
"Apakah itu orangnya?" tanya Tommy melirik ke arah spion mobilnya.
"Entalah, kita tunggu sejenak ya," ujar Ceyasa yang terus memperhatikan mobil itu, lalu tak lama seorang pria dengan setelan jaket kulit hitam dan celana chinos hitam keluar dari mobil itu, dia memperhatikan Ceyasa, wajahnya seolah bertanya pada Ceyasa.
"Oh, saya ingin mengantarkan pesanan, namun dari tadi saya memberikan pesan dan juga menekan bel, tidak ada yang membukakan pintunya," ujar Ceyasa pada Jared yang berdiri di depannya, menatapnya dengan wajahnya yang dingin.
"Benarkah? masuklah," ujar Jared yang memandang Ceyasa, dia menekan sebuah remot kecil, tak lama gerbang otomatis itu terbuka. Jared kembali ke dalam mobilnya, dan Ceyasa juga kembali ke mobil mereka.
Mobil Jared masuk duluan, sedangkan mobil mereka segera mengikuti dari belakang, Jared langsung mengarahkan mobilnya ke garasi khususnya, melihat garasi itu kosong, dia tahu pamannya pasti sudah mengantar Siena ke panti asuhan sesuai rencanannya, sedangkan mobil pengantar Ceyasa diparkirkan di depan pintu samping, agar mudah mengeluarkan barang-barang.
Ceyasa yang turun duluan, dia lalu memandang ke arah pintu utama rumah begaya minimalis, yang tak kalah megah dengan rumah Rain, namun dia merasa ada yang aneh, melihat sesuatu yang keluar dari bawah pintu rumah itu, seperti asap yang menggulung keluar, nalurinya berkata ada yang tidak beres.
Ceyasa segera berjalan ke arah pintu utama itu dengan buru- buru dan mulai mengamati, dia lalu mengintip dengan cara mendekatkan matanya dan tubuhnya ke jendela kaca yang ada di samping pintu utama, Ceyasa lalu menutup cahaya yang mengganggu pandangannya dengan kedua telapak tangan ke sisi-sisi matanya,dan seketika menangkap tubuh seseorang berbaju putih dari kaca yang ada di dekat pintu utama itu.
Jared yang melihat tingkah Ceyasa itu mengerutkan dahi, untuk apa wanita itu mengintip ke dalam rumah mereka. apakah dia ingin menguntit?
"Hei!" tegur Jared pada Ceyasa.
Ceyasa yang melihat tubuh Aurora terkapar di lantai, tak lagi mendengar teguran dari Jared, dia langsung panik dan cemas, dia melihat Jared yang ada di dekatnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah dalam, Jared yang melihat tampang Ceyasa yang panik, mengerutkan dahinya, berpikir wanita ini mungkin ketakutan karena tertangkap basah olehnya.
__ADS_1
"Tuan! Tuan, seseorang pingsan!" ujar Ceyasa dengan cepat memanggil Jared, Jared yang mendengar dan melihat itu itu langsung mempercepat langkahnya menuju Ceyasa, wajahnya pun ikut cemas.
"Apa maksudmu?" ujar Jared saat mendekati Ceyasa.
"Asap! Aku rasa ada yang terjebak! Lihat" ujar Ceyasa yang dengan paniknya mencoba menjelaskan agar Jared tidak bingung, dia menunjuk ke arah bawah pintu utama yang sudah mengepulkan asap.
"Tuan! kebakaran! Kebakaran!" ujar Tommy yang menunjuk arah dapur dari dekat mobilnya, di daerah itu asap sudah membumbung tinggi.
Jared dan Ceyasa langsung bertambah panik, dia segera mencoba untuk menekan kunci kombinasi rumah itu, namun seolah sepertinya pintu itu tidak ingin terbuka, mungkin mengalami konselting karena kebakarang, Jared mencoba beberapa kali lagi, namun tak bisa, dia mencoba untuk menendang pintu itu, namun karena pintu itu memang dipilih khusus, pintu itu sangat kokoh.
Ceyasa yang melihat Jared memasukan kode ke pintu itu, merasa tak sabar dan dia harus mencari jalan lain, dia melihat ke arah sekitar, melihat sebuah batu hiasan taman yang cukup besar, lalu melihat dinding kaca yang ada di sebelah mereka, kalau menunggu Jared untuk merobohkan pintu itu sepertinya orang yang ada di dalam pasti tidak tertolong.
Ceyasa dengan sigap mengambil batu itu, dan segera ingin melemparkan baru besar itu ke jendela rumah itu.
