
"Saya akan menunjukkannya pada Anda Pangeran, silakan ikut saya," kata Asisten Lin.
Archie mengangguk, Ceyasa yang melihat hal itu segera menarik lengan jas Archie.
"Aku ikut ya," bisik Ceyasa pada Archie, tak ingin di tinggal sendiri dengan orang-orang ini di sini, bisa mati kutu dia nantinya.
"Baiklah, ayo," kata Archie segera mendorong tubuh Ceyasa dengan meletakkan tangannya pada pinggang Ceyasa dan mereka segera mengikuti Asisten Lin berjalan.
Archie duduk di sebuah kursi khusus untuk pengambilan darah, di sebelahnya Ceyasa melihat hal itu, jarum untuk mengambil darah segera di masukkan ke dalam tangan Archie.
Archie sedikit menahan rasa nyeri yang menembus kulitnya, Ceyasa hanya melihatnya dengan biasa, tangannya di remas oleh Archie.
"Saya tinggal dulu Pangeran," kata petugas itu meminta izin, Archie hanya mengangguk, mencoba mempertahankan sikap wibawanya, padahal dia sudah tak tahan dengan jarum suntik itu.
Ceyasa lalu menatap Archie, wajah Archie tampak sedikit menahan nyeri, dia tak pernah sakit selama dia bisa mengigatnya, jadi mendapat tusukan jarum sebesar itu tentu dia ngeri.
"Tahan ya, kan tidak sakit kan?" kata Ceyasa yang sedikit menggoda suaminya yang berwajah menahan nyeri.
"Dari mana kau tahu tidak sakit?" ujar Archie lagi melihat Ceyasa yang seperti menyepelekan rasa nyeri yang ditimbulkan jarum besar itu.
"Ya, masa begitu saja sakit," kata Ceyasa menepuk pundak suaminya sedikit keras, mengambil kesempatan saat Archie tidak bisa melakukan apa pun padanya. Ceyasa senang sedikit menyiksa suaminya ini.
"Kau ini, bukannya menyemangati malah memukulku," kata Archie memeras tangan Ceyasa membalas kelakukan istrinya.
"Au sakit tahu," kata Ceyasa yang langsung menarik tangannya, memasang wajah kesal, dia lalu berjalan sedikit menjauh dari Archie.
"Ceyasa!" panggil Archie karena melihat Ceyasa menjauh.
"Apa?" kata Ceyasa kesal pada Archie.
__ADS_1
"Kemarilah, aku butuh kau di sini, aku takut jarum suntik," kata Archie menjulurkan tangannya, tampak sangat manja memanggil Ceyasa ke sampingnya, tak lagi ingin menjaga wibawanya.
Ceyasa melihat tatapan berharap itu awalnya tak ingin peduli, namun hatinya tak bisa menolak sama sekali, walaupun dengan wajah kesal, dia mendatangi Archie lalu kembali memegang tangan suaminya yang bertingkah bagaikan anak-anak yang manja.
"Kau ini, sudah besar bahkan seperti anak-anak, masa dengan jarum suntik saja takut, " kata Ceyasa yang masih kesal dengan tingkah Archie.
"Ya, aku takut, aku hanya suka jika menyuntikmu," kata Archie tersernyum genit, menggoda Ceyasa yang wajahnya langsung memerah karena mendengar perkataan Archie, Ceyasa langsung melirik ke arah wajah jahil suaminya.
"Kau ini apa-apaan sih? Kenapa berbicara seperti itu? dasar, memang tak tahu malu," kata Ceyasa yang langsung ingin menutupi sikapnya yang salah tingkah.
"Haha, kenapa langsung gugup seperti itu? bukannya biasa suami istri berbicara seperti itu saat mereka berduaan?" kata Archie yang sangat suka melihat wajah Ceyasa sekarang.
"Tapi tidak di tempat seperti ini juga, sudah jangan berbicara yang tidak-tidak," kata Ceyasa lagi tampak sewot tak jelas, Archie hanya tertawa, berkat Ceyasa dia jadi melupakan jarum yang sedang menancap di lengannya, dia terus mencoba menggoda Ceyasa, dan Ceyasa pun tampak terus salah tingkah karena tingkah polah suaminya ini.
Archie melihat plaster di lipatan sikunya yang tampak memerah sekitarnya, rasanya sedikit ngilu.
"Kau ini apa-apaan sih? Sakit tahu," kata Archie menarik tangannya.
"Luka kecil begitu saja, bagaimana mau menjadi suami, kalau luka segitu saja sudah tak tahan," kata Ceyasa meledek suaminya.
"Oh, kau ingin melihat bagaimana kekuatanku menjadi suamimu?" kata Archie yang menatap Ceyasa dengan wajah kesal.
