
Suri membuka matanya perlahan, terasa sangat berat rasanya, dia tak ingat kapan dia tertidur, seingatnya dia minum obat lalu kembali tertidur, itu selalu terjadi setelah dia meminum obat yang diberikan dokter, mungkin dokter memang sengaja ingin dia tertidur karena bagaimana pun keadaannya masih sangat rentan.
Kamarnya sudah remang, dia tahu jika begini artinya sudah malam di luar, tadi siang ruanganya cukup ramai, paman dan bibi Jared datang, juga Paman dan Bibi orang tua angkat Archie pun datang, bergantian menjaganya untuk membiarkan sejenak ayah dan ibunya beristirahat, bahkan Bibi Aurora bisa merayu Jared untuk istirahat, dan Suri senang dengan hal itu, setidaknya keluarganya tidak terlalu lelah karena menjaga dirinya.
Suri melihat sekeliling, ayah dan ibunya sudah tidak ada, Jared pun tidak ada, tumben sekali dia ditinggalkan sendiri begini, namun baru saja dia berpikir seperti itu, tiba-tiba dia melihat sosok Jared yang baru keluar dari arah dapur, membawa minuman yang dia buat tadi.
Jared baru saja memutuskan untuk membuat kopi agar bisa menambah semangatnya untuk menjaga Suri, ayah dan ibu mertuanya juga sudah masuk dalam ruangan, ini sudah cukup malam, jadi Jared mengatakan agar mereka beristirahat, tak ingin mereka kelelahan karena kurang tidur.
Saat dia baru saja kembali, dia melihat Suri yang sudah bangun dari tidurnya, dia langsung mendatanginya, memberikan senyuman hangat pada Suri.
"Hei, sudah bangun?" suara lembut Jared seolah berbisik menatap Suri.
"Ya," kata Suri singkat, jika hanya kata-kata sederhana dia bisa mengucapkannya, namun jika sudah menyangkut kata yang kompleks, dia tidak bisa mengeluarkannya sama sekali.
"Apa lapar? ingin makan sesuatu? Atau haus?" cerca Jared, terakhir kali Suri makan adalah sore tadi, dan dia juga makan sedikit karena masalah perdarahan di perutnya, dia hanya bisa makan bubur sekarang.
"Eh … Haus … " kata Suri kesusahan.
"Baiklah, aku akan mengambil air hangat untuk minum."
Jared segera pergi mengambilkan air hangat, dia lalu mengambilkan sedotan agar Suri bisa dengan mudah meminumnya, namun sebelum menyerahkannya.
__ADS_1
"Ingin duduk?" tanya Jared lagi.
Suri mengangguk pelahan, Jared langsung menekan tombol agar ranjang Suri lebih naik bagian atasnya, Suri terus memperhatikan prianya ini, begitu telaten merawatnya.
"Sudah cukup?" tanya Jared yang tak memperhatikan mata Suri yang memandangnya.
"Sudah," kata Suri lagi, membuat Jared tertawa, Jared segera mengambil air hangat itu, dia mengarahkan sedotan ke bibir mungil Suri, Suri segera meminumnya sambil melihat ke arah Jared yang tak meliriknya, hanya fokus memberikan Suri minuman, Setelah minum, Jared meletakkan minuman itu di samping tempat tidur Suri.
"Apakah nyaman? Suri ingin lebih tegak? Aku akan mengambilkan bantal ya," kata Jared segera ingin mengambilkan bantal tambahan, dia ingin Suri merasa senyaman mungkin saat ini, saat Jared ingin pergi, tangannya langsung ditarik oleh Suri.
"Tinggal eh… temani … A … Di … Eh… Sini," kata Suri yang ingin Jared untuk menemaninya, jangan pergi darinya.
Jared terdiam, dia memandang wajah cantik istrinya, saking senang dan inginnya dia Suri bisa nyaman, Jared melupakan hal yang paling penting, bahwa kenyaman Suri ada padanya.
