Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
240 - Terakhir Bunuh dia!


__ADS_3

Jofan menyaksikan semua yang terjadi di sana dari balik dinding tumbuhan yang rindang itu, matanya nanar melihat semuanya, hatinya sakit tercabik melihat wanitanya dalam pelukan pria lain namun dia tidak bisa melakukan apapun, belum saatnya dia bertemu mereka, terlalu berbahaya untuk ada di antara mereka sekarang, jadi yang bisa dia lakukan hanya seperti ini, melihat dalam diam, menjaga dalam kesendirian.


 


Jofan sedikit kaget mendengar suara yang ada di belakangnya, dengan sigap dia langsung berbalik, sebuah pistol semi otomatis mengacung tepat diantara kedua alisnya, namun Jofan tidak terlihat gentar, dia bahkan hanya berwajah diam, menatap lurus pada orang yang mengacungkan pistol itu di dahinya, tangan Siena tampak bergetar memegang pistol itu, dia menatanya dengan tatapan marah, tak menyangka akan bertemu dengan Jofan di sini.


 


"Seharusnya kau tidak keluar saat ini, Ayah," kata Siena mengatakannya dengan wajah dinginnya, menekankan kata ayah, wajahnya yang cantik tertimpa sinar rembulan semakin membuatnya tampak datar dan dingin.


 


"Aku ingin menjemputmu, kau pikir aku tidak tahu rencanamu?" kata Jofan tidak gentar sama sekali, malah mengembangkan senyuman manis nan liciknya, membuat Siena bertambah gemetar memegang pistol itu yang memang tak pernah dia gunakan. "Datang ke pesta ini hanya dengan keadaan sendirian seperti ini? aku kira kau sangat cerdik hingga aku harus mengawasimu terus menerus, tapi ternyata kau hanya seorang amatir, menggelikan sekali, kau kira pernikahan anak seorang raja tidak akan penuh dengan penjagaan walaupun diadakan sangat mendadak, tempat ini sudah di kepung, tinggal hitungan menit kau akan ditahan," kata Jofan lagi memcoba mempermainkan emosi Siena.


"Aku tidak takut untuk ditahan, bahkan untuk mati sekalipun, Kau hanya belum tahu rencanaku sebenarnya," kata Siena mendekatkan pistol itu hingga menempel di dahi Jofan, namun Jofan tetap bergeming, tak terpengaruh sama sekali, Siena menggertakkan giginya, terusik ketenangan Jofan.


 


Tiba-tiba muncul 4 orang tentara dengan seragam lengkap dan juga senapan mereka, mereka segera mengarahkannya pada Siena. Mata Siena yang penuh kebencian itu langsung menatap mereka, melihat Siena yang sesaat lengah, Jofan langsung menangkap tangannya yang memegang pistol, menekannya kuat dan dengan cepat mengambil pistol itu membalikkan tubuh Siena dan menodongkan pistol yang dipakai oleh Siena tadi ke kepala Siena, tangannya Siena ditahan oleh Jofan, Siena berontak dengan wajahnya yang tampak begitu marah, namun karena pegangan tangan Jofan terlalu erat, dia tak bisa lagi bergerak, lagi pula dia tak akan bisa kabur, 4 tentara itu sudah mengepungnya dari depan, mengacungkan senjata mereka tepat di depan wajahnya.


 


 


"Kau tak akan tahu apa kejutan yang akan aku berikan, tunggu saja hingga semuanya meledak dan semua orang yang kau cintai akan mati di hadapanmu," kata Siena dengan nada marah dan kejam.


 


"Apa yang kau lakukan?" kata Jofan yang kaget, suaranya tampak cemas berbisik pada Siena, dia mengetatkan genggaman tangannya pada tangan Siena membuat Siena meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aku akan senang mendengar ledakkan dan teriakkannya," kata Siena lagi tertawa sinis, seakan dia sudah menang, bom  yang dia letakkan di lokasi pesta itu akan meledak sebentar lagi dan semua orang yang dia benci dengan seluruh darah dan dagingnya itu akan lenyap dari dunia ini.


 


Bam!!!


Suara detuman keras membahana di dekat mereka, meluncurkan sebuah roket ke angkasa dan meledak di atasnya, sebuah kembang api besar tampak menghiasi malam yang sangat indah itu, berwarna warni hingga orang-orang yang melihatnya akan sangat kagum.


