mengingatkannya dengan tatapan emosi yang dia benci, sialnya Archie benar-benar mewarisi mata ayahnya, membuat Angga selalu teringat akan segala yang sudah dilalukan Ayah Archie pada mereka dulu.
Angga segera pergi dari sana meninggalkan Archie yang hanya bisa terdiam, menggenggam tangannya dengan sangat erat hingga urat-urat di tangannya terlihat keluar, dia mengigit bibirnya dengan erat. Tak menyangka, sepertinya memang harus mengubur rasa ini hingga mati.