
"Aku yakin dia akan kembali sembuh," Bantah Jofan, ingin menyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan oleh Dokter Elly semuanya salah.
" Dari mana Anda begitu yakin? apa nantinya Anda sanggup melihat Nona Sania, jika memang dia berhasil bangun, namun tetap terperangkap dengan tubuh yang tidak bisa melakukan apapun? Apakah itu yang Anda katakan hidup? Jika iya, maka setelah dia di pindahkan ke rumah Anda, aku akan berhenti, aku tidak sanggup melihat Nona Sania seperti itu, Permisi," tegas Dokter Elly, dia lalu segera meninggalkan Jofan yang hanya bisa terdiam, mematung sesaat melihat kepergian Dokter Elly.
Perasaan Jofan berkecambuk, apakah yang dikatakan oleh Dokter Elly itu benar? Walaupun Sania sudah sadar, dia tak akan bisa lagi seperti semula? Jika yang dikatakan oleh Dokter Elly itu benar, maka walaupun Sania sadar, dia akan tersiksa dengan keadaannya sendiri, apakah benar ini saatnya merelakan?
"Paman?" sapa Jared yang mengembalikan Jofan ke lorong rumah sakit itu, dia sedikit kaget mendengar teguran Jared.
"Ya?" tanya Jofan mencoba menutupi perasaannya yang sekarang benar-benar kacau.
"Aku harus kembali ke kantor, ada rekan bisnis yang ingin bertemu denganku saat ini, Bibi dan Siena ada di dalam, aku permisi dulu, nanti siang aku akan datang ke sini lagi," ujar Jared meminta izin pada pamannya.
"Baiklah, hati-hatilah," ujar Jofan yang sedikit menepuk pundak Jared, keponakannya ini memang paling bisa diandalkan olehnya.
"Baik Paman, kau pergi dulu," pamit Jared pada Jofan, dia segera meninggalkan pamannya itu. Jofan menatap kepergian Jared sebentar dan dia dengan segera berjalan menuju ke kamar Sania.
Dia perlahan membuka pintu ruangan Sania, melihat ke arah ruangan yang luas itu, Aurora duduk di samping tubuh kaku Sania, sedangkan Siena duduk di samping yang lain, Aurora yang melihat Jofan masuk segera berdiri.
"Dari mana saja? Jared sudah pergi, " tanya Aurora.
__ADS_1
"Aku … e … " ujar Jofan yang melihat wajah Sania, dia tidak sanggup melanjutkan perkataannya, semua kata-kata Dokter Elly mengaung dikepalanya, dia tak sanggup jika begini.
"Ada apa?" tanya Aurora yang sedikit kaget, ada apa? kenapa mata Jofan kembali memerah seolah menahan tangisnya. Tatapan Jofan seperti mencari-cari, dia melihat ke segela arah, tidak ingin menatap Aurora, Aurora pasti langsung tahu ada sesuatu yang di simpan oleh Jofan, mata Jofan yang mencoba menghindari Sania dan Aurora malah jatuh ke Siena, Siena memandang ayahnya dengan penuh tanya.
"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa," kata Jofan sambil memandang Siena, dia mencoba menguatkan dirinya, dia harus kuat untuk anaknya. Aurora menekuk dahinya lebih dalam, namun berusaha untuk tidak bertanya lebih lanjut, dia takut akan merusak suasana.
"Duduklah di sini, dia sudah menunggumu," ujar Aurora tersenyum, dia lalu meninggalkan keluarga kecil ini sejenak untuk berkumpul, duduk di salah satu sofa yang ada cukup jauh dari sana.
Jofan segera duduk di tempat duduk Aurora tadi, dia melihat ke arah tubuh Sania, mengamati dengan seksama, tulang pipinya yang menonjol,matanya yang cekung, lengannya yang kecil hingga ke kaki Sania, begitu kurus dan kecil, Jofan langsung menyimpulkan bahwa apa yang di katakan oleh Dokter Elly itu benar, bagaimana dia bisa melakukan hal normal dengan tubuh seperti ini, apakah dia tega kembali melihat Sania terperangkap di tubuh tak berdaya ini?
