
"Kemana kau pergi?" tanya Ratu Ayana tak lepas memandang Archie.
"Ke suatu tempat, tempatnya sangat indah, suatu hari aku akan mengajakmu kesana, karena itu lekaslah sembuh" Archie tersenyum begitu manis pada neneknya, membuat Ratu Ayana juga tersenyum manis, sejak kepergian Archie, dia tak pernah tersenyum, baru kali ini dia kembali bisa tersenyum. Saat anaknya meninggal, cucunya lah menjadi pelipur laranya, namun jika cucunya juga pergi, tak ada gunanya dia hidup begitu lama.
"Nenek, istirahatlah, aku juga ingin istirahat sejenak, Yang Mulia Raja ingin aku menemuinya di perusahan saat makan siang nanti," kata Archie lagi memandang neneknya.
Ratu Ayana, Nakesha dan Daihan mengerutkan dahinya saat mendengar Angga ingin bertemu dengan Archie, dia baru saja pulang ke istana, apakah tidak bisa menunggu hingga besok? Terkadang Angga memang orang yang sangat keras.
"Tak bisakah kau ada di sini dulu? kau baru saja pulang, aku masih ingin lebih lama denganmu," tanya Ayana yang masih ingin berada di samping cucunya.
"Aku sudah meninggalkan tanggung jawabku terlalu lama, aku rasa aku harus melakukannya, kalau tidak Yang Mulia Raja tidak akan mempercayaiku lagi," jelas Archie, Ratu Ayana hanya bisa mengigit bibirnya, tak bisa melawan apapun, semuanya keputusan adalah milik Angga. Ratu Ayana memandang Archie dengan tatapan kasihan yang cemas.
"Aku tidak akan apa-apa Nek, ini hanya urusan perkerjaan, kau ingin aku jadi orang yang bertanggung jawab kan? Sekarang aku akan melakukan sesuai keinginanmu," ucap Archie sambil berdiri, masih memandangi wajah neneknya yang terus menatapnya, Ratu Ayana yang mendengar itu tersenyum tipis namun juga terlihat sedih, Archie menaikkan sedikit sudut bibirnya, lalu mengecup dahi neneknya, dan segera memberi hormat lalu keluar dari ruangan neneknya.
__ADS_1
Nakesha dan Daihan yang ada di sana pun tidak bisa berkata apa-apa, bagaimanapun mereka hanya orang tua asuh dari Archie, dan sekarang Archie sudah dewasa, mereka tak bisa mengatur atau melarang hidupnya lagi, jika keputusan Archie sudah seperti itu, mereka akan mendukungnya dengan sepenuh hati.
"Papa, Ibu, aku kembali ke kamar, Permisi," kata Archie memberikan hormat sejenak lalu pergi dari sana tak menunggu jawaban mereka.
Nakesha ingin menegur anaknya, namun Daihan mengeluarkan gestur untuk melarang, Nakesha, Daihan dan Ratu Ayana saling berpandangan, tahu bahwa Archie sebenarnya tak nyaman pulang ke istana.
Archie berjalan dengan cepat ke arah kamarnya lalu segera memasukinya, semuanya masih sama seperti terakhir dia meninggalkannya, hanya kaca yang kemarin di pukulnya sudah diganti kembali dengan yang baru, ranjangnya yang luas masih terlihat bersih dan rapi, Archie menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya yang empuk, berbeda sekali dengan ranjang kayu selama dia ada di desa.
Archie menatap langit-lagit kamarnya yang hanya putih dan kosong, berbeda dengan kamar-kamar yang ada di istana ini, dia memang sengaja mengubahnya begitu, terlalu kuno menurutnya memiliki langit-langit yang berukir-ukir seperti kamar yang lainnya.
Archie masih mengingat apa saja yang sudah terjadi di kamar ini, di sini biasanya dia dan Suri bermain, bercengkarama, tertawa dan tersenyum bersama, dan selalu ada William yang menjadi tameng mereka berdua, mengenang hal itu membuat Archie menaikkan sedikit sudut bibirnya.
