
Archie kembali ke kamarnya setelah dia harus mengikuti sejenis gladiresik untuk acara nanti malam, tidak terlalu susah ternyata, dia hanya harus membawa Suri untuk diserahkan kepada Jared nantinya, semacam orang tua yang menyerahkan pengantin wanita untuk pengantin pria.
Dia lalu membuka pintu kamarnya, berjalan segera menuju kamar utamanya, dia sudah tidak sabar melihat apa yang dilakukan istrinya saat ini dan ternyata Ceyasa sedang makan.
"Selamat datang Yang Mulia Pangeran," kata Lusy memberikan salam, membuat Ceyasa yang sedang mencoba untuk menikmati makanannya menatap ke arah Archie.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Archie pada Lusy, karena dia tahu jika bertanya dengan Ceyasa, dia akan mengatakan baik-baik saja.
"Nona sudah membaik Tuan, namun …. " kata Lusy melirik sedikit ke arah Ceyasa, tak tahu harus mengadu atau tidak.
"Tidak apa-apa, aku sudah baik," kata Ceyasa yang menjawab duluan, berharap Archie percaya.
"Namun kenapa?" kata Archie yang duduk di ranjang, berbatas meja makan kecil yang khusus diletakkan di atas ranjang untuk membantu Ceyasa makan. Ceyasa menatap Lusy dengan wajah sedikit kesal, melihat itu Archie langsung menatap Lusy, "tidak apa-apa, katakan saja? apa dia tidak ingin makan?" tanya Archie menatap Ceyasa.
"Bukan, malah kebalikannya, tubuh Nona Ceyasa belum bisa makan terlalu banyak, 2 sendok beliau sudah ingin muntah, namun saat saya melarang Nona Ceyasa untuk makan kembali, Nona memaksakan untuk tetap makan," kata Lusy sedikit menunduk karena Ceyasa meliriknya sedikit tajam, tak menyangka Lusy akan melaporkannya, padahal dia sudah minta tidak melaporkannya.
Archie menatap wajah Ceyasa yang melirik Lusy, sudah punya cukup tenaga ternyata untuk memasang wajah kesal itu, Archie jadi tersenyum.
"Sudah, jangan dipaksakan," kata Archie mencoba memberitahu Ceyasa.
"Tidak, tidak boleh begitu, tubuh kita tidak boleh dimanjakan, nanti akhirnya tubuhku akan manja kalau diikuti maunya apa," kata Ceyasa membela pemikirannya, dia mengambil sesendok bubur tanpa rasa itu, lalu memakannya, Archie hanya melihatnya, ingin tahu apa reaksi tubuh Ceyasa.
__ADS_1
Dan benar saja, Ceyasa merasa mual, walaupun sudah begitu dipaksa namun sangat susah menelan bubur yang begitu lembek itu. Archie menarik napas panjang, ingin marah namun ingat Ceyasa masih dalam penyembuhan, jadi dia mencoba untuk lebih sabar padanya.
"Sudah, lihatlah kau sudah tidak bisa menelannya, " kata Archie lagi, dia segera menarik meja kecil itu, menggesernya lebih dekat pada dirinya.
"Jangan, kata orang tua, sangat pantang untuk menyia-nyiakan makanan, lihatlah buburnya masih terlalu banyak, ada telur juga," kata Ceyasa seperti menasehati.
Archie kembali menarik napas panjangnya, tanpa aba-aba dia segera mengambil sendok yang ada di tangan Ceyasa dan dengan cepat bahkan seperti terburu-buru dia langsung menghabiskan bubur sisa dan semua makanan yang ada di sana hingga habis tanpa sisa, Ceyasa yang melihat itu hanya bisa diam ternganga, kenapa dia menghabiskan makanannya?
Archie segera menyerahkan semua piring kosong itu pada Lusy, hanya meninggalkan secangkir air minum ditangannya, Lusy segera mengerti dan membawa meja kecil berisi piring kosong itu keluar, meninggalkan Ceyasa dan Archie berdua, Ceyasa yang masih terbengong atas tingkah Archie, hanya bisa melihat semua gerak-gerik Archie.
