
Archie baru selesai mencuci muka, menggosok giginya dan merapikan sedikit penampilannya yang terlihat cukup tak segar, bagaimana tidak, dia tak lagi tidur setelah kemarin Ceyasa terbangun, dia harus menemani istrinya itu hingga Ceyasa kembali terlelap di ruang rawatnya yang baru.
Archie segera keluar dari kamar mandi itu, takut jika sewaktu-waktu Ceyasa bangun dan melihat dia tak ada di sisinya, Saat dia keluar dan melihat ke arah Ceyasa, dia menemukan kedua mertuanya ada di sana, Jofan dan Aurora melempar senyuman kaku yang juga dibalas senyuman seadanya dari Archie.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jofan pada Archie.
"Dokter mengatakan dia membaik dengan pesat, dini hari tadi dia terbangun dan dokter mengatakan untuk memindahkannya ke sini, kita hanya menunggu penyembuhan lukanya," kata Archie menjelaskan pada kedua mertuanya ini, bagaimana pun mereka juga sangat cemas dengan keadaan Ceyasa.
"Bagus sekali," kata Jofan lagi menatap wajah putrinya yang tampak masih cukup pucat, namun sepertinya sudah jauh membaik dari pada kemarin.
"Bagaimana dengan bayi kalian?" tanya Aurora lembut yang mengelus tangan anaknya itu.
"Dokter mengatakan keadaannya belum stabil, namun sudah bisa dilihat jika ingin, melihatnya dari luar NICU," kata Archie.
"Sudahkah kau melihatnya?" tanya Aurora lagi.
Archie menggelengkan kepalanya, dia bukan tak ingin melihat anaknya, sangat malah, namun Archie tak ingin membuat perasaannya makin parah, Archie yakin jika dia melihatnya sekarang, dia akan semakin susah menerimanya jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka dia putuskan untuk tidak melihat anaknya tanpa Ceyasa, dia hanya akan melihat anaknya saat Ceyasa ada.
Jofan dan Aurora yang melihat itu hanya mengerutkan dahi, saling melempar pandang mereka, namun tak ingin bertanya kenapa? pasti Archie punya alasan tersendiri kenapa tak melihat anaknya sekarang.
"Apakah kami juga sudah boleh melihatnya?" kata Aurora.
"Ya," kata Archie seadanya.
"Apa dia laki-laki atau perempuan?" tanya Jofan, tak ingin berlarut kesedihan memikirkan cucunya yang masih berjuang.
"Seusai keinginan Ceyasa, kami memiliki pangeran kecil," kata Archie tersenyum tipis melihat Ceyasa yang masih tertidur pulas.
"Benarkah? pasti akan sangat tampan, aku ingin melihatnya sekarang," ujar Aurora senang, cucu pertamanya seorang bayi laki-laki.
"Baiklah, kami akan melihatnya sekarang, tolong hubungi aku jika Ceyasa sudah sadar," ujar Jofan menuruti keinginan istrinya itu.
"Baik Ayah," kata Archie lagi-lagi hanya senyuman tipis yang ada di wajahnya.
Jofan dan Aurora segera keluar dari ruangan itu, Archie sekali lagi melihat ke arah Ceyasa, wanita itu masih tenang dalam tidurnya.
---***---
Archie membantu Ceyasa untuk duduk di kursi rodanya, setelah menyakinkan dokter bahwa dia baik-baik saja, Ceyasa akhirnya diizinkan untuk melihat anaknya.
"Apa ada yang sakit?" kata Archie cemas, namun tak bisa melarang istrinya ini, begitu mendapatkan persetujuan dari dokter, senyuman manis itu terlihat terus di wajah Ceyasa, Archie tak sanggup menghapusnya.
__ADS_1
"Tidak, tidak ada, aku sudah meminum obat anti nyeriku," ujar Ceyasa yang duduk tenang di kursi rodanya, padahal dia cukup pusing dan juga bagian perutnya terasa sangat ketat, dia cukup takut, namun Ceyasa ingin sekali melihat anaknya, anaknya pasti sangat takut sendirian di sana, walau Ceyasa yakin dia belum mengerti tentang hal itu.
Archie perlahan mendorong Ceyasa ke arah NICU, dokter dan perawat siaga ada di belakangnya, begitu juga Jofan dan Aurora, hanya bisa mengikuti Ceyasa yang sudah sangat bertekad melihat bayinya.
Ceyasa berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan duduk di kursi roda itu, mencobanya senyaman mungkin, nyerinya mulai terasa, namun Ceyasa tak ingin menunjukkannya, dia ingin melihat keadaan Pangerannya.
Pintu NICU itu terbuka, menunjukan lorong yang dingin, Ceyasa bisa melihat Jared dan Suri yang ternyata ada di sana.
"Ceyasa?" kata Suri kaget, tak menyangka Ceyasa akan datang ke sana sekarang.
