
Jofan berdiri tegak dengan segala kekuatan yang masih dimilikinya, mencoba dengar tegar berjalan membawa pot abu kremasi tubuh Sania walaupun seluruh tubuhnya sekarang terasa bagaikan remuk, semerbak wangi bunga sedap malam menusuk penciumannya, dengan setelan jas hitam, semua terlihat kelabu di rumah duka itu, tak ada yang datang, kecuali keluarga inti mereka, Jofan, Aurora, Siena, Jared dan ibu Jofan, selain itu tidak ada lagi, Jofan memang sengaja melakukannya, setidaknya biarkan hanya mereka yang tahu cerita dibalik kematian Sania.
Jofan meletakkan abu Sania yang di masukkan dalam guci kecil berwarna putih dalam sebuah kotak penyimpanan abu di rumah abu itu, Aurora menyelipkan bunga sedap malam di samping guci abu Sania, Jofan melihat ke arah Aurora, sedikit memberikan senyuman diantara matanya yang tampak cekung, wajahnya muram dan suram.
Jofan segera menutup kotak itu, memampangkan foto Sania dengan nama berukiran emas, Jofan kembali menatap wajah Sania, senyumannya dalam foto itu sangat indah, sayangnya sekarang hanya bisa dikenang.
"Baiklah, kita pulang," ujar Jofan lagi pada keluargannya, dia berbalik ke arah belakang, menatap keluarganya yang beraut duka, namun dia menangkap kejanggalan, Siena tak ada di sana.
"Dimana Siena?" tanya Jofan pada keluarganya yang lain di belakangnya.
"Aku lihat dia menunggu diluar, di taman belakang," ujar Jared yang tampak tampan dengan setelan jas hitamnya.
Jofan sedikit menekan kedua bibirnya, dia lalu melihat ke arah Aurora yang juga menatap dirinya.
"Aku akan bicara dulu dengannya berdua, kalian kembalilah ke mobil," ujar Jofan pada keluarganya.
"Baiklah," kata Aurora memegang lengan Jofan sebentar, lalu semuanya mulai pergi menuju ke mobil mereka.
__ADS_1
Jofan menarik napas sejenak lalu dia melangkah keluar dari ruangan penyimpanan abu itu yang suasanya serba putih dan mencari anaknya, di lalu menemukan Siena sedang duduk di bawah pohon maple yang daun-daunnya mulai menguning, sedikit berguguran karena hempasan angin, Siena duduk dengan begitu anggunnya mengunakan gaun hitam potongan simpel dan bentuk rok A selututnya, memperlihatkan begitu indah kakinya yang tersilang. Dia tampak terdiam dengan mata kosong menatap ke depan.
Jofan berjalan perlahan, langit hari ini sangat sendu, tertutup oleh gumpalan awan yang mulai mengkelabu, semilir angin dingin mulai terasa, menusuk kulit yang terkena, Siena sedikit mengusap kedua lengannya yang merasakan dingin, Jofan yang melihat itu langsung membuka jasnya dan saat mendekati anaknya, dia segera meletakkannya pada tubuh kecil Siena.
Siena cukup kaget menerima jas itu, melirik ke arah ayahnya, namun setelah itu seolah tidak punya minat dia kembali menatap lurus, kedua matanya terlihat merah, bengkak, dan tak bercahaya, tak seperti biasanya Jofan lihat.
Jofan duduk di samping anaknya, terdiam sesaat melihat ke arah areal belakang rumah abu yang hari ini terlihat lebih kuning karena tertutup daun-daun pohon mapel yang berguguran. Suara angin membuat keheningan itu semakin terasa.
"Kau masih marah pada ayah?" tanya Jofan melirik anaknya yang bergeming di sampingnya, hanya memegangi jas yang dia berikan untuk sedikit merasakan kehangatan. Siena tak langsung menjawab, terlalu susah untuk membuka mulutnya yang sudah terlalu lama terkatup, suaranya pun serak karena terus menangis dan histeris.
"Aku hanya tak habis pikir, aku tak punya ibu seumur hidupku, dan dalam semalam tiba-tiba aku punya seorang ibu, aku pikir aku punya cukup waktu untuk bersama dirinya walaupun dia hanya berbaring, tapi dalam sekejap, aku sudah tak punya ibu lagi," ujar Siena dengan suara yang lirih, terkesan hampir kehilangan suaranya.
Siena kembali tak menjawab langsung, namun tiba-tiba dia sedikit mengeluarkan suara tawa sinis sejenak, membuat Jofan langsung menatap anaknya, kenapa dia harus tertawa seperti itu.
"Aneh bukan? di dalam ruangan itu ada aku anaknya, ada ayah sebagai cintanya, namun yang dia datangi malah orang lain yang notabene adalah orang yang merebut cintanya, bermodal sebuah cerita yang siapa saja bisa cari tahu, dia mengatakan ibuku minta untuk direlakan, 23 tahun dia berjuang, dan ayah dengan mudahnya percaya dengan wanita itu," kata Siena dengan sorot mata yang menyimpan kemarahan. Jofan menatap tatapan mata anaknya, tak mungkin Aurora berbohong padanya, lagi pula semua cerita Aurora sangat menyakinkan Jofan.
