Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
263 - Dimana Archie?


__ADS_3

Ceyasa baru saja keluar dari kamarnya, dia sudah selesai membersihkan dirinya dan baru saja ingin sarapan, saat keluar Ceyasa cukup kaget melihat Hana yang sudah berjaga di depan pintu kamarnya, Ceyasa memang meminta Hana untuk menginap di rumah itu menemaninya, karena rumah itu terlalu besar dan sepi bagi Ceyasa sendirian di dalamnya, tapi Ceyasa tidak tahu kenapa sepagi ini Hana sudah rapi dan siap menjaganya.


"Selamat pagi Nona," kata Hana memberikan salam.


"Pagi, kau tidak tidur ya?" tanya Ceyasa yang penasaran dengan Hana.


"Tidur Nona, tapi saya sudah terbiasa bangun pagi," kata Hana menjawab tanpa  melihat Ceyasa, dia hanya menatap lurus dengan sikap sempurnanya.


"Oh, sudah sarapan?" tanya Ceyasa lagi.


"Sudah Nona," kata Hana tegas.


"Yang benar? Sepagi ini sudah sarapan, kau makan jam berapa? " tanya Ceyasa yang benar-benar merasa ‘gabut’ di sana.


"Pukul 4 tadi pagi Nona.”


"Oh, baiklah, aku akan makan dulu," kata Ceyasa lagi berjalan ingin menuju dapur, namun baru beberapa langkah dia melangkah, terdengar suara bel rumah, Ceyasa melihat itu mengerutkan dahi, Hana segera siap siaga, berjalan mendahului Ceyasa untuk memastikan siapa kira-kira yang sepagi ini sudah mendatangi Ceyasa, Ceyasa yang mendengar bel itu hatinya sedikit berdetak kencang, berharap dengan diam bahwa itu adalah Archie.


Hana yang sedikit mengintip langsung segera membuka pintunya dan Ceyasa berdiri tak jauh dari pintu itu, saat pintu terbuka, raut wajah berharap Ceyasa segera berubah menjadi kekecewaan, dia melihat Letnan Jendral Henry yang datang, pria itu juga sudah tampak rapi dengan seragam tentara yang membuat penampilannya semakin garang.


"Selamat pagi, Letnan Jendral," Hana segera memberikan hormat sempurnanya, Letnan jendral Henry langsung membalas hormat itu, dia menurunkan tangannya baru Hana menyudahi hormat itu.


"Selamat pagi Nona Ceyasa, maaf sudah mengganggu Anda, " kata Letjen Henry yang membawa 3 orang tentara lain dengan pakaian dinas mereka.


"Selamat pagi Letnan Jendral, tidak apa-apa," kata Ceyasa membalas senyuman Letjen Henry yang dari tadi sudah mengembang.

__ADS_1


"Jendral Ferdinan meminta saya untuk melakukan tes kesehatan untuk Anda, ini perintah langsung dari yang Mulia Raja karena beliau khawatir dengan kesehatan Anda setelah penculikan tersebut," kata Jendral Henry yang melirik pada 3 prajurit yang dia bawa yang ternyata dokter khusus militer, mereka mengerti dan segera menyiapkan semua barang-barang yang diperlukan.


"Benarkah? tapi aku baik-baik saja, bahkan tergores pun tidak," kata Ceyasa yang sedikit mengerutkan dahinya.


"Tapi Yang Mulia Raja memintanya langsung dan saya tidak bisa menolaknya Nona, saya mohon kerja samanya Nona Ceyasa, apakah kami boleh memeriksa kesehatan Anda dan sedikit mengambil darah Anda?" tanya Letjen Henry begitu ramah, membuat Ceyasa sulit untuk menolaknya walaupun dia merasa sedikit aneh dengan semua hal ini.


"Baiklah, tidak apa-apa," kata Ceyasa yang akhirnya mengiyakannya saja.


"Silakan duduk Nona, saya akan memeriksa tekanan darah Anda," kata seorang tentara segera memasangkan manset spigmometer ditangan Ceyasa yang menurut duduk di sampingnya, dia segera memeriksa tekanan darah Ceyasa dan hasilnya normal.


Ceyasa lalu melihat pria itu segera memasang sarung tangan medisnya, mengambil sebuah jarum ukuran 5 ml, lalu segera menyiapkannya, Ceyasa melihat ujung jarung itu sedikit mengernyitkan wajahnya, terlihat sangat tajam, pria itu segera memegang tangan Ceyasa, melihat pembuluh darah di lipatan siku Ceyasa, lalu segera memasangkan manset di tangannya, mengoleskan sedikit cairan disinfektan, dan setelah itu kembali memegang jarum itu.


