
Jofan baru keluar dari kamar mandi, dia baru saja membersihkan tubuhnya yang penuh luka, luka di punggungnya sudah mengering sempurna meninggalkan jejak berwarna merah muda, luka bakarnya pun sudah menyembuh, menyisakan kulit muda yang cukup mengganggu untuk dilihat, sedangkan luka di perutnya terlihat cukup mengering dan rasanya juga tidak nyeri lagi.
"Tuan, bagaimana keadaan keadaan Anda?" kata Kiran melihat Jofan yang sudah cukup tampak membaik.
"Sudah membaik," kata Jofan mengambil baju yang disediakan oleh Kiran di atas kasurnya.
"Hari ini dokter akan melihat luka Anda, kita akan keluar dari sini untuk memeriksakannya," kata Kiran yang memberitahukan apa yang harus mereka lakukan hari ini.
"Baiklah, Apa ada kabar dari Liam?" tanya Jofan lagi.
"Ya, dia berhasil membawa Nyonya Aurora dan Nona Jenny untuk berlibur keluar negeri seperti permintaan Anda," kata Kiran.
Jofan yang sedang memakai jasnya terdiam sejenak, hatinya cukup nyeri mendengarkan hal itu, pria lain sedang bersama istrinya, apakah mereka sedang bersenang-senang sekarang? atau bagaimana? namun Jofan tak bisa melakukan apapun, toh bukannya dia yang memintanya, di negara ini, jika dalang semua ini belum tertangkap, dirinya dan keluarganya tidak akan pernah aman di sini, Biarlah, sepertinya dia memang harus berkorban seperti ini.
----****----
Ceyasa sudah menanti dari pagi tadi, namun masih belum ada kabar apapun dari Archie, Hana sudah membawakan pakaian namun Hana juga belum mendapatkan kabar apapun dari Archie. Ceyasa sudah mulai merasa sedikit ingin gila, dia tak tenang sama sekali, terkadang duduk, terkadang mondar mandir, mencoba mengelilingi rumah itu beberapa kali dan dia tak menemukan apa pun yang bisa membuat dirinya tenang, dia hanya butuh Archie sekarang, minimal kabar darinya.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana memperhatikan Ceyasa yang tampak sangat cemas, bahkan duduk pun dia terlihat begitu tidak tenang.
"E? entahlah, apa kita boleh keluar sekarang? ada apa di sini?" tanya Ceyasa yang merasa sumpek ada di rumah itu.
"Di sini hanya ada tempat pelatihan militer Nona, oh, ada taman bunga kecil di dekat rumah sakit militer, apa Anda ingin ke sana?" tanya Hana lagi.
"Bolehkah?" tanya Ceyasa menatap Hana.
"Tentu, selama Anda bersama saya, Anda boleh mengelilingi tempat ini," kata Hana yang sepertinya sangat percaya diri atas kekuatan yang dia miliki.
"Baiklah kalau begitu," kata Ceyasa sedikit senang, dia berpikir mungkin mengambil udara segar dari tanaman yang ada di taman itu akan menyenangkan, lagi pula siapa yang berani menyerbu markas militer itu.
"Silakan Nona," kata Hana membukakan pintu untuk Ceyasa.
Ceyasa menyipitkan sedikit matanya, merasa silau karena matahari yang cukup menyengat, tempat itu sangat lebar, di depan rumah mereka ada lapangan untuk berlatih para tentara, terlihat juga beberapa tentara yang sedang melakukan pelatihan mereka dan juga tugas mereka.
__ADS_1
"Nona Ceyasa ingin pergi ke taman bersamaku, kalian ikutlah denganku untuk menjaganya, " kata Hana memerintahkan 2 tentara untuk juga mengikuti mereka, walaupun dia yakin akan kekuatannya dia tak ingin ambil resiko untuk keselamatan Ceyasa.
"Siap," kata mereka.
Hana memimpin jalan mereka, Ceyasa sedikit menikmati perjalan menuju taman, mengitari tanah lapang yang walaupun cukup panas namun lumayan menghibur dirinya, sedikit membuatnya lupa akan kecemasan hatinya sekarang.
Tak lama mereka segera masuk tiba ke taman kecil yang ada tempatnya ada di sudut markas militer itu, tidak terlalu besar namun cukup indah, penuh dengan bunga, yang paling mencolok adalah rumah kaca yang ada di sana, kecil namun dipenuhi bunga-bunga, terutama bunga anggrek yang beraneka warna, sangat indah membuat Ceyasa terpesona.
----***---
Jofan baru saja keluar dari ruangan tindakan dokter, dia baru saja melihat lukanya, sudah mengering dan akan lepas jahitan beberapa hari lagi, dokter menyarankan agar dia tidak lagi terlalu banyak bergerak hingga luka luar maupun dalamnya sembuh total.
