Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
81 - Kebahagiaan Keluarga Kecil.


__ADS_3

Jofan terbangun mencari kehangatan yang ada di sampingnya, melihat istrinya masih meringkuk dibawah selimutnya, dia sedikit menaikkan sudut bibirnya, menyibakkan sedikit rambut Aurora yang menutupi terlinganya lalu mencium hangat pipinya sebelum dia bangkit dan kembali ke kamar mandi, Aurora yang diperlakukan seperti itu hanya sedikit menggeliat, tubuhnya cukup lelah karena pergumulan mereka tadi, namun tak lama matanya terbuka, melihat ke arah jam yang ada di atas mejanya, sudah 2 jam mereka ada di kamar itu. Makanannya pasti sudah dingin lagi.


Aurora mencoba untuk bangkit, namun seluruh sendinya terasa lemas, mencari bajunya yang entah sudah dimana, namun akhirnya di temukannya, dia segera mencoba untuk berjalan, perasaan nyeri itu terasa, namun tak terlalu nyeri hingga masih bisa di tahannya, dia berjalan ke arah kaca, menatap sedikit wajahnya yang tampak sedikit sendu. Lalu keluar dan mencoba mencari pelayannnya di dapur, untungnya pelayan itu selalu ada di sana.


"Maafkan aku, tapi sepertinya makanannya harus di panaskan lagi," ujar Aurora sebisa mungkin tersenyum.


"Tidak apa-apa Nyonya, Sekarang saya akan memanaskannya lagi," ujar pelayan itu lagi.


"Terima kasih," kata Aurora lagi.


Dia lalu berjalan menuju kamarnya, segera masuk ke kamar mandi untuk membersihakan dirinya, air dingin menyentuh kulitnya, sedikit menggigil awalnya,  namun tak lama semakin nyaman dan menyegarkan, semerbak wangi bunga yang halus tercium saat Aurora keluar dari kamar mandinya, dia segera duduk dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dyernya saat dia melihat Jofan masuk dari pantulan cermin di meja riasnya.


Aurora sedikit kaku melihat Jofan yang semakin dekat dengannya, teringat tentang apa yang baru saja mereka lakukan membuat wajah Aurora kembali memerah, jantungnya berdegup kencang, apa lagi ketika Jofan memegang kedua lengan atasnya. Jofan tersenyum manis pada kaca yang di ada di depannya, dapat melihat wajah tegang istrinya yang bersemu merah.


"Kemarikan," ujar Jofan lagi yang tampak tampan menggunakan sweater abu-abu muda yang dipilihkan Aurora tadi untuknya.


"Ehm?" Aurora sedikit tidak mengerti apa yang di inginkan oleh Jofan.


Tangan Jofan dengan lembut mengapai tangan Aurora yang memegang Hair Dyer yang masih menyala, dia lalu mengambilnya dan segera membantu istrinya mengeringkan rambutnya yang cukup panjang, Aurora yang diperlakukan seperti itu terntu terharu, hatinya langsung terasa manis melihat apa yang dilakukan Jofan di belakangnya, refleksinya terlihat jelas, begitu perlahan-lahan mengeringkan rambutn Aurora, seolah takut 1 helai pun rambut Aurora tercabut dan meninggalkan rasa sakit pada istrinya.

__ADS_1


Sesekali Jofan melirik ke arah Aurora, bersamaan dengan lirikannya Jofan memberikan senyuman yang begitu manis, Aurora bahkan tak bisa menyembunyikan wajahnya yang tersipu, berulang kali menahan diri untuk tidak terlihat salah tingkah, namun tetap saja tak bisa.


Cukup lama Jofan membantu Aurora mengeringkan rambutnya, hingga akhirnya rambut Aurora cukup kering.


"Aku rasa sudah cukup," ujar Aurora yang tak mau lagi menyusahkan suaminya.


"Baiklah, ayo sekarang makan, aku yakin kau sudah sangat lapar,!" ujar Jofan lembut, halus, pelan seolah berbisik.


Aurora mengangguk, dia lalu berdiri, dan segera berjalan mengikuti Jofan yang sudah duluan melangkah, namun Jofan melangkah pelan, tak ingin meninggalkan istrinya, mereka segera menuju ke ruang makan dan makanan sudah terhidang dengan baik, dan mereka segera makan.


