
Ruangan gelap itu terlihat lagi, lagi-lagi Ceyasa harus bergidik ngeri melihat wajah wanita bersimbah darah di sampingnya, suara-suara pria yang mengatakan telah membunuhnya tetap saja tak ada raga, mata wanita itu tetap kosong, lubang di dahinya tampak menganga, darah mengucur keluar dari lubang itu, Ceyasa gemetaran, menatap semuanya, mencari ke segala arah, tak seperti yang lalu, dia tak bangun begitu cepat, apakah dia akan terperangkap di sana?
Mata Ceyasa liar, tubuhnya gemetar karena melihat pemandangan itu, dia rasanya ingin teriak namun suaranya tercekat, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari bibirnya, dan sesaat dia bisa melihat seluruh tubuh wanita yang tampak sangat cantik itu, mengenakan pakaian hitam yang menyamarkan tumpahan darah yang sekarang bergenang di lantai putih, ruangan itu berlapis kayu mahoni, remang, dan saat dia terus mencari-cari, dari balik sebuah pintu kecil di sebelah tubuh wanita yang kaku melotot padanya, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun keluar dengan boneka taddy bearnya yang dia seret hingga ke lantai, dia memakai piama berwarna putih bergaris biru, menatap lurus pada tubuh wanita itu, diam, bergeming, wajahnya datar, seolah sedang memproses apa yang sedang dilihatnya, dan tiba-tiba anak itu seolah memandang Ceyasa dengan tajam, dalam matanya penuh kemarahan yang sangat dalam, bahkan melihatnya Ceyasa langsung ngeri.
"Kau membunuh ibuku!!!" teriak anak itu keras sekali, seolah bergema dan diteriakkan langsung ke telinga Ceyasa, Ceyasa sampai harus menutup telinganya, menggeleng-gelengkan kepaalnya.
"Tidak! aku tidak membunuh siapapun! Tidak! " kata Ceyasa yang histeris ketakutan.
Dan terbangun ketika merasakan rasa dingin di seluruh tubuhnya, menggigil dengan hebatnya.
---***----
Rain menatap tubuh Ceyasa, dia masih saja tak sadarkan diri karena setelah dipukul dia disuntikkan obat penenang yang membuatnya tidur bahkan hampir 1 harian, tubuhnya di biarkan di pojok suatu ruangan. Rain terus memandang wajah Ceyasa yang tertidur damai.
__ADS_1
"Bangunkan dia," kata Rain langsung.
Seorang penjaga segera menguyur tubuh Ceyasa dengan air dingin, membuat Ceyasa langsung tergagap bangun, matanya liar menatap segalanya, tubuhnya gemetar bukan karena air dingin yang menguyur tubuhnya tapi menatap mata tajam yang langsung dia lihat ketika dia membuka matanya, dia bahkan sedikit berteriak, napasnya tak teratur seolah sangat susah mendapatkan udaranya.
" Aku tidak membunuhnya, aku tidak … dia! " kata Ceyasa gagap, meracau setelahnya, Rain memandangnya dengan tatapan yang sangat tajam, Ceyasa terdiam menangkap pandangan itu, tatapan itu, baru saja dialaminya tadi.
"Kau! kau! " kata Ceyasa yang mundur beberapa kali mencoba untuk menjauh dari Rain yang perlahan mendekatinya, wajah Ceyasa menyimpan ketakutan dalam, seolah dia melihat hantu yang sekarang mendekatinya, semakin Rain mendekat, semakin gemetar dia.
Rain memasang wajah datar nan dingin dengan tatapan yang bisa membuat siapa pun gentar melihatnya, dia terus mengamati wajah ketakutan Ceyasa, dia sedikit mengerutkan dahinya, melihat wajah Ceyasa yang bahkan tak ingin melihat tatapan matanya.
"Akhirnya kau mengingatnya, kapan kau mengingatnya?" tanya Rain dengan nada datar yang begitu dingin, membuat suasana di semakin mencekam, Ceyasa meliriknya di sela tangan yang digunakannya sebagai tamengnya, menatap Rain dan beberapa orang penjaga yang ada di sana.
"Aku tidak tahu," kata Ceyasa dengan bibir gemetar membiru.
