Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
83 - Sania? Apa Lagi Yang Kau Tunggu?


__ADS_3

Apa yang mereka katakan tentang Ayah?" tanya Jofan mencoba mengubah arah pembicaraan.


"Mereka katakan ayahku sudah meninggal saat ibu mengandung diriku," kata Siena memandang Jofan dengan tatapan sendu, Jofan tersenyum miris, itukah yang dikatakan ayahnya tentangnya? Menyuruh orang untuk mengatakan pada anaknya bahwa Jofan sudah meninggal.


"Ayah masih hidup, jadi tentang ibumu, mungkin itu juga bukan salahmu," ucap Jofan mencoba membuat anaknya kembali bersemangat, sedikit mengelus rambut hitam Siena, Siena yang mendengar dan mendapatkan perlakuan seperti itu kembali tersenyum dan segera bersender pada ayahnya, ternyata sangat menyenangkan memiliki seorang ayah.


Mobil Jofan akhirnya berhenti di halaman besar rumah Jofan yang baru,  Asisten Jofan membukakan pintu untuk Siena, sedangkan Jofan membuka pintunya sendiri dan keluar, Siena menatap rumah mereka yang sangat lebar dan seperti istana, halamannya luas, dan bangunannya juga begitu besar, bergaya modern minimalis, Siena tidak percaya ternyata dia anak orang kaya, dia tersenyum sangat sumringah.


"Ayo masuk, di luar sudah mulai dingin, nanti kau sakit," kata Jofan membimbing anaknya untuk masuk ke dalam rumahnya, dia lalu menekan bel pintu rumahnya dan tidak begitu lama pintu itu terbuka, menampakkan wajah Aurora yang tersenyum manis menyambut kedatangan mereka.


Aurora memperhatikan seorang wanita muda yang dirangkul oleh Jofan, tampak bergitu cantik, kulitnya putih, rambut hitamnya tampak sedikit bergoyang karena angin yang mulai kencang, Jofan tersenyum menatap istrinya.


Siena menatap Aurora dengan tatapan kaget, bukannya ibunya sedang koma? Lalu siapa wanita yang sekarang ada di depannya ini, Siena lalu membuang wajah bingung pada ayahnya, Jofan bisa menangkap hal itu, dia juga belum tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan, siapa sebenarnya Aurora?


"Masuklah dulu, di luar sudah sangat dingin," kata Aurora terdengar hangat, Jofan pun mengangguk, dan membawa Siena yang terus memandangi Aurora masuk ke dalam rumah mereka yang hangat, Aurora segera mengambil mantel panjang yang sudah di buka oleh Jofan.


"Terima kasih," bisik Jofan terdengar mesra pada Aurora yang tersenyum manis dan segera menaruh mantel panjang suaminya kembali ke gantugan. Siena yang melihat itu merasa cukup risih karenannya, apa lagi dia tak tahu siapa wanita ini.


"Aurora, ini Siena, Siena ini Aurora," ucap Jofan memperkenalkan keduanya, Aurora segera memberikan senyumannya, mungkin karena dibesarkan di lingkungan dimana dia tidak boleh mempercayai orang dengan cepat, melihat Aurora dia masih menampakkan wajah tak percayanya pada Aurora.


"Dia siapa ayah?" tanya Siena to the point, membuat Aurora sedikit menarik senyumnya, sepertinya Siena bukan orang yang bisa menerima dirinya dengan cepat.

__ADS_1


"Dia …. " ujar Jofan tak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan siapa sebenarnya  Aurora.


"Kau bisa menganggapku ibumu jika kau ingin, apakah dia tahu tentang keadaan Sania?" tanya Aurora pada Jofan yang tahu betapa sulitnya posisi Jofan sekarang.


"Ya, sudah," jawab Jofan.


"Ayo, ibumu pasti sudah lama sekali ingin bertemu denganmu," ujar Aurora dengan keramahan yang bisa meluluhkan hati siapapun, tangan Siena langsung di genggamnya, Siena masih mengamati Aurora, merasakan kehangatan tangan Aurora yang cukup membuatnya tentram.


Aurora mengajak Siena menuju ruangan ibunya, Siena menatap ruangan kaca itu, melihat tubuh yang terbaring di dalamnya dengan segala perlengkapan medis, dia lalu terhenti, Aurora yang melihat itu tahu perasaan Siena sekarang.


"Ada apa?" ujar Aurora lembut, seolah ingin menentramkan hati Siena yang penuh perasaan bersalah dan keraguan.


