Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
162 - Kenapa Dia?


__ADS_3

"Dia dibunuh," kata Archie mengutarakan apa yang ada di pikiran Ceyasa sekarang, Ceyasa makin syok mendengarnya, "apa kau sempat melihat wajah pria yang mengatakan itu?" tanya Archie lagi penasaran.


"Tidak, suara itu muncul namun aku tidak melihat seorang pria pun, tiba-tiba setelah itu aku bangun dan sudah ada di rumah sakit," kata Ceyasa lagi.


"Begitukah?" kata Archie sekali lagi mencoba menganalisa.


"Sudahlah, itu mimpi hanya mimpi, mimpi yang sangat menyeramkan, mudah-mudahan aku tidak bermimpi yang seperti itu lagi," kata Ceyasa lagi, dari tadi siang dia tak ingin ambil pusing lagi mencari arti apa yang dilihatnya saat dia pingsan, dia hanya ingin menganggap gambaran itu hanyalah mimpi belaka.


Archie mengerutkan dahinya, benarkah sebuah mimpi? namun kenapa Archie punya perasaan itu bukanlah mimpi.


Archie mencoba menganalisa semua yang terjadi, kenapa Ceyasa tak ingat dia pernah mengalami cedera kepala yang parah, juga mimpi itu muncul disaat dia pingsan setelah kepalanya terbentur, entah kenapa Archie menolak untuk menerima bahwa gambaran itu muncul karena dia sedang bermimpi, Archie harus mendesak Gerald secepatnya mencari apa yang terjadi pada Ceyasa sebenarnya.


Lamunan Archie sedikit terganggu dengan suara berisik plastik yang sedang dicoba untuk dibuka, dia lalu melihat ke arah Ceyasa yang sedikit kesusahan membuka sebungkus makanan berbentuk batangan.


"Sini," kata Archie melihat Ceyasa yang berusaha, namun juga gagal membukanya. Archie merampasnya begitu saja, membuat Ceyasa menatap makanannya itu. Archie lalu membuka bungkusannya, melihat sebatang makanan bertabur coklat, Archie melirik Ceyasa yang tampak sangat ingin memakan coklat itu.


"Kau tidak boleh memakan makan ini, untukku saja," kata Archie segera menjauhkan coklat batangan itu dari Ceyasa, dia sengaja melakukan itu, ingin memancing Ceyasa mengeluarkan wajah kesalnya itu.


"Tidak, itu punyaku, lagi pula ini cuma ada satu, aku sudah menghabiskan yang lain tadi," kata Ceyasa ingin memakan coklat, wajahnya tampak cemberut karena Archie menjauhkannya dari coklat itu, dia mencoba menggapainya dengan tangan kanannya, namun karena tangan Archie lebih panjang, dia tak sanggup menggapainya, Archie tertawa kecil melihat wajah Ceyasa yang terus mencoba menggapai coklat itu.

__ADS_1


"Kau sudah gemuk, kau harus membaginya untukku," kata Archie dengan wajah sok-sokan marah, Ceyasa melihat itu tampak kesal dan memasang wajah ngambeknya. Melirik Archie dengan sangat tajam.


Melihat wajah ambek Ceyasa yang sangat lucu dan mengemaskan itu, Archie tertawa, begitu senang melihat wajah Ceyasa seperti itu, karenanya dia ingin selalu melihat wajah Ceyasa kesal padanya, Ceyasa segera kembali pada posisinya, wajahnya terus menunjukkan wajah cemberut, pipinya menggembung dan bibirnya maju ke depan, benar-benar menggemaskan.


Archie menyodorkan coklat itu di depan Ceyasa, mencoba sekali lagi untuk menggoda Ceyasa, Ceyasa yang melihat itu segera mengembangkan senyuman dan lalu segera menyambar coklat itu dengan cepat, tak memberi kesempatan Archie untuk menariknya lagi, melihat itu Archie kaget, Ceyasa langsung menggigit coklatnya.


"Hei, kau tidak membaginya dengan ku? itu cukup untuk di bagi berdua," kata Archie yang kaget Ceyasa sudah memakan coklat itu sedikit, padahal Archie kira Ceyasa akan membaginya coklat itu.