Suara kaca pecah berserakan, Jared dan Tommy yang mendengar hal itu kaget, bahkan sejenak terpaku, wanita itu baru saja memecahkan dinding rumah mereka yang sangat besar, Jared melihat ke arah Ceyasa, Ceyasa juga melihatnya, namun tak lama segera bergegas masuk ke dalam ruangan, membuat Jared kehabisan kata-kata, wanita itu berani sekali.
"Ceyasa!" teriak Tommy yang khawatir, Ceyasa masuk begitu saja, melewati kaca-kaca tajam yang berserakan, asap dari dalam akhirnya keluar, mengepul hitam ke angkasa.
Jared yang melihat Ceyasa masuk, segera mengikutinya, walaupun asap sudah keluar, namun ruangan itu sudah gelap gulita, Ceyasa menutup mulutnya dengan tangannya, sebiasa mungkin melihat dimana dia bisa menemukan tubuh Aurora.
__ADS_1
Jared mengambil alih di dalam, karena dia mengenali ruangan rumah mereka, dia langsung keluar dari ruang tamu itu, melihat ke arah lorong pintu utama, dan menemukan bibinya sudah tergeletak, api sudah melahap bagian belakang rumah itu, telat beberapa menit saja, mungkin saja bibinya sudah tak ada lagi, tepanggang di dalam rumah itu.
Jared segera mengangkat tubuh bibinya dari sana, Ceyasa yang menunggu di pintu penghubung itu mencoba untuk memberitahukan jalannya sekaligus untuk memperhatikan apakah ada korban lain atau tidak, namun jarak pandang mereka yang terbatas dan keadaan yang sangat panas di dalam membuat mereka juga tak bisa terlalu lama di dalam, bisa-bisa malah mereka yang jadi korban, Ceyasa langsung membuat gestur untuk menyuruh Jared keluar, mereka sudah sangat sesak di dalam, Jared melihat itu dan segera keluar dari ruangan itu, Ceyasa mengikutinya dari belakang.
Jared meletakkan tubuh bibinya ke lantai yang aman di luar sejenak, Ceyasa yang sudah ada di sana pun segera memeriksa nadi wanita yang sudah terkulai lemas itu, wajahnya tampak sangat pucat.
"Nadinya lemah, kita harus membawanya ke rumah sakit secapatnya, dia butuh oksigen murni, apa ada korban lain?" ujar Ceyasa tegas seolah memerintahkan pada Jared yang hanya menggeleng, rasanya tak mungkin ada korban lain, dia yakin pamannya sudah tak ada di rumah, sedangkan Siena, dia tak memikirkannya.
"Tuan, saya sudah memanggil pemadan kebakaran," ujar Tommy yang medekat.
"Bagus! Tolong kau memantaunya! Aku beri tanggung jawab rumah ini padamu, Nona, tolong aku, kau ikut aku ke rumah sakit!" kata Jared yang segera kembali menggendong bibinya, dia memberikan perintah pada Tommy dan Ceyasa.
"Ya," kata Ceyasa seraya mengangguk cepat.
"Baik, Tuan, tapi, Ceyasa?" tatap Tommy yang hanya bisa melihat Ceyasa pergi menjauh darinya, padahal dia ingin berduaan satu hari ini dengan Ceyasa, tapi Ceyasa malah pergi dengan pria itu, dia jadi bingung.
"Ambil kunci di saku ku, buka mobilnya," ujar Jared menunjuk saku jaket kulitnya, Ceyasa yang mengerti langsung merogoh dan mendapatkan kunci mobil Jared, dia segera membuka pintu mobil Jared, Ceyasa dengan cekatan dan tanggap segera membuka pintu belakang mobil Jared, dan dengan sigapnya membantu Jared untuk meletakkan tubuh Aurora di jok belakang.
"Masuk! Jaga bibiku!" Perintah Jared lagi, Ceyasa seolah tak memikirkan apa pun hanya ingin membantu segera mengangguk, padahal kalau dipikir-pikir dia bahkan tak kenal dengan siapapun mereka ini, dia segera masuk, menempatkan kepala Aurora dengan lembut di atas pahanya, dan tak menunggu lama Jared melajukan mobilnya.
__ADS_1
Untung saja Ceyasa ikut dengan Jared, kalau tidak mungkin tubuh Aurora sudah jatuh karena Jared membawa mobilnya dengan sangat cepat, terkadang berbelok dengan sangat tajam, membuat Ceyasa agak kesusahan menjaga tubuh Aurora, sesekali Ceyasa mencoba memeriksa nadi Aurora, walaupun lemah untunglah masih ada. Ceyasa menenggam tangan Aurora dengan erat, dalam hatinya menatap wanita yang walaupun sudah tampak berusia, namun sangata cantik ini.
Aku mohon, bertahanlah sebentar lagi. ujar Ceyasa dalam hati.