Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
331 - Ayahmu yang menyuruhku di sini.


__ADS_3

Ceyasa membuka matanya, entah sudah berapa lama dia tertidur namun yang pasti tubuhnya terasa sangat berat, tidur pagi memang sangat tidak menyenangkan, namun entah kenapa Ceyasa merasa benar-benar mengantuk tadi.


Dia menggulung selimutnya lebih saat itulah dia melihat seseorang di sampingnya, Ceyasa tentu langsung kaget, dia membesarkan matanya seketika, Ceyasa langsung terduduk melihat ke arah sekitarnya, dia lalu melihat pria itu, Ceyasa mengucek matanya sejenak, Archie? kenapa dia tidur di ranjangnya?


"Archie?" kata Ceyasa menggoyangkan tubuh suaminya itu, Archie mengerutkan dahinya, perlahan membuka matanya lalu melihat Ceyasa yang sudah terduduk di sampingnya.


"Jangan pukul aku dengan bantal lagi," ucap Archie segera bangkit dan terduduk, ingat terakhir kali bagaimana Ceyasa membangunkannya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ceyasa yang bingung kenapa Archie yang ada di sampingnya itu, bagaimana jika ayahnya tahu, Archie bisa kena marah tentunya.


"Ya tentu saja menjagamu, apa lagi? bagaimana perasaanmu?" kata Archie tenang saja.


"Tapi, apa ayahku tidak ada sampai kau bisa ke sini? tanya Ceyasa


"Ya, tapi ayahmu yang mengizinkan aku untuk ada di sini.”


"Benarkah? "


"Ya.”


"Bagaimana bisa? apa kau sudah mengatakannya?" kata Ceyasa begitu serius, dia sedikit tidak percaya ayahnya yang mengizinkan Archie ada di sini.


"Sudah," kata Archie menyibakkan selimutnya, lalu bergegas turun dan berjalan menuju meja yang ada di kamar Ceyasa.


"Lalu?" kata Ceyasa yang merasa penasaran, bukannya ayahnya cukup ketat jika masalah ini?

__ADS_1


"Ya, sudah begitu saja, dia mengatakan baiklah, jaga Ceyasa, sudah, begitu saja," kata Archie yang tidak ingin menjelaskan betapa tegangnya suasana dan dirinya  saat berhadapan dengan ayah mertuanya yang sangat menyeramkan itu.


Ceyasa memandang Archie dengan tak percaya, dia menyipitkan matanya  sambil terus melihat Archie yang sedang menuangkan air putih lalu berjalan menuju ke arah Ceyasa, apa yang dikatakan oleh Archie entah kenapa tidak bisa dia terima, Archie menaikan satu alisnya melihat wajah tidak percaya Ceyasa, dia menyerahkan segelas air putih pada Ceyasa.


"Minumlah," kata Archie lembut, Ceyasa mengambilnya lalu meminum air putih sambil tetap melirik Archie.


"Sudah begitu saja?" tanya Ceyasa yang masih merasa semua itu tidak masuk akal.


"Iya, begitu saja, memangnya kau ingin bagaimana? aku dan ayahmu melakukan perang dunia ke 3? sudahlah, apa yang kau ingin lakukan sekarang?" tanya Archie mengambil gelas yang sudah setengah habis, Ceyasa hanya mengangguk-angguk, masih merasa aneh namun tidak ingin melanjutkannya, dia melihat ke arah ranjangnya.


"Tidak ada, aku masih ingin tiduran," kata Ceyasa kembali membaringkan tubuhnya, menarik selimutnya yang sangat lembut, menggulung tubuhnya hingga sedada, dan tersenyum pada Archie yang memandangnya.


"Sudah siang, aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan, setelah itu kau harus minum vitamin," kata Archie dengan raut wajah perhatiannya, Ceyasa menggigit bibirnya sambil tersenyum, ternyata menyenangkan mendapatkan perhatian lebih dari Archie.


"Baiklah, " kata Ceyasa lagi namun tak bergerak, melihat Archie yang pergi meninggalkannya.


Ceyasa melihat hal itu langsung semangat, dia memang merasa perutnya sudah kosong sekarang, dia berjalan ke arah makanan itu, Archie yang melihat tingkah Ceyasa yang langsung kegirangan itu hanya bisa tersenyum, menarik sebuah kursi agar Ceyasa bisa makan di sana.


