Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
299 - Bahkan jika kau menerimanya, aku tetap percaya dan mencintaimu.


__ADS_3

Jenny berjalan menuju ke arah ruangan tempat bibinya berada, namun baru saja dia ingin kesana, dia melihat banyak orang yang berkerumun di sekitarnya, dia mempercepat langkahnya, dan dengan mata kepalanya sendiri, Jenny melihat Liam sedang memukuli pamannya, dia tak punya masalah dengan itu, tapi setelah itu dia  melihat Liam menghempaskan tubuh bibinya yang mencoba menghalangi Liam memukul pamannya, matanya membesar, dengan cepat membuka pintu ruangan itu.


 


" Bibi!" teriak Jenny cukup keras, dia lalu berhambur ke arah bibirnya yang sekarang ada dalam pelukan pamannya, dia melihat Jofan yang dengan panik mencoba menyadarkan Aurora.


"Panggilakan dokter!" teriak Jofan lagi yang meminta pada para pelayan yang dari tadi hanya melihat kejadian itu, mereka mengangguk, pergi dari sana.


 


Jenny yang melihat dahi bibinya tampak memar dan sedikit bengkak, Jenny tentu langsung geram, dia wanita yang paling tidak suka melihat wanita tertindas, dia langsung bangkit dan tanpa rasa takut langsung menampar Liam, Liam kaget melihat Jenny melakukan hal itu padanya, namun tamparan itu seolah kembali menyadarkan Liam, dia sudah melakukan hal yang sangat buruk pada Aurora.


 


"Jangan pernah datang lagi untuk menemuiku atau bibiku!" kata Jenny lagi geram, dia tipe orang yang walaupun orang itu pernah berbuat baik padanya, namun jika sudah tak suka, dia akan benar-benar membencinya. Dia lalu melirik ke arah Jonathan yang kaget, tak pernah melihat wanita bisa seberani itu, Jonathan hanya terdiam, wanita ini menarik sekali.


 


Jofan ingin menggendong Aurora, namun tangannya yang tersanggah tak akan memungkin untuk dirinya bisa menggendong Aurora, untungnya tak lama dokter datang dan langsung memberikan pertolongan pertama, mereka segera membawa Aurora pergi, Jofan dan Jenny pun mengikutinya, meninggalkan Liam yang menjadi tontonan orang banyak.


 


---***---


 


 


Aurora membuka matanya, ujung dahi sebelah kanannya terasa nyeri, kepalanya cukup pusing, dia melirik tangannya yang terasa tergenggam hangat, tangannya memang di genggam seseorang, itu Jofan yang tampak tertidur sambil terduduk, mungkin ketiduran karena menunggu Aurora bangun, karena keadaannya memang belum sembuh total.


 

__ADS_1


Aurora mencoba untuk duduk, ingin melihat wajah Jofan lebih dekat, mengamati wajah pria itu yang tampak lebih lelah walaupun baru beberapa minggu mereka tidak bertemu, karena gerakan tangan Aurora, Jofan langsung terbangun, membuat Aurora sedikit menyesal menggoyangkan tubuhnya.


 


"Kau sudah sadar?" tanya Jofan dengan senyuman mengembang perlahan, senang sekali melihat tatapan mata indah istrinya, apalagi melihat senyumannya yang tersungging indah. Mata Aurora menatap dengan sangat penuh perasaan, mencurahkan rasa rindu hanya dalam tatapannya, lalu mata Aurora berpindah pada lengan Jofan yang ditopang.


 


 


"Apa yang terjadi padamu? kau terluka? bagaimana bisa terjadi?" kata Aurora yang langsung terlihat cemas, ingin memegang lengan  Jofan, namun Jofan langsung mengenggam tangan Aurora dengan lembut, Jofan menatap sejenak wanitanya ini, bahkan setelah dia meninggalkannya begitu saja, dia tak marah, tak menuntut alasan kenapa dia meninggalkan Aurora, malah seolah tak ada apapun, dia tampak cemas karena luka di tangan Jofan.


"Aku tidak apa-apa, Aurora, maafkan aku sudah meninggalkanmu," kata Jofan dengan penuh perasaan, membuat Aurora terdiam mendengarnya.


 


"Tidak perlu seperti itu, aku sudah memaafkanmu, aku yakin kau punya alasanmu sendiri," kata Aurora lagi melihat wajah suaminya itu, Jofan sedikit mengulas senyum tipis, dia berdiri dan duduk di ranjang Aurora agar bisa lebih dekat dengan Aurora, Jofan memandang mata indah Aurora yang berwarna coklat gelap, bulu matanya yang letik itu bagaikan ekor merak yang mengembang, begitu menghipnotis.


 


Aurora mengerutkan dahinya, melihat tatapan sendu Jofan yang lebih mengarah sedih, Aurora sedikit tersenyum,memengang pipi Jofan yang terasa dingin, Jofan langsung merasa kehangatan yang membuatnya nyaman, mencium wangi yang dia rindukan.


 


"Aku seorang wanita yang sudah memiliki suami, bagaimana aku bisa menerima pria lain? kau suamiku, selamanya akan begitu," kata Aurora lagi, mendengar hal itu Jofan sedikit memperhatikan wajah Aurora.