Archie bangkit, dan terduduk sebentar di ranjangnya, dia lalu melihat ke arah jendela kamarnya, melihat pemandangan istana utama dari sana, dia ingat betul kenapa dia memilih kamar ini, karena dari kamar ini dia bisa melihat pemandangan istana utama, terutama ruang yang sering digunakan oleh Suri berlajar, sehingga dia bisa melihat wanita itu setiap hari dari kamarnya, kenangan indah yang ingin bisa dia lupakan sekarang.
__ADS_1
Ternyata hanya dengan kembali ke istana ini, membuatnya kembali mengingat semuanya, ternyata memang tak bisa, cinta selama berpuluh tahun hilang hanya karna beberapa minggu ditempat yang lain.
Archie tersenyum mengejek dirinya sendiri, saat dia ingin membalikkan tubuhnya untuk tidak melihat jendela itu lagi dan mengenang, tiba-tiba matanya menemukan sesuatu, sebuah mobil yang belum pernah dia lihat baru saja berhenti di depan gerbang utama. Archie mengerutkan dahi, mobil siapa itu?
Para penjaga pintu utama langsung membukakan pintu mobil itu, dan dengan perlahan namun pasti sosok yang selama ini selalu menghatuinya, tak bisa sejenak pun keluar dari pikirannya, sekuat apapun dia mencoba untuk melupakannya, namun sosok itu seolah sudah terpatri abadi dalam hatinya keluar dengan anggunnya dari mobi itu.
Dia memandangnnya nanar, melihat wajah Suri yang cantik yang bahkan bisa terlihat dari jarak yang cukup jauh, senyuman manis yang terlalu dirindukan Archie hingga membuatnya tersiksa mengembang begitu saja, Archie tersenyum tipis dengan mata sendu penuh rindu, ingin rasanya ke sana dan memeluknya, namun apa daya, dia hanya bisa menatapnya dari balik jendela.
Wajah Archie yang tadinya penuh dengan pancaran cinta dan rindu, perlahan hilang berubah menjadi tatapan yang diam dan terluka, saat melihat seorang pria yang keluar dari pintu mobil yang satunya lagi, Archie tahu betul siapa pria itu, Jared langsung mendatangi Suri, dan Suri dengan begitu ceria menyambutnya. Terlihat nyaman bercengkrama dengannya.
Archie hanya bisa terdiam, terpaku menatap setiap adegan yang ada di depannya dan setiap senyuman, sapaaan, sentuhan mereka seolah menusuk Archie, hatinya begitu sakit melihat semuanya, serasa begitu banyak anak panah yang ditancapkan ke tubuhnya yang sekarang seolah lemah, perlahan-lahan ditusukkan semakin dalam, semakin terasa nyeri, namun sialnya Archie sama sekali tidak bisa membuang pandangannya.
Tangan Archie mengepal kuat, mencoba menahan perasaan yang teramat perih, pemandangan itu benar-benar membuat tubuhnya terkoyak, matanya terasa panas dan memerah, namun dia tak bisa apa-apa, hanya bisa menahan dirinya, giginya terus tekannya hingga rahangnya terasa pegal, setelah mereka menghilang dari tatapannya, dia baru bisa melepaskan tekanan itu namun tetap berdiri mematung, tak sanggup bergerak.
__ADS_1
Dia mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan karena menahan rasa dalam dirinya, sakit, sakit sekali, benar-benar membuat dia hampir gila, teringat senyuman manis Suri yang bukan karena dirinya, mengingat kenyamanannya bercanda ria dengan Jared, benar-benar membuatnya frustasi, ingin rasanya dia jadi gila dan melupakan semuanya, namun dia bisa apa? hanya menikmati rasa ini pelan-pelan, mencoba mengikhlaskan, Sepertinya dia memang harus terbiasa untuk melihat hal ini, toh memang inilah yang dia inginkan bukan? melihat Suri bahagia, walaupun bukan dengannya.