
"Liam? Aku tak punya hubungan apa pun dengannya," seru Aurora tampak ketakutan menatap Jafan yang tampak beringas, sangat jauh dari seorang pria yang begitu dicintainya.
"Lalu kenapa kau begitu senang bertemu dan mendapatkan hadiah darinya!" bentak Jofan menggema keseluruh ruangan, untungnya di sana hanya ada mereka.
Jofan menarik kaki jenjang Aurora, membuat Aurora yang tadinya terduduk langsung kembali terlentang terseret, kakinya mengantung di tepian ranjang karena ulah Jofan.
Jofan langsung menindih tubuh Aurora, Jofan yang begitu dikuasai amarah, nafsu dan alkohol. Dia kembali ingin mencium bibir Aurora yang manis, membuatnya ketagihan, tapi Aurora menolaknya, mencoba memalingkan wajahnya ke semua arah yang dia bisa agar tak di cium oleh Jofan. Saat Jofan ingin memegang wajah Aurora, dia menaikkan tubuhnya sedikit, membuat celah yang cukup untuknya dan Aurora, Aurora yang melihat itu, entah bagaimana dengan cepat dan instring mempertahankan dirinya, dia langsung menampar pipi Jofan.
Jofan melihat mendapatkan hal itu segera terdiam terpaku, tamparan itu seketika mengembalikan semua akal sehatnya yang sempat hilang, Apa yang sudah dilakukannya? Melihat wajah Aurora yang juga kaget dan takut, Aurora tak menyangka dia melakukan hal ini pada Jofan, air matanya berlinang.
"Aku ...." kata Aurora tercekat.
Jofan menatap linangan air mata Aurora membuat hatinya yang tadinya mengeras melembut seketika, entah apa yang sudah dia lakukan tadi, Jofan pria yang sangat memuliakan wanita dulunya, bahkan dia tidak ingin melihat wanita-wanita di sekitarnya menangis, dia selalu ingin bisa membuat mereka senang, entah sejak kapan dia menjadi pria yang seperti ini, yang tidak punya hati, yang mengikuti keegoisannya sendiri, yang membiarkan seorang wanita begitu tersiksa karenanya, dia benar-benar egois, jika Aurora saja bisa menerimanya dengan Sania, kenapa dia harus marah jika Aurora bahagia bersama Liam.
Mata merah tajam yang tadi terlihat, sekarang malah berubah menjadi sendu dan penuh penyesalan, melihat wajah Aurora yang ketakutan dan gemetar, Jofan benar-benar merasa bersalah sekarang.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Jofan sambil berdiri dan mengambil bajunya yang sudah ada di ranjang Aurora, namun luka tangannya semakin memburuk, darahnya membasahi seluruh tangan Jofan hingga mengotori sprai, Aurora yang melihat begitu banyak darah di tangan Jofan segera langsung kaget.
"Jofan, tanganmu," kata Aurora yang sudah lupa apa yang dilakukan oleh Jofan terganti oleh kecemasan, begitu cepatnya dia melupakan tindakan yang sebenarnya cukup menyakitinya, Aurora turun dari tempat tidurnya dan mengejar Jofan yang sudah kembali memakai bajunya dan keluar. Aurora menangkap tangan Jofan dari belakang.
"Lepaskan, aku bisa menyakitimu," suara Jofan terdengar sangat berat, dingin dan datar, bahkan dia tidak bergeming. Darah segar kembali menetes dari jari-jarinya.
"Aku tidak takut padamu, kau terluka parah," kata Aurora yang melihat ngeri genangan darah yang mulai menggupal di antara scarf yang dililitkannya tadi.
"Aku yang takut akan menyakitimu lagi," kata Jofan terdengar sangat berat, dia benar-benar menyesal sudah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak pantas diterima oleh Aurora.
Jofan mendengar itu terkaget, hatinya tersentuh oleh kelembutan suara Aurora, dia melihat ke arah Aurora, wanita hanya tersenyum lembut, memandang Jofan seolah meminta untuk mengizinkan merawat kembali lukanya. Jofan tak mengerti kenapa Aurora bisa begini, menerimanya lagi dengan baik padahal baru beberapa menit yang lalu Jofan menyakitinya.
