
"Aku datang untukmu," kata Archie berbisik, mendengar hal itu membuat Ceyasa semakin menumpahkan rasa sedih dan rindunya, Archie yang mendengarkan Ceyasa semakin tersedu langsung melepaskan pelukannya, menatap wanita itu dari atas hingga bawah, mengamati keadaan Ceyasa.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Archie melihat ke arah Ceyasa yang menghapus air matanya.
"Aku baik-baik saja, tapi ini benar kau atau aku sedang berkhayal karena jatuh dalam jurang?" tanya Ceyasa dengan suara senggukannya, mendengar itu Archie mengerutkan dahinya, tertawa karena perkataan Ceyasa.
"Apa maksudmu? tentu ini adalah aku," kata Archie melihat Ceyasa yang tampak bengong melihat Archie tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Ceyasa.
"Habis perkataanmu sangat konyol," kata Archie menahan tawanya melihat istrinya ini menatapnya dengan wajah sedih namun juga bahagia.
"Karena aku pikir aku sudah mati melompat dari sini ke jurang itu," kata Ceyasa asal dan sedikit merajuk karena suaminya malah mengejeknya.
"Jangan mati, aku tidak bisa datang ke sana dan menyelamatkanmu nantinya, berjanjilah, jangan pernah memilih mati," kata Archie melihat Ceyasa menarik kepala Ceyasa kembali kepelukannya.
"Aku tidak ingin Rain menyentuhku," kata Ceyasa mengadu.
"Tidak, selama aku masih bisa bernapas, tak akan ada orang yang boleh menyentuhmu, tak akan penah aku biarkan itu terjadi, percayalah padaku," kata Archie berbisik halus dan lembut di telinga Ceyasa, membuat seluruh tubuh Ceyasa tenang seketika.
Ceyasa melepaskan diri sejenak, menatap Archie dengan penuh perasaan, dia kira dia tidak akan bisa lagi melihat wajah tampan suaminya ini, wajah Ceyasa sedikit mengerut melihat dahi Archie yang baru dia sadari terdapat darah yang mengering.
"Ada apa dengan kepalamu? Kau berdarah," kata Ceyasa cemas, tatapanya sangat khawatir.
"Tidak, ini tidak apa-apa, aku hanya membentur sesuatu," kata Archie lagi.
"Yang Mulia, kita harus pergi sekarang," kata pimpinan prajurit itu segera memberitahu Archie.
"Ya, mari kita keluar dari sini," kata Archie lagi menatap Ceyasa, Ceyasa hanya mengangguk, Archie segera mengenggam tangan istrinya dengan erat, dan dengan segera berjalan keluar, menuruni anak tangga, Ceyasa sedikit kaget melihat begitu ramainya tentara yang ternyata sudah menjaga tempat itu, bahkan ternyata di luar lebih banyak lagi tentara.
Seorang tentara segera membukakan pintu mobil yang sudah bersiap di depan pintu rumah itu, Archie membantu Ceyasa untuk naik dahulu, setelah itu dia baru masuk. Setelah 2 tentara dan juga pemimpin pasukan itu naik, mereka segera pergi dari sana.
"Pangeran, apa Anda ingin ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Anda?" tanya pimpinan prajurit itu.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa," kata Archie yang merasa tubuhnya tidak apa-apa.
"Kau yakin?" tanya Ceyasa yang melihat ke arah Archie.
"Ya. "
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Ibunda Ratu?" tanya Ceyasa.
"Tidak tahu, aku belum mendapatkan kabar apapun, terakhir kali aku meninggalkannya begitu saja untuk mengejarmu, Gerald juga sepertinya masih di rumah sakit, jadi aku belum mendapatkan kabar apapun," kata Archie menatap langsung ke mata Ceyasa yang sekarang tangannya digenggam erat olehnya.
"Kenapa dengan Gerald?" tanya Ceyasa kaget, kenapa dia harus masuk rumah sakit juga?
"Kami mengejarmu dan kami mengalami kecelakaan," kata Archie lagi.
"Jadi apa dia tak apa-apa? ini luka karena kecelakaan itu?" tanya Ceyasa tak bisa percaya, ternyata banyak orang yang mengalami luka hanya gara-gara dia, sorot matanya langsung meredup.
"Tidak, aku yakin dia tidak apa-apa, jika aku tidak apa-apa dia juga pasti begitu, ada apa?" kata Archie yang melihat wajah Ceyasa memuram.
