Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
239 - Dia tak di sini, Aku yang ada di sini.


__ADS_3

Aurora duduk menikmati suasana indah pernikahan putranya, pasangan-pasangan tampak larut dalam syahdunya malam ini, dia terlihat tersenyum bahagia pada semua orang yang menyapanya, namun jauh dalam lubuk hatinya dia merasa sangat kesepian, apalagi saat seperti ini, hanya dia satu-satunya orang yang tak punya pendamping di sisinya.


 


Ujung matanya kembali menatap sosok itu, jauh dari lokasi pesta berdiri di sudut dekat labirin  membuat perhatian Aurora otomatis ke arahnya, Aurora membesarkan matanya, Jofan tampak berdiri sejenak menatapnya lalu tanpa menunggu lama seolah harus pergi segera Jofan buru-buru masuk ke dalam labirin tanaman itu.


 


Aurora dengan cepat meletakkan gelas yang dipegangnya, segera berdiri dan  mengangkat sedikit gaun yang dia gunakan dan segera berjalan cepat ke arah dia tadi melihat Jofan, tanpa ragu dia memasuki labirin yang bahkan tampak gelap itu, melihat ke seluruh arah yang semuanya tertutup oleh tembok tanaman yang begitu tinggi, sekelebat dia bisa melihat Jofan menghilang di belokan labirin itu. Aurora kembali mengejarnya, dia bahkan melepaskan sepatu hak tinggi yang dia gunakan, membiarkan kakinya menyentuh tanah dan rerumputan untuk bisa mengejar sosok yang terus saja menghilang dari pandangannya.


 


 


Aurora berhenti saat  dia berada di tengah labirin itu, mengatur napasnya yang tampak terengah - engah mengejar bayangan Jofan, tempat itu berbentuk bundar, dia berdiri di tengahnya melihat ke sekeliling yang penuh dengan jalan-jalan yang Aurora sendiri tak tahu kemana dan dimana ujungnya, dia juga tak tahu kenapa dia bisa sudah ada di tengah labirin tanaman ini, kemana dia harus pergi? kemana Jofan pergi? kenapa jika itu memang dia, dia tidak mendatanginya? Kenapa tidak mendekati mereka?


 


Jika memang Jofan tidak ingin lagi melihat Aurora, setidaknya dia hadir untuk Jared, Ini pesta yang sangat penting bagi Jared, tak ingin kah dia mengatakan selamat pada keponakannya yang dia anggap anak? padahal dari dulu bahkan dari Jared kecil ini adalah mimpinya, menikahkan Jared dengan Suri namun saat itu terjadi tak satupun di acara pentingnya itu Jofan hadir.


 


 


Aurora benar-benar merasa pusing juga kesal, dia kali ini marah pada Jofan, kenapa harus bermain petak umpet seperti ini, jika datang datanglah, jika tidak jangan muncul seperti ini, ini benar-benar membuatnya frustasi, sialnya kenapa harus dia yang melihatnya, Aurora lalu teringat sosok Jofan sebelum dia masuk ke dalam labirin ini, dia menatapnya dengan tatapan sendu itu, bagaimana bisa dia bersembunyi-sembunyi seperti ini?


 

__ADS_1


 


Tiba-tiba pundak Aurora digenggam seseorang, Aurora langsung kaget dan melihat ke arah belakang, tempat tangan yang mengenggamnya itu berada, wajah kaget Aurora langsung muncul melihat pria di belakangnya.


 


"Aurora, sedang apa disini?" kata Liam dengan wajah bertanya.


"Liam, aku, aku melihat Jofan tadi di ada di dalam sini, aku melihatnya masuk ke dalam sini," kata Aurora yang langsung mengutarakan apa yang dia lihat, mungkin saja Liam juga melihat Jofan di dalam labirin ini.


"Jofan?" tanya Liam sambil mengerutkan wajahnya yang tampan dengan aura dewasanya.


"Benar, dia di sini, aku melihatnya," kata Aurora lagi mutar tubuhnya, melihat ke sekelilingnya yang kosong, tidak ada tanda-tanda apapun di sana.


"Aurora, sepertinya kau salah melihatnya, tempat ini sudah di jaga dengan sangat maksimal, jika Jofan datang, kita semua akan tahu itu," kata Liam pada Aurora yang tampak bingung mencari ke sekeliling labirin yang gelap itu.


