
“Aurora! Dia tidak mencintaimu, dia sudah menyerahkanmu padaku, sekarang kau tak perlu mikirkan pria itu, kau seharusnya hanya padaku dan mencintaiku! " suara Liam terdengar besar dan dengan nada tinggi, membuat Aurora yang tadinya berontak menjadi terdiam, bahkan seumur hidupnya, walaupun Jofan tak pernah memperhatikannya, Jofan tak pernah menggunakan nada begitu tinggi padanya, Aurora menatap Liam dengan sedikit tatapan takut, matanya itu memerah, mengingatkan Aurora tentang Liam yang sangat marah saat dia memutuskan untuk berpisah dengannya dulu, hal itu lah yang membuat Aurora tak bisa lagi menerima pria ini.
"Kau dari awal dan seterusnya akan menjadi milikku! Kau tahu aku sudah menunggumu bertahun-tahun, bahkan suamimu itu tak akan lagi bisa menghalangiku untuk mendapatkan dirimu," kata Liam menarik wajah kecil Aurora, mencoba mencium paksa Aurora, Aurora tentu berontak, dia tidak ingin disentuh oleh pria lain selain suaminya, apalagi dicium pria lain, dia benar-benar tak ingin melakukannya, karena itu sekuat tenaga dia berontak, bahkan saat bibirnya menyentuh bibir Liam, dia ingin teriak dan menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba tubuh Liam seperti tertarik sesuatu, membuat dia terpaksa melepaskan bibirnya, tangannya juga melepaskan cengkramannya pada dagu Aurora karena tarikan itu sangat kuat hingga tubuhnya harus mundur beberapa langkah.
Liam melihat ke arah orang yang menariknya, melihat wajah marah Jofan yang mentapanya penuh amarah, tanpa menunggu lama dan aba-aba, Jofan langsung memberikan pukulan pada wajah Liam yang membuatnya segera tersungkur jatuh, ujung bibirnya sobek.
Aurora yang melihat hal itu hanya bisa terpikik kecil, dia melihat ke arah orang yang sudah memukul Liam, matanya makin membesar tak percaya, melihat Jofan yang berdiri dengan tatapan tajam penuh emosi, bahkan napas Jofan berburu karena begitu marah dengan kelakuan Liam pada Aurora, bagaimana bisa dia memaksa Aurora seperti itu, bahkan dia suaminya, tak pernah memperlakukan Aurora seperti itu.
Jofan yang lalu melihat ke arah Aurora, matanya yang dari tadi merah karena menahan amarah menjadi sendu melihat wajah istrinya dari dekat, Aurora pun tak bisa menutupi tatapan sendunya menatap suaminya, air matanya lolos begitu saja, ternyata dia begitu ingin melihat pria ini. Kerinduan dan Cinta tampak mengalir dari tatapan keduanya.
Liam yang melihat hal itu menambah emosinya, dia benar-benar kehilangan akalnya terbakar oleh api cemburu yang menyulut seluruh tubuhnya, bahkan ujung rambutnya juga terasa begitu panas. Dia langsung bangkit dan dengan cepat membalas pukulan Jofan, Jofan yang kaget dan juga tak bisa menapis karena satu tangannya terikat hanya bisa merasakan nyeri di pipinya terkena pukulan telak dari Liam, belum sempat dia bisa melihat keadaan, Liam langsung menyerangnya lagi, menghantam ulu hati Jofan hingga dia tersungkur jatuh.
"Liam! Hentikan!" kata Aurora yang mencoba menahan tangan Liam, namun karena terlalu terbawa emosi, Liam menapisnya keras membuat Aurora terjatuh karena hal itu, kepalanya terkena ujung meja yang membuatnya Aurora langsung lunglai pingsan ke lantai.
Jofan yang melihat hal itu langsung membesarkan matanya, melihat ke arah Aurora yang tampak pingsan, Jofan tak mengindahkan rasa sakit di perutnya, berjalan tertatih menuju ke arah Aurora, dia langsung mengangkat tubuh Aurora.
"Aurora? Aurora? Tolong panggilkan paramedis," tanya Jofan yang sedikit cemas, namun mendengar suara napas Aurora, Jofan tahu dia hanya pingsan.
Liam melihat tubuh Aurora yang terkapar di lantai menjadi kaget, entah apa yang sudah dia lakukan hingga dia tidak bisa mengontrol dirinya dan mencelakakan Aurora, melihat tubuh Aurora yang lemas tak berdaya, membuat Liam merasa sangat bersalah.
