Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
246 - Apa yang membuatmu seperti ini?


__ADS_3

Jofan mencoba untuk berdiri, rasa sakitnya sudah berkurang, mungkin karena obat yang diberikan oleh dokter untuknya namun dia tetap saja sedikit kesusahan untuk berdiri.


"Selamat pagi Tuan Jofan," kata seorang tentara menyapa Jofan.


"Selamat pagi," kata Jofan.


"Dia sudah sadar pagi ini," kata Tentara itu lagi.


"Oh, aku ingin menemuinya sekarang," kata Jofan langsung melihat ke arah tentara itu.


"Tapi keadaan Anda masih belum memungkinkan Tuan," kata tentara itu lagi.


"Ini bukan apa-apa, aku harus tahu kenapa dia melakukan hal ini semua," kata Jofan mencoba untuk berdiri tegak seperti biasanya, dia mencoba mengangkat kakinya untuk berjalan, namun tubuhnya masih belum sepenuhnya bisa menanggung hal itu, hingga dia jatuh berlutut.


"Tuan, Anda benar-benar belum siap untuk ini, kami akan melakukan interogasi untuknya, Anda bisa melihatnya dari kaca jika Anda mau," kata Tentara itu membantu Jofan untuk berdiri.


"Baiklah, aku akan melihatnya," kata Jofan lagi.


"Silakan naik ke kursi roda ini, saya akan mengantar Anda ke ruang interogasi," kata tentara itu lagi, dia segera menyiapkan kursi roda dan mencoba membantu Jofan untuk menaikki kursi rodanya.


"Terima kasih, " kata Jofan sedikit tersenyum pada tentara muda itu.


"Sama-sama Tuan, " kata Tentara itu segera, dia segera mendorong Jofan menuju ruang interogasi, namun mereka tidak masuk langsung ke dalam ruangan itu, melainkan ruangan sebelahnya, tempat para tentara sudah berkumpul.


"Selamat Pagi Tuan Jofan," kata Jendral Ferdinan yang ternyata sudah ada di sana.

__ADS_1


"Selamat Pagi Jendral Ferdinan, aku tidak menyangka Anda ada di sini," kata Jofan yang segera memberikannya senyuman.


"Silakan masuk, aku membawa seorang ahli interogasi, dia juga ahli dalam penyelidikan dan ahli psikologi yang hebat, kita tinggal menunggu bagaimana dia bekerja, " kata Jendral Ferdinan yang segera membawa Jofan mendekat ke arah cermin satu arah itu.


"Bawa wanita itu ke dalam," perintah Jendral Ferdinan.


"Siap," kata tentara yang lain segera mematuhi apa yang diminta oleh Jendral Ferdinan.


Jofan hanya diam memperhatikan ruangan yang masih kosong itu, tak lama pintu ruangan itu terbuka, 2 orang tentara wanita membawa Siena masuk ke dalamnya, dia tampak kesal dengan perlakukan paksa kedua tentara wanita itu, dia langsung di dudukkan di ruangan itu dengan tangan di borgol, lalu kedua tentara itu meninggalkannya.


Jofan memperhatikan wanita itu, tampak begitu polos jika hanya dilihat seperti itu, dia tidak menyangka bahwa dia bisa dibodohi oleh gadis kecil seperti dia, sayangnya, dia benar-benar memanfaatkan kelemahan Jofan.


Tak lama, pintu ruang interogasi itu terbuka lagi, memunculkan sesosok wanita dengan pakaian yang tampak profesional, dia langsung duduk di depan Siena dan menyodorkan sebuah minuman untuk Siena.


"Malam yang tidak menyenangkan Nona Siena?  Itu namamu?" tanya penyidik itu tampak ramah pada Siena.


"Semua orang mengatakan hal itu padaku, jadi aku tidak akan terkejut," kata penyidik itu tampak sangat rilex mengetuk jari jemarinya di meja interogasi itu membuat irama yang teratur, membuat Siena kembali menyipitkan matanya.


"Aku ingin ayahku yang datang ke sini," kata Siena menatap wanita itu lagi.


Wanita itu tersenyum, membuka kaca matanya dan meletakkannya pada meja, dengan perlahan dia mencondongkan wajahnya yang tampak sangat bersahabat, tapi malah membuat Siena bersikap waspada padanya.


"Bukannya kau tidak ingin berbicara padaku, kau baru saja berbicara lagi denganku, Nona Siena, " kata penyelidik itu lagi, Jofan yang ada dibalik kaca satu arah itu mengerutkan dahinya.