"Ya, dia memaksa untuk melihat bayinya," ujar Archie mengadu, bukan dia tak sayang istrinya, namun siapapun yang melihat bagaimana Ceyasa memohon untuk melihat anaknya, pasti tak akan tega untuk mengatakan tidak.
"Ya, dia ada di sana," kata Jared, tahu betul, insting seorang ibu pasti sudah mendorong Ceyasa hingga melakukan hal ini.
Archie mendorong Ceyasa lebih ke dalam, menuju ke arah ruangan kaca untuk melihat anak mereka, Archie pun belum tahu yang mana bayi mereka, karena di dalam bukan hanya ada 1 bayi.
"Pangeran ada di bagian tengah itu," kata dokter tersenyum, Ceyasa terdiam, matanya tertuju ke bayi mungil yang tubuhnya terlihat kecil diantara yang lain, di dadanya ada alat pantau, di hidungnya tertancap selang oksigen yang bahkan terlihat lebih besar darinya, Anaknya tampak sedang tertidur, ntah lah, atau mungkin memang dia tak bergerak.
Ceyasa mengerutkan wajahnya namun senyum keibuan darinya tampak mengembang, haru namun juga bercampur sedih, matanya perlahan mengabur padahal dia ingin melihat dengan jelas wajah kecil anaknya itu, sayangnya dia tak bisa, cukup jauh jarak mereka.
Ceyasa memegang kaca pembatas itu, terasa dingin terkena telapak tangannya, dia mencondongkan tubuhnya seakan lupa jahitan di perutnya yang masih basah.
"Selamat sore Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu," suara seorang wanita memecahkan keheningan suasana itu, Ceyasa langsung memalingkan wajahnya, menatap ke arah wanita yang berpakaian khusus itu
"Ini dokter Evelin, dokter spesialis anak yang menangani pangeran sekarang," kata dokter yang menangani Ceyasa, Ceyasa yang pandangannya masih kabur hanya mengangguk mengerti.
"Apakah anda mau melihat Bayi anda lebih dekat," tanya Dokter Evelin yang melirik ke arah inkubator pangeran.
"Bolehkah?" tanya Ceyasa tak percaya.
"Saya izinkan, Pangeran juga pasti sangat ingin bertemu dengan ibu dan ayahnya," kata dokter itu tersenyum, membuat senyum penuh harapan Ceyasa mengembang, dia menghapus air matanya keras, senang sekali rasanya, dia benar-benar akan melihat anaknya.
Archie pun sedikit kaget mendengarnya, masih tak percaya diperbolehkan untuk masuk, Ceyasa yang memalingkan wajah ke arahnya tampak begitu senang, seketika membuat Archie pun bersemangat.
"Kirimkan salamku padanya, katakan kakek dan neneknya begitu menyayanginya," kata Jofan menepuk bahu Archie.
Archie hanya mengangguk mendengarkan pesan mertuanya, dokter Evelin masuk dan segera membuka pintu NICU itu dari dalam, Archie mendorong perlahan kursi roda Ceyasa yang tampak tak sabar, sebelum mereka mendekat, dokter Evelin memberitahukan apa yang harus mereka lakukan dulu sebelum masuk ke ruangan itu.
Jantung Ceyasa berdegup sangat keras, dia belum pernah bertemu anaknya, namun gugupnya sama seperti dulu menghadapi Archie, ada rasa senang yang entah bagaimana cara untuk mengekpresikannya, semakin mereka mendekat, semakin semangat dia, bagaikan ada kupu-kupu dalam perutnya ingin menghambur keluar.
Ceyasa berhenti tepat di depan anaknya, Archie menggenggam tangan Ceyasa yang tampak mengamati bayi mereka, bayi mereka tampak kecil, kulitnya tampak mengkerut, rambutnya masih tipis, hanya diam dengan semua alat bantu kehidupannya, Ceyasa sedikit miris, melihat anaknya sekecil itu harus menerima infus, selang oksigen kecil pun menghiasi hidungnya.
__ADS_1
"Keadaan pangeran sampai sekarang belum mengalami kemajuan dan untungnya tidak juga ada kemunduran, jadi saya rasa dia sedang menunggu orang tuanya untuk menemuinya," kata Dokter Evelin sedikit susah di dengar karena masker yang wajib dia pakai, "Silakan Anda boleh menyentuhnya," kata Dokter Evelin lagi, dia mengatakan itu setelah memastikan Ceyasa mencuci tangannya sesuai protokolnya.
"Bolehkah?" tanya Ceyasa ragu-ragu.
"Silakan," kata dokter itu tampak tersenyum dari matanya yang menyipit.
Ceyasa dengan ragu memasukkan tangannya ke dalam inkubator yang hangat itu, dia menyentuh tangan anaknya yang kecil, sangat kecil dan mungil, begitu menyentuhnya Ceyasa bahkan tak percaya, ini tangan anaknya, anaknya yang selama 7 bulan ini dia kandung, Air matanya kembali mengalir haru, dia melihat ke arah Archie yang hanya memandang sendu Ceyasa.
