
Pagi merayap cepat, Jared membuka matanya yang terasa sedikit sepat karena dia menangis hingga tertidur tadi malam, dia melihat Suri masih ada di dalam pelukannya, meringkuk dengan nyamannya di dalam pelukannya
Jared melihat ke arah jendela, sudah terlihat cahaya pagi menyinari, melihat jam dinding yang ada di sana, sudah pukul 7, dia sedikit menggeser tubuh dan lengannya yang cukup pegal dan mati rasa karena ditekan oleh kepala Suri satu malaman, ingin melihat keadaan Suri, terakhir dia ingat Suri sudah tertidur dalam pelukannya.
Jared mengerutkan dahinya, melihat wajah Suri yang pucat, lalu dia melihat ke arah lengannya, bekas darah terlihat mengering di tangannya, Jared langsung mengangkat tubuh Suri, menelentangkan tubuh Suri agar dia bisa melihat dengan jelas wajah Suri, ada bekas darah yang mengering, namun darah segar kembali keluar dari hidung Suri.
Jared langsung membesarkan matanya, bukannya dokter tadi malam mengatakan bahwa keadaan Suri baik-baik saja, tapi kenapa sekarang dia begini? Jared langsung bergegas turun, menekan tombol untuk memanggil dokter dahulu baru mendekati Suri kembali.
"Suri, Suri, ayo bangun, Suri," kata Jared panik, dia mendekatkan pipinya dan telinganya untuk mendengar apakah Suri masih bernapas, terpaan napas yang tipis di pipi Jared membuatnya sedikit lega, dia lalu menggoyangkan kembali tubuh Suri.
"Suri? Suri? Suri! Ayo bangun, sadar lah! " kata Jared dengan suara yang lebih tinggi, suaranya bahkan semakin tinggi memenuhi ruangan itu.
Mendengar suara gaduh dari luar, Bella dan Angga terbangun, mereka segera keluar dari ruangan itu, Ceyasa yang menginap di sana juga langsung keluar kamarnya.
"Ada apa?" kata Angga mendekati Jared yang tampak memeluk tubuh Suri, Jared hanya melirik ayah mertuanya itu, menunjukkan wajah Suri yang tampak pucat namun dengan darah yang mengalir di wajahnya, tubuh Angga kaku, Bella tampak kaget, namun belum selesai kekagetan mereka, dokter langsung masuk ke dalam ruangan itu bersama beberapa orang yang lain.
__ADS_1
"Dokter," kata Jared meletakkan tubuh Suri yang lemas itu di ranjangnya, dokter langsung melakukan tindakan, Jared mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang untuk dokter melakukan tugasnya.
"Berikan cairan, siapkan Serumnya, Pindahkan Putri ke ruang tindakan dan pemantauan, aku mau sampel darahnya, pemeriksaan menyeluruh, apakah ada pendarahan atau tidak?" kata dokter itu mencoba untuk berpikir cepat apa yang harus dia lakukan sekarang, dokter dan perawat yang juga masuk bersamaan dengannya langsung melakukan apa yang di kehendaki dokter itu, sebagian satu perawat keluar untuk membawa ranjang dorong untuk memindahkan tubuh Suri.
Dokter itu melihat tajam ke arah Angga yang hanya bisa terdiam, dokter itu juga tidak bisa berkata apa-apa, begitu perawat itu kembali, mereka segera memindahkan tubuh Suri perlahan ke dalam ranjang dorong.
"Ada apa?" tanya Archie melihat pagi-pagi begini ruangan itu susah begitu riuh.
"Aku rasa Suri terkena serangan lagi," kata Ceyasa.
"Benarkah?" kata Archie tak percaya, Ceyasa hanya mengangguk pelan.
"Yang Mulia," suara Asisten Lin terdengar, dia ternyata sudah menahan lift khusus yang biasa digunakan oleh Angga, pintu lift itu sudah terbuka. Angga dan yang lain segera pergi untuk mengikuti kemana dokter itu akan membawa Suri.
Pintu lift terbuka menunjukkan lantai yang cukup sepi, lantai ini biasanya dipergunakan untuk operasi dan ICU, hingga hanya dibatasi orang-orang yang boleh masuk ke dalam ruangan ini.
__ADS_1
"Silakan Yang Mulia," kata seorang wanita berbaju perawat mengarahkan Angga dan keluarganya untuk menuju ruangan Suri.
"Putri Suri sedang di bawa untuk melakukan pemeriksaan CT-Scan, sebentar lagi dia akan dibawa ke ruangan pemantauan, setelah keadaannya memungkinkan dokter mengatakan akan melakukan prosedurnya," kata perawat itu dengan jelas dan perlahan memberitahukan semua yang akan dilakukan sekarang sambil terus mengarahkan Angga dan semua orang yang ikut dengannya ke ruangan pemantauan Suri.
Ruangan di bagian yang akan digunakan oleh Suri sudah steril, tidak ada satupun yang boleh masuk ke sana, perawat itu memindai kartunya, dan pintu otomatis terbuka, menyeruakkan udara dingin yang menyambut Angga, bau disinfektan yang sangat menyengat memualkan perut Bella dan Ceyasa, sangat menyengat, mungkin karena memang ruangan ini harus tetap steril.
"Silakan menunggu di sini, Putri Suri akan segera dipindahkan begitu selesai menjalani pemeriksaan yang diperlukan," kata Perawat itu lagi menunjukkan sebuah ruangan tak telalu besar dengan sofa-sofa untuk menunggu, dia sengaja membiarkan pintunya terbuka lebar agar jika Suri sudah datang, maka Angga dan yang lainnya tahu.
30 mereka menunggu delam hening dan tegang, Angga bahkan tak bisa duduk sama sekali, dia berulang kali menatap keluar, menunggu kapan pintu otomatis itu akan terbuka, dan penantiannya itu terbayar, dia melihat bayang-bayang putih yang samar dibalik kaca kabur, tak lama mereka dia melihat dokter dan timnya, Suri yang masih terbaring tak sadarkan diri, terlihat pucat dan lemah, Jared ada di sisinya, Angga menahan Bella agar tak keluar, agar tidak menghalangi jalan para dokter dan perawat mendorong tubuh Suri, begitu Suri melewati mereka, baru Angga menarik tangan Bella supaya sama-sama mengikuti rombongan dokter itu, Ceyasa dan Archie mengikuti di belakang mereka.
Namun mereka harus terhenti, dokter tidak mengizinkan siapapun untuk masuk kecuali tim medis, bahkan Jared yang dari tadi ada di sisi Suri pun sudah terlarang untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Maaf Yang Mulia dan keluarga, namun kami tak bisa mengizinkan Anda sekalian masuk ke dalam, ruangan harus tetap steril, biarkan dan percayakan Tuan Putri pada kami," kata dokter yang menangani Suri dengan wajah seriusnya.
Angga menggigit bibirnya, Jared tampak hanya bisa pasrah, "Lakukan yang terbaik untuknya," kata Angga yang hanya bisa mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Pasti," kata dokter itu, tidak bisa menunggu lagi, dia langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Tiba-tiba ruangan itu hening, tak ada satupun di antara mereka yang bergerak, seolah semuanya kaku karena udara dingin yang menyerlimuti, bahkan setelah beberapa menit pintu itu tertutup, mereka masih memandangi pintu kaca yang buram hampir putih seluruhnya, melihat gerakan-gerakan di dalam yang seakan mengusik rasa penasaran, namun juga secercah harapan, harapan dimana ketika pintu itu terbuka, mereka bisa melihat sedikit senyuman dan kata keberhasilan.