
Melihat tawa bahagia Nakesha itu, Ceyasa pun semakin merasa tak canggung pada Nakesha. Ternyata walaupun tinggal di istana, ada juga orang yang seperti dirinya.
"Ceyasa, ada apa denganmu? apa kau sakit? Kau mual-mual? Apa kau hamil? Wah, Archie ternyata sangat jantan, tak aku sangka aku akan segera menjadi nenek, semoga cucuku nanti perempuan," kata Nakesha dengan gaya ciri khasnya, mencerca Ceyasa dengan semua pertanyaan menggebu-gebu, Ceyasa yang mendengar itu awalnya ingin menjawab, namun langsung diurungkannya begitu mendengar kata-kata hamil, dia bahkan kaget Nakesha berkata seperti itu, bagaimana hamil? Tidur seranjang saja mereka tak pernah, Ceyasa hanya bisa membesarkan matanya dan menahan napasnya mendengar kata-kata Nakesha.
"Bukan, Bu, aku tidak hamil," kata Ceyasa meluruskan hal ini, namun wajah ceria Nakesha yang tadinya sudah membayangkan akan memiliki cucu langsung hilang, tampak sedikit kecewa, melihat hal itu Ceyasa jadi tak enak hati karena sudah membuat Nakesha tampak begitu kecewa, "Tapi, kami sedang berusaha," kata Ceyasa asal, mencoba untuk membuat Nakesha bersemangat lagi, tapi setelah dia mengeluarkan kata itu, kenapa Ceyasa merasa menyesal, berusaha bagaimana?
"Ya, tidak apa-apa, kalian juga baru menikah bukan? Ibu juga sangat lama menunggu William lahir, yang penting kalian harus melakukannya terus dan teratur, lebih baik menggunakan gaya …. " kata Nakesha yang kembali menggebu-gebu, Ceyasa yang mendengar pembicaraan ini mulai mengarah ke arah yang tidak-tidak langsung memotong pembicaraan Nakesha, dia tahu itu tidak sopan tapi dia tidak mau mendengarkan lebih lanjut.
"Iya Bu, kami sudah tahu, dokter sudah memberitahu kami. "
"Ya, benar, dokter lebih tahu, Ibu akan berdoa setiap hari semoga kalian cepat mendapatkan momongan," kata Nakesha memegang tangan Ceyasa dengan sangat lembut, seakan itulah permintaannya, hal ini yang membuat Ceyasa terdiam, bagaimana bisa? Ceyasa tak tahu apakah dia bisa benar-benar memberikan permintaan Nakesha, karena bagaimana pun dia dan Archie saat ini statusnya belum jelas.
"Baiklah Bu," kata Ceyasa tidak ingin memperpanjang.
"Ya, Ibu juga akan berbicara pada Archie agar dia cepat menghamilimu," kata Nakesha kembali.
"Ha! Jangan Bu, biar aku saja, aku akan mengatakannya," kata Ceyasa yang akhirnya tahu dari mana sifat Archie itu diturunkan.
"Baiklah, benar, kalian harus sering mengobrol, oh, ya, bagaimana dengan nanti malam?" kata Nakesha yang akhirnya kembali ke niat utamanya menemui Ceyasa, untuk menanyakan bagaimana kesiapannya nanti malam.
"Ehm, aku belum tahu Bu," kata Ceyasa yang tampak sedikit ragu, Nakesha kembali memengang tangan Ceyasa.
"Tenanglah, mereka akan menyukaimu, di sini memang cukup banyak peraturan, namun setelah beberapa lama, kau juga akan terbiasa," kata Nakesha memberikan semangat dengan senyuman keibuan, membuat Ceyasa merasa begitu hangat, tidak pernah merasakan ini.
"Terima kasih Ibu," kata Ceyasa lagi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengajarimu sedikit peraturan dasar di sana nantinya," kata Nakesha lagi lebih lembuat.