Tiba-tiba suara hujan terdengar deras, gemericiknya mengalihkan perhatian Suri yang melihat ke jendela yang tertutup tirai putih, suara hujan yang deras namun entah kenapa menambah sendu malam itu.
"Hujan, " seru Suri, senang bisa mendengar suara itu.
"Iya, ingin melihatnya?" tanya Jared. Suri mengangguk cepat, namun sorot matanya yang tadinya begitu ceria, tiba-tiba meredup, lupa akan keadaannya sekarang.
"Tak … bisa … e… kaki… tak…a … bergerak," kata Suri dengan suara lemah.
__ADS_1
Jared melihat ke arah jendela sekali lagi, hatinya sakit melihat wajah sedih Suri, dia lalu menekan tombol panggil dokter, membuat Suri mengerutkan dahinya, tak berapa lama seorang dokter datang ke ruangan Suri.
"Maaf, ada apa Pangeran?" tanya dokter itu.
"Apakah keadaan Suri memungkinkan untuk keluar, kami ingin ke daerah taman sejenak?" tanya Jared langsung.
Dokter itu melihat catatan status yang dia bawa, melihat bagaimana keadaan Suri sekarang, menurut catatan keadaannya stabil.
"Saya rasa itu tida ada apa-apa, jika tak keberatan kami akan mengikuti dari jauh," kata Dokter itu memberikan senyuman. Jared tersenyum melirik Suri yang hanya diam menatap suaminya.
"Baiklah," kata Jared lagi segera berdiri.
"Saya akan menyiapkan kursi roda untuk Putri, sebentar," kata dokter itu.
"Silakan," kata Jared lagi memandang dokter itu untuk keluar, dia lalu menatap Suri yang masih saja terdiam, matanya tampak bergerak-gerak mengamati wajah suaminya, menebak apa yang ingin dilakukan suaminya ini?
"Mungkin kau tidak bisa berjalan sekarang, tapi bukan berarti kita tak bisa keluar, akan aku tunjukkan padamu, bahwa tidak ada bedanya saat kau masih bisa berjalan dengan saat ini," kata Jared lembut, Suri hanya bisa terdiam mendengar hal itu, matanya yang sebening kristal menatap bola mata jernih milik Jared, tatapan sendu penuh haru, suaminya ini selalu saja bisa membuat hatinya menghangat.
"Kita akan keluar, kemari, aku akan merapikan rambutmu," kata Jared mengambil sisir yang tergeletak di samping tempat tidur Suri, dia tahu istrinya selalu ingin terlihat cantik, pasti saat sakit pun dia ingin bisa terlihat cantik.
Suri hanya terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa, bahkan jika tak ada masalah dengan kemampuan bicaranya, dia pasti tetap akan terdiam dengan kelakukan Jared ini, Jared dengan perlahan membantu Suri untuk duduk tegap, Suri hanya bisa memperhatikan Jared, Jared berdiri di belakang Suri, tangannya perlahan menyentuhkan sisir itu pada rambut Suri, perlahan dan lembut sekali seolah takut satu rambut pun tercabut dari kepala Suri.
__ADS_1
Jared menyisir rambut Suri yang sudah beberapa hari tak tersisir, menyisirnya dengan penuh perasaan membuat rambut itu terlihat rapi, Jared lalu menata rambut Suri, mengepang rambut itu dengan kepang tunggal yang simpel agar terlihat lebih rapi, Jared memang bisa melakukannya karena dulu saat kecil dia sering melihat ibunya melakukan itu pada Jenny, bahkan dia juga pernah beberapa kali mengepang rambut adiknya itu, tak menyangka sekarang keahlian itu bisa berguna untuknya.
Suri hanya bisa diam, tangan Jared memang menyentuh rambutnya namun bagi Suri perlakuan Jared ini telah menyentuh hatinya yang terdalam, dia tak tahu lagi, apa yang sudah dia perbuat di dunia ini hingga bisa mendapatkan pria sesempurna Jared.