
"Kita kan sudah seharian bersama," kata Ceyasa lagi sambil mengancingkan gaun yang dia gunakan.
"Kau pikir rindu yang aku tahan selama seminggu itu bisa dengan mudah hilang hanya berdekatan denganmu sehari, kau saja yang tidak rindu padaku," kata Archie duduk di tepian ranjang, namun membelakangi Ceyasa, dia mengacak-ngacak rambutnya tanda dia sedang frustasi, dia masih ingin bersama Ceyasa. Ceyasa yang mendengarkan hal itu sedikit tersenyum, entah kenapa perasaannya menghangat mendengarkannya.
Ceyasa lalu menaiki ranjang mereka, lalu mendekati suaminya, memeluk tubuh polos Archie yang tampak merajuk, entahlah akhir-akhir ini Archie sering merajuk, padahal dia tak pernah seperti ini, namun di hadapan Ceyasa, dia terlihat manja, mungkin karena terlalu menahan rindu dengan Ceyasa.
"Tunggulah, sebentar lagi bukankah kita akan menikah? setelah itu kita akan selalu bersama," kata Ceyasa lembut, menyandarkan pipinya ke punggung Archie yang hangat, merayu suaminya yang bertingkah bak anak yang tak diberikan permen.
Archie masih diam, benar-benar merasa tak rela harus jauh lagi dengan Ceyasa, walaupun bisa melihatnya, namun pamannya itu benar-benar memberikan jarak yang jelas pada dia dan Ceyasa, tapi apa yang dikatakan oleh Ceyasa benar juga, tinggal menunggu sedikit lagi, rasanya dia sanggup.
"Baiklah," kata Archie memutar tubuhnya, menatap Ceyasa yang langsung terperangkap oleh mata indah Archie. Archie lalu segera mencium bibir Ceyasa, mencoba untuk memberikan dirinya sendiri semangat untuk bisa menunggu Ceyasa.
"Bisa melakukannya lagi sekarang?" goda Archie setelah mencium Ceyasa, membuat mata Ceyasa membesar.
"Tidak!" kata Ceyasa langsung menjauh dan turun dari ranjang.
"Haha, aku hanya bercanda," kata Archie yang melihat respon cepat istrinya menghindar.
"Kalau aku setuju, memangnya kau akan tetap mengatakan kalau itu bercanda? " lirik Ceyasa lagi pada Archie yang mengambil bajunya dan memakainya, pemandangan itu ternyata begitu menggoda, seperti model-model saat menggunakan bajunya, Ceyasa tak menyangka, dia punya suami yang bisa dibilang sempurna.
"Ya, aku tidak akan menolak," kata Archie dengan senyuman genitnya.
__ADS_1
"Dasar mesum!" kata Ceyasa lagi segera berjalan keluar dari kamar utama itu.
"Mesum dengan istri sendiri kan tidak apa-apa," kata Archie mengikuti Ceyasa dari belakang.
Ceyasa hendak membuka pintu namun rasanya Archie belum rela, dia memeluk pinggang Ceyasa dari belakang, lalu meletakkan dagunya di pundak Ceyasa, tetap saja tak rela Ceyasa keluar dari kamarnya.
"Jangan buru-buru," kata Archie manja.
"Iya, tapi jika ayahku sampai duluan di istana utama sebelum aku, dan dia melihat aku dan dirimu dari istana pangeran, kira-kira bagaimana?" kata Ceyasa yang mencoba menyadarkan Archie.
Archie tampak berpikir, dia tiba-tiba membesarkan matanya, melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Ceyasa agar menatapnya.
"Mungkin dengan begitu dia langsung setuju menikahkan kita, bisa-bisa besok kita akan menikah, kalau begitu, biarkan ayahmu menangkap basah kita di ranjang," kata Archie dengan pemikiran konyolnya, membuat Ceyasa menatapnya dengan kerutan di dahi.
"Kau tahu, kau tidak lulus menjadi putri jika jalan seperti itu, untung saja nenekku masih sakit, kalau tidak dia sudah pasti memarahimu," kata Archie sekenanya saja melihat Ceyasa berjalan cepat di depannya, Ceyasa hanya menoleh namun tak punya minat menjawab apalagi melambatkan jalannya, dia harus bersiap-siap menyambut ayahnya, jika ayahnya pulang itu berarti dia sudah berhasil membawa ibu sambungnya.