"Tidak, ayo, kita kembali ke tempat Suri, mereka pasti sudah menunggu," kata Ceyasa lagi yang tak ingin melanjutkan perkataan suaminya yang nantinya bisa berlanjut kemana-mana, Archie yang mendengar itu langsung tersenyum manis, mengikuti Ceyasa yang sudah duluan berjalan meninggalkannya.
Archie dan Ceyasa kembali ke ruangan Suri, melihat beberapa dokter ada di sana, Archie lalu segera bergabung dengan Angga dan Bella, juga Jared, Ceyasa yang merasa dia tak tahu dan juga tak ingin menganggu akan keberadaannya di sana hanya duduk di salah satu sofa di sana di dekat ranjang Suri, tak ada gunanya juga dia mengikuti pertemuan itu bukan.
Angga segera melihat Archie yang langsung bergabung dengan mereka di sofa yang tersedia di ruangan itu, seperti ruangan tengah untuk ruang rawat Suri.
"Aku sudah menyerahkan darahku, mereka mengambilnya sebanyak yang dia bisa," kata Archie pada Angga.
__ADS_1
"Terima kasih," kata Angga seadanya, tampak sangat tegang wajahnya menunggu hasil pemeriksaan anaknya.
Archie segera duduk di samping bibinya yang matanya sangat sembab, bengkak.
"Terima kasih, terima kasih banyak," kata Bella sambil memegang tangan Archie, merasa sangat berterima kasih padanya, tanpa Archie, mungkin Suri tidak bisa di selamatkan sekarang, Archie melihat ke arah Jared yang duduk di depan Bella tampak tak bisa berkata apa-apa, wajahnya sangat cemas, Archie tahu dia pasti sangat khawatir.
"Lalu bagaimana hasil pemeriksaannya?" kata Angga pada dokter yang ada di sana.
"Pemeriksaannya sama dengan hasil pemeriksaan penyakit yang Anda dan Pangeran alami, jadi kami mendiagnosis ini penyakit darah keturuan keluarga Anda," kata dokter itu menjelaskan, mendengar hal itu Bella tampak semakin terpukul, namun Angga mencoba untuk menenangkannya dengan meremas tangan Bella, membuat Bella menahan dirinya untuk kembali menangis, mencoba mendengar bagaimana selanjutnya.
"Sudah ada catatan bagaimana harus membuat serum untuk penyebuhannya, darahku pun sebelumnya masih ada di sini, selain itu kita sudah punya darah Archie, aku rasa kalian bisa secepatnya mambuat pengobatannya," kata Angga mengatakan pada dokter yang ada di sana.
"Baik, kami akan mulai membuat serumnya, sementara kami akan menyuntikkannya dengan serum yang kami punya," kata dokter itu segera mengerti.
"Baiklah, terima kasih," kata Angga segera, merasa sedikit lega, setidaknya dia tak perlu khawatir lagi keadaan anaknya, dan untungnya dia sudah menjaga Archie dengan baik sehingga dia benar-benar bisa membantu Suri pada waktu yang tepat.
Ceyasa yang sedang duduk di samping Suri melihat ke arah perkumpulan itu, tampak sangat serius membicarakan sesuatu, lalu Ceyasa melihat ke arah tempat yang lain, mengamati ruang rawat yang sangat luas ini, jika orang kaya memang beda ya, pikirnya sambil mencoba melihat ke arah tubuh Suri.
Ceyasa melihat tangan Suri, awalnya bergerak-gerak pelan, dia kira Suri akan sadar hingga dia berdiri dan mendekati tubuh Suri, namun ternyata tubuh Suri mulai bergerak tak beraturan, Ceyasa kaget dan langsung tahu bahwa Suri sekarang dalam keadaan kejang.
"Dokter! Dokter! Sepertinya Suri kejang!" teriak Ceyasa yang langsung tampak panik.
Semua orang yang masih ada di sana langsung kaget, dokter-dokter yang ada di sana langsung berdiri dan menghampiri tubuh Suri, mereka yang lain juga menghampiri tubuh Suri, Ceyasa mundur untuk memberikan ruang untuk keluarga Suri, Archie segera mendatangi istrinya, hanya Jared, Bella dan Angga yang mengitarinya.
Salah satu dokter memeriksa keadaan Suri, yang lain segera menyuntikkan anti kejang pada Suri, Bella tampak tak sanggup melihat anaknya kejang seperti itu, dia bersembunyi di dalam pelukan Angga, bahkan Angga pun menjauh darinya, melihat anaknya seperti itu, serasa ingin dia saja yang gantikannya.
Hanya Jared yang ada di samping Suri, memegang tangannya yang terus bergerak-gerak, seolah meronta karena merasakan sakit yang sangat, menggerogoti seluruh tubuhnya.
Wajahnya tampak begitu cemas, tangannya yang lain mengusap rambut Suri, setetes air mata terlihat jatuh mengalir dan menghilang ke sela-sela rambutnya, membuat perasaan Jared semakin nyeri melihatnya, wanitanya sedang bertaruh nyawa.
__ADS_1