"Ini semua karenaku, jika tidak …. " kata Ceyasa yang merasa sangat bersalah.
"Srrtt … jangan berkata seperti itu, ini tugasku, kau istriku, sudah ku bilang aku memilihmu, jadi aku akan tetap membawamu pulang," kata Archie, meletakkan beberapa helai rambut Ceyasa yang jatuh ke wajahnya ke belakang telinga Ceyasa, memandang wajah istrinya yang tampak sendu, pandangan itu begitu lembut.
"Pangeran, maaf menyela, namun Yang Mulia Raja memerintahkan untuk membawa Nona Ceyasa ke markas Militer wilayah khusus," kata pimpinan prajurit itu, membuat Archie dan Ceyasa langsung mengerutkan dahinya.
"Kenapa begitu?" tanya Archie.
"Karena untuk sementara Istana bukan tempat yang cocok untuk Nona Ceyasa, selain itu jika Anda menjaganya di rumah pribadi Anda, keselamatan Nona tidak bisa terjamin, karena itu Yang Mulia meminta kami untuk membawa Nona Ceyasa ke markas militer wilayah khusus," kata pimpinan itu menjelaskan, menatap wajah Ceyasa dan Archie yang mencoba memahami perkataan pria itu, "Percayalah pada kami Pangeran, kami akan menjaga Nona Ceyasa dengan sangat baik lagi pula kami akan memberikan Anda akses khusus untuk bisa selalu datang ke sana," kata pria itu yang melihat keraguan di wajah Archie.
"Ya," kata Ceyasa mengangguk kecil, Archie tersenyum dan mereka segera berjalan menuju ke markas militer wilayah khusus.
Perjalan mereka cukup jauh mengingat daerah mileter khusus ada di pulau sendiri, saat mereka sudah sampai di gerbang markas militer khusus itu, pimpinan prajurit itu memerintahkan para penjaga untuk membuka pintunya, mereka juga memeriksa kendaraan mereka.
Setelah di rasa aman, para tentara itu segera membukakan pintu untuk mobil mereka, mobil mereka langsung masuk dan segera berjalan menuju ke area tempat tinggal di markas militer, mobil mereka segera berhenti di sebuah rumah yang tampak berbeda dengan yang lain, lebih besar dan modern.
"Silakan Pangeran dan Nona," kata tentara itu segera membukakan pintu untuk mereka, saat mereka turun tak jauh dari sana mereka melihat beberapa orang datang dengan atribut lengkap mereka.
"Lapor, kami sudah memnbawa Pangeran dan Nona," kata Pemimipin itu dengan gaya khas dan tegasnya, dia juga memberikan hormat, pria yang datang tadi langsung memberikan hormat dan segera berjalan mendekati Archie.
"Terima kasih kolonel Betrand," kata pria itu tersenyum pada Archie dan Ceyasa yang masih tampak was-was, "selamat datang Yang Mulia Pangeran, saya Letnan Jendral Henry yang saat ini bertanggung jawab di sini karena Jendral sedang menangani kasus negara yang sangat penting," kata Letjen Henry menyodorkan tangannya, Archie mengamati pria itu dengan seksama lalu membalas jabatan tangannya, LetJen Henry tersenyum pada Ceyasa, namun segera dia memalingkan muka pada prajurit yang tadi mengikutinya.
"Jaga Nona Ceyasa selama di sini," katanya disertai kata siap pada para tentara yang ada di belakangnya, "Pangeran, Anda tidak perlu takut, kami sudah menjadi kolega dari Yang Mulia Raja bahkan sebelum beliau menjabat, saya yakin istri Anda akan baik-baik saja ada di sini, silakan, kami sudah menyiapkan tempat tinggal untuk Nona Ceyasa, ini kartu akses Anda, hanya Anda dan Nona Ceyasa yang akan bisa masuk ke dalamnya, bahkan kami tidak akan bisa masuk tanpa ada persutujuan dari Anda," kata Letjen Henry memberikan sejenis kartu pada Archie.
"Terima kasih," kata Archie sedikit mengendurkan wajahnya.
"Baiklah, silakan beristirahat Pangeran dan Nona," kata Letjen Henry dengan senyuman ramah.
