
Ceyasa menatap lapangan markas militer yang sudah kosong, matahari sudah dari tadi meninggalkan cakrawala, membiarkan tugasnya digantikan sejenak oleh rembulan yang juga sepertinya sedang malas untuk keluar dari persembunyian awannya. Bintang pun sedang tak ingin menghiasi langit malam itu, memberikan kesempatan pada gumpalan awan hitam yang mengeluarkan rintik hujan yang sehalus jarum jatuh menyentuh tanah agar kesegarannya terasa esok hari.
Ceyasa duduk bertopang dagu, menikmati malamnya di taman kecil, sekali lagi merasa penat dan bosan ada di rumah dan ingin mencari udara segar, namun karena dia tak boleh keluar dari wilayah militer dan satu-satunya tempat agar dia bisa merasa sedikit tenang adalah taman kecil ini.
Ceyasa membiarkan ponsel Archie di meja taman, ponsel itu sebentar lagi akan mati karena batrainya sudah mulai habis, Ceyasa duduk bernaungkan sebuah payung besar agar dia tidak kebasahan karena walaupun sehalus jarum, rintik hujan itu akan cukup mengganggunya.
"Hana, kau bisa beristirahat, aku tidak akan apa-apa, aku hanya ingin duduk di sini," kata Ceyasa melihat Hana yang berdiri menjaganya, bertentangan dengan rintik hujan secara langsung.
"Tidak boleh Nona, Anda adalah tugas saya sekarang, prioritas saya adalah keselamatan Anda," ucap Hana tegas.
"Kalau begitu, duduklah di sini, di sana hujan," kata Ceyasa yang melihat Hana ini sangat patuh dengan tugasnya.
"Saya tidak boleh duduk dengan Anda Nona," kata Hana lagi.
"Lalu kau bolehnya apa?" kata Ceyasa bingung, masa duduk dengannya saja Hana tidak diperbolehkan.
"Saya hanya akan berjaga Nona," kata Hana, sikapnya benar-benar seperti laki-laki, suaranya saja yang masih terdengar seperti wanita.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, bolehkah aku memerintahkanmu untuk berjaga di tempat teduh, di sana," kata Ceyasa melihat Hana dan segera menunjuk suatu tempat. Hana melihat tempat itu, lalu segera memberikan hormatnya dan segera pergi ke tempat yang di tunjuk Ceyasa, di bawah naungan rumah kaca itu, tak jauh dari Ceyasa, Hana kembali dengan sikap menjaganya.
Ceyasa sekali lagi melihat ponsel Archie, tak ada satupun kabar, bahkan berdering pun tidak, apa ponsel ini rusak? Pikir Ceyasa yang mengambil ponsel Archie, membuka layarnya yang membuat wajahnya langsung tertimpa Cahaya, semakin dia melihat layar ponsel itu, semakin dia kesal, kesal tak tahu kenapa? kesal karena Archie tidak menghubunginya dan kesal karena dia tak tahu juga harus bertanya ke siapa, ah, rasanya dia ingin membanting ponsel itu sekarang.
"Ih, kalau dia datang, akan ku pukul kepalanya," kata Ceyasa kesal membayangkan wajah Archie, bisa-bisanya membuat orang menunggunya seharian tanpa kabar apapun, pikir Ceyasa yang tak bisa lagi bersabar, Hana yang melihat Ceyasa mengomel sendiri mengerutkan dahinya, ternyata istri pangeran ini tak seperti putri biasanya, pikirnya.
"Duduk di taman malam hari itu tidak terlalu bagus," kata Jofan tiba-tiba muncul, tampak dia berdiri memasukkan tangannya pada kedua saku celananya.
Jofan dari tadi memang mengamati wanita muda ini, seharusnya dia tidak boleh keluar kecuali untuk memeriksakan lukanya, namun sekali lagi tidak bisa menahan rasa penasarannya yang entah kenapa terlalu besar untuk melihat wanita muda ini, jadi sekali lagi dia putus kan untuk menemuinya.
