
Archie mendekati Ceyasa perlahan, melihat Ceyasa yang hanya diam menatap sungai besar yang mengalir di depannya, airnya beriak pelan, tangannya Ceyasa mencabuti rumput hijau yang menjadi alasnya duduk.
Ceyasa merasa seseorang duduk di sampingnya, dari aromanya dia tahu bahwa Archie yang ada di sampingnya sekarang, Ceyasa tidak punya keinginan untuk melihat ke arahnya, masih cukup marah dengan apa yang dikatakan oleh Archie, kenapa bisa dia mengira Ceyasa seperti itu? jadi Ceyasa hanya terus melihat ke arah sungai itu, tetap menikmati semilir angin yang membuai.
"Jangan pergi seperti itu lagi, apa kau tidak tahu aku seperti orang gila mencarimu," kata Archie memecahkan keheningan malam diantara mereka.
"Untuk apa mencariku, bukannya kau bilang tak akan mengejar ku? lagi pula aku kan hanya wanita penggoda," kata Ceyasa dengan suara masih kesal, dia melempar rumput-rumput yang dia cabut, terbang bahkan sebelum menyentuh tanah.
Archie mengulum bibirnya, saat tadi dia mencari Ceyasa di antara begitu banyak kerumunan orang, dia baru sadar apa yang sudah dia katakan, dia memang kelewatan mengatakan hal itu pada Ceyasa, dia hanya tak bisa mengontrol apa yang dia ucapkan, karena itu sebenarnya tadi dia hanya ingin diam, namun Ceyasa memancingnya untuk berbicara hingga dia tak bisa lagi tahu apa yang sudah dia keluarkan dari bibirnya.
"Aku minta maaf sudah mengatakan hal itu," kata Archie lembut, melirik ke arah Ceyasa yang tampak masih memendam kesalnya, "tapi percayalah aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak bisa melihatmu dekat dengan pria lain dan masalah anak itu masih mengganggu pikiranku, Ceyasa, aku orang yang pecemburu, aku melakukan hal itu pada orang yang aku sayangi, aku tidak bisa berjanji padamu untuk tidak akan melakukannya lagi, karena selama aku mencintaimu, aku akan terus seperti itu, karena aku tidak ingin kehilangan dirimu, maafkan aku," kata Archie lembut membuat Ceyasa memalingkan wajahnya untuk menatap pria yang entah bagaimana menjadi suaminya ini, wajah Archie tampak sendu, lembut padangannya pada wajah Ceyasa yang masih sama cantik dan manisnya seperti saat pertama dia melihatnya.
Ceyasa terus memandangi Archie, merasa perkataan Archie sangat hangat dan juga manis dan segera meluapkan rasa kesalnya entah kemana, dia juga terlalu kelewatan, kabur begitu saja, rasanya memang dia belum cocok jadi seorang putri.
Ceyasa menyandarkan wajahnya pada lipatan tangannya, memandang mata Archie yang penuh penyesalan dan juga perasaan yang tak terucapkan.
"Kau mencoba menggombal lagi padaku ku?" kata Ceyasa sedikit menggoda Archie yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk meminta maaf dan membuat Ceyasa agar tidak marah lagi padanya, dan kata-kata dari hatinya itu malah dibilang gombal oleh Ceyasa, Archie memasang masamnya, membuang pandangannya ke arah sungai yang mengalir.
"Terserah mau percaya atau tidak," kata Archie yang sedikit kesal dia malah dikatakan gombal.
"Jangan berwajah masam seperti itu, kau baru meminta maaf padaku, dan kau sudah kesal lagi, aku tidak akan memaafkanmu karena sudah mengatakan aku seorang penggoda, aku akan menghukummu," kata Ceyasa lagi.
"Baiklah, aku akan siap dihukum olehmu," kata Archie, Ceyasa menatap Archie yang juga melihat ke arahnya.
"Baiklah, aku akan senang melakukannya," kata Ceyasa yang segera mengerak-gerakkan tangannya seolah ingin mengelitiki Archie, Archie yang melihat itu segera membesarkan matanya.
"Ceyasa, kau boleh memukulku atau mencubitku, tapi jangan mengelitikiku," kata Archie mundur kebelakang.
__ADS_1
"Ini akan menyenangkan, jangan mundur," kata Ceyasa dengan wajah jahilnya, siap untuk melihat wajah tersiksa suaminya karena gelitikannya.
"Oh, kalau begitu kenapa kau tidak kau saja yang duluan, bukankah itu menyenangkan," kata Archie yang tanpa aba-aba malah duluan mengelitiki Ceyasa, membuat Ceyasa kaget bahkan tegang dan berteriak-teriak kecil karena Archie mengelitikinya, Ceyasa yang ingin membalas tapi kalah kuat dengan tenaga Archie, membuat Ceyasa tertawa geli menahan gelitikan dari Archie.