__ADS_1
----***----
Jenny tadinya keluar untuk melihat pemandangan, mengambil sedikit fotonya, juga mengambil sedikit udara, bukan Jenny namanya kalau dia harus patah hati hanya karena seorang pria, pria seperti Jonathan? Dia bahkan bisa mendapatkan yang lebih darinya.
Jenny menyandarkan dirinya ke pagar berbatas dengan danau yang sebening kristal, seperti hanya lapisan kaca, menampakkan keindahan apapun di dalamnya, sayangnya hari sudah telalu malam untuk bisa menikmati keindahannya secara keseluruhan.
Semilir angin cukup tenang, sejuk membuai tak mengganggu sama sekali, Jenny menghirup dalam-dalam udara yang terasa segar, mengisi paru-parunya penuh lalu menghembuskannya perlahan.
"Apa aku boleh bergabung?" suara berat yang walaupun baru saja di dengar oleh Jenny namun langsung terasa familiar baginya, Jenny tak membalas, namun tidak juga melarang sosok gagah itu berdiri di sampingnya, semilir angin membawa aroma masing-masing, maskulin dan lembutnya wangi bunga bercampur indah.
"Bukankah tempat ini indah?" tanya Jonathan.
"Ya, tapi di negaraku masih ada yang lebih indah," kata Jenny seadanya, sikap angkuhnya sedikit terasa, membuat Jonathan mengerutkan dahinya namun segera menaikkan sudut bibirnya.
"Ya, jika ada lain kali," kata Jenny cuek saja, bahkan tak melirik sosok Jonathan yang dari tadi terpaku dengan wajah cantik dan imut Jenny.
"Aku rasa aku sudah melihat yang lebih cantik dari negaramu," goda Jonathan.
Jenny diam sejenak, matanya masih melihat berkas cahaya bulan yang mulai gagah merajai malam, terpantul sempurna di air danau seperti kaca, dia lalu melirik Jonathan yang tersenyum menggoda, perlahan senyuman Jenny terkembang, pria ini ternyata penggoda juga.
"Kau tahu, aku sudah menemui pria sepertimu beratus orang," kata Jenny memutar tubuhnya, menjadikan punggungnya yang bersandar di pagar itu, kedua sikunya juga dia tumpukan pada pagar, membuat lengkungan tubuh yang sempurna untuk bisa dilihat Jonathan.
__ADS_1
"Benarkah? itu banyak sekali," kata Jonathan mengarahkan tubuhnya ke arah Jenny yang hanya meliriknya dengan sudut matanya.
"Ya, dan aku yakin, kau sudah menggoda wanita dengan cara itu lebih dari ratusan kali juga," kata Jenny mengejek.
"Tidak, kau salah," kata Jonathan menyeruput minuman yang dia ambil di bar tadi, "Hanya beberapa, lebih banyak mereka yang menempel langsung padaku, aku hanya akan menggoda wanita yang menurutku menarik perhatianku," kata Jonathan lagi dengan senyuman manis walaupun hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya.
"Aku tak suka terlalu dekat dengan pria yang sudah punya wanita lain, aku punya alergi tentang itu," kata Jenny yang kembali bersikap acuh.
"Oh,” kata Jonathan, dengan acuh mengambil ponselnya, dia lalu terlihat menelepon seseorang, tanpa menunggu lama, "Halo, aku kira aku ingin putus denganmu, Heily, mulai detik ini kita putus, " kata Jonathan tanpa pikir panjang, seolah kata putus itu hal yang biasa keluar dari mulutnya, dia bahkan melirik Jenny yang hanya memasang wajah biasa saja. Jonathan langsung mematikan panggilan telepon itu sepihak juga mematikan ponselnya, tahu pacarnya atau lebih tepat mantan pacarnya yang baru dia putuskan beberapa detik yang lalu akan meneleponnya kembali, selalu seperti itu jika dia mencampakkan wanita sebelumnya, jadi dia sudah tahu harus apa.
"Sekarang aku pria yang Free, lagi pula dia terlalu cerewt untukku," kata Jonathan.
"Oh, selamat jika begitu, tapi aku tidak pernah mengatakan ingin punya berhubungan dengamu, " kata Jenny dengan gayanya yang jual mahal, meninggalkan Jonathan namun dengan tatapan ‘Kejar aku, kau ku tangkap’
Tentu hal itu mengusik Jonathan, dia meminum minumannya lagi, menyerumputnya sambil melirik Jenny yang menjauh darinya, berlengak-lenggok memikat siapa pun pria yang melihatnya, dengan pasti Jonathan mengikutinya.
_____________________________________________
Jonathan
__ADS_1