
Archie sampai di istananya, setalah dia membersihkan dirinya, dia langsung menuju kamar Ceyasa, Malam itu remang, semilir angin masih mampu menerbangkan aroma segar dari bunga-bunga mawar yang menenangkan.
Namun, sayangnya aroma itu tidak lagi mampu membuat tenang perasaan Archie, pertemuannya dengan Rain tadi terus menghantui pikirannya.
Archie menjejakkan langkahnya cepat memasuki Istana utama itu, dia segera masuk ketika para penjaga pintu mengabarkan kedatangannya, dia lalu sedikit terhenti dan melambat saat melihat ke arah ruang tengah yang sudah ramai, Keluarga Ceyasa dan keluarganya lengkap ada di sana, apa yang dia lewatkan hingga semua orang di sini?
Ceyasa yang melihat Archie yang baru datang dengan wajah kaget dan bingung langsung mendatangi Archie.
"Ada apa ini?" bisik Archie pada Ceyasa.
"Kau belum tau, malam ini Suri akan pulang, jadi kami berkumpul di sini untuk menyambutnya, kau terlalu sibuk bekerja sih, jadi ketinggalan berita," kata Ceyasa pada Archie, suaranya terdengar manja, melihat dan mendengar tingkah istrinya ini membuat Archie mengerutkan dahi sambil tersenyum, masih terlalu tak terbiasa dengan sikap manja istrinya yang biasanya bar-bar ini.
"Oh, maafkan aku," kata Archie merangkul pinggang Ceyasa mesra. Membuat pandangan Nakesha yang tersenyum iri melihat pasangan muda itu.
"Kau jadi menemui Rain?" tanya Ceyasa, ada sedikit perasaan trauma ketika mengingat pria itu.
Archie mengangguk pelan, lalu menatap Ceyasa yang tampak menuntut jawaban apa yang terjadi saat Archie menemui Rain.
"Aku hanya mengatakan tentang pernikahan kita, dan dia hanya diam, itu saja, aku hanya bertemu dengannya sebentar, di sana ketat sekali, jam berkunjung pun sangat di sana batasi," kata Archie dengan senyuman tipis tapi manis, menatap Ceyasa yang tak puas dengan hal itu, masa hanya begitu saja? itu pikiran Ceyasa.
"Kenapa? kau tak percaya lagi dengan ku?" tanya Archie dengan wajah yang sedikit kesal, sebenarnya ingin merubah arah pembicaraan agar Ceyasa tak lagi berpikir dan bertanya tentang Rain, dia juga tak bisa mengatakan yang sejujurnya karena dia yakin Ceyasa akan khawatir dan dengan keadaannya sekarang, Archie tak ingin membuat istrinya stress dan nantinya akan berpengaruh dengan kandungannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku percaya, ngomong-ngomong, dari mana Gerald bisa membawakan aku mie begitu banyak?" kata Ceyasa, dia mendapatkan 4 mangkuk mie yang berbeda, dia sampai bingung ingin memakannya, saat Ceyasa bertanya pada Gerald, Gerald hanya menjawab bahwa dia tak tahu apa yang Ceyasa ingin makan sehingga membeli semua mie yang ada, sehingga mie itu hanya di cicipi oleh Ceyasa saja, karena akhirnya dia merasa penuh dan ingin muntah kembali.
"Benarkah? aku tak tahu, aku hanya menyuruhnya memberikanmu mie yang sehat untukmu," kata Archie sedikit lega karena akhirnya Ceyasa berganti topik pembicaraan.
"Pantas saja, lain kali kau harus yang membelinya sendiri, aku tak mau dibelikan orang lain," kata Ceyasa kesal karena semua mie itu tak cocok dengan seleranya.
"Baiklah, itu tadi karena aku sedang sibuk, jika tidak aku pasti membelinya sendiri, kenapa kau bertambah galak sejak hamil ini?" elak Archie.
"Aku tak tambah galak, kau saja yang merasa begitu, pokoknya Aku tidak mau tahu ... " kata Ceyasa yang masih ingin melanjutkan ngomelnya pada Archie, hormon yang meningkat membuatnya sensitif dan gampang marah.