Setelah makan, Aurora masih tinggal di ruang makan, sedikit membantu pelayannya yang hanya seorang diri mengurus rumah itu, sedangkan Jofan sudah meninggalkannya duluan.


Setelah Aurora selesai  membantu sedikit, dia lalu keluar dari ruang makan itu dan segera berjalan menuju ke ruang tengah, melihat suaminya berdiri sambil menatap ruangan Sania, kedua tangannya dimasukkannya ke dalam saku celananya, hanya diam bergeming menatap lurus ke ruangan Sania yang tampak jelas dari luar karena hanya terhalang kaca transparan.


"Tidak ingin masuk melihatnya, mungkin di sudah menunggumu seharian ini," ujar Aurora


Jofan terdiam sebenar, dia kembali memandang tubuh Sania dia dalam sana, seolah ada perasaan yang seperti membatasinya ke sana.


"Mungkin nanti," ujar Jofan menunjukkan senyum terpaksa, setelah itu dia segera mengalihkan pandangannya, membalikkan tubuhnya ingin pergi dari sana secapatnya, perasaannya benar-benar tak enak melihat Sania yang ada di sana, Aurora menatap kepergian Jofan, merasa apa mungkin hal ini karena hubungan Jofan dan Aurora? Semenjak Sania dipindahkan ke sini, Jofan bahkan tak pernah lagi masuk ke dalam ruangannya. Aurora merasa sedikit bersalah akan hal ini.

__ADS_1


Baru beberapa langkah Jofan ingin meninggalkan tempat itu, ponsel Jofan berdering, dia melihat ke arah ponselnya sekilas, ada nama asistennya terpampang di sana. Dia mengerutkan dahinya, ada apa  Asistennya menelepon dia malam-malam begini, Jofan sudah melarangnya menelepon saat dia berada di rumah jika tidak ada yang penting.


"Halo?" kata Jofan segera.


"Halo Tuan, saya sudah menemukan Putri Anda," kata Asistennya langsung.


Jofan terdiam mendengarkan kata-kata asistennya, Putri? Dia memiliki seorang Putri? sesaat otaknya kosong, dia belum bisa percaya akhirnya dia bisa menemukan putrinya, dia memiliki seorang Putri, senyum senang langsung mengembang di wajahnya yang awalnya kaget tak percaya.


"Dimana dia?" tanya Jofan langsung segera berdiri.


"Ada di sebuah panti asuhan, saya akan membawanya ke rumah Anda," kata Asisten Jofan dengan semangat.


"Tidak, jangan, jangan, aku akan pergi menjemputnya," kata Jofan begitu senang hingga melupakan segalanya, lupa bahwa di sana ada Aurora yang melihatnya dengan kerutan wajah yang bertanya karena melihat Jofan begitu semangat dan sumringah, seperti baru mendapatkan sesuatu yang sangat dia inginkan, apa yang terjadi? Pikir Aurora yang hanya bisa menatap Jofan yang segera mengambil mantel panjangnya yang tergantung, memakainya dengan cepat, setelah dia memakainya dia baru sadar akan tatapan Aurora.


"Aku akan pergi, mereka menemukan putriku," kata Jofan pada Aurora yang masih terdiam.


"Oh, benarkah?" kata Aurora sedikit kaget namun segera tersenyum, ikut senang melihat suaminya begitu senang.


"Ya, akhirnya, aku akan membawanya ke sini nanti, aku pergi dulu," kata Jofan senang, refleks mencium dahi Aurora, Aurora hanya membalasnya dengan senyuman dan sentuhan di dada Jofan.

__ADS_1


Suasana langsung hening ketika Jofan keluar dari rumah, perasaan Aurora cukup senang, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa sedikit mengganjal, dia melirik kembali ke arah ruangan Sania, dia masuk dan segera mematikan lilin-lilin aroma  terapi di ruangan itu, Aurora lalu memegang tangan Sania yang cukup terasa dingin.


"Jofan akan membawa anak kalian ke sini, akhirnya kalian akan bisa berkumpul bersama," ucap Aurora pelan, namun entah kenapa perasaannya malah tak enak, namun cepat-cepat ditapisnya, mungkin hanya perasaan khawatir, khawatir dia akan menjadi seseorang yang menghalagi kebahagian keluarga kecil ini.


__ADS_2