Ceyasa yang awalnya sangat ingin makan itu tiba-tiba merasa penuh ketika mencium bau makanan itu, padahal tadi dia begitu berselera, perutnya mulai bergejolak, melihat susu putih itu saja rasanya sangat memualkan, dia menutup mulutnya yang mulai terasa asam, Archie yang ada di sampingnya hanya menekukkan dahinya, melirik bingung.


"Kenapa?" kata Archie memegang pundak Ceyasa dengan lembut. Ceyasa menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya. Mata Ceyasa bergulir melihat Archie yang memasang wajah bingung.


"Baunya sangat memualkan," kata Ceyasa sambil sesekali menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa asam, menahan sebisa mungkin rasa mual yang menyeruak begitu saja, Archie memasang wajah kagetnya, wanginya sangat menyelerakan kenapa malah Ceyasa mengatakan bahwa itu memualkan? Ceyasa mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya, menghalau bau-bauan yang masuk ke dalam hidungnya.


"Bau apa? " tanya Archie binung.

__ADS_1


"Bau? Egh … aku sudah tak tahan lagi," kata Ceyasa berlari cepat ke arah kamar mandi, masuk dan segera mencari tempat untuknya agar bisa mengeluarkan isi perutnya. Archie yang melihat itu segera berjalan ke arah kamar mandi, melihat Ceyasa yang memuntahkan semuanya di atas closed mereka.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Archie cemas.


"Tidak, jangan masuk," kata Ceyasa, tentu dia tidak ingin Archie melihatnya  muntah seperti ini.


"Kau yakin?" tanya Archie.


"Iya, tidak apa-apa," kata Ceyasa yang merasa sudah cukup dia mengeluarkan semuanya, dia langsung menyiram closed itu, membersihkan sisa muntahannya, Ceyasa lalu bangkit, membersihkan wajahnya, lalu berjalan ke arah Archie yang masih setia menunggunya di pintu itu.


Ceyasa sedikit tersenyum melihat ke arah Archie, namun baru saja dia ingin mendekat, mencium semerbak wangi tubuh Archie yang biasanya sangat menenangkan baginya, kita terasa sangat menusuk hingga kembali membuat perutnya kembali bergejolak, Ceyasa langsung berlari kecil ke arah closed itu, kembali memuntahkan apapun yang tersisa di dalam perutnya, Archie melihat hal itu sangat khawatir, dia masuk ke dalam kamar mandi itu, tidak tahu bahwa dirinya lah sekarang yang membuat Ceyasa mual.


"Jangan mendekat, aku tidak sanggup dengan baumu," kata Ceyasa melarang Archie mendekat, Archie yang mendengar itu terdiam, baunya? Bau apa? Archie mencium tubuhnya, tidak ada yang bau.


"Bau apa? jangan mengada-ada," kata Archie lagi, masa dia dibilang bau.


"Wangimu terlalu tajam, itu membuatku sangat mual, bisakah kau mandi sekarang?" tanya Ceyasa melirik Archie sejenak, namun kembali muntah.


"Bagaimana kau bisa mual seperti itu? wangiku dari dulu seperti ini, kemarin kau tidak mual-mual menciumku, sekarang begitu mengetahui kau sedang hamil tadi pagi, kau langsung mual menciumku," kata Archie mengerutkan dahi, dia ingat dokter mengatakan usia kandungan Ceyasa 4-6 minggu dan kemarin sebelum Ceyasa mengetahui dia hamil, dia baik-baik saja, tidak pernah mengeluh dengan wangi tubuhnya, tapi sekarang baru beberapa jam dia tahu bahwa dia sedang mengandung, Ceyasa langsung mual mencium wanginya.


"Ya aku tidak tahu, sudah, mandilah, wangimu benar-benar tak enak, " kata Ceyasa, setelah itu sekali lagi muntah.


Archie awalnya tidak ingin percaya, namun melihat Ceyasa yang melirik ke arahnya, menangkap matanya yang berair disebabkan muntah yang hebat itu, Archie merasa yakin Ceyasa bukan mengada-ngada, lagi pula siapa sih yang ingin muntah seperti itu.


Archie akhirnya mengalah, dia keluar dari kamar mandi itu, niat baiknya untuk membantu Ceyasa ternyata tidak sesuai, dia masih bisa melihat Ceyasa berjongkok di dekat closed itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi ke kamarku, dan mandi," kata Archie yang menurut.


__ADS_2