Siena mengerutkan dahinya, seharusnya bom yang dia pasang di tempat itu sudah meledak, tapi kenapa malah kembang api yang meledak di atas mereka, wajahnya tampak benar-benar tak percaya dan kaget.


 


"Maksudmu bom yang itu?" tanya Jofan lagi berbisik pada Siena yang masih dia tahan dengan posisinya, Siena melihat salah satu tentara membawa bom yang sudah dia rencanakan untuk di ledakkan di sana, Bom itu sudah dijinakkan, bagaimana bisa? Dia datang kemari hanya untuk melihat bagaimana semua keluarga kerajaan tewas, namun kenapa bisa? Padahal semua rencananya sudah begitu sempurna, dia bisa menguasai semuanya, bahkan dia pikir anak buahnya sudah tersebar di sini, tapi  kenapa malah menjadi seperti ini.


 


"Tak perlu kaget, sudah aku katakan kau terlalu amatir untuk hal ini," kata Jofan segera memukul leher bagian belakang Siena, membuatnya ambruk seketika. Para tentara itu segera mengamankan tubuh Siena yang lunglai. "Bawa dia ke markas militer khusus," kata Jofan lagi.


 


 


Jofan menarik napasnya cukup berburu, adrenalinnya terpacu, dia harus pergi dari sana sebelum ada yang tahu keberadaannya, karena bagi siapapun yang ada dibalik Siena, dia di anggap sudah mati.


 


Jofan duduk di sebuah ranjang ala militer, tampak tak begitu nyaman, namun dia hanya bisa meringis, dia membuka jas yang di kenakan, tampak darah yang kembali merembes di perutnya, dia lalu membuka kemeja putih yang penuh dengan darah itu, perban yang melilit di tubuhnya sudah berubah menjadi gumpalan darah, selain itu banyak pula bekas luka kecil dan luka bakar di seluruh tubuhnya yang baru saja terlihat menyembuh.


 

__ADS_1


 


"Tuan Jofan," kata seorang tentara masuk ke dalam kamar Jofan, dia melihat ke arah Jofan dengan wajah yang sangat kaget, Jofan sudah basah dengan keringat dinginnya, tampak sekali menahan nyeri yang tak bisa di lukiskan, tubuh Jofan bergetar dan saat dia melihat ke arah prajurit itu pandangannya sudah mengabur dan tubuhnya ambruk begitu saja.


 


Tubuh Jofan langsung dilarikan ke sebuah tempat rahasia, matanya yang kosong menatap lampu-lampu lorong yang terlewati olehnya, kilasan peristiwa itu muncul di ingatannya.


 


Dia ingat saat itu dia memutuskan untuk mengejar anaknya dan mencoba untuk membujuk Siena kembali agar bisa menerima Aurora dan keluarganya, dia hanya ingin membuat keluarganya kembali membaik dan malam itu Jofan benar-benar tidak bisa tidur memikirkan keadaan Aurora, apakah dia selamat atau tidak? dia sudah membuat kesalahan yang sangat fatal, namun dia tah tahu harus bagaimana saat itu, dia hanya berdiri di dalam kamar hotelnya, dia merasa tak tahan untuk menebak-nebak bagaimana keadaan Aurora, karena itu  Jofan lalu mencoba untuk kembali membujuk anaknya, dia berjalan ke kamar anaknya yang hanya terpisah dinding dengan kamar hotelnya, dia membuka kamar anaknya yang terlihat gelap, menemukan anaknya itu sedang tidak ada di kamarnya, suara air di kamar mandi menandakan dia sedang mandi.


 


Awalnya Jofan ingin membiarkan anaknya itu untuk mandi dan kembali lagi nanti, namun saat dia baru saja ingin keluar, dia mendengar suara getaran, seperti sebuah getaran ponsel saat ada panggilan masuk.


 


Jofan mengerutkan dahi, bukannya putrinya itu tidak punya ponsel? Jofan segera masuk ke dalam kamar anaknya itu, mencari suara yang terdengar cukup mengganggunya, dia mencarinya terus dan menemukannya terselip di dalam sebuah buku di meja yang ada di kamar itu. Jofan mengerutkan dahinya, ponsel itu tak pernah dilihatnya.


Jofan lalu melihat ke arah pesan yang muncul sepotong,


‘Kau gagal membunuhnya’


kata-kata itu lalu terpotong, Jofan langsung mengurutkan dahinya, membunuh? Lalu muncul lagi pesan yang lain,


‘Terakhir bunuh Jofan’.


 

__ADS_1


 


__ADS_2