"Baiklah, Bu," kata Ceyasa mencoba untuk mendengarkan.
"Nanti, di sana kau akan bertemu dengan Raja dan Ratu, Raja orang yang cukup keras dengan peraturan kerajaan, jadi lebih baik kau tidak berurusan dengannya, cukup diam saja, hanya menjawab jika ada yang bertanya, tapi aku yakin Kak Angga tidak akan bertanya padamu, sebagai istri pangeran kau adalah seorang putri, putri tidak boleh menyentuh siapapun kecuali suami dan keluarga kandungnya sendiri, karena itu kau tidak boleh memegang pria lain kecuali mereka menyapamu duluan, kau dilarang untuk berdansa dan berdiri di samping pria lain selain pasanganmu, jadi aku rasa cara paling aman adalah tidak melakukan apapun di sana," kata Nakesha menjelaskan, Ceyasa yang mendengarkan itu hanya mengangguk-angguk kecil, mendengarnya saja kenapa sudah sangat menakutkan? Bagaimana ada keluarga dengan peraturan seperti ini?
"Sekarang aku akan menunjukkan bagaimana seorang putri memberikan hormat formalnya, tidak seperti pangeran, kau harus mengembangkan gaunmu dan sedikit membungkukkan badan, setelah itu kau lakukan hitung sampai 5 lalu kau boleh bangkit berdiri tegak, tidak perlu menunggu persetujuan dari siapapun kecuali mereka langsung menyuruhmu bangkit," kata Nakesha memperagakannya, Ceyasa melihat itu mengerutkan dahinya, bagaimana dia bisa melakukan hal itu nantinya. "tapi dengan keadaanmu yang sedang sakit, aku rasa itu tidak perlu dulu dilakukan," kata Nakesha lagi.
"Baik, Bu, terima kasih," kata Ceyasa tersenyum begitu manis, membuat Nakesha langsung jatuh cinta pada senyumannya.
"Ibu, Papa mencarimu," kata Archie yang tiba-tiba muncul, melihat ibunya sedang berdiri seperti mengajari Ceyasa.
"Bagaimana bisa kau mengajarinya aturan istana jika kau sendiri sering melanggarnya," ucap Daihan mucul di belakang Archie menatap istrinya yang tampak begitu bahagia. Ceyasa melirik sejenak ke arah pria yang ada di belakang Archie, sangat tampan dengan segala wibawa diumurnya yang matang. Ceyasa langsung ingat, dia langsung menundukkan kepalanya sejenak.
"Sayang, namanya Ceyasa, dia istri Archie," kata Nakesha yang beranjak mendekati suaminya, Archie berpindah berdiri di samping Ceyasa.
"Apa yang ibu katakan padamu?" kata Archie memandang Ceyasa yang mulai mengangkat kepalanya.
"Tidak ada, dia hanya mengajariku sedikit bertingkah laku di sana nantinya, intinya aku hanya boleh diam," kata Ceyasa yang sedikit mengerutkan dahi, benar, dia hanya harus diam dan semua akan baik-baik saja.
"Ya, lebih baik diam dari pada harus berurusan dengan mereka," kata Archie, dia lalu mendekati Ceyasa, lalu mencoba untuk membantu Ceyasa agar bisa berbaring.
"Kau ingin apa?" kata Ceyasa yang melihat Archie memegang pundaknya.
"Kau harus istirahat, aku bantu kau untuk berbaring," kata Archie lagi tak terpancing, kalau biasanya dia selalu marah, kali ini dia cukup sabar menghadapi Ceyasa.
__ADS_1
Ceyasa melihat ketulusan dari wajah Archie, tidak tampak wajah kesal apalagi menyebalkan itu, melihat itu Ceyasa jadi menurut, merasa tak enak karena sudah berpikir yang tidak-tidak dengan pria ini.