Ceyasa masuk ke istana utama dari pintu samping, Archie masih mengikutinya dengan setia, Ceyasa langsung menuju kamarnya dan saat dia ingin masuk dia menahan Archie.
"Kenapa?" kata Archie yang meresa tak ada salahnya jika dia masuk ke dalam Ceyasa.
"Tunggu saja dil uar, aku ingin ganti baju dan juga sedikit membersihkan diri," kata Ceyasa melirik Archie.
__ADS_1
"Aku akan menunggu di dalam dan tak akan mengganggumu," kata Archie dengan wajah berharap.
"Tidak, tunggu di ruang tengah saja, " kata Ceyasa lagi melihat Archie.
"Kau ini, benar-benar tidak rindu denganku ya! ya sudah aku tunggu di sana," kata Archie kesal sekali, dia hanya ingin berdekatan dengan Ceyasa, tapi Ceyasa terus menolaknya, awas saja, kapan Ceyasa ingin dekat dengan Archie, Archie akan membalasnya, pikirnya sambil berjalan kesal ke ruang tengah.
Ceyasa memperhatikan Archie yang pergi dengan kesal hanya tertawa kecil, entah sejak kapan suaminya itu menjadi semanja anak-anak, Ceyasa langsung menutup pintunya dan segera bersiap-siap untuk menyambut ayah dan ibunya.
Setelah sedikit membersihkan diri, Ceyasa keluar dari kamarnya, melihat Archie yang sedang serius memainkan ponselnya, namun mencium wangi lembut yang terbang dari tubuh Ceyasa, Archie langsung menoleh, melihat istrinya sudah tampak lebih segar, dia langsung berdiri, baru saja ingin mendekati Ceyasa, seorang pelayan masuk ke dalam ruang tengah itu.
"Pangeran dan Nona, Tuan Jofan sudah tiba," kata pelayan itu pada Ceyasa dan Archie, Archie sekali lagi harus menahan diri, dia mengangguk-garuk tengkuknya padahal sama sekali tidak gatal. Mertuanya itu selalu datang di waktu yang tak tepat.
Ceyasa segera bergegas, Archie mengikutinya dengan malas dan santai, entah apa lagi yang akan dikatakan ayah mertuanya itu lagi padanya nanti.
Ceyasa tiba tepat waktu saat Jofan baru keluar dari mobilnya, Ceyasa menuruni tangga dan segera memeluk Jofan, Jofan memberikan sedikit pelukan hangatnya, melihat Archie yang baru muncul dari dalam, dia memberikan senyuman sedikit pada Archie, yang dibalas senyuman juga oleh Archie.
Jofan melepaskan pelukannya, membantu Aurora untuk turun dari mobil, Aurora tampak kaget melihat siapa yang di peluk oleh Jofan, dia berpikir yang tadi di peluk oleh Jofan adalah Siena, dan sepanjang perjalanan Aurora sudah menyiapkan diri untuk bertemu dengan putri Jofan itu, bagaimana pun dia harus membuat Siena menerimanya, tapi kenapa yang ada di depannya malah Ceyasa?
Jenny juga langsung keluar saat melihat ke Jofan memeluk seorang gadis, wajah tak suka Jenny sudah terpasang jelas, drama dan drama lagi yang akan dilihatnya, namun saat Jofan melepaskan pelukannya, wajah Jenny langsung mengerut, matanya membesar dan kaget melihat gadis itu, kenapa bukan Siena? Bukannya wanita ini istri Archie?
"Selamat datang kembali, Ayah dan Ibu," suara Ceyasa terdengar ramah dengan senyuman manis menyambut Aurora, mendengar itu Aurora sedikit tersenyum bingung, ini ada apa sebenarnya, Jenny pun bingung? Ayah? Ibu? Apalagi ini?
__ADS_1
"Selamat datang paman dan bibi," kata Archie yang bergabung, kembali merangkul pinggang Ceyasa, Jofan melirik tangan itu sedikit, dan Archie melepaskan rangkulannya, wajahnya kesal.
"Aku harus menjelaskannya pada kalian, tapi sepertinya tidak di sini," kata Jofan yang merasa ini bukan tempat yang pas, mereka sudah 9 jam dalam persawat itu, dan setidaknya harus ada tempat duduk untuk berbicara.