__ADS_1
Rain menatap Ceyasa dengan sangat tajam, kilatan emosi tampak sangat membara di bola matanya, dia juga mengertakan giginya, Rain lalu menggenggam tangan Ceyasa dengan sangat erat, seerat genggaman Archie yang kemarin hampir mematahkan tulangnya, namun sepertinya kali ini Rain berniat melakukannya, dia menekan urat nadi Ceyasa yang ada di pergelangan tangannya, membuat Ceyasa seketika meringis kesakitan, nyeri hingga menjalar ke seluruh lengannya.
"BAGAIMANA KAU BISA MELUPAKAN DIA! " marah Rain dengan nada yang sangat emosi, seolah emosi itu sudah mendarah daging padanya, berurat dalam sarafnya, bahkan sekarang matanya yang tajam itu memerah, mengeluarkan jaluran-jaluran pembuluh darah memenuhi warna putihnya. Ceyasa benar-benar takut, kali ini dia benar-benar gentar, gemetar hingga keseluruh tubuhnya, Rain terlihat bagaikan binatang buas yang siap memangsanya, dia hanya bisa menggeleng sambil berusaha untuk melindungi dirinya.
Sesaat Rain hanya melakukan itu menatap dan menekan tangan Ceyasa, tangan Ceyasa sudah mati rasa, benar-benar sudah terlihat pucat karena genggaman Rain yang sangat erat, air mata Ceyasa sudah tak terlihat lagi, bercampur dengan keringat dingin yang mengucur di sekujur tubuhnya, dia bahkan kesusahan bernapas.
"Ibuku meninggal karena dirimu, hanya kerena dirimu mereka harus membunuhnya, meninggalkan tubuhnya yang sudah tak bernapas begitu saja, seolah dia bukanlah manusia, semua itu hanya karena dirimu dan kau tega-teganya melupakannya! " kata Rain lagi dengan emosi yang lebih teratur, namun tetap saja terlihat begitu membara.
Rain melihat ke arah tangan Ceyasa yang masih menggunakan gelang ibunya, Rain langsung menarik gelang itu, tanpa berbelas kasihan dia menariknya dengan keras, membuat gelang itu menggilas kulit Ceyasa, membuat rasa perih dan memerah sebelum gelang itu terputus dari tangannya. Ceyasa memekik kecil, menutup mulutnya menahan perih dan ketakutan, dia lalu melihat Rain yang berdiri menatapnya hina bagaikan seonggok sampah.
"Kurung dia dan jangan beri dia makanan," kata Rain menatap Ceyasa sebelum dia meludah ke arah Ceyasa, semua orang di sana mengangguk, dia segera pergi, penjaga yang lain pun mengikutinya, Ceyasa lalu sedikit lega, tubuhnya masih basah kuyup, Asisten Qie yang dari tadi melihat dari luar hanya bisa menggigit bibirnya, merasa cukup kasihan namun dia hanya bisa diam.
Ceyasa melihat ke arah sekelilingnya, ruangan itu tidak lebar, tidak memiliki ventilasi sama sekali, lembab dan sangat dingin, batu-batu besar menyusun tembok dan lantainya, hanya ada satu lampu itu juga di bagian luar jeruji besi yang tersusun, tempat itu bagaikan penjara bawah tanah.
__ADS_1
Ceyasa meringkuk menangis, bagaimana dia bisa di sini? bagaimana dia melupakan hal-hal yang tadi di katakan oleh Rain. Wanita itu, ya dia baru ingat, dia ibu Rain, pantaslah dia pernah melihatnya, tapi apa hubungannya dengan ibu Rain hingga ibu Rain harus dibunuh, dan benarkah karena dirinya? Kenapa Ceyasa sama sekali tidak ingat hal-hal itu?
Ceyasa mencoba untuk mengingat, mencari dilekukan-lekukan memorinya, namun tidak ada sema sekali, dia tak bisa mengingat apapun dari masa lalunya selain masa lalunya saat dia ada di desa Giovert, ada apa dengannya? pikir Ceyasa yang hanya bisa meringkuk kedinginan dengan wajah cemas dan waspada, setiap kali ada suara dia akan meringkuk di pojok ruangan.