Archie menarik selimut menutupi setengah tubuh Ceyasa, Ceyasa yang diperlakukan seperti bukannya senang malah menjadi sangat gugup, dia tidur dengan posisi yang sangat kaku.
Saat Archie sudah selesai membantu Ceyasa, dia segera membuka jasnya, membuka kemeja putihnya dengan sangat santai seolah tidak ada orang di kamar itu, Ceyasa yang melihat itu membesarkan matanya, menatap Archie yang perlahan-lahan membuka kemeja putihnya.
"Kau ingin apa?" tanya Ceyasa lagi, terlalu asing untuk sekamar dengan orang lain, apalagi pria.
"Mengganti baju, aku tidak mungkin tidur dengan menggunakan jas dan kemeja," kata Archie lagi santai sambil melepaskan kemejanya, bertelanjang dada menunjukkan tubuhnya yang putih bersih tanpa cacat, otot yang menambah lekuk tubuhnya, gila, tubuhnya begitu indah, pikir Ceyasa, Ceyasa langsung menepuk-nepuk pipinya, berusaha sadar akan apa yang baru saja dia pikirkan.
Archie yang melihat Ceyasa menepuk-nepuk pipinya hanya mengerutkan dahinya, memakai baju santai yang cukup besar untuk dia tidur, setelah itu dia segera berjalan ke sisi ranjangnya yang kosong.
"Kau mau apa?" tanya Ceyasa lagi menatap Archie yang mendekat.
"Tidak ada pertanyaan lain, kau sudah menanyakan ‘kau mau apa?’ padaku tiga kali," kata Archie segera duduk di samping Ceyasa. Ceyasa melihat Archie dengan mata yang membesar, jangan-jangan ….
"Kau akan tidur di sini?" tanya Ceyasa langsung menghadap Archie sambil berbaring.
"Ya, tentu, dimana lagi? ini kamar dan ranjangku?" kata Archie santai sambil merosotkan tubuhnya agar bisa berbaring.
"Tapi! …. " kata Ceyasa ingin protes, dia tidak ingin tidur bersama Archie dalam satu ranjang, terlalu tidak biasa.
"Sudah aku ingin istirahat, kemarin aku sama sekali tidak tidur, aku tidak akan mengganggumu, selamat tidur," kata Archie segera menutup mata dan langsung terlihat tenang, Ceyasa yang ingin menolak atau ingin pindah jadi merasa takut untuk mengganggu Archie yang tampak langsung nyenyak, terlihat begitu kelelahan.
Ceyasa menatap wajah sempurna Archie, tampak lebih sempurna ketika dia tidur, tak satu pun cacat terlihat, dan kenapa sekarang Ceyasa malah merasa sesak menatapi pria ini, jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memerah tapi merasa bahagia ada di sampingnya, ehm … tidak mungkin, tidak mungkin dia jatuh cinta dengan pria semenyebalkan dia.
__ADS_1
Ceyasa terus memperhatikan Archie, namun tiba-tiba pria itu langsung berguling dan tidur miring menghadap Ceyasa, matanya yang tadi sudah tertutup tenang tiba-tiba terbuka, membuat mata mereka terpaut cukup dekat, sialnya, Ceyasa langsung terperangkap dan bahkan tak sanggup untuk memalingkan wajahnya, bahkan untuk berkedip pun susah.
"Kalau kau terus memandangiku seperti itu, aku rasa aku tidak akan bisa tidur," kata Archie pelan menatap wajah Ceyasa yang memerah, diam terkaku, bahkan sekarang dadanya terasa bergetar karena jantungnya berdetak begitu keras, "tolong bangunkan aku 2 jam dari sekarang, selamat tidur istriku," kata Archie mengecup dahi Ceyasa, membuat Ceyasa bukannya tidur tapi malah ingin pingsan, Archie segera menarik selimutnya dan kembali terlentang, kali ini benar-benar tertidur, meninggalkan Ceyasa yang bahkan tak bisa bergerak karena kelakuannya.