"Tidak, kalau kau mau, ambil aja dari mulutku," kata Ceyasa segera menggigit lagi coklat batangan itu dan hanya menyisakan sedikit yang keluar dari bibirnya, Ceyasa tersenyum senang sambil menggoyang-goyangkan kepalanya mengejek Archie.


Archie melihat tingkah Ceyasa mengerutkan dahinya, terlalu ke kanak-kanakan namun juga memancingnya, Archie segera memegang kedua sisi kepala Ceyasa, menahannya agar kepala Ceyasa tidak lagi bergerak, dan dengan cepat dia langsung memajukan wajahnya ke arah Ceyasa yang tampak tak siap dengan serangan ini, jadi yang dia bisa lakukan hanya membesarkan matanya.


Ceyasa pikir Archie tak akan melakukan hal seperti ini, perlakuan Archie seharian ini padanya membuat dia lupa, Archie adalah pangeran yang tak tahu malu.


Archie tersenyum sambil menguyah coklat yang ada dimulutnya, ternyata lebih menyukai wajah kaget Ceyasa yang seperti ini.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Ceyasa yang masih separuh bengong.


"Mengambil coklat bagianku," kata Archie dengan senyum manisnya, membuat Ceyasa hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya, masih tak menyangka.

__ADS_1


"Kau tidak boleh melakukan hal itu lagi!" kata Ceyasa memukul-mukul tubuh Archie dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya masih menancap infus, Archie segera menangkisnya.


"Hei, ini rumah sakit, jangan bertindak seperti itu, apa setiap kali kau dicium seseorang kau akan mengamuk seperti ini? pantas kau tidak punya pasangan," kata Archie yang masih menangkis juga sekalian melindungi dirinya dari pukulan Ceyasa.


"Kau pikir aku wanita apa, aku belum pernah dicium seseorang sebelumnya, kau merampas ciuman pertamaku," kata Ceyasa sekarang berubah menjadi cemberut.


"Ha? benarkah?" kata Archie tak percaya dengan apa yang dia dengarkan. Sebesar ini Ceyasa belum pernah mencium siapa pun?


"Ya, lihat kan kau benar-benar tidak tahu malu, " kata Ceyasa lagi, masih dengan wajah ngambeknya, "sudah aku ingin kembali ke kamar saja," kata Ceyasa berdiri dan langsung mengangkat tiang infusnya, namun belum dia melangkah, tangan kanannya langsung di tahan oleh Archie, digenggam oleh kehangatannya, kehangatan itu entah kenapa sekarang seperti listrik yang menyengat tubuh Ceyasa, membuatnya kaku seketika.


"Maafkan aku, aku akan tak bermaksud seperti itu," kata Archie dengan lembut, Ceyasa lalu memalingkan wajahnya menatap Archie yang ada di belakangnya.


"Kau tidak sedang main-main denganku, kan?" kata Ceyasa kesal menatap wajah Archie yang tersenyum manis, senyum manis itu berubah menjadi tawa kecil, tak tahu kenapa, hanya saja rasanya Archie bisa bahagia hanya melihat wajah kesal itu, Archie berdiri, namun tak punya niat untuk melepaskan genggaman tangan itu.


"Ayo, kembali ke ruanganmu, di sini sudah cukup dingin," kata Archie lagi dengan suara lembut perhatiannya, membuat Ceyasa sedikit kaget, menduga-duga perubahan Archie ini, kenapa? bukannya biasanya kalau Ceyasa sudah kesal, Archie juga kesal, sekarang kenapa dia malah tertawa?


Ceyasa kembali menganalisa wajah Archie, dia tak mau langsung percaya, namun saat mengamatinya tidak ada wajah mengejek apalagi wajah menyebalkan itu di sana, hanya wajah yang tampak tersenyum tulus. Ceyasa semakin bingung melihat tingkahnya, yang terbentur kepalanya bukannya Ceyasa? tapi yang geger otak kenapa Archie? pikir Ceyasa masih tak percaya.


Lusy segera membukakan pintu ketika mereka ingin melihat Archie dan Ceyasa mendekat, dia langsung membantu Ceyasa untuk mengangkat tiang infus dan segera membiarkan pangeran dan putrinya berjalan di depannya, berjalan dengan diam namun tangan yang tetap menggenggam terpaut.

__ADS_1


__ADS_2