Jofan melihat markas militer itu, terasa asing namun juga terasa sangat familiar, tempat dimana akhirnya dia menemukan Sania tersekap lebih dari 23 tahun di sini, padahal dia beberapa kali datang ke tempat ini, dan bodohnya dia tak tahu selama ini dia dekat dengan cinta pertamannya itu, namun sekarang itu semua jadi kenangan, dia sudah merelakan semuanya, dia dan Sania memang tak ditakdirkan untuk bersatu.
Jofan menatap terus wanita itu, mengerutkan dahinya cukup dalam, dari jauh wajahnya tampak sumringah melihat anggrek-anggrek yang ada di dalam rumah kaca itu, mengulik rasa penasaran Jofan.
"Siapa itu?" tanya Jofan pada Kiran yang setia ada di sampingnya.
"Melihat penjagaannya, saya rasa itu Nona Ceyasa, Tuan," kata Kiran menjelaskan.
Jofan mengerutkan dahinya, menatap lama pada Ceyasa yang sesekali bercengkramah dengan Hana yang tampak menjelaskan sesuatu, tanpa dia sadari dirinya seolah tertarik ke sana, dan dia juga tidak sadar bahwa akhirnya dia cukup dekat dengan Ceyasa.
"Dulu ada seorang Nona yang suka sekali berkebun, dia paling suka dengan bunga anggrek, karena itu kami membangun tempat ini untuk dirinya, mengambil bunganya untuk di letakkan di dalam ruangannya," kata Hana menjelaskan.
__ADS_1
"Kenapa harus dipetik, kenapa dia tidak datang saja kemari?" tanya Ceyasa yang belum sadar akan kedatangan Jofan.
"Karena Nona itu akhirnya harus koma cukup lama," kata Hana lagi.
"Benarkah? kasihan sekali," kata Ceyasa memegang sebuah tanaman anggrek yang kelopak bunganya merekah indah, campuran warna putih dan ungu, benar-benar menarik.
"Nama bunga itu Anggrek Cattlya," kata Jofan yang langsung saja berbicara, membuat Ceyasa kaget dan segera melihat ke belakang, Hana yang melihat kedatangan Jofan langsung memberikan salam.
"Selamat Siang, Mantan Presiden, Tuan Jofan," kata Hana memberikan salam.
"Selamat Siang," kata Jofan mengangguk, seolah mengerti, Hana segera pergi sedikit menjauh dari Ceyasa, Kiran pun begitu, mereka berjaga di depan rumah kaca itu.
Jofan memperhatikan Ceyasa, menatapnya dengan wajah serius yang sedikit berkerut, entah kenapa merasa cukup familiar dengan wajah itu, sorot matanya mengingatkannya pada seseorang.
Ceyasa menatap pria yang tampak penuh pesona dewasa yang matang, dari astetiknya walaupun sudah berumur masih terlihat sangat menarik, penampilannya yang rapi membuat wibawanya keluar, mendengar apa yang dikatakan oleh Hana tadi, berarti pria ini adalah mantan presiden, pantas saja auranya sangat berbeda.
"Selamat siang Tuan," kata Ceyasa sedikit menyapa, kenapa sekarang hidupnya dikelilingi orang-orang penting seperti ini, Ceyasa sedikit memberikan senyumannya, membuat Jofan kembali mengerutkan dahinya.
"Selamat siang," kata Jofan membalas Ceyasa,"Aku dengar kau adalah istri Archie?" kata Jofan terus mengamati Ceyasa, membuat Ceyasa merasa cukup gugup karena tatapan matanya yang tajam.
"E? Ya, benar," kata Ceyasa sedikit ragu menjawabnya.
Jofan tak menjawab, kembali memperhatikan Ceyasa, dari pengalamannya sebagai pria dengan banyak wanita dulu, Ceyasa terlihat seperti wanita yang baik, Jofan juga termasuk orang mengenal banyak orang yang berpengaruh di negara ini, tapi dia tidak pernah melihat Ceyasa sebelumnya.
"Siapa namamu? " tanya Jofan lagi seolah seperti menginterogasi.
"Ceyasa," kata Ceyasa singkat.
"Hanya Ceyasa? apa nama keluargamu? " tanya Jofan sedikit ketus, sebenarnya tak punya niat untuk seperti itu, dia hanya penasaran dengan wanita ini.
Ceyasa mengerutkan dahinya, memandang pria ini dengan seksama, kenapa dia harus menanyakan hal itu pada Ceyasa, lagi pula nada bicaranya cukup tidak bersahabat.
"Maaf Tuan, tapi aku rasa aku tidak perlu menjawabnya, maaf, saya harus kembali ke rumah, permisi," kata Ceyasa mencoba tetap sopan walaupun dia cukup terganggu akan sikap pria itu yang terus mengamatinya, merasa ada yang aneh dengannya.
Jofan memperhatikan Ceyasa yang pergi dari sana, melihat siluet tubuhnya yang entah kenapa sekali lagi mengingatkannya pada seseorang, Jofan menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba untuk menyadarkan dirinya, mungkin dia hanya merindukan sosok itu, ya, hanya itu saja.
__ADS_1