Aurora segera kembali menarik Jofan ke kamarnya, kali ini mendudukan Jofan di ranjangnya yang hanya bisa terdiam melihat perlakuan Aurora yang benar-benar membuatnya tersentuh.
"Aku akan mencari obat di ruang Sania, aku rasa mungkin aku menaruh kotak P3K di sana," kata Aurora lagi, kali ini Jofan yang sudah mulai kembali sadar, hanya mengangguk, melihat tangannya yang berlumuran darah, tak terlalu nyeri, mungkin karena efek alkhol yang dia minum.
__ADS_1
Tak lama Aurora kembali, Jofan melihat istrinya datang dengan senyuman lebar, membawa sekotak P3k di tangannya, Jofan melihat ke arah tangan Aurora, berwarna merah karena noda darahnya.
Aurora mengambil kursi kecil yang ada di ruangan ini, dia segera duduk di depan Jofan yang hanya bisa terdiam, dia meletakkan kotak P3K itu di pangkuannya.
"Ternyata benar ada di sana, aku sudah tua, sampai lupa dimana meletakkannya," canda Aurora dengan tawa indahnya, mendengar itu Jofan yang dari tadi memperhatikan Aurora sedikit menaikkan sudut bibirnya.
Aurora segera melakukan tugasnya, membuka lilitan scraf itu, lalu membersihkan lukanya dari darah-darah yang mulai mengering dengan antiseptik dan mulai kembali melilitkan kasa ke tangan suaminya dengan sangat hati-hati dan perlahan.
Jofan hanya bisa menatap Aurora melakukan semua pekerajaannya, matanya tak henti menatap wajah istrinya, menatap penuh perasaan yang terpancarkan, bergitu terpesona dengan wanita yang ada di depannya ini, dia tak bisa menyangkalnya lagi, dia benar-benar sudah jatuh hati pada Aurora, namun bisakah seseorang jatuh hati pada dua orang sekaligus?
"Sudah," kata Aurora setelah memasangkan kasa yang cukup tebal di tangan Jofan, berusaha menghentikan pendarahannya. "Kita ke rumah sakit setelah ini, agar lukamu ditangani lebih baik, sebentar, aku akan membersihkan diri dulu," kata Aurora segera bangkit, sama sekali tidak memperhatikan tatapan sendu penuh perasan, namun baru dia ingin melangkah, tangannya langsung dipegang oleh Jofan, kali ini hanya memagang dengan lembut, tak menarik apa lagi menyakiti Aurora.
Aurora langsung memandang Jofan yang masih memandangnya dengan tatapan yang bisa meluluhkan hati semua wanita, benar-benar sangat menghanyutkan, Aurora tak pernah melihat tatapan penuh cinta itu dari wajah Jofan dan langsung bisa membuat Aurora terperangkap di dalamnya, terhipnotis hingga hanya bisa mengikuti arahan Jofan yang menariknya lembut untuk kembali duduk di kursinya.
Mata mereka saling bertemu, saling terpaut, memunculkan bayangan masing-masing dikedua mata mereka, saling menyalurkan perasaan yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata, Aurora begitu terpesona, rasanya benar-benar takjub melihat mata indah Jofan yang ada di depannya, seolah mata itu berbicara padanya tentang perasaan yang terpendam di dalamnya, membuat hati Aurora yang kecil menjadi menghangat, sangat hangat hingga dia kesusahan bernapas.
__ADS_1
Jofan pun tak bisa memalingkan wajahnya, matanya terus mengamati wajah cantik istrinya, tak bisa dipungkiri dia kembali merasakannya, sebuah perasaan yang membuatnya kembali bergairah, kembali bersemangat, bahagia dan marah dalam waktu yang bersamaan, mata memang jendela hati, Jofan dan Aurora bisa melihat cinta yang terpancar tulus dan dalam dari mata mereka berdua, Jofan tersenyum manis melihatnya.