Siena bangkit, meninggalkan jas hitam ayahnya di kursi taman itu, Siena melihat ke arah ayahnya, air matanya kembali menetes, dia menarik napasnya panjang.
__ADS_1
"Jika ayah sudah tidak mencintai ibuku lagi, dan kalian terganggu akan dirinya, kenapa tidak izinkan aku merawatnya, kenapa kalian harus membuat seolah-olah kalian peduli sekali dengannya, dan kalian membiarkan dia pergi, itu sama saja kalian membunuh ibuku! Kenapa kalian tega mengambil ibuku dariku," ujar Siena begitu lirih hingga terjatuh lemah ke tanah, Jofan yang melihat anaknya seperti itu kembali merasa miris dan sakit, dia langsung menangkap tubuh anaknya, membawanya dalam pelukannya, Siena menangis sejadi-jadinya, membuat Jofan tak bisa menahan dirinya untuk menangis. Siena benar-benar belum bisa menerima kepergian ibunya, Siena baru saja menemukan keluarganya yang lengkap, namun sekarang harus kehilangan kembali.
"Ibuku … kenapa kalian mengambil ibuku lagi, kenapa kalian memberi aku ibu, tapi setelah itu kalian mengambilnya lagi, kenapa kalian seolah peduli, tapi malah seperti ini, aku ingin ibuku," kata Siena menangis hingga seluruh tubuhnya bergetar, lunglai tak berdaya, Jofan mencoba menahan tubuh anaknya dalam pelukannya, menahan tangis namu air mata terus mengalir.
"Kau masih punya ayah," ujar Jofan dalam suara serak dan bindengnya.
Mendengar hal itu Siena berontak, dia ingin lepas dari pelukan ayahnya, mendorong tubuh ayahnya, karena terlalu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Siena, Siena dengan mudah mendorong tubuh Jofan.
Siena menatap ayahnya yang tampak benar-benar kacau, tidak ada lagi wajah wibawanya lagi terlihat. Hanya seperti orang yang penuh dengan kesadihan hidupnya.
"Ayah bukan milikku, ayah milik wanita lain, jika ayah ada untukku, ayah pasti lebih mendengarkan ku dari pada dia! Ayah pasti mempertahankan ibuku! Aku tidak memiliki ayah!" teriak Siena lagi bergitu histeris hingga membuat Jofan terpaku, kata-kata Siena membuat hatinya patah, rasanya bahkan lebih sakit dari pada harus kehilangan kekasih, seorang anak yang tak mengakui ayahnya, walaupun hanya kata-kata emosi, namun itu cukup menghancurkan hati Jofan. "Ayah pergi saja, aku ingin sendiri sendiri, biarkan aku sendiri bersama ibuku, ayah pergilah, aku bisa hidup sendiri lagi," ujar Siena lagi.
"Ayah akan memberikan semuanya padamu, ayah berjanji akan terus mendengarkanmu, Siena, ayah berjanji padamu," ujar Jofan lagi mengulurkan tangannya, memelas untuk anaknya, Siena menatap ayahnya yang tampak memohon padanya.
"Tidak, aku pergi saja, aku tidak ingin bersama kalian, kalian juga tidak menyukaiku, sejak lahir aku memang tak pernah diinginkan, bahkan Jenny begitu membenciku, untuk apa aku ada diantara kalian, aku rasa panti asuhan lebih menerimaku dari pada keluargaku sendiri," ujar Siena lagi, mundur beberapa langkah.
"Tidak, ayah berjanji, ayah akan melindungimu, ayah akan selalu berada di sisimu, jika ayah melanggarnya, maka kau boleh meninggalkan ayah, Siena berikan ayah kesempatan sekali lagi," ujar Jofan lirih, hembusan angin semakin kencang, mengoyangkan dahan-dahan pohon maple, membuat daunnya yang kuning dan memerah berjatuhan kesekitar mereka, sendunya udara yang lembab membuat suasana makin suram, setetes demi setetes air hujam mulai menghantam tanah, menebarkan jejak abu yang mulai menyeruak, Siena menatap ayahnya dengan penuh analisa, melihat ketulusan di wajahnya, wajah Siena melunak, dia lalu berlari kecil ke arah ayahnya, memeluk ayahnya dalam, bagaimana pun, dia tahu ayahnya juga merasa sakitnya seperti dia, dan dia akan mencoba untuk memberikan ayahnya satu kesempatan lagi.
__ADS_1
Jofan memeluk anaknya dengan sangat erat, tak ingin kehilangan orang-orang yang dia cinta, apa lagi kehilangan anaknya yang begitu berarti baginya, seumur hidup, apapun yang terjadi, dia akan membuat anaknya bahagia selamanya.