Jofan menyentuh tangan Sania, untuk sekian lama, dia tak pernah lagi menyentuh tangan Sania, tangan itu terasa dingin tak seperti yang pernah dia ingat, tak pernah akan lagi sama, dia mengenggam tulang-tulang tangan Sania, merasa semakin sesak merasakan kulit longarnya, dia lalu melihat ke arah wajah Sania, senyuma manis yang ada di ingatannya, apakah bisa sekali lagi tersungging di sudut bibirnya yang sudah terlihat begitu tipis?
Jofan menarik napas dalam-dalam, semakin dia melihat wajah Sania, semakin sesak dan sakit hatinya, dia bahkan tak sanggup menatap wajah putrinya yang duduk di depannya, dia tak tahu harus bagaimana? Mempertahankan atau merelakan?
"Ayah … " kata Siena terdengar halus.
Jofan baru berani menatap anaknya, menunjukkan matanya yang memerah, menahan sedihnya.
"Apakah sekarang ibu menderita?" tanya Siena dengan nada suara datar. Membuat Jofan kaget mendengarkannya.
__ADS_1
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" ujar Jofan lagi.
"Tadi pagi aku mengatakan, aku akan melakukan apapun agar ibu tidak menderita, jika …. " kata Siena tercekat. "Aku hanya, hanya belum rela, aku baru menemukannya, aku belum bisa kehilangan lagi."
Jofan terdiam, kata-kata Siena kembali membuat hatinya terpukul, kegundahan hatinya semakin memuncah, bagaimana ini?. Jofan berdiri seketika, membuat Siena kaget, Aurora yang memperhatikan mereka pun kaget, Jofan lalu segera pergi dari sana.
"Bisakah kalian menjaganya untuk sementara waktu, ada yang harus aku lakukan sekarang," pinta Jofan saat dia melewati Aurora.
"Baiklah, kami akan menjaganya, pergilah, " kata Aurora mengerti kegundahan hati suaminya.
Jofan sekejab memberikan senyum manisnya pada Aurora sebelum dia pergi dari kamar itu, setelah dia keluar dari ruangan yang mencekik napasnya itu akhirnya dia bisa bernapas, dia menarik dalam sekali, dia kira dia sanggup menghadapi Sania yang berbaring lemah di sana, namun ternyata tidak, dia bahkan tak sanggup melihatnya lebih lama lagi, hatinya sakit sekali, apa lagi mendengar kata-kata Siena, bagaimana dia bisa berpikir untuk merelakan?
Jofan berjalan sempoyongan sedikit menjauh dari ruangan Sania menuju ujung koridor rumah sakit itu, di ujung jalan itu dia menyenderkan tubuhnya, merasakan kebimbangan yang amat sangat, mencintai namun harus merelakan, tak ingin melihat dia tersiksa namun dia tak sanggup kembali kehilangan, sampai kapan perasaan cinta ini harus menyiksanya, belum cukupkah dia membayar karmanya? Kenapa harus terus dia merasakan penderitaan yang benar-benar membunuhnya pelan-pelan?
Jofan menahan tangisnya dengan menutup mulutnya namun hal itu tak bisa menghentikan air mata yang jatuh membasahi pipinya, Jofan sekarang benar-benar merasa lemah, mengingat akan wajah Sania, mengigat pula wajah Siena, apa yang harus dilakukannya?
Jofan tak sanggup berdiri, lututnya merasa lemah hingga dia terduduk di lantai rumah sakit yang dingin itu, cukup lama dia terduduk di sana, tak bisa merasakan apapun kecuali sakit yang menyesakkan dada, menusuk setiap sendinya, bagaikan seluruh tubuhnya terhantam kerikil-kerikil tajam.
Dia lalu berusaha bangkit, mencoba untuk kembali berjalan, tak ingin Aurora apalagi Siena melihatnya menangis lemah di pojok koridor rumah sakit itu, namun dia belum sanggup untuk kembali lagi ke kamar itu, jadi dia putuskan untuk keluar sejenak untuk menenangkan diri.
__ADS_1