
"Ceyasa, ayo, sudah sore, kita harus bersiap untuk makan malam," kata Archie yang mendatangi istrinya yang wajahnya masih tampak begitu kesal.
"Baiklah," kata Ceyasa lagi, menghembuskan napas berat untuk melepaskan sedikit rasa kesalnya, namun dia kembali menatap Nadia dengan tatapan tegas, Nadia hanya tersenyum mengembang, sebenarnya tidak takut sama sekali dengan ancaman Ceyasa, kapan lagi dia mendapatkan kesempatan untuk menggoda pria tampan dari kerajaan kalau bukan ini saatnya, dia lalu melihat William, William yang melihatnya langsung kabur dari sana menuju kamarnya.
Nadia tersenyum, mungkin sekarang dia akan kabur, tunggu saja, beberapa saat nanti, dia yang akan mengejar dirinya, pikir Nadia dengan senyum merekah, sangat percaya diri soal itu.
----**---
"Aku akan pergi ke kamarku," kata Ceyasa ingin berjalan ke arah kamar yang kemarin diberikan oleh Archie untuknya, Archie segera menghadang jalan Ceyasa, membuat Ceyasa kaget melihatnya.
"Ada apa?" tanya Ceyasa bingung.
"Kau masih ingin tidur sendiri?" tanya Archie mengerutkan wajahnya di depan Ceyasa.
"Ya, kan aku punya kamar sendiri," kata Ceyasa bingung, kalau di istana dia tidak punya kamar maka dia menumpang di kamar Archie, tapi di sini dia punya kamar sendiri bukan?
"Kau ini bodoh ya, mana ada orang yang sudah menikah tidur sendiri, kau harus tidur denganku," kata Archie mengenggam tangan Ceyasa dengan segera menariknya menuju ke lantai 2 rumah itu, Ceyasa yang diperlakukan seperti itu hanya kaget namun tidak bisa berontak.
__ADS_1
Archie membuka pintu kamarnya, memperlihatkan kamarnya yang bergitu megah, jauh lebih megah dari kamar Ceyasa kemarin bahkan dari kamar Archie di istana, dalam satu ruangan kamar itu begitu banyak ruangan yang lain, balkon, tempat olah raga, bahkan ada tempat khusus untuk menonton dengan layar lebar, semuanya ada di kamarnya, pantas saja Archie betah sekali di dalam kamar ini.
Archie lalu membawa Ceyasa masuk ke dalam kamar utama, ruangan itu megah dengan segala kemewahannya, balkon besar membentang di sisinya, gorden-gorden besar terlihat menutupi jendela-jendela, remang menghalagi cahaya masuk, sangat indah benar-benar bagaikan istana.
"Aku baru memerintahkan Gerald untuk menambahkan beberapa barang kebutuhanmu di sini dan di kamar kita yang ada di istana, semoga kau suka," kata Archie berbisik, memperlihatkan tempat khusus untuk Ceyasa, meja hias lengkap dengan segala keperluannya ada di sana, Ceyasa tersenyum sedikit, walaupun dia bukanlah wanita yang suka berdandan, tapi dia cukup tersanjung karena Archie memikirkan hal sekecil itu, padahal dia bisa saja tidak memikirkannya dan membiarkan Ceyasa menggunakan kaca sembarangan yang ada di sana. Hati Ceyasa terasa manis karenanya.
"Terima kasih," kata Ceyasa tersenyum melihat ke arah Archie.
"Baiklah, aku akan mandi duluan, Gerald mengatakan ada yang harus aku tanda tangani, setelah itu mandilah, aku akan menunggu di ruang makan," kata Archie lagi.
Archie segera melonggarkan dasinya, berjalan ke arah kamar mandi, Ceyasa kembali melihat kamar itu, terlalu mewah hingga rasa dia tidak ingin berkedip, Ceyasa serasa mimpi, rasanya baru kemarin dia tinggal di kamar yang sangat sederhana, dan tiba-tiba sekarang dia ada di kamar mewah yang bahkan tak pernah bisa dia bayangkan bahwa kamar sebegini indah ada di sini.