"Sudah, sudah, aku tidak tahan," kata Ceyasa yang bahkan sampai kesulitan bernapas karena tertawa menahan geli karena pinggangnya digelitiki oleh Archie.
"Bagaimana? menyenangkan bukan?" kata Archie tertawa.
"Kau curang, aduh, perutku jadi sakit, curang sekali, aku yang harusnya melakukan hal itu," kata Ceyasa memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu keras.
"Yah kan itu menyenangkan," ejek Archie lagi tertawa kecil melihat Ceyasa tesengal-sengal mengambil napas.
"Sekali lagi maafkan aku," kata Archie memandang Ceyasa.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat, jangan lagi berpikir tentang anak, aku sudah mengatakan kita akan mengadopsi anak, jadi jangan pikirkan lagi," kata Ceyasa.
"Kau yakin? kau tidak ingin mengandung anakmu sendiri?" kata Archie lagi.
"Biarlah, yang penting aku sudah menyenangkan istiriku, " kata Archie lagi.
"Kau ini memang rajanya gombal ya," kata Ceyasa lagi mendorong tubuh Archie.
"Haha, yang penting kau suka, " kata Archie lagi santai.
"Pangeran, pesanan Anda," kata Gerald yang tampak cukup lelah mencari dimana keberadaan Archie, untunglah penjaga memberitahunya.
"Oh, iya, " kata Archie, Gerald segera memberikan sekotak sepatu itu, lalu segera pergi menjauh menuju para penjaganya, heran kenapa tidak mencari tempat berduaan yang lebih baik, duduk di pinggir sungai, hanya tak habis pikir seorang Archie bisa mau melakukannya, cinta memang mengubah segalanya.
__ADS_1
"Apa itu?" kata Ceyasa melihat kotak sepatu yang indah itu.
"Ehm, sini aku pakaikan," kata Archie bangkit lalu membuka kotak itu, terlihat sepatu berhak datar berwarna putih yang simpel namun terlihat begitu elegan, Gerald cukup pintar memilihkannya.
Archie segera mengeluarkan sepasang sepatu itu, Ceyasa melihatnya sedikit kaget, bagaimana Archie tahu dia tidak menggunakan sepatu dan sampai menyuruh Gerald membelikan sepatu datar seperti itu. Archie segera berjongkok di depan Ceyasa ingin memakai sepatunya.
"Tidak perlu, aku akan memakainya saja sendiri," kata Ceyasa menarik kakinya.
"Kenapa?" kata Archie lagi memandang Ceyasa.
"Kau pangeran, tidak baik bagimu memakaikan sepatu untukku," kata Ceyasa.
"Kau tahu itu adalah salah satu tugas pangeran, bahkan dalam dongeng pangeran sampai harus mencari keseluruh negerinya hanya untuk memakaikan sepatu yang pas bagi cinderella," kata Archie tersenyum meminta Ceyasa menjulurkan kakinya, perlahan dengan malu-malu Ceyasa mengeluarkan kakinya, Archie segara memakaikan sepatu pada kaki Ceyasa, pas sekali.
"Lain kali ajarin aku gombal ya," kata Ceyasa sekali lagi menggoda Archie.
"Dasar, Putri aneh, mari pulang ke istana," kata Archie lagi menjulurkan tangannya.
"Baiklah," kata Ceyasa mengapai tangan suaminya.
Archie mengenggam tangan Ceyasa, berjalan menuju jalan setapak untuk sampai ke jalan raya tempat mobil mereka sudah menunggu, Ceyasa mengoyang-goyangkan pengangan tangan mereka seolah seperti anak-anak berpegangan tangan, Archie hanya tersenyum lucu melihat gaya istrinya ini.
"Berjanjilah padaku, apapun atau siapa pun yang nantinya akan berusaha memisahkan kita, jangan pernah pergi dariku, tetaplah bersamaku, aku memohon padamu, tetaplah bersamaku," kata Archie menatap Ceyasa yang tampak melihat langkahnya. mendengar itu Ceyasa melihat ke arah Archie, dia mengerutkan dahinya.
"Itukah janji pernikahan kita?" tanya Ceyasa lagi dengan senyuman.
"Ya, aku juga akan begitu padamu," kata Archie.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku berjanji, kau juga ya," kata Ceyasa memberikan jari kelingkingnya pada Archie.
"Ya, aku berjanji," kata Archie sambil mengaitkan jari kelingkingnya, membuat Ceyasa tersenyum bahagia, dan mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali ke istana.