 


"Tapi aku melihatmu bersama dengannya, dia memberikanmu cincin dan memasangkannya pada jarimu," kata Jofan mengerutkan dahinya sedikit, apa sekarang Aurora sudah bisa membohonginya? Ataukah perasaan Aurora sedang ragu, dia ragu apakah dia menyukai Jofan atau Liam, sehingga dia juga setuju mendapatkan cincin dari Liam.


"Eh, maksudmu cincin ini? ini cincin pernikahan kita, aku mungkin tak sengaja menghilangkannya, dan Liam mengatakan dia menemukannya dan memberikannya padaku, dia juga memintaku untuk mengizinkannya memakaikan ke jariku sebagai tanda terima kasih, apa kau melihat semua itu?" kata Aurora menjelaskan dengan wajah polosnya. Melihat hal itu Jofan sedikit mengerti, ternyata Liam ingin bermain licik padanya, untung saja dia diberikan kesempatan untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya, dia akan sangat menyesal jika sudah meninggalkan wanita ini pada pria seperti Liam.

__ADS_1


"Ya, aku melihatnya, aku datang ke hotelmu untuk menjemputmu pulang begitu juga Jenny, tapi dia bilang bahwa kau sudah menerimannya, dan malam ini dia akan memberikanmu cincin, jika kau menerimanya, maka aku harus melepaskanmu," kata Jofan lagi, Aurora tampak kaget, tak menyangka Liam ternyata begitu liciknya, jika saja dia tidak melihat Jofan tadi, mungkin Jofan akan salah paham.


"Tidak, aku tidak akan menerimanya, ini benar-benar hanya cincin pernikahan kita, lihatlah aku tidak memakai cincin apapun lagi, " kata Aurora mencoba membuka cincin pernikahan mereka, mungkin Jofan lupa bentuknya, namun ada namanya terukir di sana, dia takut Jofan berpikir yang tidak-tidak.


Melihat Aurora yang buru-buru membuka cincin itu, Jofan langsung menggenggam tangannya, membuat Aurora terdiam, melihat Jofan yang menatapnya dengan penuh perasaan.


 


"Tidak apa-apa, aku percaya semua yang kau katakan, kau selalu percaya padaku bahkan saat aku tersesat dulu, jadi tak mungkin aku tidak mempercayaimu hanya karena hal ini, bahkan jika memang kau menerimanya, aku tetap akan percaya dan  mencintaimu," kata Jofan dengan perlahan, sedikit demi sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah Aurora yang sangat dia rindukan ini, dengan perlahan mengarahkan bibirnya pada bibir Aurora yang hanya bisa terdiam, merasakan detak jatungnya yang sangat memburu.


 


Bibir mereka bersatu, terpaut lembut mencurahkan semua perasaan yang sudah lama terpendam, rindu, cinta, emosi, dan amarah, semua bersatu dalam napas mereka yang berburu.


 


"Aurora, pulanglah denganku," kata Jofan lagi, memandang mata coklat Aurora yang begitu dekat dan jelas dalam pandangan Jofan, Aurora pun terhipnotis dengan tatapan manis itu.


"Ya," kata Aurora mengangguk dengan semangat, senyumnya merekah, memeluk hangat suaminya ini, Jofan menghirup dalam aroma tubuh Aurora yang setiap malam dia rindukan, begitu menenangkan, wanita ini adalah tempatnya pulang.


"Permisi! Maaf mengganggu Paman dan Bibi yang sedang bermesraan," suara Jenny memecah keheningan, membuat Aurora melepaskan pelukannya pada Jofan. Aurora melihat Jenny yang juga membawa pelayan yang mengantarkan koper mereka, "Aku sudah mengemasi barang-barang kita, kapan kita akan pulang?" kata Jenny dengan gaya cueknya, Jofan melihat tingkah anaknya sedikit tertawa, putri mereka yang satu ini memang susah tertebak.


"Malam ini, kita akan pulang malam ini, " kata Jofan melihat Jenny dan Aurora bergantian.


"Baiklah, paman, aku masih marah padamu, tapi karena kau sudah datang dan menolong bibi, marahku berkurang sedikit, sedikit saja," kata Jenny menunjukkan ukuran dengan ibu jari dan telunjuknya, sangat tipis terlihat.


"Baiklah, kita akan selesaikan semua ini di rumah nantinya," kata Jofan lagi, tahu Jenny lah yang sebenarnya paling susah untuk ditahlukkan olehnya nanti nantinya, dia harus bersiap-siap dengan segala drama penolakan ini, apalagi dia harus memperkenalkan Ceyasa sebagai anaknya kembali.


 


Setelah memastikan keadaan Aurora baik-baik saja, mereka segera bersiap-siap dan bergegas meninggalkan negara itu menggunakan pesawat pribadi mereka, di sepanjang perjalanan Jofan terus berada di samping Aurora, tak ingin lagi terpisah, dia sudah memenuhi janjinya pada Ceyasa, dia membawa Aurora pulang bersamannya.

__ADS_1


__ADS_2