Ceyasa lalu mengingat tugasnya, jika sekarang dia seorang istri, dia seharusnya menyiapkan semua keperluan Archie bukan? jadi dia mencoba untuk mencari baju untuk Archie, meletakkannya di atas ranjang, lalu tak lama Archie keluar juga, Ceyasa langsung melihat ke arah Archie, semakin menarik dengan bulir-bulir basah yang terlihat.
"Ehm? Ada apa?" kata Archie yang melihat Ceyasa menatapnya seperti itu.
"Oh, aku sudah menyiapkan bajumu, aku mandi dulu," kata Ceyasa langsung salah tingkah dan pergi dari sana, melihat tingkah Ceyasa seperti itu, Archie mengerutkan dahinya, lalu tersenyum melihat baju yang disediakan oleh Ceyasa, tersusun rapi di atas ranjang mereka yang besar.
__ADS_1
Ceyasa baru selesai mandi, melihat ke sekeliling kamar mandi yang besar itu, tidak ada jas mandi yang tersedia, dia mengerutkan dahi, kenapa malah di kamar Archie sebesar ini tidak ada jas mandinya, Ceyasa lalu melilitkan handuk putih yang cukup besar untuk menutupi tubuh bagian atasnya hingga bawah, namun tetap saja dia merasa sungkan hanya menggunakan handuk keluar dan nantinya akan dilihat oleh Archie. Jadi dia membuka sedikit pintunya dan mengeluarkan kepalanya, melihat kesekeliling, Archie seperitnya sudah tidak ada.
"Archie?" panggil Ceyasa memastikan bahwa Archie memang sudah tidak ada. Tidak ada jawaban sama sekali, melihat itu Ceyasa merasa sudah aman dan dia segera keluar dari kamar mandi itu, dia lalu melangkah ke arah lemari besar, dimana bajunya? jangan-jangan malah tidak ada baju untuknya dikamar ini?
Ceyasa membuka satu persatu lemari yang ada di sana dan akhirnya dia menemukannya di lemari putih yang terpisah dari lemari Archie, lemari itu tempatnya berdekatan dengan meja rias Ceyasa, kenapa dia tidak langsung saja membukanya dari sini, bukannya ini yang paling dekat dengan tempat keperluannya, pikir Ceyasa merasa bodoh.
Ceyasa sekali lagi melihat keadaan kamar itu, kosong tidak ada orang, jadi dia segera membuka handukknya dan perlahan menurunkannya.
Archie yang sudah keluar dari kamar dan juga sudah menuruni tangga menuju ke ruang tengah untuk bertemu dengan Gerald baru ingat ponselnya yang dia letakkan di ranjang itu tertinggal, dia harus kembali lagi ke kamar jadinya, dia segera berjalan, bergegas agar tidak membuang waktu karena dia mulai merasakan lapar sekarang.
Dia segera masuk ke dalam kamarnya, berjalan dengan santai dan masuk begitu saja, namun begitu dia masuk ke dalam kamar utama, ujung matanya melihat sosok Ceyasa, dia langsung melihatnya, melihat Ceyasa yang hanya berbalut pakaian dalam sedang mencoba untuk menggunakan gaunnya, Archie terdiam, melihat lengkuk tubuh Ceyasa, kulitnya yang putih, walaupun dengan bekas luka yang sebagian bekasnya sudah mulai memudar hilang. Pemandangan ini sangat indah.
Ceyasa yang baru selesai memakai gaunnya melihat sosok Archie langsung kaget, sejak kapan dia di sana?
"Aku hanya mengambil ponsel, tidak melihat apa-apa," kata Archie tampak salah tingkah, padahal Ceyasa belum bertanya apapun, dia segera mengambil ponselnya di ranjangnya. Ceyasa hanya diam saja, merasa sangat malu, "turunlah, aku sangat lapar," ujar Archie yang benar-benar terlihat kaku dan salah tingkah, padahal dia sudah lupa bahwa dia lapar, rasa laparnya hilang, berganti perasaan lain, perasaan yang dari kemarin sudah dia redam terus menerus, dia segera melangkah keluar.
Ceyasa yang ditinggal begitu saja oleh Archie pun hanya bisa terdiam, dia melihat ke arah kaca, melihat wajahnya yang memerah, dia segera cepat-cepat menyelesaikan semuanya, dan segera berjalan keluar, walaupun masih malu untuk bertemu dengan Archie, namun tak ingin membuat semunya menunggu dirinya.
__ADS_1