
Melihat tingkah Jenny yang langsung berdiri dengan baju kebesaran membuat Jonathan jadi tertawa kecil, ternyata wanita ini sangat cantik, bahkan dengan baju yang sangat kebesaran itu, dia masih saja terlihat menggoda.
"Tidak, aku hanya becanda, untuk apa dia tidur di sini," kata Jonathan lagi pada Jenny.
Jenny menyipitkan matanya, lalu semua masuk akalnya, untuk apa wanita itu tidur di sini, seharusnya bukannya mereka tidur bersama, tiba-tiba saja Jenny merasa jijik membayangkan Jonathan dan wanita itu tidur bersama.
"Ya, tentu, dia seharusnya tidur dengamu kan? Bodohnya aku," kata Jenny dengan senyuman sedikit menyindir, Jonathan mengulas senyum namun dahinya sedikit bertekuk.
Jonathan lalu berdiri, sedikit berjalan mendekati Jenny yang tiba-tiba saja terdiam, namun Jonathan tak melanjutkan langkahnya lebih jauh, hanya mendekat agar bisa melihat raut wajah Jenny lebih jelas.
"Nona Jenny, aku mungkin punya banyak pasangan, namun aku pria yang seperti ada dalam pikiranmu, aku tidak akan tidur dengan sembarangan wanita, dan jika aku ingin melakukannya, aku hanya akan melakukannya dengan wanita yang menurutku pantas, itu saja yang harus kau tahu dariku, selamat tidur," kata Jonathan lagi meninggalkan Jenny yang hanya bisa diam menatap punggung Jonathan yang menghilang dibalik pintu yang tertutup.
Jonathan tidak tidur, dia sedang mengurusi pekerjannya yang dia tinggalkan beberapa hari ini untuk bisa ada di negara ini, dia sedang melakukan konfrense dengan asistennya di negaranya untuk memberikan beberapa keputusan dan instruksi, tiba-tiba bel ruangan kamarnya berbunyi, mengusiknya sejenak.
"Sebentar," kata Jonathan yang segera bangkit, dia lalu menuju ke pintu utama hotelnya, membuka sedikit, dia lalu melihat seorang pelayan yang membawakan gaun Jenny yang sudah di bersihkan dan juga telah terbungkus plastik.
"Gaunnya sudah di bersihkan Tuan," kata pelayan itu.
"Baiklah, terima kasih," kata Jonathan segera mengambil gaun itu dari pelayan yang segera memberikan salam pada Jonathan.
__ADS_1
Jonathan menutupĀ pintunya dengan perlahan, dia lalu memengang gaun hitam itu, dia berjalan menuju ke kamar Jenny, ingin mengetuk namun jika Jenny sedang tidur, maka itu akan menganggu tidurnya, dia lalu segera membuka pintu itu, perlahan saja mengintip ke dalam, melihat apa yang sedang dilakukan oleh Jenny, dan ternyata benar, wanita itu sedang meringkuk di bawah selimut sambil tertidur puas.
Jonathan meletakkan gaun itu di sofa yang tadi dia duduki, dia segera ingin keluar namun saat matanya menangkap wajah cantik Jenny sedang tidur, dia berhenti sejenak, seolah bagaikan magnet yang menarik Jonathan membelokkan arah tujuannya, dia segera mendekat ke arah Jenny, Jenny yang tertidur tampak begitu manis dan mengemaskan, Jonathan tanpa sadarnya mengelus rambut Jenny membuat Jenny terlihat mengeliat karena ulahnya, Jonathan hanya tersenyum manis melihat Jenny yang tertidur pulas, ada perasaan ingin melindungi wanita itu.
Jonathan kembali berdiri tegak, dia melihat ke arah tangannya yang tadi mengelus kepala Jenny, mengerutkan dahinya namun segera tertawa kecil, mengenggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir, kenapa dia bisa begini jadinya? Pikir Jonathan yang langsung meninggalkan Jenny, sekarang dia tak yakin, siapa yang sudah terjebak sebenarnya.
Pintu kamar Jenny tertutup sempurna, Jenny membuka matanya, sebenarnya sejak Jonathan membuka pintu itu, Jenny pun sudah terbangun, suara plastik pembungkus gaun yang dia bawa cukup membuat Jenny yang sangat mudah terganggu tidurnya itu terbangun, namun dia tidak ingin Jonathan tahu dia sudah bangun, dia ingin melihat apa yang pria itu lakukan saat dia sedang tidur, pria seperti Jonathan itu biasanya selalu mengambil kesempatan, jadi dia ingin tahu apa yang dilakukan oleh Jonathan padanya.