"Saya permisi dulu," ujar dokter Evelin yang tahu pasti kedua orang tua baru ini ingin punya waktu intim dengan anaknya.
"Hei, sayang, ini mama," kata Ceyasa tersekat, tak tahu apakah anaknya memahaminya atau tidak, "maafkan mama sudah membuatmu harus keluar lebih cepat dan juga mengalami hal ini, tapi percayalah, mama dan papa begitu menyayangimu bahkan sebelum melihatmu," suara Ceyasa terdengar pelan dan lirih, entah kenapa membuat Archie tersentuh, dia begitu sensitif akhir-akhir ini. Archie mencubit hidungnya, berusaha untuk tak menangis lagi.
"Evan Xander, mama dan papa memberikanmu nama Evan, artinya adalah anugrah dari Tuhan, dan kau memang Anugrah terhebat yang mama dan papa dapatkan, kau segalanya bagi kami sekarang," kata Ceyasa dengan sedikit senyuman, dia mencondongkan tubuhnya lagi, lukanya tertarik namun tak dipedulikannya, "Xander adalah penolong dan berani, karena mama tahu engkau begitu berani dan kuat dalam menjalaninya, Xander bahkan berani di sini sendirian tanpa mama dan papa kemarin, Xander anak yang sangat kuat," kata Ceyasa lagi, suaranya bergetar namun terasa hangat dan keibuan, sebuah sifat yang keluar darinya begitu saja.
Ceyasa diam sejenak, mengelus ke empat jari anaknya yang sekarang ada di tangannya, tangan mungil itu bagai tak bertenaga, ingin sekali dia menciumnya, namun apa daya mereka masih terhalang kaca yang melingkupi anaknya.
Ceyasa hanya hening, tak lagi berkata-kata, menatap dalam diam seolah ingin mengingat wajah anaknya lekat-lekat, dia yakin semenit nanti dia meninggalkan Xander, dia pasti sudah sangat merindukannya.
Archie yang ada di belakang Ceyasa hanya melihat hal itu, juga memandangi wajah anaknya, dia pun sudah merasa begitu jatuh cinta pada mahluk kecil di depannya itu.
Ceyasa terus mengusap lembut jari jemari mungil Xander, menikmati sebisa mungkin waktu mereka, walau lukanya perih itu bukan penghalang, dia ingin selama mungkin menggenggam tangan bayinya itu.
Ceyasa tiba-tiba terkejut, tangan mungil itu menggenggam jarinya dengan kuat, Ceyasa hampir tak percaya, dia melirik ke arah Archie, apakah dia hanya berhalusinasi?
Archie yang melihat hal itu juga hanya bisa diam, matanya membesar tak percaya, dia menatap mata Ceyasa yang terkejut namun juga bahagia, binar mata Ceyasa sudah kembali lagi.
Tak lama saat Xander menggenggam tangan ibunya, dia menggeliat, seolah terganggu oleh sentuhan Ceyasa, dia segera menangis, suara tangisan kecil itu segera membuat Ceyasa dan Archie bingung namun juga haru, ini pertama kalinya mereka mendengar suara tangisan bayi mereka, matanya yang tampak masih sipit membuka sedikit, Ceyasa sumringah melihatnya, jika tak ingat tubuhnya yang lemah, dia pasti melompat ingin melihat anaknya lebih dekat.
"Dokter, dia menangis," ujar Ceyasa, takut anaknya merasakan sakit atau apa, namun senang mendengarkannya walau hanya tangisan kecil.
Dokter Evelin datang, dengan menggunakan stetoskop kecil dia segera memeriksa tubuh Xander, Ceyasa tak melepaskan genggaman jari Xander, namun hanya melihat Xander yang menangis terus.
"Apa dia tidak apa-apa?" tanya Archie yang heran kenapa Xander menangis, apakah ada yang sakit dia rasakan?
"Apa genggamannya kuat?" tanya Dokter Evelin.
"Ya, dia menggenggam dengan kuat sekali," kata Ceyasa.
"Dia benar-benar sesuai namanya, anugrah dari Tuhan yang sangat berani dan kuat, ini pertanda bagus, sudah dari kemarin dia tak menangis, ternyata dia memang hanya butuh orang tuanya, Pangeran tidak apa-apa," kata Dokter Evelin yang tampak sumringah di balik maskernya.
Ceyasa mendengar itu tersenyum begitu bahagia, dia melepaskan napas leganya, Archie yang tentu saja juga merasa gembira langsung menggenggam tangan Ceyasa lebih erat. Terima kasih Tuhan sudah memberikan kesempatan kedua untuk keluarganya kembali berkumpul bersama, ucap Archie Dalam hati.
__ADS_1