
Operasi Ceyasa dan bayinya berjalan dengan baik, setidaknya itulah yang dikatakan oleh dokter, namun baik Cayasa dan bayi mereka sama-sama dalam keadaan kritis, Archie hanya bisa duduk di lorong rumah sakit itu, tampak begitu frustasi, Jared dan Suri harus pulang untuk membawa kebutuhan Archie, Ceyasa dan juga bayi mereka yang terpaksa harus masuk ke dalam inkubator.
Archie masih menggunakan jas yang sama, masih dengan lumuran darah Ceyasa yang sudah menghitam, jika saja Jared tak memaksanya untuk membersihkan tangannya, Archie tak akan melakukannya.
Archie hanya diam, tak tahu harus apa, di dalam ruangan ICU, Ceyasa sedang di pantau 24 jam ke depan, di sisi lain, anaknya yang bahkan belum bisa dia lihat, berbaring lemah di NICU (Neonatal Intensive Care Unit).
Jam berdetik, membuat suara menganggu untuk keadaan Archie sekarang, siang berganti malam, mendesak cahaya untuk pergi meninggalkan bumi dan diganti oleh gelapnya malam, keluarganya dari tadi sudah hadir, Jared dan Suri pun sudah kembali untuk membawakan segala keperluan mereka, namun Archie hanya duduk di depan pintu ICU itu, sama sekali tak bisa diganggu.
Nakesha hanya menatap nanar pada anaknya yang tampak begitu terpukul, ini sudah cukup malam, namun dari saat mereka datang siang tadi, mereka tak melihat sedikit pun Archie beranjak dari tempat duduknya, hanya diam menatap pintu putih itu.
"Bisakah kau membujuknya untuk mengganti bajunya dan makan?" pinta Nakesha pada Daihan, tahu sekali anaknya itu begitu dekat dengan ayahnya ini.
"Baiklah," kata Daihan mengambil pakaian bersih dari Archie, perlahan mendekat ke arah anaknya, dia duduk di samping Archie yang bergeming, seolah tak ada orang yang sedang duduk di sampingnya.
"Ibumu menyuruh Papa untuk membujukmu Menganti pakaianmu yang berlumuran darah itu," Ujar Daihan memberitahukan apa tujuannya di sana. Archie hanya diam, dia lalu melirik ayahnya, melirik baju yang dipilihkan oleh ibunya, ingat bagaimana setiap kali, walau baru beberapa bulan ini, Ceyasa lah yang menyiapkan bajunya, tapi wanita itu sekarang berbaring di sana, mata Archie tak sadarnya basah.
"Terima Kasih, Pa," Ujar Archie mencapai pakaian itu, menaruhnya ke sisi lain tempat duduknya.
__ADS_1
"Kau harus menjaga keadaanmu, Papa tahu ini semua berat bagimu, tapi kau harus kuat untuk Ceyasa dan anakmu, jika kau terus begini, Papa yakin Ceyasa akan sangat marah," kata Daihan melirik anaknya yang hanya bersandar dengan wajah frustasi dan mata yang memerah, basah.
Archie tak menjawab, dia hanya diam sambil terus menatap ke arah depan, Daihan hanya memandangnya prihatin.
"Saat aku menikahinya pertama kali, aku pernah berjanji akan menjaganya selalu, aku katakan tenang saja, aku ada di sini, aku akan menjagamu," kata Archie mengingat kata-katanya, air matanya lolos begitu saja dari wajah mulusnya, "tapi ternyata aku tidak bisa, aku bahkan gagal menjaganya dan anak kami, hingga dia seperti ini, seharusnya aku tak pernah membiarkan dia sendiri, seharusnya aku bersikeras untuk tetap menyuruhnya di istana, Aku ...." kata Archie menangis kecewa, kecewa pada dirinya sendiri, jika bukan karena dirinya, Ceyasa tak mungkin seperti ini.
Daihan hanya mendengarkan apa yang ingin diucapkan oleh anaknya ini, tak ingin menyela, ingin agar Archie merasa dia didengarkan.
"Pa, aku merasa gagal menjadi Suami dan seorang ayah," kata Archie melirik ke arah Ayahnya.
Daihan mengatupkan kedua bibirnya, menepuk pundak anaknya yang menangis cukup lirih.
"Saat ini kaulah yang paling dibutuhkan Ceyasa dan anakmu, karena itu kau harus kuat untuk keduanya, Sekarang gantilah bajumu, jika Ceyasa sadar malam ini, dan dia melihatmu masih menggunakan baju dengan bercak darahnya seperti itu, dia pasti akan kembali ingat dengan peristiwa itu, ibumu sudah menyiapkan makanan untukmu, ingat selain jiwa dan pikiranmu yang harus kuat, tubuhmu juga," kata Daihan lagi merangkul anaknya itu.
Archie kembali menarik napas panjang yang langsung memenuhi paru-parunya dan dia segera berdiri, lututnya sedikit kaku karena sudah entah berapa lama dia duduk, Archie menatap Ayahnya sejenak.
"Tenang, Papa akan menggantikanmu menjaganya di sini," kata Daihan, Archie hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya, dan segera bergegas ke arah ruangan khusus untuk menunggu, untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Saat Archie baru saja keluar dari kamar mandi ruangan tunggu khususnya, dia langsung dihadang oleh Jofan yang tampak begitu khawatir namun cendrung marah.
"Apa yang terjadi pada putriku?" kata Jofan yang baru saja sampai ke negara ini, dia sedang pergi berlibur sejenak dengan Aurora dan segera pulang ketika tahu keadaan Ceyasa. Jofan bahkan menarik pakaian Archie.
"Jofan, Jangan begitu, Archie tak bersalah," kata Daihan mencoba menengahi.
"Aku menyerahkan anakku untuk kau jaga, tapi apa yang terjadi, dia sedang kritis di sana," kata Jofan yang terkuasai emosi.
"Jofan," Suara Aurora sedikit besar, menyalip diantara Archie dan Jofan, pandangan Jofan jatuh pada Aurora, "jangan seperti ini, kita semua kaget akan hal ini, dan aku yakin Archie pun sama perasaanya dengan dirimu sekarang, bahkan dia lebih parah, istrinya dan anaknya sedang bertaruh nyawa di sana, bagaimana kau bisa memarahinya, yakinlah, tak ada satu pun yang ingin semua ini, jadi jangan berlaku seperti itu," ujar Aurora yang mencoba menenangkan suaminya yang cukup kelewat batas menurutnya.
Jofan yang mendengar hal itu akhirnya tersadar, dia terlalu mengikuti amarahnya, terlalu khawatir hingga seperti ini, benar, semua orang juga merasa sangat kaget dan juga sedih mendengar hal ini.
"Maafkan aku, " kata Jofan melirik ke arah Archie yang dari tadi sama sekali tidak merespon perkataan Jofan. Archie hanya mengangguk kecil.
"Sudah, kita harus tenang," kata Aurora yang akhirnya bisa menyelesaikan ketegangan ini.
"Makanlah dulu, kau belum makan seharian ini bukan?" kata Nakesha pada Archie, Archie segera mengangguk, lalu duduk untuk makan beberapa makanan yang sudah di sediakan.
__ADS_1
Saat Archie baru memakan makanannya setengah, pintu ruangan itu terbuka, seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu, membuat Archie segera siaga.
"Maaf, saya hanya ingin memberitahukan bahwa Yang Mulia Ratu sudah sadar," kata perawat itu, tanpa menunggu apapun, Archie segera bangkit dan berlari ke arah ruangan Ceyasa, Jofan pun mengikutinya dari belakang.