Ceyasa kembali kaget mendengar suara berwibawa itu lagi, dia segera melihat ke arah Jofan yang berjalan lurus ke arahnya, menerjang rintik hujan yang sudah mulai menebal, Ceyasa mengerutkan dahi, kenapa pria ini ada lagi?
"Selamat Malam Tuan," kata Ceyasa sedikit tersenyum, sekali lagi bersikap sopan dengan orang yang lebih tua darinya.
"Selamat malam," kata Jofan seadanya, "Siapa yang kau tunggu?"
"Ehm, tidak ada," kata Ceyasa yang tidak ingin menjelaskan siapa yang dia tunggu dan kenapa dia harus menunggu.
__ADS_1
"Duduk sendiri di taman walaupun rintik hujan, melihat ponsel terus menerus dan berwajah cemberut, tampak sekali kau sedang menunggu seseorang," kata Jofan menjelaskan analisanya tentang Ceyasa, kali ini wajahnya sedikit terlihat lebih ramah, menyungingkan senyum tipis, membuat Ceyasa sedikit tak enak jika tak menanggapi pria ini.
"Apa terlalu terlihat Tuan?" tanya Ceyasa.
"Ya, boleh aku duduk di sini?" tanya Jofan lagi, tetap mengedepankan kesopanannya.
"Ya, silahkan saja," kata Ceyasa melihat ke arah Hana, Hana hanya mengangguk, menyatakan pria ini aman dan dapat dipercaya.
"Kau menunggu Archie?" tanya Jofan yang melihat Ceyasa memperhatikan Hana, mendengar nama Archie disebut membuat Ceyasa sedikit kaget.
"Oh, ya, dia mengatakan dia akan datang, tapi sampai sekarang dia tidak datang-datang," kata Ceyasa yang entah kenapa malah mengatakan yang sejujurnya, mungkin karena melihat tatapan pria itu yang cukup menyakinkan baginya.
"Mungkin dia sibuk di istana, aku mendapatkan kabar bahwa keadaan istana sedikit kacau akhir-akhir ini," kata Jofan lagi menatap wajah kesal dan cemas Ceyasa, menganalisanya, mengingatkannya pada sesuatu, apakah Sania juga suka menunggunya datang seperti ini dulu? menyesal sekali dulu tidak sering datang ke markas militer saat wanita itu ada di sana.
Mendengar hal itu, wajah Ceyasa sedikit berubah muram, dia memperbaiki rambutnya yang jatuh ke pipinya, meletakkannya di belakang telinga. Melihat perubahan wajah Ceyasa itu, Jofan mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" kata Jofan lembut dengan aura kebapakan, membuat Ceyasa menatapnya.
"Aku rasa akulah yang menyebabkan istana menjadi kacau, " kata Ceyasa sedikit tersenyum kecut, melihat senyuman kecut Ceyasa itu membuat Jofan merasa sedikit tak enak hatinya.
"Kenapa bisa begitu?" kata Jofan lagi ingin tahu.
Ceyasa kembali melihat Jofan, menganalisa pria itu, di wajahnya tampak ragu-ragu, untuk apa dia berbicara tentang istana pada pria ini. Suasana semakin berisik, rintik sudah berganti dengan hujan, suara hujamannya pada payung di atas mereka terasa tak enak di dengar.
"Kau bisa mengatakannya, aku adalah sahabat Yang Mulia Raja Angga dari kecil, bahkan putrinya menikah dengan keponakanku," kata Jofan mencoba menyakinkan Ceyasa bahwa tidak masalah membicarakan soal kerajaan padanya.
"Jadi … Anda pamannya Jared?" tanya Ceyasa yang sedikit kaget mendengarkannya.
__ADS_1
"Ya, kau mengenal keponakanku?" kata Jofan, Ceyasa pasti sudah kenal dengan Jared.
"Ya, ya, aku kenal, Anda berarti suami Nyonya Aurora bukan? Nyonya yang selamat dari kebakaran itu," kata Ceyasa semangat, seperti biasanya dia bercerita, melihat perubahan Ceyasa itu membuat Jofan mengerutkan dahi namun juga suka melihat Ceyasa bersemangat.