Jenny terduduk, memegang kepalanya yang masih terasa sentuhan tangan Jonathan, entah kenapa sentuhan itu malah menyentuh perasaannya, kenapa rasanya sangat nyaman ketika Jonathan melakukan hal itu padanya, tidak boleh, Jenny tak boleh punya hati dengan pria model seperti Jonathan itu, pikirnya, Jenny sampai menepuk-nepuk pipinya, ayo sadar Jenny, pria playboy seperti itu, tak bisa diharapkan, sadar Jenny dalam hati, namun perasaannya sepertinya berkata yang lain, hingga dia menarik kembali selimutnya dan membungkus tubuhnya untuk menenangkan detak jantungnya yang tak karuan.
----***----
Pintu kamarnya terketuk pelan, Jenny segera memutar wajahnya melihat ke arah pintu, dengan suara lembutnya dia mengizinkan siapa pun di balik pintu itu untuk masuk.
Jonathan membuka pintunya, melihat ke arah Jenny yang sudah tampak bersiap, dia sudah sama cantiknya seperti semalam dia melihatnya, selama dia ada di dalam club malam itu, hanya Jenny yang bisa menarik perhatiannya, gadis itu terlihat ceria berinteraksi dan juga bercanda dengan beberapa temannya.
"Ehem, kau sudah ingin pulang?" tanya Jonathan yang merasa sedikit keberatan dengan hal itu.
"Ya, aku harus pulang segera, kalau tidak pamanku akan mengerahkan seluruh pasukan untuk mencariku," canda Jenny yang entah kenapa mulai keluar pada Jonathan, Jonathan hanya menaikan sudut bibirnya, masuk ke dalam kamar yang menyeruakkan wangi manis yang lembut, sangat membuat ketagihan.
__ADS_1
"Aku akan mengantarkanmu," kata Jonathan lagi.
"Ha? Tidak perlu, tidak, jangan, maksudku, aku akan pulang sendiri saja," kata Jenny lagi, "Bagiamana keadaaanmu?" alih Jenny agar Jonathan tidak lagi membahas hal itu.
"Kenapa?" tanya Jonathan tak teralih.
"Tidak apa-apa, akan jadi masalah nantinya," kata Jenny dengan suara sedikit menurun, pamannya punya masalah dengan ayah Jonathan, jika tahu Jenny tadi malam pergi dengan Jonathan bisa-bisa pamannya akan marah besar, lagi pula itu juga bisa merusak nama baiknya jika ada yang tahu Jenny menginap di kamar Jonathan.
Jonathan mengerutkan dahinya, namun belum sempat dia berkomentar dengan kata-kata Jenny, ponsel Jenny berdering, membuat perhatian Jonathan dan Jenny langsung tertuju pada ponsel yang ada di atas ranjang itu, Jonathan segera mengambil ponsel yang memang lebih dekat dengannya, dia melihat layar ponsel Jenny, nama Anxel terpampang di sana.
"Anxel?" tanya Jonathan melihat ke arah Jenny.
Jenny langsung membesarkan matanya, dia segera manarik ponsel itu dari tangan Jonathan dan segera mengangkatnya dengan sedikit terburu-buru, Jonathan melihat tingkah Jenny sedikit mengerutkan dahi, siapa Anxel itu?
"Halo?" sapa Jenny.
"Halo, aku hanya ingin memberitahu kepadamu, kau harus menyisakan waktu untuk makan siang bersamaku, keluargaku akan mengundang keluargamu untuk makan siang bersama, ayahku langsung yang menelepon pamanmu, aku sudah mengatakan pada orang tuaku, tentang kita," kata Anxel segera.
"Kita?" tanya Jenny kaget, bagaimana Anxel bisa mengambil keputusan tanpa berbicara dengannya, tiba-tiba saja mengatakan hal itu pada orang tuanya.
__ADS_1
"Ya, kenapa? bukannya kau juga tahu bahwa hubungan ini akan sangat menguntungkan untuk kita berdua?" tanya Anxel lagi sambil memukul-mukulkan ujung penanya pada status pasien di depannya, sejak pertemuan kemarin Anxel merasa akan sangat menguntungkan memiliki pasangan sepertiĀ Jenny, dia juga pintar.