"Aku tidak bisa, ibuku begitu karena diriku," ujar Siena masih menatap nanar ke dalam ruangan itu, dia benar-benar tak sanggup menatap wanita yang ada di dalam sana.


Jofan yang berdiri tak jauh dari mereka, hanya bisa sedikit menaikkan  sudut bibirnya, Aurora sepertinya memang diutus untuk bisa mengatasi segala permasalahan Jofan, tanpanya Jofan mungkin sudah mengacaukan segalanya.


Aurora membuka pintu ruangan Sania, mereka disambut dengan suasana sejuk dengan semerbak wangi lavender yang menenangkan, langkah Siena pelan dan kecil, ingin mengamati perlahan-lahan, selain itu masih ada ketakutan yang muncul di wajahnya.


Untuk pertama kalinya, Jofan pun melangkahkan kakinya ke ruangan Sania setelah dia dipindahkan ke sini, namun dia tak mendekat, hanya berdiri di dekat pintu dan mengamati, matanya yang dari tadi terasa sudah perih, semakin perih rasanya melihat anaknya perlahan mendekati Sania, dia sudah memenuhi janjinya pada Sania untuk membawa anak mereka bertemu dengannya. Belum juga pertemuan haru ini di mulai tapi mata Jofan sudab basah, kali ini benar-benar basah hingga dia harus berulang-ulang mengusapnya.


Aurora memperhatikan Jofan yang matanya sudah memerah, dia tahu perasaan suaminya yang begitu emosional melihat hal ini, Aurora melempar senyuman menenangkan pada suaminya, Jofan pun membalas seadanya.

__ADS_1


"Sania, aku harap kau bisa mendengarnya, anakmu, dia ada di sini sekarang," bisik Aurora tepat di dekat telinga Sania, namun dia tidak merespon apapun.


Siena makin mendekat, membuat dia semakin bisa menatap wajah ibunya, dia terhenti dan sedikit kaget melihat wajah Sania, tak menyangka wajah ibunya seperti itu, dalam gambarannya, ibunya cantik, namun apa yang terjadi, begitu penuh bekas luka, wajahnya pucat dan kurus, bagaikan tengkorak yang hidup, Siena tak percaya itu ibunya, dia lalu segera membalikkan tubuhnya dan berjalan, seolah ingin pergi dari sana.


Aurora dan Jofan kaget dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Siena, dia tampak buru-buru ingin keluar, namun Jofan segera menghentikan anaknya.


"Ayah, aku tidak bisa di sini, aku ingin keluar, aku tidak bisa melihatnya," ucap Siena sedikit histeris, Jofan tahu kenapa, mungkin  terlalu syok melihat keadaan ibunya.


"Tapi dia ibumu, dia sudah menunggu 23 tahun hanya untuk mu," kata Jofan berbisik pada anaknya yang terlihat syok.


"Aku tidak bisa, aku ingin keluar, ayah tolong, jangan paksa aku," ucap Siena lirih, matanya berkaca-kaca, pandangannnya pada ayahnya sudah mengabur, sebentar lagi air mata itu akan turun, dia tak sanggup ada di ruangan yang sebenarnya nyaman, namun entah kenapa menjadi begitu menyesakkan.


Jofan melepas tangannya pada pundak kecil Siena, membiarkan anaknya keluar dari sana, air mata Jofan langsung jatuh namun di tutupinya dengan menunduk, Aurora mendekati Jofan.


"Dia hanya kaget dengan semua ini, terlalu banyak kejutan, aku pun akan seperti itu jika jadi dia, perlahan-lahan dia akan menerima semuanya," ujar Aurora pelan, mencoba menenangkan suaminya yang tampak emosional.


Jofan mengangguk, menarik Aurora dalam pelukannya, sebenarnya bukan Siena saja yang merasa hal ini terlalu mengejutkan, bagi Jofan dan Aurora pun begitu, mereka harus bisa membuat Siena mengerti tentang hal-hal ini, belum lagi, mereka juga harus memberitahu pada semua orang, bahwa Jofan sekarang memiliki Siena, sepertinya terdengar cukup berat.


Jofan menatap wajah Sania yang tampak tertidur tenang,


Sania, kapan kau akan membuka mata? aku sudah membawa anak kita padamu, tidakkah kau ingin melihatnya? Sania? apa lagi yang kau tunggu?

__ADS_1


pekik Jofan dalam hati tanpa bisa mengeluarkannya, hanya bisa memeluk Aurora lebih erat untuk melampiaskan perasaannya.


__ADS_2