"Minum," kata Archie menyerahkan air minum itu pada bibir Ceyasa, Ceyasa ingin mengambil air minum itu dari tangan Archie, namun Archie seolah menolaknya dengan cara menarik kembali gelas itu, dia ingin Ceyasa minum dari tangannya.
Ceyasa memanyunkan bibirnya, namun dengan cepat menurut, sama seperti halnya makan, minum pun menjadi hal yang tidak menyenangkan untuk perut Ceyasa yang sudah mengecil, karena itu baru beberapa teguk dia langsung mual.
"Jika tidak bisa, jangan dipaksa, tubuhmu juga punya batasnya," kata Archie lagi mengusap bibirnya dengan tisu bekas Ceyasa, membuat Ceyasa mengerutkan dahi karenanya, "kenapa? " tanya Archie yang melihat wajah Ceyasa seperti itu.
"Kenapa kau mengelap bibirmu dengan tisu bekasku?" tanya Ceyasa bingung, bukankah itu menjijikan.
"Kenapa? tak boleh? Aku inginnya langsung tapi nanti bibirmu akan bertambah basah karenaku," kata Archie acuh seolah itu adalah obrolan yang sangat lumrah bagi keduanya.
Ceyasa terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, perkataan spontan Archie itu malah membuatnya jadi membayangkan ciuman mereka tadi pagi, membuat pipi Ceyasa langsung panas karenanya.
__ADS_1
Pintu kamar Archie terdengar terbuka, Archie dan Ceyasa segera melihat ke arah siapa yang masuk ke dalam kamarnya, Lusy tidak mungkin masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Saat mereka menunggu, sosok Nakesha terlihat di sana.
"Oh, maaf Archie, ibu tidak tahu kau ada di sini, dan ibu pikir Ceyasa sedang beristirahat, tak ingin membuatnya terbangun," ujar Nakesha dengan lembut pada sepasang suami istri yang ada di depannya.
"Tidak apa-apa ibu, Ceyasa baru saja makan, ada apa?" tanya Archie berdiri dari ranjang Ceyasa, Ceyasa yang melihat Nakesha segera menunduk sedikit, seolah memberikan salam.
"Tidak, karena Ceyasa ternyata tidak tidur, Ibu mau berbicara sedikit dengannya, kau pergilah makan siang, bukannya kau belum makan karena gladiresik tadi, cepat makanlah, ajak William menemanimu," kata Nakesha cukup lembut pada Archie, jika seperti ini biasanya pasti ibunya ada maunya, Archie menatap Ceyasa sejenak, "tidak perlu takut, ibu tidak akan memarahi istrimu kok, sudah sana, makan siang-lah," kata Nakesha lagi sedikit sewot karena seakan Archie tidak percaya padanya.
Ceyasa melihat ke arah Archie, dia menganggukan diri, seolah mengatakan dia akan baik-baik saja bersama Nakesha.
"Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua, permisi," kata Archie yang sebenarnya masih enggan meninggalkan Ceyasa walaupun dia tahu ibunya menyukai Ceyasa.
Setelah mendengar Archie keluar, Nakesha langsung tersenyum menatap Ceyasa, dengan langkahnya yang cepat dia segera duduk di dekat Ceyasa, Ceyasa saja sampai kaget melihat tingkah Nakesha, kenapa tak ada bedanya dengan dia? Bukannya Nakesha ini adalah orang kerajaan.
"Siapa namamu?" tanya Nakesha yang memang belum tahu nama Ceyasa.
"Nama saya Ceyasa, " kata Ceyasa mencoba bersikap formal.
"Tak perlu bersikap formal padaku, aku juga tidak suka dengan segala peraturan istana ini, kau boleh memanggilku ibu jika kau mau," kata Nakesha dengan sikapnya yang menggebu-gebu, membuat Ceyasa sampai mengerutkan dahinya, ibu Archie ternyata tak seperti di dalam pikirannya.
"Baiklah, Ibu," kata Ceyasa menyetujui.
__ADS_1
"Ah, senang sekali mendengar panggilan ibu dengan suara seorang wanita, aku sangat ingin memiliki anak perempuan, tapi aku tidak bisa mendapatkannya, jadi mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai anakku sendiri," kata Nakesha begitu senang.