"Nona, maaf saya akan mengambil sedikit sampel darah Anda," kata dokter itu meminta izin, Ceyasa menekuk dahinya, tidak mengiyakan namun juga tak menolak, dokter itu lalu menusukkan sedikit jarum itu pada tangan Ceyasa, menembus venanya dan segera mengalirkan darah yang langsung memenuhi jarum itu, Ceyasa sedikit menyengir, ternyata lumayan kaget atas sensasinya, pantas Archie kemarin merasa kesakitan, jarumnya lebih besar daripada jarum suntik ini.


Letjen Henry menatap dokter itu, dokter itu hanya mengangguk, Letjen Henry langsung melihat Ceyasa dan segera tersenyum.


"Terima kasih atas kerja samanya Nona, maafkan kami sekali lagi mengganggu pagi Anda, " kata Letjen Henry segera ingin berpamitan ketika melihat dokter yang bersamanya sudah selesai melakukan semuanya, Ceyasa hanya membalas dengan senyuman, lalu berdiri melihat mereka keluar.


"Letnan," kata  Ceyasa memanggil Letjen Henry, Letjen Henry melihat ke arah Ceyasa.


"Ya? Nona?" tanya Letjen Henry.


"Ehm, apa tidak ada kabar sama sekali dari kerajaan tentang suamiku?" tanya Ceyasa, berharap mudah-mudahan Letjen Henry tahu kabar tentang Archie yang bak hilang ditelan bumi, dan kurang beruntungnya, Ceyasa bahkan tak bisa ke mana-mana untuk sekedar mengetahui kabarnya.


"Belum ada Nona, jika ada pasti kami akan segera mengabarinya pada Anda," kata Letjen Henry tersenyum, dia sedikit mengganggukan kepalanya lalu segera menutup  pintu rumah itu, meninggalkan Ceyasa yang berwajah muram mendengarkan jawabannya, kenapa tak ada kabar sama sekali.

__ADS_1


---***---


Ceyasa duduk di salah satu sofa, setelah sarapan dan entah apa yang dia lakukan tadi untuk hanya menghabiskan waktu, akhirnya dia hanya bisa duduk di sofa ini, melihat ke arah ponsel Archie yang sudah padam total, entah kenapa walaupun tahu ponsel itu mati, Ceyasa masih berharap tiba-tiba ponsel itu berdering.


Saat dia sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba telepon rumah itu berbunyi yang seketika membuat Ceyasa kaget, bunyinya nyaring dan telepon itu tepat ada di sampingnya, Hana yang ada di sana segera memberikan gestur agar Ceyasa tidak mengangkatnya, Ceyasa mengerutkan dahi, apa dia bisa diserang bahkan dari telepon?


Hana segera berjalan, mengangkat telepon yang terus saja berdering, dia segera mendengarkan panggilan telepon itu tanpa mengatakan apapun, wajahnya tampak mendengarkan sesuatu yang disampaikan dari telepon itu.


"Apa Anda kenal dengan seseorang bernama Gerald?" tanya Hana menatap Ceyasa yang ada di sampingnya, mendengar nama Gerald, wajah Ceyasa yang tadinya kusut langsung cerah, dia langsung mengangguk dengan sangat cepat dan keras.


"Ya, aku kenal dia," kata Ceyasa.


"Baiklah, izinkan dia masuk," kata Hana langsung menutup panggilan telepon itu.


"Gerald datang kemari?" tanya Ceyasa sumringah.


"Ya, sebentar lagi dia akan datang kemari Nona," kata Hana, dia mengambil posisi ke pintu utama, mendengar itu membuat Ceyasa harap-harap cemas, semoga saja Gerald datang bersama dengan Archie.


Tak lama bel pintu terdengar lagi, Ceyasa langsung berdiri, wajahnya sangat berharap, sedangkan Hana melakukan protokolnya lagi, mengintip siapa yang datang, setelah memastikan aman, dia lalu membukakan pintu untuk Gerald.


Mata Ceyasa berbinar melihat sosok Gerald yang berdiri di depan pintunya, Gerald memberikan sedikit salam untuk Ceyasa, Ceyasa membalasnya sedikit lalu cepat-cepat kembali melihat ke arah Gerald, melihat ke belakangnya, namun tak menemukan sosok yang sangat ingin dia lihat.


Gerald melihat itu sedikit berwajah suram, namun cepat dia ganti dengan senyuman tipis, ingat apa yang diperintahkan oleh Angga agar dia tidak membuat Ceyasa khawatir, namun melihat wajah Ceyasa yang penuh harap itu, entah kenapa perasaan Gerald jadi tak tega.


"Dimana Archie?" tanya Ceyasa yang suaranya mulai menurun nadanya.

__ADS_1


__ADS_2