Namun, omelannya terputus saat mendengar suara dari penjaga pintu yang mengatakan bahwa Suri dan keluarganya sudah datang, membuat semua perhatian jatuh pada pintu utama Istana itu, semua orang yang tampak santai tadinya bergegas untuk menyambut Suri dan yang lain.
Mereka harap-harap cemas, sudah saling mengingatkan untuk tak memandang Suri dengan tatapan sedih, kasihan atau apalah, harus menyambutnya dengan keadaan biasa saja seperti tidak ada masalah sama sekali, dari semua orang di sana Nakesha lah yang paling sering mereka ingatkan karena dia begitu emosional dalam mengekspresikan perasaannya.
"Selamat kembali pulang Suri, kau pasti sudah sangat rindu dengan rumah kan?" kata Archie menyambut Suri.
Suri hanya memberikan senyuman manisnya, mengangguk kecil namun terlihat bersemangat.
"Selamat datang Suri, kami senang kau pulang," kata Aurora dengan pelan, pandangan Aurora melihat ke arah Bella yang tampak tegar mencoba segala cara agar tampak bahagia, padahal dia terharu harus membawa pulang anaknya dengan keadaan seperti ini.
Suri masih harus menjalani pemeriksaan, setiap bulan dia harus pergi untuk melatih otot dan saraf bagian kanannya yang lemah, dokter mengatakan, tak menutup kemungkinan keadaan Suri akan membaik, asalkan dia tak menyerah dengan keadaannya.
__ADS_1
"Suri pasti lelah, dia baru saja sampai, biarkan dia untuk kembali ke kamarnya dulu," kata Nakesha menimpali, akhirnya dia bisa mengontrol dirinya.
"Benar, Jared, bawa istrimu ke Kamarnya, jangan hiraukan kami, kami hanya berkumpul untuk membicarakan pernikahan Ceyasa dan Archie," kata Jofan dengan suara berwibawanya.
Mendengar hal itu Suri mengangkat alisnya, seperti mengerti apa yang hendak ditanyakan oleh Suri, Ceyasa segera menjawab.
"Minggu depan kami akan menikah kembali," kata Ceyasa, mengembangkan sebuah senyuman manis pada wajah Suri ketika mendengarnya.
"Baiklah, Aku akan membawa Suri ke kamar dulu, izinkan aku permisi, Paman, Bibi," kata Jared lagi, semua orang mengangguk mempersilakan, tak menunggu lama, Jared segera mendorong kursi roda istrinya menuju ke kamar mereka.
Jared langsung menggendong tubuh Suri ke ranjang mereka yang sudah beberapa hari tak mereka tiduri, memposisikan istrinya dengan perlahan, menyelipkan bantal di belakang punggung istrinya agar tak terasa sakit.
"Ingin apa? haus kah?" tanya Jared lagi.
Suri menggeluarkan gestur dengan tangannya, dia sudah belajar bahasa isyarat di rumah sakit bersama Jared, belum terlalu banyak yang dia tahu, tapi cukup untuk bisa mengekspresikan perasaannya.
Tidak, aku hanya ingin beristirahat, kau juga istirahatlah, isyarat Suri
"Ya, sebentar lagi aku akan istirahat, aku ingin bersih-bersih sejenak, setelah itu aku akan membersihkan dirimu," kata Jared tersenyum, Suri mengangguk setuju, membuat Jared segera meninggalkan tempat itu.
Jared membersihkan dirinya, setelah membersihkan diri dan menggunakan baju tidurnya, Jared mengambil air hangat untuk mencuci tangan dan kaki Suri.
__ADS_1
Jared membawa mangkuk cukup besar itu ke tempat Suri, Jared memposisikan kaki Suri agar terjuntai ke bawah, dia memeras air di handuk kecil, mengelapkannya pada tangan putih Suri, perlahan dan pelan, Suri yang melihat hal itu hanya mengulum senyum, Benar-benar wanita paling beruntung di dunia.