"Aku, ya, aku tidak akan berbicara apapun padamu," kata Siena yang jadi salah tingkah, entah kenapa suara dari ketukan tangan itu membuatnya terganggu dan gugup, "bisa kau hentikan ketukan itu?" kata Siena yang tampak cemas, melihat ke arah wanita itu lagi, begitu Siena mengatakan hal itu, ketukan itu langsung dihentikan, seketika hening menyergap, membuat telinga Siena sedikit berdegung, dia tak suka sensasi sepi ini, ada apa ini? pikirnya.

__ADS_1


"Santai saja Nona Siena, di sini aku tidak akan melakukan apapun padamu, tak perlu bersikap gugup seperti ini, mengingatkanmu pada sesuatu Nona Sania? apa rasanya seperti ada di sebuah kamar? apa rasa seperti saat kau tinggal di panti asuhan? Hening bukan?" kata wanita itu lagi dengan senyuman yang punya banyak hal, membuat Siena semakin tak mengerti, gugup.


"Apa maksudmu? aku tidak mengerti, " kata Siena lagi awas melihat wanita itu.


"Benarkah? masa kau tidak mengerti? Suasana hening ini? kesepian, sunyi? Sendirian di sebuah kamar tanpa sanak saudara, merasa kecil di dunia, tak tahu harus kemana? Karena kau tak punya siapa-siapa?" kata wanita itu mulai mengunakan intonasi menekan.


"Aku tidak tahu maksudmu," kata Siena mulai larut ke dalam permainannya, dia mulai menggunakan gerak tubuhnya untuk menggeleng, membuat wanita itu sedikit tersenyum licik, berhasil masuk ke dalam pikiran Siena.


"Kau yakin? aku bahkan masih mengenangnya, Nona Siena aku pun pernah tinggal di panti asuhan, tempat itu …. " kata wanita itu mulai mengetukkan kembali tangannya di meja, berirama yang lebih cepat.


"Neraka! Tempat itu neraka!" kata Siena menatap marah pada wanita itu.


"Oh," kata wanita itu menghentikan ketukannya, merubah mimik wajahnya tampak simpati melihat kemarahan di mata Siena yang terpancar, "Apa yang mereka lakukan padamu? masih bisa merasakan siksaan itu?" kata wanita itu lagi lebih mendekat pada Siena. Siena tampak gugup, cemas hingga tangannya bergetar, matanya tampak bergerak-gerak seolah mencari sesuatu.


"Apa mereka melecehkanmu?" kata wanita itu lagi Sekalli lagi mengetuk meja dengan ritme jauh lebih cepat.


"Berhenti! Aku bilang berhenti! Jangan melakukan hal itu lagi," kata Siena tampak begitu ketakutan, di wajahnya tampak kengerian yang sangat, wanita itu berhenti, menatap wajah Siena yang tampak pucat, melihatnya saja dia sudah tahu apa artinya.


Wanita itu kembali mengambil posisi yang lebih santai, dia lalu menyodorkan air minum pada Siena, Siena yang tampak sedikit ketakutan itu segera mengambil air minum itu dan meminumnya cukup banyak.


"Jadi begitu caranya mempengaruhimu? Apa dia menyelamatkanmu?" kata wanita itu lagi setelah Siena tampak lebih tenang.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," kata Siena lagi, tak tahu apa yang harus dia katakan, dia sudah terpancing tadi, tak ingin lagi melakukannya.


"Ayolah Nona Siena, jangan bersikap seperti itu, aku sudah tahu semuanya, dia datang, memberikanmu perlindungan dan rasa nyaman, menjanjikanmu kasih sayang, dan sebuah keluarga yang hangat, cinta mungkin, atau sebagai seorang saudara yang tak pernah kau dapatkan? perasaan diterima, perasaan dimana rasanya sangat nyaman?" kata wanita itu lagi .

__ADS_1


"Tidak, kau salah," kata Siena melirik dengan senyuman senang karenawanita itu salah menebaknya.


"Benarkah? sayang sekali, kalau begitu kau terlalu naif, atau terlalu bodoh, melakukan hal seperti ini namun tak dapat apapun, apa yang kau dapat, penjara yang dingin, hahaha, sangat menyedihkan Nona Siena, kau wanita yang benar-benar bodoh!" kata wanita itu lagi dengan nada merendahkan, membuat Siena terpancing emosinya, dia tak suka nada bicara itu, nada bicara itu selalu di dapatkannya dari orang-orang yang melecehkannya.


__ADS_2