"Aurora, Jofan tidak mungkin datang kemari, itu hanya halusinasimu, dia tak mungkin akan ke mari, aku yakin, dia tidak akan bisa ada di sini," kata Liam melihat ke arah Aurora yang tak percaya yang di katakan oleh Liam, wajahnya Aurora begitu sedih.


"Jadi kau bilang aku hanya berhalusinasi karena aku terlalu memikirkannya? Aku benar-benar melihatnya! aku melihat Jofan!" kata Aurora dengan suara meninggi karena merasa Liam tak percaya padanya.


Liam menatap Aurora dengan wajah prihatinnya, menarik tubuh Aurora dalam dekapannya ingin menenangkan Aurora yang tampak begitu histeris, bahkan dia menangis begitu sedih di dalam pelukkan Liam.


"Aurora, Jofan tidak ada di sini, aku yang ada di sini," kata Liam memeluk tubuh kecil Aurora yang menangis tersedu, tubuh kecilnya itu gemetar menahan sakitnya, benarkah dia begitu merindukan Jofan hingga dia berhalusinasi, melihat pria itu di sini?


 


"Kenapa? kenapa dia meninggalkan aku? apa salahku?" tanya Aurora yang masih merintih di dalam pelukan Liam.

__ADS_1


Kenapa? bahkan dengan begitu banyaknya sakit yang disebabkan oleh Jofan, dia masih saja merindukan sosoknya, kenapa dia tak bisa seperti yang lain, yang bahkan bisa bersama orang lain bahkan saat suami mereka ada, kenapa dia harus mencintai pria seperti Jofan? Kenapa? Aurora menjadi marah pada dirinya sendiri.


 


"Kau tidak salah, hanya mungkin dia memang tak bisa bersama dirimu," kata Liam lagi sambil memeluk erat tubuh Aurora, sudah lama sekali rasanya dia menunggu bisa kembali memeluk wanita ini, wanitanya yang sudah dia tunggu hampir separuh umur hidupnya.


 


Pelukan mereka cukup lama, Liam mencoba sebisa mungkin membuat Aurora tenang dalam dekapan kehangatannya, Aurora sebenarnya tak sadar dengan apa yang sekarang dia lakukan, begitu banyak beban yang dia tanggung, dia ternyata butuh orang yang bisa menenangkannya, bertingkah seperti seorang wanita yang tegar di depan semua orang, bersikap menjadi ibu yang bahagia untuk anak-anaknya membuatnya sangat kelelahan dan tertekan, dia hanya butuh orang untuk bersandar sejenak melepaskan semua, hanya butuh waktu untuk sekedar mengeluarkan penderitaannya.


 


"Tenanglah, aku ada disini," kata Liam berbisik pada Aurora, mengelus rambutnya yang terurai indah, suara itu, seketika membuat Aurora kaget, dia baru saja sadar dengan apa yang dia lakukan, dia langsung tersentak, melepaskan dirinya dari pelukan pria itu, menatap dalam remang wajah Liam yang tampak bingung dengan apa yang dia lakukan.


 


Aurora tampak membesarkan matanya, benar-benar kehilangan kontrol hingga masuk dalam pelukan itu, dia tidak ingin hal ini menjadi hal yang membuat Liam merasa dia memberikan harapan padanya.


 


"Aurora?" tanya Liam yang melihat Aurora memandanganya dengan wajah tak percaya.


"Tidak, aku ingin kembali," kata Aurora ingin menghindar dari Liam.


"Aurora, Au …. " kata Liam yang ingin menggenggam tangan Aurora, namun Aurora langsung bersikap menjauh dan  buru-buru pergi ke jalan yang dia ingat tadi.


 

__ADS_1


Liam hanya memandangnya kepergian Aurora dengan tatapan kecewa, hati Aurora belum terbuka sedikit pun untuknya, Liam menggigit bibirnya, dulu dia begitu mudah dilupakan oleh Aurora , padahal dia sudah berusaha untuk menyakinkan Aurora bahwa dialah wanita yang akan dia perjuangkan selamanya, namun kenapa wanita itu begitu susah untuk beranjak dari pria yang sama sekali tak ada untuknya.


__ADS_2