__ADS_1
Archie mengangguk sejenak, dia lalu segera menuju rumah yang ditunjukkan oleh Letjen Henry, Archie lalu memindai kartu itu, mereka diminta untuk memasukkan kode baru untuk pintu itu, Archie lalu memasukkan beberapa kombinasi angka, lalu membuka pintu rumah itu, melihat sejenak di depan rumah itu sudah di jaga oleh 4 orang tentara bersenjata lengkap.
Archie segera masuk ke dalam rumah yang tampak sangat nyaman, bergaya minimalis, lantainya terbuat dari kayu, ruang-ruangnya juga terasa hangat, bahkan tak ada kesan rumah itu ada di dalam markas militer.
"Kode rumah ini adalah 412673," kata Archie yang sengaja mengacak angka agar tak ada yang bisa mengetahuinya.
"Baiklah, 412673, benar?" kata Ceyasa yang untungnya cepat untuk menghapalkannya.
"Ya, jika perlu tulislah, Ceyasa, aku harus kembali ke kerajaan, aku harus melihat keadaan Ibunda Ratu, selain itu aku harus memastikaan keadaan Gerald, aku yakin kau aman di sini, jadi jangan takut, aku akan datang malam ini setelah menyelesaikan semuanya, beristirahatlah," kata Archie memegang pipi Ceyasa, menjelaskan dengan detail agar Ceyasa tidak merasa Archie meninggalkannya di sini sendirian.
Ceyasa menatap suaminya, merasa enggan untuk di tinggal oleh Archie sekarang, namun apa yang dikatakan Archie ada benarnya, dia harus mengurus semuanya, toh Ceyasa juga sudah aman di sana.
"Baiklah," kata Ceyasa sedikit mengangguk.
"Jika aku terlalu lama datangnya, jangan menungguku, pegang ini agar aku bisa menghubungimu, aku akan terus menghubungimu jadi jangan takut ya, " kata Archie dengan lembut sambil menyerahkan ponselnya untuk Ceyasa.
"Iya, aku mengerti, jangan membuatku seperti anak kecil, aku masih bisa menggigit orang yang jahat padaku nanti," canda Ceyasa agar keadaan tidak terlalu tegang, dengan melihat wajah dan mata Archie saja, Ceyasa sudah paham bahwa sebenarnya Archie lah yang sangat sulit meningalkan Ceyasa di sini. Archie sedikit tersenyum, tidak bisa mengimbangi candaan Ceyasa karena rasa khawatirnya yang masih sangat tinggi.
"Baiklah, aku pergi dulu, mereka pasti sudah menungguku," kata Archie mecium dahi Ceyasa sejenak, tak ingin melepaskan tangannya dari pipi Ceyasa namun dia harus, dia melihat Ceyasa terus bahkan saat menutup pintu itu.
Ceyasa hanya bisa terdiam sejenak, masih menunggu apakah Archie akan kembali atau tidak, namun sepertinya pria itu sudah pergi, jadi dia putuskan untuk segera masuk dan memeriksa rumah yang cukup besar itu.
---***---
Mobil tentara itu segera pergi dari Markas milter khusus, Jofan yang melihat hal itu dari sela jendela tempat persembunyiannya dan hanya mengerutkan dahinya.
"Ada apa itu?" tanya Jofan yang masih mengintip di celah jendela yang kecil, tempatnya memang tertutup sekali.
"Prajurit dari wilayah komando pusat, Yang Mulia Raja Angga memerintahkan untuk melakukan misi penyelamatan, Tuan," kata Kiran, tentara yang ditunjuk menjadi asisten Jofan selama dia ada di sana.
"Misi penyelamatan? Siapa yang sedang dalam bahaya?" tanya Jofan menatap Kiran.
"Nona Ceyasa, Istri Pangeran Archie, saya dengar dia diculik hingga harus dilindungi di sini," kata Kiran lagi memberikan Jofan obat yang harus dia minum, "Obat anti nyeri Anda Tuan.”
"Archie sudah menikah?" tanya Jofan yang sedikit kaget, dia tahu Suri sudah menikah dengan Jared, namun tidak menyangka bahwa Archie juga sudah menikah, dia mengambil obat itu dan langsung meminumnya.
"Ya, namun belum menikah secara kerajanaan," kata Kiran seadannya.
Jofan menatap rumah khusus Presiden itu, pintunya tertutup rapat sekali dan 4 tentara berjaga dengan senjata lengkap, wajahnya tampak sedikit berkerut, siapa yang menjadi istri Archie itu hingga dia harus diculik? Pikir Jofan.
__ADS_1